
Dino dan Jons mengangkat Elvira kekamar. Dino mengangkatnya di bagian kaki sementara Jon di bagian badan.
Di letakannya Elvira di atas tempat tidur.
"Terimakasih, Tuan." ucap Dino pada Jons yang belun ia ketahui namanya.
"Sama-sama."
"Pak Dino kelihatan begitu panik, apa dia istri Anda?" tanya Jons pura-pura.
Dino tersentak kaget, "Bukan Pak, dia sudah seperti sodara bagi ku,"
"Oh, pantas Anda terlihat cemas,"
"Oh, ya, ini minumlah biar kecemasan Anda mereda! Sepertinya Nona ini pingsan setelah membeli air di luar," Jons memberikan botol minum yang sudah ia beri obat tidur, sesuai kemauannya, bukan di beri pera***ang seperti kemauan Elvira.
"Baiklah, terimakasih."
Dino pun meminum air tersebut.
Elvira membuka sedikit matanya, mengintip.
Jons melirik Elvira, dan tersenyum.
Selang beberapa menit, brak ... Dino terjungkal keatas tempat tidur tak bisa menahan beratnya kantuk yang ia rasa.
Elvira bengong. "Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pingsan?" Elvira menelisik Jons.
"Jangan Khawatir dia tertidur," ucap Jons
"APA! Dia tidur Jons. Kau campurkan obat tidur? Bagaimana bisa dia melakukannya denganku Jons?" Elvira menekan suaranya.
"Ya," Jons menjawab singkat.
"Kau membodohiku lagi Jons!" Elvira masih menekan suaranya.
"Dengar Elvira! Aku tidak membodohimu, di rahimmu akan ada jabang bayiku, aku tidak mau ada jabang bayi lain tertanam disana."
"APA!" Elvira semakin di buat kaget dengan perkataan Jons.
"Kurang ajar Jons, kau mau menggagalkan rencanaku? Elvira memukul bahu Jons.
Dengan Sigap Jons menggenggam tangan Elvira.
__ADS_1
"Dengar sayang! rencanamu tidak akan gagal, kau hanya tinggal pura-pura menangis, ternodai Dino, tidur lah disampingnya, dan ini ...." Jons menyodorkan pewarna merah darah pada Elvira.
Elvira tersenyum mengerti.
"Baiklah," ucapnya pasrah.
"Bagus," ucap Jons.
'Sial kenapa jadi aku yang di atur sama dia sih' batin Elvira kesal.
"Dengar, Elvira, kau sudah menyerahkan milikmu padaku, jadi tidak boleh ada yang menggunakannya selain aku, karna jika itu terjadi aku tidak akan segan membongkar rencana busukmu," ancam Jons
"KAU ....!" Elvira tidak menyangka Jons akan berbalik menyerangnya.
"Jangan khawatir, selama kau mendengar perkataanku, rencanamu aman, dan aku akan selalu membantumu," jelasnya.
"Aku menunggu di belakang, sepertinya mereka akan segera datang," ucap Jons lalu pergi.
"Assalamualikum," Ucap Ibu, Sita, dan Elena. Elena yang tadi ikut membantu ibu dan Sita membagikan makanan pada anak-anak yatim dan anak jalanan pun meminta ikut kembali kerumah Elvira. Tentu saja ibu mengijinkan.
Sita berjalan melangkah kekamar dengan menjinjing rantang makanan yang berisi makanan kesukaan suaminya. Di ikuti oleh ibu dan Elena di belakangnya.
Suatu hantaman di jantungnya hampir saja merobohkan ketahanan dirinya saat dia membuka pintu.
"Say ... " Seketika ia terpaku melihat pemandangan yang mampu meluluhlantahkan hatinya. Jantungnya seolah enggan memompa darah ke seluruh tubuhnya. Praankkk ... Rantang pun terjatuh kelantai, Seketika Sita ambruk.
"Tiidak ... Diiino ....!" jerit histeris Sita dengan deraian air mata di pipinya, yang melihat Dino tengah bertelanjang dada dengan keadaan memeluk Elvira yang tengah menangis histeris. "Kau jahat Dino," isaknya berpura-pura.
Sita menangis histeris.
Ibu dan Elena tersentak kaget dengan jeritan Sita dan langsung masuk kedalam.
"Astagfirulloh Dinooo ...! Teriak Ibu tak kalah histeris dari Sita. Seketika air mata mengalir di pipinya.
"Dinooo ....!" Elena sama kagetnya dengan Ibu dan Sita.
Dino terbangun mengucek matanya, "Astagfirullohhaladzin! Apa yang terjadi?" Dino heran tak mengerti melihat keadaanya yang tengah acak-acakan tanpa menggunakan pakaian, ia membuka selimut yang menutupi badannya, hanya ada cd menutupinya, namun karna kepanikan ia tak menyadari itu.
"Kau jahat Dino, kau Jahat, kau jahat," jerit histeris Elvira disebalahnya. Ia memukul-mukul dada Dino.
"Sita ...." Matanya tertuju pada sang istri yang telah ambruk di dasar lantai dengan isak tangis histerisnya.
"Tidak, sayang ini salah paham?" jelasnya.
__ADS_1
Ibu pun tak kuasa melihat Sita.
Ibu berjalan mendekati Dino dan, Plakkkk ....
Tamparan Ibu mendarat pipi anaknya.
Ibu ... Seketika Dino pun hancur dan menangis, tak berdaya ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi tak ada yang bisa ia ingat.
Elvira menyingkap seprei di sebelahnya, "Da-darah!" ucapnya histeris. "Darah, ti-tidak, kau-kau-Kau melakukannya Dino,"
"Tidak! Aku tidak mungkin melakukannya!" bentak Dino.
Ibu yang masih berdiri disana melihat bercak darah di seprai. "Tidaaaakkk- tidaaak-tidaaaakkk." Ibu menagis histeris.
"Da-darah," Sita yang ambruk pun mencoba berdiri, malangkah melihat noda tersebut. "Ti-tidak, tidak mungkin, ini tidak mungkin, Tidaaakkkkk, tiiiddaakkk!" jeritnya semakin histeris. Sita berlari keluar kamar, dia menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu. dengan membawa segala kehancurannya. Ibu mengikutinya dari belakang ibupun tergulai lemas di sofa ia tak percaya anaknya bisa melakukan ini.
Dino mencari pakaiannya di sekitar, terlihat disebelah Elvira, di ambilnya dan segera dia pakainya.
Elvira masih menangis histeris.
Elena yang berdiri mematung dengan air mata di pipinya pun merasa tidak percaya, ia gagal menghalangi rencana Elvira.
Dino segera menghampiri Sita.
"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku tidak tau apa-apa sayang." Dino bersimpuh mengambil tangan istrinya dan diciuminya bertubi-tubi. Namun Sita bagai raga tak bernyawa hanya diam tergulai lemah berderai air mata dengan tatapan mata yang kosong.
"Apa yang kaulakukan Dino, Ibu tidak menyangka anak ibu bisa melakukan ini," ucap ibu lirih masih dengan isak tangisnya.
Dino pun menangis dengan segala kehancurannya ia sunghuh didak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Aku benar-benar tidak mengerti, aku tidak mengerti Bu," isaknya. Pandangannya teralih kembali pada sang istri, "Sita, sayang, jangan menangis sayang!" Dino mengusap air mata di pipi istrinya, "Semua akan baik-baik saja sayang! Tatap mataku! Tak ada yang berubah, tataplah sayang! Tataplah! Tataplah!" Tangis Dino tak kuasa melihat istrinya. Sita tak meresponnya sama sekali. Dia hanya menangis dengan tatapan kosongnya. Sungguh kejadian ini telah membuatnya Shock luar biasa.
Di ruang tamu terlihat kehancuran diantara mereka, dengan tanda tanya di benak mereka masing masing.
Di dalam kamar. Elena geram pada Elvira. Ia mengusap air matanya dan berjalan menghampiri Elvira. Ia mengangkat tangan hensak menampar Elvira, namun Elvira sidap menangkapnya. "Kurang ajar kau Elvira, beraninya kau melakukan itu pada Dino."
"Waw ... Elena, siapa yang kau tangisi, heuh?" Elvira pun menghempas tangan Elena.
Ia memakai pakaiannya seraya berkata, "Sita sedang menangisi kehancurannya. Lalu kamu? Kau menangisi suami orang. Hahaha ...." ucapnya mencemooh.
Elena tak peduli dengan ucapan Elvira, "Aku tidak akan tinggal diam Elvira." Elena geram.
"Is, is, is, malang sekali nasib mu Elena, sudah tak bisa mendapatkan Dino, sekarang Dino bakal punya istri kedua. Pec-pec-pec. Tenang saja, kau boleh menjadi istri yang ke 3, hahaha ... Hups!" Elvira menutup mulutnya khawatir tawanya terdengar oleh Ibu, Sita dan Dino.
__ADS_1
Kedua gigi Elena beradu, tangannya mengepal kesal.