Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Menerima Telepon dari Jons


__ADS_3

Deg ... Di urainya pelukan sang istri Dino menatap lekat kembali wajah istrinya yang sendu, karna menahan beban luka yang dalam. "Inilah keistimewaanmu sayang, aku takut sekali kehilanganmu, Aku mohon jangan pernah meninggalkanku, apapun yang terjadi."


Deg ... Sita tak menjawabnya sama sekali, dia terpaku, diam seribu bahasa, dia tak mampu menjawab permintaan suaminya kali ini, ia sendiri masih tidak mengerti dengan perasaannya, apa dia bisa bertahan, jika sampai Dino menikah dengan Elvira.


Bintang dan rembulan kini menjadi saksi kepiluan kedua insan yang tengah di landa kekecewaan, menyaksikan separuh hati mereka yang telah hilang.


Langit yang gelap mulai terlihat terang, Matahari bersinar menyinari seluruh alam semesta, suasana pagi ini cukup cerah. Namun sayang suasana hati keluarga Dino tak secerah pagi ini.


Elvira nampak gelisah, ada beberapa panggilan tak terjawab di ponselnya di jam 03.00 dini hari. Pria itu 'tak bisa berhenti mengganggu Elvira. Elvira tertidur begitu nyenyak tanpa gangguan Jons, karna beberapa hari belakangan ini joans terus mengganggunya. Tak lama hand phone berdering kembali, Elvira segera pergi mencari tempat yang sunyi agar bisa menjawab panggilan dari jons.


"Halo, gapain sih jons, nelponin mulu?"


"Kamu dimana, kenapa gak angkat telepon ku?"


"Aku, dirumah Dino."


"APA! Untuk apa kamu disana?"


"Ceritanya panjang, nanti aku jelasain."


"Kenapa gak jelasin sekarang, apa mereka sudah menyuruhmu menikah dengan Dino."


"Rencananya seperti itu, tapi harus di pastikan dulu kalau Dino bener-bener ngelakuin itu sama aku, bukti noda merah saja saja ternyata tidak cukup membuat mereka percaya, itu gara-gara si ualar Elena, kalau dia gak ikut campur pasti aku dah nikah sama Dino. Ya Sudah, nanti kita bicara lagi."


"Tunggu dulu, kapan kamu pulang?"


"Aku tidak tau, mungkin aku harus tinggal disini sampe keputusan final,"


"Tidak bisa, Elvira, kamu harus melayani aku malam ini,"


"Kenapa jadi kamu yang ngatur sih, otak mu itu kotor ya Jons, nyesel aku pilih partner kaya kamu?"


"Kalau kamu mau aman, kamu harus nurutin mau ku, gimana caranya nanti malam kamu harus datang?"

__ADS_1


"Kamu gila Jons."


Tut ... Tut ... Tut ...


Elvira memutus panggilan sepihak.


"Kenapa jadi aku yang ribet sih, pake ngancam segala lagi si Jons. Akh Sial."


Deg ....


Tiba-tiba saat dia membalikan badan ada abah yang sedang berdiri di belakangnya.


Elvirapun tersentak kaget.


"A-A-Abah ... Abah sudah lama disini?" tanyanya dengan gugup.


"Ya, Lumayan lama," jawab abah datar.


"Kamu kenapa nak Elvira? Kenapa gugup?" tanya abah.


"Ti-tidak, saya hanya kaget saja."


"Kamu terlalu asyik ngobrol di telepon, makanya gak sadar ada orang disini."


"I-iya Bah. Saya permisi Bah." Elvira mencoba menghindari abah, 'Semoga dia 'tak mendengar semua' batinnya.


"Tunggu nak Elvira?"


Deg ... Elvira sangat kaget.


"Bisa tolong buatin teh buat saya,"


"Baik, Bah."

__ADS_1


Elvira melangkah menuju dapur dan menghembuskan nafasnya dengan lega. 'Untunglah," batinnya.


Meski suasana kota kembang 'tak sesegar kampung halamannya, Abah duduk di teras depan menikmati udara segar pagi ini, dengan menikmati secangkir teh, yang di buatkan Elvira. Elvira sendiri memilih pergi kedapur menemani ibu memasak dari pada duduk menemani abah di depan, karna dia takut mendapat banyak pertanyaan.


Abah sempat memikirkan kata-kata terakhir yang ia dengar dari mulut Elvira, setelah tadi ia bicara di telepon, 'Siapa laki-laki yang mengancam Elvira tadi, ancaman apa itu' batin abah.


"Assalamualaikum, Selamat pagi bah?" kedatangan Sita membuyarkan pikiran Abah.


"Waalaikumussalam, pagi juga, sayang?" jawab abah.


"Wah abah sudah minum teh, Siapa yang buat?"


"Elvira, Abah nunggu kamu belum keluar kamar, ya sudah abah minta buatin sama Elvira."


"Oh ...."


Entah kenapa sekarang setiap kali denger nama Elvira dada Sita teras sesak.


Dino pun keluar dari kamarnya dan menghampiri Abah. mengucapkan salam dan menanyakan kabar sama seperti yang di lakukan Sita.


Kesempatan ini digunakan oleh mereka untuk menanyakan keputusan yang Abah ambil kemaren, yang tidak bisa mereka pahami.


"Eu ... Abah, boleh Sita dan Dino tanya sesuatu?" ucap Sita.


"Tentu saja ,apa yang maubkalian tanya kan?"


Sita pun memperhatikan sekeliling, mencari keberadaan Elvira, jangan samapai apa yang ia tanyakan pada sang ayah terdengar oleh Elvira.


"Kenapa Abah menyuruh Elvira tinggal Disini?"


Bersambung ....


jangan lupa like nya ya readers ku❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2