Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Plash Back


__ADS_3

Sita dan Dino merasa heran dengan reaksi yang di tunjukan Elvira, sementara Ibu tidak mempedulikan itu, dia percaya dengan apa yang dikatakan Elvira.


Setelah Elvira melepaskan pelukannya, Sita dan Dino saling tatap. Dengan perasaan aneh mereka.


Ibu memapah Elvira ke meja makan, "Ayo Nak Elvira, kamu makan dulu! maaf kami baru bisa datang kesini, tadi kami ke undangan dulu, lalu periksa Sita ke Bidan. Saking senengnya kami lupa waktu."


"Gak apa-apa, Bu. Elvira maklum kok, justru Elvira minta maaf sudah membebani kalian," ucapnya dibuat seolah penuh penyesalan.


"Tidak Nak, kamu tidak membebani kami sama sekali, jangan berkata seperti itu lagi!" ucap Ibu sambil menata makanan yang di belinya di jalan saat menuju ke rumah Elvira.


"Iya kok, Bu. Aku memang beban, apa yang bisa aku lakukan dengan kaki yang seperti ini, tanpa Ibu, Dino, dan Sita aku tidak bisa apa-apa." Seolah tidak ada harapan untuk sembuh ia menangis hanya untuk menarik perhatian Ibu.


Sita dan Dino hanya terdiam. Sita nampak mengamati gelagat palsu Elvira, batinnya pun mulai merasakan sesuatu, entah apa itu.


Tiba-tiba Dino yang berada disampingnya berbisik pelan, "Sayang."


Sita melirik Dino seketika, "Ya," jawabnya singkat dan pelan.


"Ayo ikut dengan ku!" Dino masih berbisik dan langsung menarik Sita keluar rumah.


"Kita mau kemana?" tanya Sita pun pelan. Lalu mengikuti langkah sang suami.


Semampainya diluar Sita pun bertanya kembali, "Mau kemana, Sayang?"


"Biarkan Ibu dan Elvira! lihat disana ada taman?" Dino menunjuk taman disebelah pinggir rumah Elvira yang sengaja di buat bersebelahan dengan kamar Elvira.


"Jadi kamu juga mengamati taman ini setiap kali kesini, Sayang?" tanya Sita.


Dino pun mengangguk kecil, dengan senyum yang mempesona.


"Ayo, mungpung ada waktu untuk menikmatinya!" ajak Dino. Lalu mereka pun melangkah kan kaki menuju taman yang indah itu.


"Ya Ampun Sayang, Ini taman indah sekali, Elvira benar-benar merawat taman ini dengan baik." Sita pun memejamkan mata dan merentangkan tangannya lalu menghirup udara segar masuk kedalam tubuhnya.


Dino menyimpan kedua tangannya di belakang, dia malah memperhatikan wajah istrinya yang sedang menutup mata terlihat cantik dan sangat berseri-seri. "Indah sekali, mata, alis, idung dan bibir yang sempurna."


Sontak kata-kata itu membuat Sita membuka matanya. Dan melirik Suaminya yang sedang menatapnya. "Sayang, apa yang kamu lakukan?"


Dino tidak mengalihkan pandangannya sama sekali meski Sita bertanya seperti itu, "Menatapmu," jawaban singkat namun mesra.


Dino malah semakin intens menatap Sita. Hingga mebuat Sita merasa malu dan menunduk.


Dino pun memegang dagu sang istri dan mengangkatnya, mereka pun bertatapan, "Bagiku, kamu adalah bentuk segala keindahan di dunia, tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan ku ini darimu, sekalipun taman ini indah, bagiku tetap kamu yang terindah."


Pipi Sita seketika berubah warna. Menambah kecantikan di wajahnya.


Nampaknya Elvira telah selesai makan dan kembali kekamarnya. di balik jeldela kamarnya Elvira mesti menyaksikan hal yang memuakkan.


"Kau lihat itu Elvira? pantas tiba-tiba mereka menghilang rupanya mereka ketaman," ucap Ibu yang berada disamping Elvira menatap mereka penuh Kebahagiaan.

__ADS_1


Elvira melirik Ibu dan berusaha mengukir senyum palsunya kembali.


Pemandangan ini semakin membuatnya membatin, 'Enak sekali kau Sita, menikmati keindahan taman yang di buat kakakku untuk di nikmatinya bersamamu kelak, malah kau nikmati dengan lelaki lain.'


Plash back on


"Kakak, apa yang kakak lakukan? Tanya Elvira pada Darwin.


"Kakak Sedang membuat taman, Vira. Untuk kakak nikmati nanti bersam kakak iparmu,"


"Jadi aku tidak boleh menikmatinya?"


"Tentu saja boleh Vira, kamu adik kesayangan Kakak,"


"Kakak bohong, Kakak lebih menyayangi Sita mu itu di banding aku,"


"Kenap kamu bicara seperti itu? Kalian adalah perempuan yang paling kakak sayangi,"


"Kalau kakak, sangat mencintai Sita kenapa kakak menduakannya?"


"Kakak tidak pernah membagi perasaan Kakak, perempuan-perempuan itu yang menggoda Kakak, ya lumayan lah buat selingan,"


"Kalau Sita sampai tau, Kakak akan di putuskan,"


"Sita tidak akan tau, tenang saja. Kalaupun tau, dia itu pemaaf Ra, Kakak udah pernah ketahuan, dan dia memaafkan Kakak,"


"APA! Yang bener Kak? Akh tapi jika Kakak terlalu sering melakukan itu aku yakin dia akan pergi,"


"Aku perempuan Kak, aku tau perasaannya seperti Apa? Kalau Kakak tidak mau kehilangan dia hentikan kebiasaan Kakak bermain perempuan, dan satu lagi miras!"


Darwin tertegun mendengar perkataan adiknya.


"Sudahlah jangan banyak omong, Kakak pasti berubah kok, ayo sekarang bantuin Kakak buatin taman ini. menurutmu posisinya kayak gimana?"


"Oke, aku bantuin, tapi kapan Sita di bawa kesini? Jangan cuman nunjukin fotonya doang!"


"Tenang Ra, Sita juga pengen ketemu kamu setiap kali kakak ceritain kamu, tapi Kaka selalu lupa buat nunjukin foto kamu ke dia,"


"kalau sama aku selalu aja lupa. Pasti nyeritainnya juga gak seantusias Kaka nyeritain Sita ke aku," keluh Elvira dengan memanyunkan bibirnya. "Jujur ya Kak, aku suka cemburu sama Sita yang terus-terusan Kakak perhatiin, sampe di buatin taman juga, nikah aja belum tentu."


"Bawelll, bawain bunganya sini!" Darwin melempar sedikit tanah ke arah Elvira.


"Kakak, kotor nih."


Plash back of.


Tak terasa Elvira tersenyum kecil sambil meneteskan air mata mengingat kenangan bersama Kakaknya.


Ibu yang melihat itu, memegang pundak Elvira, "Nak Elvira, kenapa kamu nangis?" tanya Ibu heran.

__ADS_1


Seketika Elvira pun mengusap air mata di pipinya. Ia mencoba mengukir senyum dibibirnya, "Emh, gak papa Bu, aku hanya merindukan Kakakku," ucapnya lirih.


Ibu segera meraih kepala Elvira dan disandarkan di bahunya, "Sabar ya Nak, Kakakmu pasti sudah tenang di alam sana, kamu banyak-banyakin berdo'a buat dia," ucap Ibu dengan mengusap lembut rambut Elvira.


Elvira pun merasa nyaman dengan belayan yang di berikan oleh Ibu.


Diluar sana Dino dan Sita pun tengah duduk di bangku taman, Dino mengusap lembut perut sanga istri, yang kini telah tertanam benih cinta mereka. "Sayang, Papa seneng sekali, kamu hadir di hidup Papa dan mama, jangan nakal didalam sana ya!"


"Hahaha ... Usia kehamilan ku ini baru satu bulan sayang, belum bisa diajak ngomong?"


"Biarin, suka-suka papanya dong," ucapnya dengan memainkan kedua alisnya.


"Dih, genit,"


"Gak ada larangan ya, suami genit sama istrinya,"


"Iya sih,"


Hahaha... Keduanya pun tertawa.


"Sayang kamu belum beritahu keluargamu, ayo telpon mereka,"


"Engak! Jangan beritahu sekarang, kita suruh mereka kumpul saja di rumah kak Riri. Aku ingin kesana, ingin memberitahu kakakku secara langsung, aku ingin melihat expresi mereka seperti apa? Setelah itu baru ku telepon Abah,"


"Kita kasana sekarang?" tanya Dino.


"Iya, kita kesana,"


"Ayo kita pamit sama Ibu, dan Elvira!" ajak Dino.


***


Di tempat Kak Riri, sudah ada Kak Fitri, dan Kak Hermawan. Mereka berkumpul setelah tadi di telpon Sita.


"Ada apa, Sita menyuruh kita berkumpul disini?" tanya Kak Fitri pada Kak Riri.


"Entahlah, dia gak bilang, dia hanya bilang kita harus berkumpul, katanya ada yang penting," jawab Kak Riri.


"Ya sudah, kita sambut dia dengan makanan yang lezat, ayo kita masak," ajak Kak Fitri.


"Ayo," Jawab Kak Riri penuh semangat.


Sementara Kak Hermawan dan Kak Syamsul menunggu sambil menonton televisi di temani secangkir kopi.


"Kita masak apa ya Fit," tanya Kak Riri.


"Ikan goreng aja, sama sambal ijo kesukaannya," jawab Kak Fitri.


"Ikan goreng? Uo ... Uo ...." Membayangkannya saja Kak Riri sudah mual.

__ADS_1


"Ya ampun, gimana mau menyambut adiknya datang kalau Kakak masih mual-mual."


"Hehe ...." Kak Riri pun tersenyum. Lalu menganggkat tangannya peace.


__ADS_2