Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Sita Pusing


__ADS_3

"Gak usah kamu angkat! Lebih baik kamu istirahat!" ucap Sita.


Dino pun tidak mengangkatnya.


Namun, Ipan 'tak berhenti menghubunginya terus.


"Sepertinya ini penting, Sayang. Aku harus mengangkatnya."


Sita menganggukan kepalanya.


"Iya, hallo Pan, ada apa?"


"Ah, Dino lama amat sih angkata teleponnya."


"Iya, Ada apa?"


"Kamu bisa kesini sekarang 'gak?"


"Aku baru dateng pan, libur sehari lagi, lah,"


"Haduh ... Din, Sini sebentar deh, ada masalah pengiriman, habis itu kamu balik lagi deh!"


"Oke, oke, aku kesitu sebentar." Dino pun pamit pada sang Istri.


"Sayang aku pergi sebentar ya," ijin Dino.


"Kamu masih cape 'kan, Sayang," tutur Sita.


"Gak papa, aku sebertar saja kok kesana, nanti aku langsung pulang lagi," ucapnya lembut, lalu mencium kening istri dan mengucap salam. Sita pun tak lupa mencium punggung tangan Suaminya, dan menjawab salam.


Dino langsung pergi kerumah Ipan, dengan cepat dia sampai. Jarak dari rumah Ipan ke rumah Dino hanya terhalang beberapa rumah jadi 'gak perlu butuh waktu lama. Kantor tempatnya kerja juga berdiri tepat satu bangunan dengan rumah Ipan.


"Ada apa kawan, serius amat sih?" tanya Dino yang melihat Ipan nampak sedang bingung.


"Din, akhirnya kamu datang juga, lega rasanya,"


"Kamu lega, aku sesak tau gak, kamu gangguin orang lagi haoneymoon aja," ucap Dino dengan bercanda.


"Haha ... Sorry kawan, masalah datang tak di undang," sahut Ipan.


"Mana masalahnya?"


"Ini loh Din, semua laporan ini kamu yang buat, kan?" Ipan menunjukan sebuah berkas laporan pada Dino.


"Ya," jawabnya singkat.


"Toko A minta uangnya di kembalikan, lantaran barang yang ia minta tidak dikirim. Coba cek lagi bukannya kamu sudah kirim barangnya?"


"Tentu sudah Pan. Kamu 'gak usah khawatir, pemilik toko ini sudah tua, makanya cerewet banget, dia sudah agak pikun juga, dia sering lupa seperti ini. Tapi tenang saja, setiap serah terima sama dia aku selalu video kok." penjelasan Dino.


"Syukurlah, kalau kamu punya bukti yang lebih kuat, kalau tidak, bisa bangkrut usahaku." Matanya melihat Dino.


Dino tersenyim kecil.


Tring ... suara nada whatapp di hand phone Ipan.


"Tuh, aku sudah kirim videonya sama kamu." Dino langsung berdiri dan pamit kembali, "Aku balik pulang ya, aku mau istirahat cape."


"Oke, Din, makasih,"


"Oke, santai aja bro." Dino pun berlalu pergi.


Di perjalanan menuju rumah, Dino berpapasan dengan Elena.

__ADS_1


"Dino!" Elena terpaku.


Dino berlalu begitu saja 'tak mau menghiraukan.


"Dino, tunggu!" Elena berusaha menghentikan langkah Dino. "Aku mohon, maafkan aku, aku khilap melakukannya."


Dino tetap saja tidak menghiraukan, dia pun terus melangkah.


"Dino ...." Elena meraih tangan Dino.


Dino pun langsung menepiskan tangannya. "Beraninya kamu memegang tangan laki-laki yang bukan muhrimmu, perempuan licik," ucap Dino dengan kesal.


Sontak kata-Kata itu membuat mata Elena berkaca-kaca.


Dino pun melanjutkan langkahnya.


"Dino ... tidakkah, sedikit saja kamu memikirkan perasaanku, aku mencintaimu sejak kecil, aku tidak pernah melirik laki-laki lain selain dirimu, kenapa kamu tidak mengerti itu?" ucapnya lirih dengan deraian air mata dipipinya.


"Cinta! Kamu bilang cinta! itu bukan cinta Elena! itu obsesimu!" Dino menekan suaranya.


"Tidak ... Dino! aku benar-benar mencintaimu."


"Kalau begitu, relakan aku bahagia, bersama Sita." Dino masih menekan suaranya.


"Tidak ... Dino! itu tidak mungkin. Aku sangat mencintaimu."


"Cinta, dan Obsesi itu beda Elena!" Dino pun langsung pergi meninggalkan Elena.


"Dino ... Dino ..."Elena terus memanggil, namun Dino tetap melangkah tanpa menghirukan.


"Kurang ajar kau Sita, ini semua gara-gara kamu, sungguh aku sangat membencimu." gerutunya dengan melangkah pulang kerumahnya.


Di dalam kamar Elena terus mondar-mandir, ia pun bicara sendiri, "Aku sudah kehabisan cara menyingkirkan Sita, aku tidak tau lagi harus bagaimana, sepertinya cinta mereka sudah mulai kuat. Aku harus segera menemukan cara baru menghancurkan Sita."


"Oke, besok, jika ibu pergi keluar aku harus mengikutinya," dia pun tersenyum sinis.


***


"Ibu, apa Dino dan Sita pulang hari ini?" tanya Elvira yang sedang menonton televisi.


Ibu duduk disebelah Elvira, "Ya Nak, Elvira. Kalau tidak macet di perjalanan mereka pasti sudah sampai dari tadi.


"Jangan lupa oleh-olehnya ya besok bawain kesini!" ucap Elvira dengan senyum.


"Tentu saja Nak, Elvira. Ibu pasti bawa kesini,"


Hahaha... Tawa keduanya.


"Nak, Ibu pamit ya, sudah malam. Kamu tidur yang nyenyak."


"Tentu, Bu. Terimakasih buat hari ini,"


"Sama-sama, Nak."


Baru saja Dino melangkah keluar hendak menjemput Ibu, Ibu sudah ada di depan rumah.


"Ibu!" baru saja Dino mau jemput Ibu.


"Gak usah, yuk masuk lagi!" ajak Ibu lalu melangkah masuk kedalam rumah.


"Assalmualikum,"


"Waalikumsalam," jawab Sita di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Ibu sudah pulang?"


"Iya, Sayang. Kalian sampai jam berapa kerumah?" tanya Ibu.


"Sekitar jam sepuluhan, Bu," jawab Sita.


Dino langsung memberikan bingkisan baju yang di belinya di Mall, "Nih, buat Ibu."


"Waww ... Oleh-oleh nih!" ucap Ibu gembira.


"Tepatnya, itu oleh- oleh Mall, Bu. Menantu Ibu yang pilihkan," ucap Dino lalu melirik Sita.


"Wahhhh ... makasih, Sayang." Ibu pun melirik Sita dan tersenyum.


"Besok kita keundangan Ratih, di pakai ya, Bu," pinta Sita.


"Temanmu itu menikah besok, Sayang?" tanya Ibu.


"Iya, Bu,"


"Syukurlah, besok dia akan jadi istri bos,"


"Iya, Bu, Sita seneng banget."


"Oh, ya, Sayang, gimana kabar Abah?"


"Alhamdulilah, Bu. Abah sehat, Abah juga titip salam buat Ibu,"


"Waalikumsalam."


"Udah dong ngobrolnya, Kita bobo yuk! udah ngantuk nih," ajak Dino pada Sita.


"Ya sudah, bobo gih, suamimu sudah nunggu."


Sita mengangguk dan tersenyum,"Sita duluan ya, Bu."


Ibu pun menganguk.


Ketika Sita berdiri Sita hampir tersungkur. Dengan Sigap Dino memrangkulnya.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Dino.


"Aku tidak tau, kepalaku tiba-tiba pusing," jawab Sita.


"Kamu pasti kecapean, sayang. Lebih baik kamu istirahat" ucap Ibu dengan khawatir.


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing . Malam yang panjang dirasakan oleh Dino. Yang tak tidur menjaga sang istri, dia khawatir dengan apa yang terjadi pada istrinya. Sejak menikah ini pertama kalinya Dino melihat sang istri pusing hampir tersungkur. Terkesan lebay sih, tapi itu ke khawatiran yang nyatanya dirasakan Dino saat ini. Sementara sang istri sendiri sudah terlelap tidur dalam dekapan sang suami.


***


Tamu undangan terlihat memenuhi gedung pernikahan yang serba mewah, terlihat Ratih dengan gaun berwarna putih yang indah dan Elegan bak permaisuri, di temani Pak Bimo yang berdiri di sebelahnya dengan gagah dan menawan.


Sita, Dino, dan Ibu pun segera menghampiri sang pengantin, lagi-lagi kepala Sita pun merasa pusing, hampir saja Ia tersungkur kembali. Kali ini, perut Sita pun terasa mual, tat kala mencium aroma masakan lezat yang di hidangkan untuk menyambut para tamu undangan.


"Kamu baik-baik saja, Sayang," tanya Dino khawatir.


Ibu pun tak kalah khawatirnya dengan Dino.


Tiba-tiba


Uo ... Uo ...


Bersambung .....

__ADS_1


Jangan lupa tekan like, vote, favoritnya ya kakak❤❤❤


__ADS_2