
"Apaan sih, lepasin, Sayang! Nanti ada yang lihat," keluh Sita lalu menjauhkan tubuh sang suami.
"Biarin, orang kita suami istri," kata Dino.
"Ya, tapi gak perlu genit di luar juga, nanti aja di kamar genitnya," ucap Sita diakhiri senyuman.
"Biarin, semua orang juga lagi dikamarnya masing-masing, gak akan ada yang lihat. Kamu juga dingin 'kan, sini aku peluk." Dino menarik tubuh sang istri kembali agar mendekat lagi dengannya, kemudian mendekapnya.
Sita pun menyandarkan kepalanya di dada sang suami, dengan tangan melingkar indah di pinggang sang suami, "Kamu juga dingin 'kan, Sayang."
Keduanya saling lempar senyum.
Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan mereka di dedepan pintu kamar masing-masing.
'Entah kenapa, hati ini masih saja sakit saat melihat kamu dengan yang lain, padahal aku sudah berusaha melupakanmu' Batin Aditya, yang masih cemburu melihat kemesraan Dino dan Sita.
Ipan pun berdiri di pintu yang sama menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu, ia pun termenung 'Andai aku tidak menolak perjodohan itu, mungkin sekarangan aku yang sedang memelukmu, dan merasakan hangatnya pelukanmu' batin Ipan.
Dipintu kamar lain.
'Kenapa, Din. Kamu melilih dia? Apa kurangku yang membuatmu tidak pernah jatuh cinta padaku' Elena pun membatin menyaksikan semua itu, tidak terasa air mata menetes di pipinya.
Ratih hendak keluar dari kamarnya, ia pun melihat Elena yang meneteskan air mata karena melihat Sita dan Dino.
Ratih tersenyum melihat kemesraan yang dia saksikan, "Kau beruntung Sita. Andai Bimo tulus mencintaiku, dan andai dia masih hidup," gumam Ratih menyadar lamunan Elena.
"Kau!" Elena terkejut.
"Ya!"
"Jadi kau seorang janda?"
"Kenapa? Masalah jika aku janda? Meski aku janda aku perempuan baik tidak akan merusak rumah tangga orang lain," ucap Ratih.
"Heyyy, kau berusaha menyindirku!"
"Jadi kau tersindir! Apa kau perusak rumah tangga orang lain?"
"Euu ... euu ...." Elena seketika gugup.
"Apa jangan-jangan kau yang membuat Sita dan Dino terpisah selama berbulan-bulan?" tanya Ratih penasaran.
"Dia ada di penjara, bukan aku, aku yang menyelamatkan pernikahan mereka," elak Elana.
"Aku tidak percaya! Aku melihatmu menangis melihat kemesraan mereka. Sayang sekali, aku belum sempat menanyakan tentangmu pada Sita, awas aja kalau kamu pelakunya!"
Elena menatap sinis Ratih.
Ratih pun melangkah hendak menghampiri Sita dan Dino. Namun, langkahnya ia hentikan saat melihat Ipan dan Aditya yang berdiri bersebelahan di depan pintu, memperhatikan Sita dan Dino.
Elena pun memperhatikan kenapa Ratih menghentikan langkahnya, dilihatnya Aditya dan Ipan yang berdiri didepan kamarnya.
Ratih bergumam, "Ada apa ini? Semua termenung memperhatikan Sita dan Dino?" pikir Ratih, "Dit," panggilnya menyadarkan Aditya.
Aditya sedikit terkejut, "Rat! Kamu mau kemana?" tanya Aditya.
"Kedepan, yuk!" ajaknya.
"Ngapain?" tanya Aditya.
"Kita lihat-lihat pemandangan luar," ucap Ratih.
"Boleh juga," jawab Aditya. lalu melangkah menghampiri Ratih.
__ADS_1
Ipan yang juga tersadar melemparkan senyumannya pada Ratih.
Ratih pun melempar senyumnya.
'Dia yang namanya Ipan, tampan juga, pantas Sita langsung kesengsem waktu itu!' Batin Ratih.
Ratih memperhatikan Ipan.
"Heyyy, apa yang kau lihat? Ayo!" ajak Aditya pada Ratih yang sedang melirik Ipan.
Ratih melirik Aditya. Kemudian melirik Ipan kembali.
"Ipan, ayo ikut kedepan!" ajak Ratih mencoba mengakrabkan diri dengan Ipan.
"Emang boleh?" tanya Ipan.
"Boleh dong," jawab Ratih.
Ipan pun mengikuti Ratih dan Aditya, yang telah melangkah.
Namun, mereka menghentikan langkahnya, setelah mereka berdiri tepet di belakang Dino dan Sita yang masih berpeluk hangat.
"Ehemmm," Ratih berdehem.
Seketika mereka melepaskna pelukan mereka.
"Ratih!" Sita terkejut, saat membalikan badannya, melihat Aditya dan Ipan juga yang berada di sana Sita pun mendadak gugup karna malu, "Ka-kalian mau kemana?"
Dino tersenyum melihat kegugupan sang istri.
"Mau numpang lewat kedepan sebentar," canda Ratih lalu melanjutkan langkahnya dengan tersenyum, dan di ikuti Ipan juga Aditya yang juga melempar senyum mereka.
Selepas kepergian mereka, Dino tertawa.
"Boleh kulihat pipi merahmu?" Dino malah menggoda Sita.
"Iiih, malah meledek!" ucapnya masih dibuat manja.
"Loh, ko meledek sih, aku bisa melihat loh pipimu merah merona!"
"Semua gara-gara kamu," kata Sita.
"Kok, aku sih!"
"Iya, Kamu genit sih!"
"Genit! Tapi kamu suka 'kan, lagian kamu juga mau tadi!"
Sita pun tersipu malu.
Dino pun memeluk Sita kembali.
"Udaaah, nanti yang lain lihat lagi! Aku malu."
Hikhikhik ...
"Aku seneng lihat kamu kayak gini, lucu tau," ucap Dino.
"Iiiihhh dasar ... ayo kita kekamar!" ajak Sita.
"Tuh 'kan ngajak ngamar."
"Apaan sih, lihat tuh Arvi dan Rafka tertidur di kereta."
__ADS_1
"Oooh, mungpung mereka tidur ya, Sayang." Dino menyenggol sang istri lembut.
"Saayaang, kamu ini, ya," Sita mencubit tangan sang suami.
"Awww ... Sakit tau,"
"Biarin!"
Hahahha keduanya tertawa bahagia bersama, dan mendorong kedua kereta bayi masuk ke kamar.
Elena masih memperhatikan mereka, ia menangis kembali dengan tangan yang mengepal kuat, ia pun masuk kedalam kamar dan memutup pintunya, dengan hati yang semakin hancur.
"Aku benci, berpura-pura baik di depan Dino, aku muak harus menyaksikan mereka bermesraan setiap saat, aku harus membuat Dino segera menceraikan Sita," pikir Elena.
Dengan keinginannya yang masih kuat untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga Sita dan Dino, Elena pun berpikir untuk melibatkan orang lain dalam rencananya.
Melihat Ipan yang duduk sendiri di teras Villa tengah memperhatikan Ratih dan Aditya yang Asyik bercanda di halaman, Elena pun duduk di samping Ipan.
"Lagi ngapain? Gak ikut bercanda sama mereka?" tanya Elena tiba-tiba.
Ipan melirik Elena.
"Enggak, aku mau disini saja," jawab Ipan.
"Oh ya, Dino dan Sita tadi mesra banget ya. Apa kamu tidak menyesal tidak menerima Sita dulu?" pertanyaan Elena berhasil mengejutkan Ipan.
"Apa maksudmu?" tanya Ipan.
"Ya, seharusnya kamu 'kan yang menikah sama Sita, bukan Dino?"
"Jodoh itu diatur sama Allah, Kita tidak pernah tau siapa jodoh kita."
"Kamu mau merebut Sita dari Dino gak?" Dengan berani Elena mengatakan itu pada Ipan.
"Astagfirullah, El, apa maksudmu?" Ipan semakin terkejut.
"Aku mau kita kerja sama, aku bisa dapatkan Dino, dan kamu bisa dapatkan Sita, gimana?" tanpa malu Elena trus mengutarakan keinginan busuknya.
"Elena! jangan mempengaruhiku dengan pikiran burukmu itu, ya!" bentak Ipan.
"Ipaan. lihatlah Sita! Dia begitu cantik, dan menyayangi suaminya, apakah kamu tidak mau mempunyai istri yang baik seperti Sita? kalau aku jadi kamu ya, aku nyesel, dan aku bakalan rebut Sita dari Dino." Tidak hentinya Elena berusaha menghasut Ipan.
"Pergi dari hadapanku, Elena! Jangan pernah menghasutku, karna aku bukan dirimu."
"Ayolah Ipan, kamu berhak mendapatkan Sita, mau sampai kapan kamu jomlo, lagian bukankah dulu Sita suka padamu?"
"Kamu tau dari mana?"
"Ipaan, aku itu tau semua tentang kalian."
"Itu dulu, sekarang dia sangat menyayangi suaminya," tegas Ipan.
"Semua bisa berubah lagi Ipan, jika kamu mau merubahnya, Sita bisa kembali menyukaimu?" Elena tidak berhenti berusaha menghasut Ipan yang baru saja di landa patah hati.
"Aku pikir kamu benar-benar berubah ya, Dino pernah bilang padaku, kalau kamu sudah berubah dan berusaha mencari keberadaan Sita, untuk membantu mempersatukan mereka kembali saat mereka terpisah. Sekarang aku jadi ragu kalau kamu mencari Sita!" tutur Ipan. lalu bangkit hendak meninggalkan Elena.
Namun, Elena segera meraih tangan Ipan.
"Pikirkan baik-baik, atau kamu jomlo selamanya." Elena pun melepaskan tangan Ipan.
Ipan pun berlalu meninggalkan, Elena.
bersambung ....
__ADS_1
Reader tercinta ku, apakah Ipan akan terhasut oleh Elena, nantikan kisahnya di bab berikutnya ya, jangan lupa dukungan buat Author.😘😘😘