Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Dino Cemburu


__ADS_3

Aditya pulang terlebih dahulu meninggalkan Ratih dan Ipan, karena ingin ke toilet. Ia datang membawa kayu, dan disimpannya kayu-kayu itu di halaman, agar terjemur di bawah teriknya matahari siang yang sudah berada di atas kepala.


Aditya pun pergi ketoilet dengan tergesa gesa, tanpa memperhatikan sekitar, sehingga bertabrakan dengan Sita yang tengah berjalan membawa secangkir teh panas untuknya. Alhasil teh itu terjatuh tepat mengenai kaki Sita, Sita pun kepanasan, dan lagi tidak sengaja kakinya menginjak pecahan beling gelas itu.


"Aaawwww ...." pekik Sita kesakitan.


"Sit-Sita, kau baik-baik saja?" tanya Aditya dengan khawatir, "Maaf, aku tidak sengaja!"


"Aaawww ... panas! Kakiku ...." Sita mengangkat satu kakinya yang terkena pecahan kaca.


Aditya melihat kaki Sita berlumur darah, spontan dia menggendong Sita dan mendudukkannya di kursi.


"Astagfirullah! Pak Aditya apa yang bapak lakukan? Lepaskan!" Sita kaget dan berusaha turun.


"Maaf, Sita! Saya spontan, saya khawatir melihat kakimu berdarah," ucap Aditya dengan khawatir.


Sita hanya terdiam.


Dengan segera Aditya mengambil kotak p3k yang ia bawa sebagai persiapan.


Aditya berjongkok, mencoba meraih kaki Sita.


"Ma-mau apa!?" tanya Sita dengan gugup.


"Saya mau mencabut pecahan kaca di kakimu, itu pasti sakit," jelas Aditya.


"Tidak perlu, Pak! Saya bisa melakukannya sendiri," tolak Sita yang tidak mau kakinya disentuh laki laki-lain.


"Sita, ini darurat!" Aditya memaksa.


"Tidak perlu, Pak!" tolaknya lagi.


Sita membungkukan badan mencoba mencabut pecahan beling di kakinya.


"Aahhh," keluhnya kesakitan.


"Sit!" Panggil Aditya khawatir.


"Tidak apa, Pak. Aku sudah berhasil mencabutnya," tutur Sita.


"Biar kubuang pecahan belingnya," tawar Aditya dengan menengadahkan tangannya. Sita mengangkat tangannya dan menyimpan pecahan kaca Itu di tangan Aditya.


Dino datang dan melihat itu berbeda, seolah Sita akan memegang tangan Aditya, yang menunggu sambutannya.


"Sita!" teriak Dino yang dikuasi amarah.


"Dino!" Sita tersentak kaget.


Dino menghampiri dengan penuh amarah, dia menarik kerah baju Aditya dan menatap Sita menghakimi.


tatapan itu begitu menyakitkan hati Sita.


Dino mengangkat tangannya yang sudah mengepal, namun menahan keinginannya untuk melayangkan tinju sebelum mendapat penjelasan. Dino pun menatap Aditya dengan sangat kesal.


"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Sita dengan ketakutan.


"Apa yang kalian lakukan?" Dino balik bertanya.


Sita paham Dino tengah cemburu.

__ADS_1


"Aditya hanya menolonku, Sayang. Kakiku kena pecahan beling, dia hanya ingin membuang pecahan beling itu," jelas Sita.


"Benarkah?" Dino tidak percaya.


Dino pun melihat tangang Aditya yang malah menggenggam pecahan beling itu hingga membuat tangannya berdarah.


Akhirnya Dino pun kesal pada dirinya sendiri, dan melepaskan genggaman tangannya yang mencengkram erat kerah baju Aditya.


"Sorry!" ucapnya dengan lemah.


Elena yang berdiri di depan pintu kamarnya tersenyum penuh arti.


Ratih yang baru datang pun, menghampiri dengan segera.


"Ada apa ini?" tanya Ratih, "Oh, ya, Ampun, apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian berdua berdarah?" tanyanya lagi.


"Tolong obati Aditya!" kata Dino tanpa menjawab pertanyaan Ratih.


Dino segera jongkok memeriksa kondisi kaki sang istri. Dengan rasa bersalah Dino menatap sang istri.


"Maafkan aku, sempat berpikiran buruk padamu!" ucap Dino dengan sedih. Dino pun membungkukan badannya dan mengecup luka di kaki sang istri.


Sita sempat kecewa saat tadi Dino menatapnya dengan tatapan menghakimi.


Sita pun meneteskan air mata.


Dino menggeleng kecil, menatap sang istri dan mengusap air matanya.


Tuduhan sang suami itu lebih sakit baginya dibanding luka di kakinya yang tidak seberapa.


"Maafkan aku! Maafkan aku!" Lirih Dino, kemudian memeluk sang istri.


"Tidak, Sayang! Aku mahon maafkan aku?" Dino semakin mengeratkan pelukannya, dan berlangsung cukup lama, setelahnya mengurai pelukan Dino meraih tangan sang istri, kemudian mengecupnya berubi-tubi. Dino sadar dirinya telah melukai perasan sang istri.


Sita hanya diam meneteskan air mata.


Dino pun segera membalut luka di kaki sang istri. dan setelahnya ia menggendong sang istri kekamarnya.


Diletakkannya sang istri di atas ranjang, dengan perlahan.


"Sayang, apa kamu memaafkanku? Kamu belum menjawabnya?"


Sita teringat saat Aditya menggendongnya tadi, jika saja itu yang Dino saksikan mungkin Dono tidak akan percaya padanya. namun Sita sadar suaminya tengah dilanda cemburu. mungkin jika itu kebalikannya, dirinya pun akan cemburu.


"Aku memaafkanmu." Sita menangis dan membuka tangannya lebar meminta sang suami memeluknya kembali.


Dino pun memeluk sang istri.


"Aku mencintaimu," kata Dino.


"Aku juga mencintaimu," balas Sita.


mereka berdua pun terasnyum bahagia.


Di luar sana Ratih pun baru selesai membalut tangan Aditya.


"Terimakasih," kata Aditya pada Ratih.


"Sama-sama," jawab Ratih.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan pada Sita? sampai Dino marah seperti itu padamu?" tanya Ratih.


"Tidak ada, aku hanya menolongnya," jawab Aditya biasa saja.


huuuhhh ... Ratih menarik nafasnya panjang dan lalu membuangnya.


"Lain kali, perasaan dikontrlol, janganlah deket-deket Sita!" kata Ratih.


"Saya sudah kontrol perasaan saya ya, hanya saja tidak mungkin saya membirkan Sita terluka seperti itu, apalagi itu terjadi gara-gara saya," jelas Aditya.


"APA? Gara-gara kamu?" spontan Ratih meninggikan suaranya.


" Iya, kamu taukan tadi saya kebelet pipis, karna terburu-buru saya tidak sengaja menabrak Sita," jelas Aditya.


"Dasar ceroboh, awas aja kalo sampai mereka lanjut bertengkar, kamu tidak akan aku ampuni," ancam Ratih dengan bercanda.


"Apaan sih, aneh banget ya kamu," ucap Aditya.


Heummm .... Ratih pun tersenyum.


Tidak lama kemudian terdengar suara ibu menyapa Ipan yang tengah merapihkan kayu di luar dengan berjejer rapi.


"Waahh, kayunya banyak sekali, Nak Ipan?" kata ibu.


"Iya, Bu, kebetulan di sekitar Sini banyak kayu," jawab Ipan, "Oh, ya, Dino mana, Bu? Bukankah kalian pergi bersama," lanjut Ipan bertanya.


"Kalain belum bertemu? Dino sudah Ibu suruh pulang duluan tadi? Tadi ada delman jalur ksini, Ibu sama Bi Marni mau nyoba naik delman," jelas ibu.


"Oh, mungkin sudah di dalam, Bu. Saya belum bertemu dengannya," kata Ipan.


"Baiklah, kami kedalam dulu ya, Nak," kata ibu.


Ipan pun mengangguk.


Setelah ibu sampai ke dalam, ibu kaget melihat tangan Aditya yang dibalut perban.


"Aditya, tanganmu kenapa?" tanya ibu saat melihat tangan Aditya.


Aditya pun menjelaskan semuanya pada ibu, dan Bi Marni yang juga ada disitu.


"Ya, Allah Sitaa! Apa dia baik-baik saja?" tanya ibu dengan khawatir.


"Dia juga baik, Bu. Dia ada dikamar sama Dino," jelas Aditya.


"Syukurlah!" Dengan segera ibu mendorong pintu kamar Sita dengan tergesa-gesa.


"Sayang, Kamu baik-baik saja 'kan?" tanya ibu penuh rasa khawatir.


"Sita, baik kok, Bu, hanya sedikit luka, Sita masih bisa berjalan dengan baik," jawab Sita.


"Syukurlah, Ibu khawatir," ucap Ibu. "Lain kali kamu hati-hati ya, Sayang," Nasihatnya.


Sita mengangguk.


"Ya, sudah Ibu kedapur dulu, ya." ibu pun menjinjing barang bawaannya kedapur.


"Baik, Bu!" jawab Sita singkat.


Malam pun tiba, saatnya api unggun.

__ADS_1


bersambunga ....


__ADS_2