Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Melepas Rindu.


__ADS_3

Kini kedua insan yang saling merindukan itu salang tatap, dengan tatapan penuh cinta, air mata kebahagian mengalir deras di pipi mereka, sesekali mereka menyekanya, meski tak berhenti mengalir.


Dino melangkah penuh semangat ingin sesekali memeluk sang istri, namun Aditya yang tepat berada di depannya, menghalangi langkah Dino.


"Dit, dia istri ku, Dit, aku sangat merindukannya?" ucap Dino terdengar berat.


"Katakan padaku, Amel! Apa dia suamimu?" tanya Aditya pada Amel.


Amel tak menjawab, ia hanya diam menatap Dino tanpa henti, sesungguhnya ingin sekali dia lari memeluk sang suami, namun kesalah pahaman itu telah mengganggu pikirannya.


Keduanya tak ingin melepaskan pandangan, indah mereka, tatapan yang sama penuh kerinduan dan kehangatan.


Aditya yang menyaksikan itu sangat kesal.


"Amel, aku bertanya padamu!?"


Seketika Amel mengaguk, tanpa mengalihkan pandangan. "Iya, dia suamimu," ucapnya dalam deraian air mata.


Dino sangat bahagia mendengar ucapan sanga istri.


Amarah diatas cemburu, gejolak itu tak bisa dibendung Aditya, seketika ia melayangkan tinju pada Dino, membuat Dino terjatuh ke dasar lantai, "Aaaakkkhhh ...." pekiknya kesakitan.


"Aaaa ...." jerit Amel dan Bi Marni yang ada disana.


Aditya tak menghiraukan jeritan mereka, ia melampiaskan segala amarahnya dengan membabi buta, "Jadi kau, yang membuatnya terluka, kau mengukir duka dihatinya, kau yang membuat dia menyakiti dirinya sendiri, kau yang menghancurkan hidupnya, kau yang membuat bendungan air mata di pelupuk matanya." Aditya tak henti memukulnya di sela-sela ucapannya. "Aku tidak akan mengampunimu, raskan--"


"Berhenti!" Sita lari tak kuasa melihat sang suami di pukuli seperti itu.


Dengan sekuat tenaga Sita mendorong Aditya menjauh dari tubuh Dino. Diraih dan di peluknya sang suami dengan erat, "Kamu berdarah, kamu berdarah sayang," ucap Sita memegang wajah sang suami dengan khawatir. Melihat wajahnya yang berlumuran darah membuat Sita tak kuasa menahan gejolak cintanya, di ciuminya kening, mata dan kedua pipi sang suami, "Bertahan sayang," ucapnya penuh kekhawatiran.


Seolah tak merasakan sakit, Dino malah tersenyum bahagia, perlahan ia membuka cadar yang dikenakan sang istri, kini wajah yang ia rindukan terlihat jelas di hadapannya. Dino mengusap lembut wajah sang istri yang basah karna air mata, ia pun menundukan kepala Sita dan mengecup keningnya, seketiaka mereka pun saling berpelukan semakin lama semakin mengeratkan pelukan mereka, melepas kerinduan yang menggebu selama ini.


Bi Marni yang menyaksikan ini, ikut menangis, terlihat kerinduan yang begitu besar, cinta dan kasih sayang mereka yang saling memiliki, antara bahagia dan duka, Bi Marni pun melihat Aditya yang hancur.


Tak lama setelah menyaksikan itu, Aditya pun berkata kembali, "Amel minggirlah, menjauh dari laki-laki bereng*ek itu!"


Mendengar itu Sita dan Dino pun mengurai pelukan mereka.


"Apa yang Pak Aditya lakukan, kenapa memukulinya?" tanya Sita dengan Marah.


"Kau marah padaku Amel, dia yang telah menghancurkan hidupmu, kenapa masih saja kamu bela?"


"Dia suamiku, Pak, sampai kapan pun dia adalah suamiku." Tegas Amel.


"Amel dia sudah menikahi perempuan lain," ucap Aditya penuh penekanan.


Deg ...


Seketika Amel terdiam.

__ADS_1


"Tidak, tidak ini salah paham." Dino segera berdiri dan mencoba menjelaskan.


Tiba-tiba Aditya kembali melayangkan tinjunya, namun Sita menghalanginya dan spontan tinjunya mengenai dada Sita.


"Aaakkhhh ...." keluhnya kesakitan.


"Sitaaaa!"


"Aameelll!"


"Ya Alloh, Nonnn!"


Dino segera memangku sang istri keatas tempat tidur. "Sayang, Kamu sakit?" Dino khawatir.


Begitu juga dengan Aditya, "Maafkan saya Amel, saya tidak sengaja," ucapnya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja kalian tidak usah khawatir. Aku mohon hentikan ini pak Aditya." ucap Amel dengan menahan sakit di dadanya.


Mendengar permohonan Amel Aditya pun mencoba meredam emosonya. Akhirnya dia harus tahan melihat dua insan ini melepas rindu. Kemarahannya pada Dino yang telah melukai hati Amel dan rasa cemburunya yang begitu besar melihat mereka yang begitu dekat, kini ia pendam kembali dalam hati.


"Sayang, kenapa kamu pergi tanpa ijin padaku, kenapa kamu menghilang tanpa kabar? Aku khawatir padamu?" ucap Dino dengan terus menggenggam tangan sang istri dan tak berhenti mengecupnya dan air mata yang masih saja mengalir.


"Bagaimana kabarnya Elvira, apa kamu bahagia menikah dengannya?" tanya balik Sita tanpa menjawab semua pertanyaan Dino.


"Menikah? Aku tidak jadi menikah dengan Elvira sayang, untuk apa kamu menanyakannya? Dia sudah membusuk di penjara?"


"APA? Kamu tidak menikah dengan Elvira? Elvira di Penjara?" ucap Sita kaget. "Kenapa? Apa yang terjadi? Kamu tidak sedang berbohong padaku 'kan," lanjutnya penasaran.


"Ta-tapi Elena--" belum selesai Sita bicara Dino memotongnya.


"Elelna, Elena yang berhasil menggagalkan pernikahanku dan Elvira, bahkan ia tak berhenti membantuku mencarimu sayang," jelas Dino.


"APA!" Sita kaget.


Padahal Sita ingin memberitahu Dino kalau Elena menceritakan pernikahan Dino dan Elvira yang bahagia. Bahkan Elena tidak memberitahu pernikahannya yang gagal, bagaimana mungkin dia bilang Elena ikut mencarinya. Sita mengerti Elena mulai mempermainkan hidupnya lagi.


Tiba-tiba Sita mengingat bayi itu, "Akan tetapi, ba-bayi itu, bayi siapa itu?" tanya Sita sedikit ragu-ragu.


"Bayi?" Dino heran dengan pertanyaan Sita.


"Iya, tadi pagi aku melihatmu menggendong bayi, kamu begitu bahagia?"


"Kamu kerumah?"


Sita mengangguk.


"Kenapa tidak menemuiku?"


"Aku pikir itu bayi Elvira, aku tidak mau mengganggu kebahagiaan kalian, tadi pagi kamu dan ibu terlihat sangat bahagia,"

__ADS_1


"Rafka, bayi itu kuberi nama Rafka, dia baru ku Adopsi kemarin, aku kesepian tanpamu, aku ingin Rafka mengisi kekosongan dalam hidupku?"


"Anak Adopsi?" ucap Sita seakan tak percaya.


"Iya, Non," tiba-tiba Bi Marni menyela.


Sita menatap Bi Marni heran.


"Bibi tau itu, bahkan suami Non sendiri yang sudah mengadzani Arvi," tutur Bi Marni.


"Benarkah itu, Bi?" Wajah Sita mendadak berubah menjadi gembira.


"Jadi kemarin itu, benar-benaran suaramu?"


Dino mengngguk. Aku sendiri tidak tahu kalau dia adalah anakku, kalau aku tau Amel itu adalah dirimu, aku tidak akan menyia-yiakan waktuku.


Melihat permasalahan Amel dan Dino yang mulai menemui titik terang, Aditya semakin hancur, ia tak sanggup melihat pemandangan yang akan lebih menyakiti hatinya lagi, ia pun melengos pergi ke kamarnya.


Tiba-tiba Arvi menangis


Ea ... Ea ... Ea ...


"Suara itu ...." gumam Dino yang terdengar oleh Sita.


"Arvi Aldino," buah hati kita.


"Arvi Aldino," ulang Dino.


Dino bangkit dan menghampiri buah hatinya, dengan sangat hati-hati Dino memangkunya, dengan penuh kasih sayang. Tangis Arvi pun seketika berhenti saat di gendong sang ayah.


"Anak Papa, kamu nakal ya, kenapa kamu gak bilang kemaren, kalau kamu anak papa, heem ... Bukankah kamu yang selalu mengganggu tidur papa hingga papa tidak bisa tidur nyenyak, heumm."


"Mengganggu tidur?" Sita mengerutkan keningnya.


Bi Marnipun melakukan hal yang sama.


Dino melirik Sita dan Bi Marni yang sedang menunjukan Expresi yang sama.


"Katakan pada mereka apa yang sudah kamu lakukan pada papa, ayo katakan heummm," ucap Dino lalu mencium kening sang buah hati. "Papa masih mengenal suara tangismu, saat hadir di mimpi papa, bahkan kamu yang mengundang papa kerumah sakit itu, tapi kenapa kamu diam saja heuummm,"


Seketika Arvi pun tersenyum seolah mentertawakan sang ayah.


"Dia tersenyum," ucap Dino.


semua membelalakan matanya.


Hahaha ... Semua orang pun tertawa bahagia melihat semua ini.


bersambung ...

__ADS_1


Apa yang akan dilakukan Aditya setelah ini?


tetap ikuti kisah mereka selanjutnya readers tercintaku❤❤❤❤


__ADS_2