Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Keributan Warga


__ADS_3

Malam hari, selepas isya berlalu, sekelompok warga berbondong-bondong kerumah bu Erni, mereka mengetahui keberadaan Elvira yang menginap di rumah bu Erni, mereka pun Mendengar kabar Elvira adalah perempuan yang telah Dino nodai, mereka membawa serta pak Rt dan pak Rw menuju rumah bu Erni.


"Ayo. Ini tidak benar, mereka membiarkan perempuan yang bukan mahram menginap berhari-hari dirumah mereka," ucap salah seorang warga, dengan cepat mereka semua berjalan kerumah bu Erni.


"Tunggu, tunggu! Apa kalian yakin perempuan itu perempyan yang di nodai Dino." Pak Rt menghentikan sejenak langkah para warga.


"Benar, pak, untuk memasatikan lebih baik kita segera kesana sekarang?" ucap salah satu warga.


"Baiklah, baiklah, ayo!" ucap Pak Rt.


"Mari pak Rw." Pak Rw menganggukan kepalanya. Mereka pun melanjutkan langkahnya, dengan cepat mereka sampai di rumah bu Erni.


"Assalamualaikum bu Erni,"


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Terdengan suara warga memanggil-manggil bu Erni.


"Bu Erni. Bu Erni. Keluar," suara panggilan warga bergantian.


Semua anggota rumah yang berada di kamar masing-masing mendadak panik mendengar gemuruh suara warga memanggil nama ibu.


Mereka pun keluar dari kamar masing-masing, terkecuali Dino yang tidak ada karna belum pulang bekerja.


"Ada apa ini?" tanya Abah. Dengan melirik semua bergantian.


"Saya tidak tau Pak," jawab bu Erni.


"Mari kita lihat," ucap Abah.


Bu Erni dan yang lainnya mengangguk,


Dirasa lama, pemilik rumah tidak membuka pintunya mereka pun mengetuk pintu kembali.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


"Assalamualaikum, bu Erni," Pak Rt mengucap salam.


"Waalaikum salam, tunggu sebentar," ucap bu Erni yang masih berjalan menuju pintu depan rumahnya.


Ceklek ... Pintu pun terbuka.


Bu Erni dan yang lainnya, heran melihat banyak warga yang datang berbondong-bondong kerumahnya.

__ADS_1


"Pak RT, Pak Rw, ini ada apa ya, rame-rame kerumah saya?" tanya bu Erni dengan ramah.


"Itu dia perempuannya, pak Rt!" teriak seorang warga dengan menunjuk Elvira.


"Iya bener, itu dia," sahut yang lainnya.


Elvira tersentak, 'Ada apa ini?' batin Elvira.


Sita dan Abah saling melirik, mereka sudah menduga ini akan terjadi.


"Sabar pak, sabar, kita bicara baik-baik?" ucap Pak Rw menenangkan warga.


"Boleh kami masuk, bu Erni?" tanya pak Rt dengan sopan.


"Mari, Silahkan masuk pak?" bu Erni mempersilahkan dengan ramah. Meski terlihat kecemasan di raut wajahnya.


Pak Rt, dan pak Rw pun masuk, hanya beberapa warga yang disuruh masuk oleh pak Rt, yang lainnya di suruh menunggu di luar.


Mereka pun bersalaman sebelum mempersilahkan duduk.


"Silahkan duduk," ibu mempersilahkan setelah bersalaman.


"Ini siapa bu," tanya pak Rw pada Abah.


"Perkenalkan, saya orang tuanya Sita." Abah memperkenalkan dirinya.


"Kebetulan sekali Anda ada sini." ucap pak Rw. "Silahkan pak Rt, bapak saja yang bicara," lanjut pak Rw.


"Baik pak," ucap pak Rt pada pak Rw. Dan lanjut bicara pada bu Erni, "Begini bu Erni, kami langsung pada intinya saja, kedatangan kami kemari bermaksud menanyakan keberadaan gadis ini disini," ucap pak Rt dengan menunjuk Elvira.


"Siapa dia bu?" tanya pak Rt.


"Dia kerabat kami, Pak?" jawab ibu dengan sopan.


"Bohong pak, bohong, dia perempuan yang di nodai Dino pak," celetuk seorang warga dari luar.


"Iya bener, iya, bu Erni sudah membiarkan Anaknya, berbuat zinah di rumahnya sendiri." cemooh warga bersahutan.


"Astagfirullohhaladzim," ucap ibu, abah dan Sita berbarengan. Sementara Elvira diam dengan tenang, kedatangan mereka ternyata membawa keberuntungan buatnya, dia akan menggunakan kesempatan ini untuk mempengaruhi mereka agar menikahkannya dengan Dino.


"Tenang, bapak, ibu, jangan ribut." Pak Rw mencoba menenangkan.


"Apa benar yang dikatakan mereka bu?"


Bu Erni menunduk, bingung harus menjawab apa?


Sita sudah terlihat semakin cemas.


"Biar saya yang bicara pak," ucap abah setelah melihat bu Erni menunduk tak berdaya.


"Ini hanya sebuah kesalah pahaman, tidak seperti yang bapak dan ibu pikirkan,"Jawab abah.

__ADS_1


'APA' batin Elvira tersentak.


"Kita tanya saja sama perempuan itu pak?" celetuk seorang warga lagi yang tak sabaran.


Tiba-tiba Dino pulang, sungguh ia terkejut melihat sekelompok warga berkerumun dirumahnya. 'Apa yang mereka lakukan disini, apa jangan-jangan mereka mau menghakimi kami' batinnya menduga-duga.


"Ini dia orangnya datang pak, tidak sangka laki-laki berpenampilan baik ternyata kelakuannya be'at," ucap seorang warga.


"Astagfirullaoh halaadzim ada apa yak pak? Kenapa bapak mengatakan hal buruk seperti itu padaku?" tanya Dino dengan heran.


"Memang kamu be*at Dino, kamu telah menodai perempuan itu bukan, padahal kamu sudah memiliki istri masih saja kelayapan cari perempuan lain,"


"Jaga ucapan Anda!" Bentak Dino penuh amara. Sontak membuat semua orang dindalam rumah berhamburan keluar.


Terkecuali Sita masih duduk terkulai lemas dikursinya dengan mata yang berkaca, buliran bening membendung di pelupuk mata, kehancuran semakin membayangi dirinya.


"Sayang, tenanglah." Ibu berjalan menghampiri putranya.


Elvira pun berjalan mendekati Dino. Sengaja ia lakukan untuk memancing amarah warga. "Dino, aku takut," ucapnya.


"Ini dia, tanya langsung saja sama perempuan ini, apa yang sebenarnya terjadi?"


Deg ...


"Katakan nona, kallian berdua pasti sering berbuat mesumkan, sampe kalian dibawa kerumah ini, harusnya kalian dinikahkan dengan segera, jangan dibiarkan saja, kampung kita bisa terkena malapetaka kalau begini,"


"Tidak! Aku tidak pernah melakukan apa pun dengannya, ini hanya salah paham." Ucap Dino dengan nada penuh penekanan.


Deg ...


"APA! Salah paham Dino, kamu bilang salah paham!" Sanggah Elvira membuat semua orang terkejut. Dan melihat kearahnya.


Sita yang duduk lemas menunduk pun langsung tersentak dan mengangkat kepalanya.


"Ini, benar pak, dia sudah menodai saya, saya tidak terima dia selalu menyangkalnya," akunya.


"Elvira!" bentak Dino.


"Iya, Kau menodaiku Dino, bercak darah di seprei itu cukup mebuktikan kau melakukannya." Elvira meninggikan suaranya."Kau ingin aku mengabaikannya,"


"Atagfirullohhaladzim," ucap warga silih berganti.


Ibu shock tak menyangka Elvira akan membukanya di hadapan warga, kini matanya telah mengalirkan air mata.


Abah yang berdiri di depan pintu memegang dadanya yang terasa sesak. Sita pun melihat Abahnya kesakitan, ia segera bangkit menyeka air matanya dan menghampiri Abah,


"Abah, kemarilah!" Di tengah-tengah keributan Sita membawa abah masuk kedalam, dengan segera ia mencari obat untuk abah.


"Minumlah bah," ucap Sita diiringi tangis dan kekhawatiran. "Tenangkan diri Abah, Sita mohon bah!"


Abah menggenggam Erat tangan sang putri, menandakan dirinya sangat khawatir pada putrinya. Sita segera menyeka airmatanya yang terus mengalir.

__ADS_1


"Benarkan kan pak Rt, pak Rw, jangan sampai mereka berbuat mesum lagi, apalagi mereka tinggal serumah, bisa saja disaat orang tertidur mereka melakukannya," celetuk seorang warga.


"Astagfirulloh, picik sekali pikiran Anda pak!?" Dino meninggikan suaranya.


__ADS_2