Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Bebas Larangan


__ADS_3

Dino pun pulang dengan keadaan wajah yang babak belur.


"Assalamualaikum," Dino mengucap salam.


"Waalaikumsalam," jawab Sita dan ibu.


"Itu Dino pulang, Ayo!" Ibu mengajak Sita keluar menemui Dino.


Begitu terkejutnya mereka saat baru sampai pintu kamar, Dino sudah berada di depan pintu dengan keadaan yang membuat mereka khawatir.


"Astagfirulloh! Sayang!" Ibu dan Sita kaget berbarengan.


"Kamu kenapa?" tanya Sita dengan khawatir.


"Dino, dikeroyok preman!" jawab Dino.


"Astagfirullahaladzim!" ucap Sita dan Ibu.


"Sita, simpan Arvi di kasurnya, biar ibu yang urus Arvi dan Rafka, kamu urus suamimu, pantas kedua anakmu barusan nangis terus!" ucap ibu dengan khawatir.


Sita pun meletakan Arvi, yang sudah berhenti menangis, begitu pun dengan Rafka, nampaknya tangisan mereka adalah sebuah ikatan batin dengan sang papa yang tengah dalam bahaya.


"Ayo, Sayang!" Sita membimbing sang suami untuk duduk di sofa dengan sangat khawatir. Dengan segera ia mengambil kotak p3k, dan duduk di samping sang suami.


"Ya Allah, bagaimana bisa orang-orang itu mengeroyokmu, Sayang," ucap Sita penuh rasa khawatir, ia pun segera mengambil salep di dalm kotak p3k.


"Biasalah, namanya juga preman, kamu gak usah khawatir gitu, aku gak pa pa kok, Sayang!"


"Gak, apa-apa gimana? Lihat wajahmu ini! Ya Allah pasti sakit sekali ini," Sita memperhatikan setiap letak luka di wajah suaminya. perlahan Sita mengoleskan obat pada luka sang suami dengan hati-hati, dan meniupnya guna mengurangi rasa perih.


Sementara Dino malah tersenyum bahagia melihat kepanikan sang istri.


"Aaww ... Sakit sayang!"


"Sakit, ya! Maaf! Maaf! Aku lebih pelan lagi ya, huuuhhh ... huuuhhh ...." Sita terus meniup luka sang suami sambil mengoles salep perlahan-lahan dengan rasa khawatirnya.


"Apa yang mereka inginkan, Din," tanya ibu.


"Biasalah, barang-barang Dino, tapi untung saja semua selamat, berkat bantuan warga sekitar mereka pun kabur.


"Syukur Alhamdulilah, Allah melindungimu," ucap ibu.


Sita tidak berhenti mengoles salep, pada setiap luka di wajah sang suami.


"Lain kali hati-hati, Sayang! Lukamu banyak sekali!" Sitapun terus meniupnya,


Huuuhhh ... Huuhhhhh ...


"Lebih dekat dong sayang niupnya!" pinta Dino pada sang istri yang sedang meniup luka di sebelah bibir.


Spontan Sita pun mendekatkan mulutnya.


Dengan segera Dino membalikan muka kearah sang istri, sehingga bibir mereka menempel, saat bibir Sita monyong.


Sita pun tersentak kaget, dan terpaku spontan menatap mata sang suami, sejenak mereka saling tatap dengan bibir yang masih beradu.


"Eeeheeemmm ...." ibu berdehem.


Sita dan Dino langung menjauhkan diri.


"Jangan lupa ada penonton nih!" goda ibu dengan tersenyum.


'Astagfirulloh' batin Sita.


Wajah Sita memerah seketika karna malu. Ia pun menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Sementara Dino tetap dengan senyum bahagianya.

__ADS_1


"Arvi dan Rafka sudah tidur, sekarang kalian juga istirahat! Ibu juga mau istirahat." Ibu melangkah pergi dengan senyum di bibirnya, dan menutup pintu perlahan.


Selepas kepergian ibu.


"Ya Alloh, Sayang, kamu apa-apaan sih, aku malu banget tau sama ibu," ucap Sita dengan manja.


Hehemmm ... Dino tersenyum.


"Biarin! ibu aja seneng melihatnya!" kata Dino.


"Iiihh ... apaan sih, aku gak suka, aku malu banget sama ibu." Sita beralih duduk ketempat tidur.


Dino pun mengikuti sang istri, dan duduk disampingnya.


"Kalau sekarang, gimana?" Dino mendekatkan wajahnya dan mengangkat alis.


"Gimana apa?" Sita menggeserkan tubuhnya.


Dino pun semakin mendekat.


"Mau apa kamu?" tanya Sita dengan khawatir.


Dino mengerutkan keningnya.


"Kok, mau apa sih?" ucap Dino dengan tersenyum.


"Ya ... ya, mau apa?" Sita mendongkakan badannya kebelakang saat Dino semakin mendekatinya.


"Apaan sih, kok semakin menjauh?" Dino menarik sang istri dan mendekatkannya.


Sita semakin tersentak


"Aku ini suamimu, loh," kata Dino.


"Kok, aku deg degan ya, Sayang. Aku takut kamu ....!" ucap Sita dengan ragu.


"Kok, tertawa sih?" tanya Sita


"Habis kamu aneh!"


"Apa iya, aku aneh?"


"Iya, aneh sekali, saat aku ngobrol sama vania aja agresif banget, sekarang kok malah mundur," jelas Dino.


"Ikh, kok malah ngomongin, Vania?" Sita cemberut.


"Tuh 'kan cemberut." Dino kembali duduk dan memeluk sang istri.


"kenapa? Kamu sudah tidak nipas, dan takut aku memulainya?" ucap Dino dengan menatap sang istri penuh arti.


Heeee ....


Sita mengangguk.


"Kenapa? kita sudah sering melakukan itu sebelumnya, tuh hasilnya," tunjuk Dino melihat Arvi, lalu kembali melihat sang istri.


"Eummm ... Aku takut, bekas melahirkan masih sakit."


Heemmm Dino tersenyum.


"Untuk itu kita dikasih waktu empat puluh hari, suapaya intimu siap, rasa takut itu hanya perasaanmu saja, atau jangan-jangan kamu gak kagen sama aku." Dino merubah wajahnya jadi cemberut.


"Enggak! Enggak gitu, Sayang. Aku kangen banget sama kamu." Dengan segera Sita meraih tangan sang suami dan dikecupnya.


Dino pun tersenyum kembali.

__ADS_1


"Ya sudah, aku shalat dulu, Sayang? Kamu sudah shalat?" tanya Dino.


Sita menggelengkan kepalanya.


"Ayo! Kita berjamaah!" ajak Dino. lalu melangkah.


Sita malah termenung, tidak mengikuti sang suami.


'Apa tidak akan sakit, jika suamiku memulainya, rasanya baru kemarin aku melahirkan Arvi' Sita membatin.


Merasa sang istri tidak mengikuti, Dino pun membalikan badannya kembali.


"Sayang, ayo!" panggil Dino.


"I-iya!"


Dino menuntun sang istri sampai ke tempat wudu.


"Ayo, cepat!" kata Dino.


"Sabar dong, Sayang!" kata Sita.


Sita pun membasuh tangan, berkumur, membasuh hidung, muka, hingga selesai sampai akhir wudu, tidak lupa membaca do'a sesudah berwudu.


"Udah, sekarang giliranmu!" kata Sita.


"Oke!" dengan sengaja Dino menyenggolkan sikutnya ke tangan sang istri, hingga kulit mereka bersentuhan. "Maaf, disengaja!" candanya.


"Sayaang! Kau sengaja melakukannya! Awas ya!" Sita pun menyipratkan air pada Dino.


"Heyyy, basah sayang," keluh Dino.


"Biarin!"


"Oke, oke, maaf! Ampun sayang!" kata Dino.


Sita pun berhenti menyipratkan airnya, namun malah Dino balik menyiprat air ke wajah Sita.


"Saayyaang! Curang ya, basah semua nih!" keluh Sita.


"Kamu yang mulai!" kata Dino


"Kamu!"


"Kamu!"


"Kamu!"


"Iya deh, aku yang mulai, maaf ya, cantik!" ucap Dino sambil memainkan hidung sang istri. "Ayo wudu lagi!"


"Enggak, kamu dulu!" kata Sita.


"Ya udah, aku dulu ya."


Dino pun berwudu dengan sangat tertib.


Dibelakang Sita sudah tersenyum dan bersiap membalas Dino. Namun, Dino sudah berpikir itu akan terjadi, sehingga dia berhasil menghindar, dan melarikan diri ke kamar.


"Gak kena!" ucapnya.


"Iiih dasar curang," ucap Sita dengan tersenyum.


Malam ini Sita dan Dino sangat bahagia, meski diperjalanan Dino tadi sangat menegangkan, namun sampai dirumah semua tergantikan dengan canda tawa bahagia bersama sang istri.


Mereka pun selesai melaksanakan shalat isya berjamaah. Seperti biasa Dino mengecup kening sang istri, begitupun Sita yang mengecup punggung tangan sang suami. Lega rasanya, setelah mereka berpisah, akhirnya merekapun bisa melakukan shalat berjamaah kembali.

__ADS_1


Bukan hanya empat puluh hari, bahkan berbulan-bulan mereka terpisahkan, rindu yang menggebu, hasrat yang mencuat, sudah tidak dapat tersendat kembali.


Lemparan senyum dari keduanya mengawali malam pertama mereka setelah terpisah lama, bak pengantin baru mereka saling melepas rindu, meski sempat ada rasa takut masih sakit setelah melahirkan, akhirnya Sita pun pasrah menjalankan kewajibannya kembali.


__ADS_2