Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Mencari Tau Identitas Amel


__ADS_3

Pagi ini Aditya pergi ke suatu tempat, dimana dia bertemu dengan Amel pertama kalinya.


"Jalan ini. Sepulang dari rumah ibu aku bertemu dia disini, mungkin ibu tau siapa dia? Dino juga disini, aku juga akan tanya dia nanti," tururnya.


Aditya pun melaju menuju rumah sang ibu.


"Assalamua'likum, Bu?"


"Waalaikumsalam Didit, sayang. Akhirnya kamu mengunjungi ibu, ibu kangen sama kamu!"


Diciuminya punggung tangan sang ibu.


"Maafin Didit, Bu, Didit sibuk. Dimana, Dea?"


"Dia sudah berangkat kuliah, Sayang,"


"Oh ya Bu, Ibu kenal perempuan bernama Amel 'gak di daerah sini?"


"Amel! Enggak, ibu belum pernah dengar nama itu, emang kenapa?"


"Enggak apa-apa, Bu, Didit punya karyawan namanya Amel, tapi Didit tidak tau dimana dia tinggal?"


"Loh 'kan bisa dilihat di cv-nya dia," ucap ibu.


"Dia gak ada cv, Didit kasihan padanya, jadi Didit pekerjaan dia dirumah,"


"Apa! Jangan sembarangan loh Dit, siapa tau dia penipu," tutur ibu.


"Dia orang baik, Bu. Didit pamit ya, Didit harus ke cafe lagi." Didit langsung pamit. Entah kenapa rasanya ia langsung tidak suka mendengar penuturan ibu yang suudzon seperti itu.


"Dit, Ibu belum selesai," tuturnya, "Hati-hati sama orang yang baru di kenal," lanjut ibu.


"Iya bu, assalamualaikum." Aditya mencium punggung tangan Ibunya dan langsung pergi dari sana.


"Hati-hati, Sayang!" teriak ibu yang melihat Aditya melajukan kendaraannya. "Kesini cuman nanyain itu doang, pergi lagi udah, bukannya bawa cewek, kenalin nih bu calon istriku, 'kan adem dengernya, malah nanyain perempuan enggak jelas asal usulnya," gerutu ibu setelah kepergian Aditya.


Sebelum ke cafe Aditya pun menelpon Dino. Ia berhenti di tepi jalan, dimana Amel jatuh pingsan waktu itu.


"Din, kamu ada waktu gak? Maen-maen lagi ke cafelah, aku belum puas ngobrol sama kamu kemaren," ucap Aditya di telepon.


"Iya Dit, pasti aku juga masih pengen gobrol sama kamu, nanti aku cari waktu senggang,"


"Siap Din, oh ya, di tempatmu apakah ada permpuan bernama Amel?" tanya Aditya.


"Amel!" Dino terdiam sejenak, "Tidak ada, saya tidak pernah mendengar nama itu, memangnya kenapa?" tanya Dino.


"Nanti deh kita cerita-cerita di cafe, thank ya," ucap Aditya.


"Ok, sama-sama." Mereka pun mengakhiri panggilan telepon.

__ADS_1


Didit menyalakan mesin mobil hendak melaju kembali, namun tiba-tiba seseorang menyapanya.


"Didit! Kamu Diditkan?" tanya Elena.


"Elena! Apa kabar?"


"Kamu benar Didit?" tanya Elena tanpa menjawab pertanyaan Aditya. "Sekarang kamu tajir ya, penampilan keren, mobil keren, pasti pacarmu juga keren?" tanya Elena dengan terkagum-kagum.


"Hahaha ... bisa aja kamu El."


"Oh Ya denger-denger kamu punya banyak cafe sekarang, Dit?" tanya Elena lagi.


"Alhamdulilah, di beri kepercayaan."


"Wah, ada lowongan kerja gak? Aku ikut kerja dong, bosen nganggur terus."


"Boleh, nanti kalau ada lowongan aku kasih tau ya."


"Siap Dit, save nomor aku ya," Elena memberikan nomornyanya pada Aditya.


"Oke saya pergi dulu ya El," tutur Aditya.


"Iya Dit, hati-hati ya."


Aditya pun melajukan kendaraannya, meninggalkan Elena yang masih menatap kepergiannya dengan penuh kekaguman.


"Didit jadi keren gitu ya, tajir lagi, dulu sama-sama masih ingusan sama Dino, tapi mereka berdua sekarang jadi tampan-tampan, gagah, ganteng. Apa lagi Didit dah ganteng tajir lagi, tapi sayang sekali pemilik hati ini masih saja setia pada Dino, meski dia belum mapan, tetep saja hati berdebar jika melihat Dino, Dino tetep no satu di hatiku." Elena bicara sendiri.


Elena pun melangkah berjalan mondar mandir di tempat itu, setelah dia mendapatkan ide, dia pun langsung pergi menuju rumah Dino, Ia memberanikan diri menemui mereka, setelah satu bulan lebih kejadian itu Elena tidak menemui keluarga Dino.


Diketuknya pintu rumah dengan perlahan.


Setelah beberapa kali mengetuk pintu tidak kunjung ada juga yang membuka pintu.


Elena berdiri mondar-mandir dengan gelisah, "Semoga saja mereka mau memafkanku," gumamnya.


Tak lama kemudian ibu datang membuka pintu, "Elena! Maaf ibu sedang di toilet."


"Tidak apa-apa, Bu. Maaf El mengganggu," ucapnya.


"Tidak El, mari masuk!" ajak ibu.


Elena pun masuk dan duduk setelah ibu mempersilahkannya.


"Ibu, tolong maafkan saya, selama ini--" ucap Elena terpotong ketika tiba-tiba ibu memeluknya.


"Ibu, yang harusnya meminta maaf, karena sudah menuduhmu menjebak Dino. Syukurlah waktu itu kamu tepat waktu menghentikan pernikahannya, jika tidak, entah apa yang akan terjadi pada Dino," tutur ibu.


"Lalu, sekarang Sita ada dimana,Bu?"

__ADS_1


"Entahlah, kami belum bisa menemukannya."


"El turut sedih, Bu."


Tiba-tiba Dino keluar dari kamarnya, meski berkat Elena pernikahannya dengan Elvira gagal, tetap saja Dino tidak suka pada Elena. Dino tau Elena menghentikan pernikahannya bukan karena ingin rumah tangga Dino dan Sita tetap utuh, tapi karna Obsesinya yang ingin memiliki Dino sehingga dia tidak rela kalau Dino menikah dengan Elvira.


Dino terhenyak melilhat ibu yang sedang memeluk Elena, "Ibu, Apa yang ibu lakukan?"


"Dino. Ibu berterimakasih pada Elena karna berkat dia pernikahanmu dan Elvira berhasil di gagalkan."


"Tidak perlu, Bu!" Dino sedikit menekan bicaranya.


"Dino--"


"Ibu, lupa dengan apa yang sering dia lakukan pada Sita, dia tidak pernah membiarkan hidup Sita tenang,"


"Din, Ibu yakin kali ini Elena tulus," ucap ibu.


"Sudahlah, Dino pamit. Asalamualaikum." Dino mengecup punghung tangan ibu, dan melengos pergi dengan kesal.


"Tunggu Dino!" Elena berdiri menghentikan langkah Dino. "Aku janji, aku akan membantumu mencari Sita, akan ku buat kalian bersatu kembali," bohongnya.


Dino melengos pergi tidak mau mendengarkan apapun yang di ucapkan Elena. 'Sial, kenapa Dino masih tidak mau memaafkanku' batinnya kesal.


"Elena, maafkan Dino ya, kalau memang kamu benar-benar mau berubah, buktikan itu pada Dino."


"Iya, Bu, Elena akan buktikan itu."


Ibu tersenyum lembut.


"Kalau begitu El pamit. El janji, El akan cari Sita."


Elenapun pergi dengan mendapatkan kekesalan, tapi dia tidak akan menyerah dengan segudang rencana didalam otaknya.


***


Di sebuh kamar terdengar isak tangis kerinduan yang pilu. Dalam kesedihannya kali ini Sita tidak mampu lagi menahan semua dukanya sendiri, rasa ingin bertemu dengan kelurganya pun mulai berkecamuk, namun masih ada rasa takut Dino akan mencarinya kesana.


Hari demi hari ia lalui dengan penuh perjuangan, tidak mudah hidup melawan rindu diatas duka, hingga pada akhirnya Sita menceritakan semua pada bi Marni, bukan maksud membuka aib sang suami, hanya ingin sedikit mengurangi beban di benaknya saja.


"Yang tabah ya Non, pantas Non Amel pergi dari rumah, kalau itu terjadi pada bibi, bibi juga akan melakukan hal yang sama," tutur bi Marni setelah mendengar semua penuturan Amel.


"Apa Amel! Jadi suamimu menikahi perempuan lain?" tanya Aditya yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.


Amel dan bi Marni pun kaget saat melihat pak Aditya yang masuk kamar dengan tiba-tiba.


"Bapak mendengar semuanya?" tanya Amel dengan khawatir.


Bersambung ....

__ADS_1


Mohon maaf otor hanya bisa up 1 bab, karna badan lagi kurang vit🙏


__ADS_2