Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Melahirkan


__ADS_3

Aditya dan Bi marni yang tengah gelisah menunggu kelahiran bayi Amel, kini bersorak gembira dan mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa, ketika terdengar tangisan bayi laki-laki di dalam ruangan Amel.


"Pak, tolong urus administrasinya terlebih dahulu," Kata suster yang datang menghampiri Aditya.


Aditya pun segera pergi mengurus Administrasinya.


Di arah yang berbeda, Dino melangkah dengan kaki yang lemah berjalan menuju ruangan persalinan, setelah di tanyakan pada pihak rumah sakit, ternyata tidak ada pasien melahirkan atas nama Sita.


Meski begitu langkahnya terus terarah pada ruangan bayi, begitu melihat suster yang membawa bayi baru lahir kesana. Dilihatnya bayi-bayi yang imut dan lucu, berderailah air matanya.


"Syukurlah bayinya sehat," ucap Perawat pada Bi Marni yang mengikuti suster ke ruang bayi.


"Dimana Ayahnya," tanya suster, "Suruh dia Adzankan bayi ini segera," lanjut Suster.


"Ayahnya tidak disini suster, entah dimana ayahnya berada, biar nanti Tuan saya yang mengadankannya."


Deg ...


"Biar saya yang adzankan, Suster," ucap Dino yang mendengar perkataan Suster dan Bi Marni.


"Tuan siapa?" tanya Bi Marni.


Dino hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan Bi Marni.


Kemudian baru ia berkata, "Saya kebetulan lewat saja, dari pada menunggu Tuannya lama boleh saya yang adzankan," tanya Dino pada Bi Marni.


Bi Marni pun tersenyum, tanpa melarangnya.


Di gendongnya bayi itu dengan sangat hati-hati, selama ini Dino telah belajar cara menggendong bayi dengan baik, jadi dengan mudah Dino menggendongnya, Dino pun langsung mengadzankan bayi yang dilahirkan Amel kedunia dengan selamat, yang tak lain adalah putranya sendiri.


Suara adzan yang merdu dan indah kini terdengar di telinga sang buah hati yang selama ini dia nanti.


Diletakannya kembali bayi itu setelah Dino selesai melantunkan adzan, sebelum ia meletakan bayi itu di tempat tidurnya, ia mengecup lembut kening sang bayi yang lucu, seraya mendoakannya, "Semoga jadi Anak yang soleh ya, Nak. Aamiin," tuturnya dengan lembut.


"Aamiin," Bi Marni ikut mengamini, "Terimakasih Tuan, syukurlah bayi malang ini sudah diadzan-kan," tutur Bi Marni.


"Bayi malang?" Dino terheran.


"Iya tuan, ibu dan ayahnya terpisah, entahlah apakah mereka akan bersatu kembali atau tidak," tutur Bi Marni.


Deg ...


Seketika jantung Dino berdebar, "Siapa nama ibunya?" tanya Dino penasaran, berharap itu adalah istrinya.


"Amel Tuan, ini bayi Non Amel."


"Amel!" ulangnya dengan lemah. Kekecewaan terlihat di wajah Dino ia berharap mendengar nama Sita di mulut Bi Marni, namun nama lain lagi yang dia dengar, tak terasa air mata menetes dimatanya.


"Tuan kenapa?" tanya Bi Marni yang heran melihat Tuan dihadapannya meneteskan air mata.


"Tidak apa-apa," jawabnya seraya menyeka air mata. Dino pun keluar melangkah dari ruangan bayi itu dengan lemah, kini kekecewaan yang ia dapatkan kembali.


"Kasihan bayi ini, Ayahnya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu karna kecelakaan, sekarang ibunya meninggal setelah melahirkannya, ibunya tidak memiliki sanak keluarga lain lagi," ucap seorang Suster yang berjalan melawati Dino disana.

__ADS_1


"Nasib bayi ini akan berakhir di panti asuhan," tutur Suster satunya.


Deg ...


Dino merasa kasihan.


"Suster, biar saya yang adopsi bayi itu." Tanpa di duga Dino tiba-tiba berniat mengadopsi bayi itu.


"Benarkah Tuan?"


"Ya," jawab Dino dengan tegas, tanpa berpikir apa pun.


"Syukurlah, nasibmu baik Nak, ada yang langsung mau mengadopsimu," kata Suster itu pada bayi laki-laki yang di gendongnya.


Bi Marni mendengar pembicaraan Dino dengan suster diluar, Bi Marni pun keluar menghampiri, "Hati Tuan sangat mulia, semoga Allah selalu memberi kebahagiaan pada, Tuan," ucap Bi Marni yang terharu pada tindakan Dino.


Dino hanya tersenyum.


"Apakah bayinya sudah di adzankan?" tanya Dino.


"Belum, Pak. Silahlan bapak Adzankan bayi ini," ucap Suster itu sambil masuk kedalam ruangan.


Dino pun mengangguk dan ikut masuk ke ruangan itu lalu mengadzankan bayi laki-laki itu.


Setelah mengadzani bayi itu Dino melirik bayi laki-laki disebelahnya, bayi yang dia Adzani tadi, putranya sendiri yang tidak ia ketahui, Ada rasa tertarik pada bayi laki-laki itu, teduh, nyaman dan indah, lucu serta menggemaskan, ingin sekali dia mencubitnya. "Bayi ini lucu sekali," tuturnya pada Bi Marni.


"Iya tuan, bayinya menggemaskan, tapi kalau di lihat-lihat kok mirip tuan ya," canda Bi Marni tanpa disadari.


Hahaha ... Dino pun tertawa, "Mungkin karna saya yang mengadzaninya tadi," celetuk Dino kemudian.


Hahaha ...


"Tuan Silahkan segera urus persyaratan pengadopsian bayi ini jika Anda benar-banar mau mengadopsinya," kata Suster memberi saran.


"Tentu saja," ucap Dino.


***


Amel tengah berbaring lemah Di ranjang pasien, setelah berjuang melahirkan sang bayi yang selama ini dia nantikan, "Dimana bayi ku?" tanya Amel pada Aditya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Mungkin di bawa keruang bayi, saya tidak tahu karna tadi mengurus administrasi dulu," tutur Aditya.


"Makasi, Pak, sudah mau mengurus administrasinya, semua pengeluaran bapak potong saja dari gaji bulanan saya," ucap Amel.


"Kenapa harus di potong? Itu hadiah buat bayimu?"


"Hadiah!"


"Ya, hadiah, bukankan kalau orang melahirkan suka dikasih hadiah, itu hadiah ku untuk bayimu,"


"Tapi Pak, biyayanya pasti mahal, hadiah tidak semahal itu, saya janji saya akan membayarnya."


"Terserah aku dong aku mau ngasih hadiah apa?"

__ADS_1


"Pak Aditya benar, ngasih hadiah itu ya bebas, tergantung sama yang mau ngasih, kalau biyaya rumah sakit ini mau Pak Aditya hadiahkan buat si tampan ini ya terima saja lah, Non, lagian uang bukan masalah buat Pak, Aditya, iya 'kan Pak?" ucap Bi Marni sambil membaya bayinya masuk kedalam.


"Masya Alloh anak mama sayang, sini mama gendong," ucap Amel dengan lembut.


Bi Marni pun menyerahkan bayinya pada Amel.


Amel pun menggendong bayinya dengan penuh kasih sayang, Aura keibuannya kini mulai terlihat jelas, lembut, penuh kasih sayang.


"Terimakasih, Pak, selama ini bapak sudah banyak membantu saya," ucap Amel saat sedang menggendong bayinya.


Aditya hanya tersenyum dan mengngguk mengiyakannya.


"Saya boleh menggendongnya?" tanya Aditya.


"Tentu saja,"


Amel pun menyerahkan bayinya pada Aditya.


"E, e, e, tunggu! Aku tidak bisa gendong bayi, bagaimana caranya?"


Hahaha ...


"Sini Bibi yang ajarin."


Bi Marni pun mengajarkan Aditya menggendong bayi, alhasil Aditya pun bisa menggendong bayi itu dengan sempurna.


"Biar ku Adzankan sekalian," ucap Aditya saat setelah menggendong bayinya.


"Bayinya sudah di adzankan, Pak," kata Bi Marni.


Sontak Amel dan Aditya pun kaget mendengarnya.


Melihat mereka yang kaget, Bi Marni pun menceritakan semua kejadian tadi.


Mendengar itu Amel malah terdunduk lesu, terlihat kesedihan di wajahnya.


"Non Amel, kenapa sedih?" tanya Bimarni.


"Seharusnya ayahnya yang mengadankan dia, kenapa harus orang lain?" ucapnya pun terisak.


"Siapapun itu, yang penting bayi ini sudah diadzankan, Non. Non Amel tidak usah khawatir laki-laki yang Mengadaninya tadi adalah laki-laki yang baik, bibi yakin itu. Suara Adzannya juga bagus, merdu, bikin hati meleleh Non."


Deg ...


Jantung Amel berdebar seketika dia mengingat suara adzan sang suami yang indah dan merdu.


"Dimana dia sekarang, Bi?" tanya Sita penasaran.


"Dia sedang mengurus berkas untuk adopsi anak, apa Non Amel mau bertemu dengannya?"


"Iya Bi, aku mau bertemu dengannya?" ucap Amel dengan nafas yang tiba-tiba tidak beraturan.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangn lupa Like komennya dong reders, beri semangat Extra biar makin semangat up❤❤❤❤❤❤


__ADS_2