Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kerinduan


__ADS_3

"Iya bisa jadi tuh, makanya kita harus rajin bekerja sekarang jangan sampe kita nanti di pecat," ucap karyawan itu.


Seketika Aditya pun tersenyum menyeringai, nampaknya karyawannya jadi rajin karna takut dilaporin Amel yang mereka pikir adalah kekasih atau istrinya. Aditya pun tak peduli dengan semua pemikiran mereka, dan membiarkan mereka dengan pemikirannya masing-masing.


Cafe tutup jam 21.00 wib, karyawan di bagi 2 shif, ada pergantian karyawan di jam 3 Sore tadi. Sementara karyawan yang masuk pagi pulang di jam 17.00 wib.


Seperti yang di lakukannya tadi pagi, Aditya membukakan pintu mobil untuk Amel, terlihat jelas oleh Aditya mata para karyawan yang hendak pulang saling pandang mencurigai.


'Apa yang mereka pikirkan, memperlakukan perempuan dengan baik apa itu salah, melihat bosnya sama perempuan saja di curigai pacar atau istri, mentang-mentang bosnya gak pernah bawa perempuan, pikiran apa itu' batinnya kesal. Kemudian berlalu melajukan mobilnya.


Di perjalanan


"Amel besok kita kerumah temen saya, katanya ada kontrakan kosong di sekitar sana, kamu bisa menempatinya sementara waktu," ucap Aditya.


"Terima kasih, Pak," ucap Sita.


"Saran saya, kamu pulang kerumah suamimu," ucap Aditya tiba-tiba mengejutkan Amel.


Deg ...


"Ya, saya tidak tau apa yang terjadi pada kalian, tapi dalam keadaan hamil perempuan membutuhkan perhatian dari suaminya, dan lagian tidak baik perempuan pergi meninggalkan rumah suaminya, saya yakin suami mu sedang khawatir padamu,"


Mendengar itu Amel tertunduk lesu, menyadari kesalahannya yang pergi meninggalkan sang suami begitu saja tanpa pamit padanya. Tiba-tiba air matanya menetes.


Deg ...


Lewat kaca spionnya Aditya melihat Amel menangis sehingga membuatnya merasa tidak enak hati.


"Maaf sudah membuatmu menangis," ucapnya.


Sita hanya mengangguk tak banyak bicara.


Aditya pun tak ingin membuka pembicaraan lagi, sepertinya jika membicarakan suaminya lagi, dia akan terus menangis, pikirnya.


Sore ini Dino tengah berada di sebuah restoran dengan wajah lesu penuh keringat, rambut yang acak-acakan nampak tak ia pedulikan. Dia duduk disana tanpa memesan apa pun, berkali-kali Dino datang kesana berharap Sita mengingat kenangannya dan datang kesini.


Satu minggu tanpa Sita sudah membuatnya merasa di tinggal selama seabad. "Tidak kah kamu merindukan ku Sita, tidak taukah kamu diri ini tersiksa tanpamu, setega itu engkau meninggalkan ku," lirihnya semakin putus asa.


Di malam yang penuh bintang, Sita nampak tengah memandang langit di jendela kontrakannya yang kecil, hanya cukup untuknya seorang.


Rasa rindu mulai menyeruak kedalam jiwa, matanya terpejam memeluk erat setiap bayangan kenangan indah bersama sang suami, tak terasa buliran bening menetes kembali membasahi pipi.


Satu bulan telah berlalu, rasa rindu semakin menggebu, satu persatu kenangan terus mengganggu, Sita pun tak tahan ingin bertemu.

__ADS_1


"Pak, hari ini saya ijin tidak bekerja?" ucap Sita saat menelpon Aditya.


"Baiklah," Aditya mengijinkan tanpa banyak bertanya, niatnya menolong Sita tanpa syarat apapun dia iklas melakukan ini hanya karna perintah Alloh menolong sesama.


Pagi itu Sita pun pergi menuju rumah Dino, dengan hati yang berdebar, akankah rindu ini berlabuh dengan bahagia, atau akan menemukan duka, bayangan Elvira pun menghantui dirinya, sanggupkah ia berhadapan dengan istri kedua suaminya. Pikiran itu sungguh sangat mengganggu Sita.


Di jalanan hampir sampai Sita kerumah Dino, dia berlari seolah tak peduli apa yang akan terjadi, meski luka terus menyeruak dalam hati, ia pun memaksakan diri untuk pergi menemui sang suami, namun tiba-tiba saat berlari tubuhnya jatuh menabrak seseorang disana yang sama tengah tergesa-gesa,


brukkk ...


"Astagfirulloh, maaf," ucap Sita spontan.


"KAU!" ucap Elena, mengenal suara di balik cadar itu.


Dengan segera Sita bangkit dan pergi meninggalkannya tanpa memperdulikan Elena.


"Tunggu Sita, kamu mau kemana? Bukankah kamu sudah pergi meningglkan Dino? Untuk apa kembali? Apa untuk memberi selamat pada istri kedua suamimu, atas kehamilannya?" bohong Elena.


Deg ... Seketika Sita terhenyak.


"HAMIL!" ucapnya terdengar berat.


"Ya, apa kamu tidak tau kalau Elvira sedang hamil, mereka sudah lama melakukannya jelas dia cepat hamil, dia tengah mengandung anak suamimu? asal kamu tau mereka bahagia tanpamu?" fitnahnya.


"Kau pembohong Elena!" betak Sita dengan tangisnya.


"Semua orang disini sudah tau Sita, sebulan kau meninggalkan Dino, Elvira berhasil menaklukannya, dia terlihat sangat bahagia tanpamu, bahkan tak sediktpun terlihat kesedihan dimata Dino, dia begitu bahagia tanpamu. Heuhh ... Aku saja mundur berusaha mendapatkan Dino," ucapnya dengan menatap sinis Sita. "Sudah lah percuma kamu kembali, Dino sudah tidak membutuhkanmu lagi, dia sudah melupakanmu dalam sekejap, lebih baik kamu pergi saja dari pada nanti kamu lebih sakit melihat kebahagian mereka." Elena melengos pergi dengan rasa puas.


Sita diam terpaku di tempat itu, memikirkan ucapan Elena, "Benarkah, benarkah mereka bahagia tanpa ku," ucapnya tak percaya dengan deraian air mata dipipinya. "Jadi Elvira sudah hamil, benarkah Dino melupakanku dalam sekejap." Sita tersungkur menagis tak kuasa, membayangkan apa yang di ucapkan Elena.


Di belokan jalan terdengar suara seseorang yang dia kenal tengah tertawa bahagia, berbincang di telepon, Sita segera bangkit, mengusap air matanya dan bersembunyi di belakang sebuah bangunan.


"Benarkah! Alhamdulilah, tunggu aku disana, aku segera menuju kesana," ucap Dino dengan gembira.


Nampaknya Dino mendapatkan telepon dari seseorang yang mengabari keberadan Sita, tentu saja membuat dia bahagia, dan langsung pergi menemuinya.


Namun Sita yang melihat itu di balik sebuah bangunan menaggapinya berbeda, dia semakin menangis sedih, melihat kenyatan yang di ucapkan Elena benar, tidak ada sedikitpun raut kesedihan dimata Dino, dia terlihat begitu bahagia.


Akhirnya Sita pun kembali ke kontrakannya dengan membawa duka, rindu ingin bertemu malah menghadirkan luka yang semakin dalam.


Dengan sangat bahagia, Dino berjalan menemui sang penelpon.


"Pak Andri?" tanya Dino dengan penuh antusias.

__ADS_1


"Ya, saya Andri, Anda pak Dino?" tanya balik pria itu.


"Ya. Dimana istri saya?" tanyanya lagi pada pria itu.


"Disana pak tadi saya melihatnya masuk kedalam sana!" tunjuk pria itu pada sebuah Restoran, "Mari saya antar!" lanjutnya.


Dino pun melangkah dengan cepat bersama pria itu, 'tak sabar ingin bertemu dengan sang istri yang sudah sangat ia rindukan.


"Itu pak!" tunjuknya pada seorang wanita memakai gamis hitam, persis Sita di dalam poto iklan Dino, dia tengah duduk membelakangi menikmati hidangan di meja itu.


Dengan yakin Dino berlari menghampiri perempuan itu, yang dipikirnya adalah Sita, rindu yang menggebu membuatnya langsung memeluk wanita itu dari belakang, "Aku merindukanmu, sayang," ucapnya diiringi tangis kebahagian.


Namun wanita itu memberontak, dan spontan bangkit dari duduknya, dan--.


plakkkkk ...


"Awhhhh ...." pekik Dino kesakitan.


"Beraninya kau!" teriak perempuan itu


"Say--" ucapnya terhenti saat ia melihat perempuan itu dan menyadari perempuan yang di peluknya bukanlah sang istri.


"Astagfirullohhaladzim," ucapnya dengan tangis kekecewaan. Seketika Dino membungkukan dirinya, menyibak rambutnya kebelakang, menyadari kecerobohannya kembali, "Maafkan saya Nona, saya pikir anda istri saya," ucapnya dengan penuh penyesalan.


"Kurang ajar, dasar laki-laki tidak tau diri," ucap perempuan itu lalau melengos pergi dari sana.


"Maaf pak Dino, dia bukan istri Anda?"


Dino menggelangkan kepalanya.


"Astagfirullahhaladzim sepertinya saya salah melihat orang, saya mohon maafkan saya pak,"


Dino hanya mengangguk tak ingin menyalahkan orang itu.


Sejenak Dino duduk di kursi dengan prustasi.


"Sekilas aku pun tertipu, mungkin karna terlalu merindukannya." Dino pun mengusap kasar wajahnya, bangkit dan pergi dari tempat itu dengan membawa kekacewaan.


Orang itu hanya menatap kepergian Dino dengan penyesalannya, "Kasihan dia," ucapnya, lalu ia pun bergi.


bersambung ....


terimakasih sudah setia membaca karyaku, semoga selalu bahagia, dan dilimpahkan berkah, Aamin, jangan lupa di like ya reader❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2