
Elena pun menautkan satu tangannya kepunggung Dino tanpa rasa malu.
sementara satu tangannya mencoba membuka kancing bajunya sendiri dia sudah tidak sabar dirinya di ja**h oleh Dino.
Namun kemudian Sita pun datang, "Elena!"
Teriak Sita dengan marah. Matanya menatap tajam perempuan laknat itu.
Sontak Elena dan Dino pun kaget. Elena mendorong tubuh Dino yang tadi mengukungnya ke sebalah kanan.
Elena pun berpura-pura menangis. Sambil menutupi dadanya yang sudah terbuka...
Sementara Dino. Dia memegang kepalanya yang terasa pusing kembali.
"Sita...Dino memaksaku," dusta Elena.
"Entah apa yang terjadi padanya, dia bilang mungpung Sita dan Ibu sedang tidur. Aku sudah menolaknya tapi dia tetap memaksa," Ucap Elena.
Plakkk...tamparan Sita pun mendarat di pipi Elena.
"aawww..." keluhnya kesakitan.
"Apa-apaan ini Sita. Awww sakit sekali."
"Sayang, ada apa ini." Dino mencoba bangun dari tempat tidur. Dan melihat sekeliling.
"Kenap istri ku ada dua," ucapnya dengan menggisik kedua matanya.
"Dia yang kamu bilang memaksa." tunjuk Sita yang melihat keadaan suaminya dalam keadaan tidak berdaya.
"Pergi dari sini atau ku laporkan kamu pada polisi."
"A-apa maksudmu." Elena masih saja berpura pura.
Namun, tanpa banyak bicara Sita menjawab pertanyaan Elena dengan memperlihatkan video perbuatannya , saat memasukan obat-obatan pada minuman tadi yang telah terekam oleh hand phone Sita.
Ya diam-diam Sita menyimpan hand phone nya di dapur saat tadi memergoki Elena yang sedang memeluk Dino erat karna ada tikus.
Elena dibuat tidak berkutik dengan video itu.
Ia hendak merebut hand phone dari tangan Sita.
Namun Sita sigap menyembunyikannya kebelakang.
Elena pun kesal.
"Awas Sita, kamu sudah menawarkan permusuhan denganku," ucap nya Sambil menatap Sita dan berlalu pergi, tak lupa Ia merapihkan dirinya.
"Tunggu." Sita menghentikan langkah Elena.
Elena pun menoleh ke arah Sita.
"Teror mu di malam pernikahan tidak akan membuat ku getir. Cobalah bersahabat dengan takdir," ucap Sita.
"Allah tidak akan memisahkan sesuatu yang baik melainkan akan di gantikan dengan yang lebih baik lagi," lanjut Sita bicara.
Elena pun pergi dengan memasang wajah sinisnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Elenapun menangis sejadi-jadinya. Dia pun terus berteriak memanggil nama Dino, Dengan meremas kepalanya sendiri.
Dinooo ... Dinooo ....
"Kenapa kau jahat...aku yang lebih dulu mengenal mu kenapa dia yang kau nikahi."
"Persetan dengan semua kata-kata Sita, bagi ku Dino takdirku yang terbaik. Aku tidak akan melepasnya begitu saja lihat saja nanti," Ucap nya penuh amarah Sambil menangis.
Sementara Sita dia segera membuatkan air lemon untuk mengembalikan kesadaran Dino.
Setelah kesadaran Dino kembali. Sita pun mencoba membangunkan Ibu dari tidurnya. Takutnya obat tidur itu berpengaruh pada kesehatan Ibu karna di berikan tidak sesuai dosis.
Untunglah Ibu pun langsung terbangun.
"Sita apa yang terjadi," ucap Ibu.
Belum sempat Sita menjawab. Ibu melihat ke arah jam dinding. Waktu menunjukan pukul 18.15 wib.
"Astagfirulloh, sayang, Ibu belum Salat nak, Apakah sudah Adzan?"
"Iya sudah Adzan bu, Ibu Salat dulu saja, nanti Sita jelasin apa yang sudah terjadi. Sita sama Dino juga belum Salat bu."
"Iya sayang," ucap Ibu.
Ibu pun segera pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu, begitu pun dengan Sita dan Dino.
Setelah selesai Salat Ibu pun menemui Sita Dan Dino yang sudah dulu menunggu di ruang tamu tempat biasa mereka berbincang.
Sita pun menjelaskan semuanya. Dan memperlihatkan video tadi.
"Astagfirulloh haladzim." Ibu dan Dino berbarengan kaget mengetahui semua itu.
Sita pun membalas pelukan sang Suami Dengan menyimpan kedua tangannya di punggung Suaminya. Dan berkata, "Tidak apa-apa yang penting sekarang semua baik baik saja."
"Kejadian tempo lalu," sela Ibu heran tak mengerti.
Mereka pun melepaskan pelukannya.
"Iya Bu, kejadian tempo lalu." ucap Dino.
"Apa yang terjadi?" tanya Ibu.
Dino dan Sita pun menjelaskan semua yang terjadi saat teror malam pernikahan, sampai mereka memergoki Elena di restoran.
"Ya. Allah nak, itu penyebab kamu pingsan dihari pernikahan," ucap Ibu sambil mengelus rambut Sita yang tertutup hijab.
Sita pun mengangguk.
"Ibu tidak menyangka Elena menyimpan rasa yang begitu besar pada Kamu Din."
"Setelah hari ini Ibu khawatir, dia akan lebih nekat lagi."
"Ibu jadi yakin dia tidak akan melepaskan kamu begitu saja. Ibu kecewa sekali padanya. Padahal Ibu sudah menganggapnya sebagai anak Ibu sendiri."
"Iya bu. Dino juga sangat kecewa padanya. Dino pikir perhatian dia sama Ibu selama ini tulus," ucap Dino lalu menghela nafas panjang membuang sesak di dadanya.
"Kalian berdua harus lebih hati-hati, Ibu berharap kalian berdua bisa saling percaya. Jangan mudah goyah oleh apa pun terutama kamu Sit."
__ADS_1
Dino dan Sita pun mengangguk kemudian saling tatap dan saling lempar senyum. kemudian saling berpegangan tangan.
Lebih baik kalian tidur sekarang besok kalian harus bekerja.
Ibu pun pergi ke kamarnya. Disusul Dino dan Sita yang pergi ke kamarnya juga.
Dino mengunci pintu, dan langsung memeluk Istri sang pujaan hati itu dari belakang, seraya berkata. "Syukurlah aku selamat dari Elena, jika tidak, mungkin esok kamu akan pergi meninggalkankan aku."
"Tidak! siapa yang tau," ucap Sita
"Benarkah."
"Jika takdir bisa memaksa aku tetap menikah dengan mu, takdir pun bisa memaksa aku tetap bertahan denganmu."
"Oya." ucap Dino sambil membalikan tubuh Sita agar berhadapan.
"Ya, Siap yang tau akan takdir kita, saat aku ingin menghentikan pernikahan waktu itu, Allah malah mengiginkan pernikahan itu tetap berlangsung. Mungkin esok saat aku ingin pergi meninggalkanmu bisa saja Allah memaksa aku untuk tetap bersamamu."
"Kamu benar."
"Siapa yang tau, kamu yang tidak mencintaiku akan secepat itu jatuh cinta padaku. Iya kan?"
"Hemm...ge er kamu."
Sita pun melepaskan pelukan Dino dan duduk diatas tempat tidur.
"Lah ko ge er sih... Iya kan. Apa kamu tidak mencintaiku?"
Dino pun mengikuti Sita. Dan duduk di sebelahnya. Dengan tatapan lembut yang mempesona.
"Aku tidak tau. Aku hanya mencoba bersahabat dengan takdir," ucap Sita.
"Oya... Perempuan itu memang pandai menyembunyikan perasaannya.Tapi tidak apa, aku tau kamu mencintaiku."
Sita pun tersenyum. Seolah mengiyakan perkataan Suaminya. Pipinya pun berubah merah merona.
Dino pun menatap Sita lekat, hasratnya pun mulai berkelana, dan dia pun me***cup lembut bibir indah sang istri.
Sita pun mundur. Menghentikan aksi suaminya.
Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Sita, jika Suaminya me***cup bibirnya dia pasti mundur. Namun beda keadaan dulu dan sekarang, jika dulu mundur karna terbersit keraguan akibat ulah Elena, tapi sekarang mundur karna dia belum Salat Isya.
*Hik...hik....Sabar ya Dino...*
"Kenapa," tanya Dino.
"Kita belum Salat sayang,"
Apa? sayang! Alhamdulilah ya Allah Akhirnya dia memanggil ku sayang.
"Emmuah..." di kecupnya kening sang istri.
Dino pun berdiri dan kegirangan mengangkat kedua tangannya... yesss.
Dia pun mengsap mukanya dengan kedua tangan nya. Lalu pergi mengambil wudhu.
"Ayo sayang kita Shalat."
__ADS_1
Sita pun tertawa lucu melihat tingkah suaminya.
Lalu menyusul Dino, "Iya sayang."