
Tanpa banyak bicara lagi Aditya langsung mengarahkan laju mobil kerumahnya.
Tit ... Tit ... Tit ... Berkali-kali Aditya membunyikan klakson.
Dengan segera satpam membukakan pintu gerbang rumah itu.
Aditya kembali menginjak pedal gas mobilnya, dan sampailah ia di garasi.
"Ayo turun!" ajak Aditya.
"Ini rumah siapa?" tanya Ratih dengan melihat sekeliling halaman yang indah.
"Ya rumah sayalah, rumah siapa lagi? Masa iya saya masuk rumah orang sembarangan," jawabnya dengan ketus.
"Kamu kok ketus sih, Dit? Aku kan cuma nanya?" protes Ratih.
"Entahlah, ketemu kamu mood-ku jadi jelek?"
"Kok, aku sih." keluhya.
"Udah ayo masuk, kamu tunggu disini dulu saya ada urusan di cafe."
Aditya bergegas melangkah dengan cepat, meninggalkan Ratih yang berjalan dengan pelan.
"Ayolah, lelet amat sih, aku ada urusan!"
"Kamu niat gak sih nolongin aku, ngomel mulu, perasaan sejak pertama kali ketemu, sensi terus sama aku, mana nuduh yang enggak-enggak lagi. Dibilang Dino lebih baik gak terima," gerutu Ratih sedikit keras sambil mengikuti langkah Aditya yang sudah agak jauh darinya. Sontak ucapannya itu membuat Aditya menghentikan langkahnya, dan berbalik kebelakang.
Ratih pun menghentikan langkahnya, ia kaget, mungkin Aditya akan marah lagi seperti di cafe waktu itu.
Ratih memandangnya dengan Rasa takut, saat Aditya melangkah mendekatinya, dengan tatapan yang kesal.
"Terus, terus aja banggain Dino," ucap Aditya sewot, tepat dihadapan Ratih.
"Sewot 'kan tiap kali aku ngomong gitu. Dasar aneh. Orang Dino emang baik, kok." balas Ratih.
"Terus apalagi lebihnya Dino, kurang baik apa saya, saya udah ngeluarin kamu dari lubang buaya juga, heeumm."
"Hehe ... Iya deh kamu juga baik, tapi kurang satu."
"Kurang apa?" tanya Aditya penasaran.
"Kurang lembut!" sindir Ratih, lalu melanjutkan langkahnya melewati Aditya.
"APA!" Hey apa bener aku kurang lembut, apa ada lagi, terus apa lagi yang kamu sukai dari Dino." Aditya menyusul langkah Ratih.
Ratih mengerutkan keningnya.
"Banyaaakkk."
Kini mereka barjalan beriringan.
"Apa kamu tau apa yang membuat Sita mencintainya?"
"Kok, jadi ngomongin penasaran Sita sih?"
"Eemmm ... Enggak! Emang gak boleh apa nanya!" kilahnya.
Ratih tertegun, sejenak ia menghentikan langkahnya, 'Ada yang aneh nih gelagatnya?' batin Ratih.
__ADS_1
"Ayo! Masuk, ngapain disitu?" kata Aditya yang sudah sampai di bibir pintu.
Ratih pun melanjutkan langkahnya dan masuk. Berbeda dengan Sita yang kagum saat dia memasuki rumah Aditya untuk pertama kalinya, Ratih nampak biasa saja, karna dia sudah terbiasa dengan kemewahan yang Bimo suguhkan di rumahnya, bahkan jauh lebih mewah dari rumah Aditya.
"Bi Marni!" panggil Aditya.
"Ya, pak, gimana berhasil menyelamatkannya, apa dia benar-benar butuh bantuan, asisten rumah tangga itu gak bohongkan?" ceroscos Bi Marni tanpa memperhatikan seseorang yang sudah hadir diantara mereka.
"Tuhhh," tunjuk Aditya dengan memanyunkan bibirnya ke arah Ratih.
Bi Marni, langsung mengikuti arah bibir monyong Aditya. Dia langsung membulatkan matanya seketika melihat perempuan tengah hamil besar berdiri di depannya, dia malah tertawa cekikikan, membuat Aditya dan Ratih mengerutkan keningnya.
"Ya, ampun Pak Aditya, kenapa nasib bapak begini amat sih, kemarin bawa perempuan hamil, sekarang perempuan hamil lagi, dua duanya punya orang juga, hati-hati nanti jatuh cinta lagi, sakit lagi jatuhnya," celoteh Bi Marni.
"Suuttt ... Bibi!" ucap Aditya kesal, dengan celotehan Bi Marni. Namun Aditya tidak pernah marah sama Bi Marni, karna dia bagai orang tua baginya di rumah ini, dan Bi Marni juga sering melakukan itu padanya, hingga selalu di anggap angin lalu oleh Aditya.
Sementara Ratih Masih mengerutkan keningnya mendengar percakapan kedua orang di hadapannya ini.
"Sekalipun dia tidak punya suami, saya tidak akan jatuh cinta pada perempuan ini, Bi. Perlu bibi tau dua kali ketemu dia, dia bikin aku kesal terus, gak bikin adem kayak Sita," ucapnya lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil sesuatu sebelum dia ke cafe.
"Haahh ... Aditya, tunggu! Kok jadi bandingin aku sma Sita, sih?" Ratih semakin di buat heran oleh perkataan Aditya.
Aditya tidak menghiraukan perkataan Ratih ia terus melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamar.
"Bibi, urus dia!" pinta Aditya mengiringi langkahnya.
"Baik, Pak!"
"Mari Non, Silahkan Duduk!" ucap Bi Marni dengan Ramah.
"Terimakasih, Bi," jawab Ratih pun ramah. Namun dia masih penasaran dengan kata-kata yang Aditya lontarkan tadi.
"Terimakasih, Bi. Maaf jadi ngeropotin," tutur Ratoh merasa tidak enak.
Tidak lama Aditya turun kembali, dengan tergesa dia melangkahkan kakinya. Ia melihat Ratih yang tengah duduk termenung di sofa, terlihat tengah memikirkan sesuatu, matanya tengah membendung buliran bening yang sudah menggumpal, Ratih tak sadar dirinya tengah diperhatikan Aditya.
Aditya sadar meski saat bersamanya tadi Ratih terlihat biasa saja, dia tau hatinya tengah menyimpan duka, yang Aditya sendiri belum ketahui apa alasan di balik peyekapan itu.
"Nanti saya akan menghubungi Sita dan Dino, biar mereka bisa menemanimu disini," tutur Aditya mengagetkan Ratih. Lalu Ratih segera menghapus air mata yang sudah terlanur menetes di pipinya.
"Oh, iya, makasih," ucapnya sedikit sendu karna menahan tangis.
Aditya pun tidak banyak bicara lagi, dan langsung pergi.
"Pak, gak mau minum dulu?" tawar Bi Marni, yang baru keluar dari dapur, melihat kepergian Aditya yang sudah hampir sampai bibir pintu.
"Gak, perlu!" Aditya pun langsung menuju mobilnya, dan melaju.
"Ini, Non. Silahkan diminum!"
Ratih menganggukan kepalanya.
"Bi, Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ratih.
"Boleh, mau tanya apa, Non?"
"hemm, tadinya saya mau nanya sama Aditya, tapi dia main kabur aja. Gini loh bi, kok saya ngerasa ada yang aneh sama Aditya."
Hemm ... Bi Marni tersenyum.
__ADS_1
"Pak Aditya emang orangnya Aneh, tapi orangnya baik, Non."
"Euu ... Istrinya mana? Perasaan dari tadi gak ada yang muncul, Bi."
"Ini Bibi udah muncul, hehe," canda Bi Marni.
"Pak Aditya itu belum nikah, Non. Masih singgel."
"APA! jadi dia belum nikah, Bi?"
"Dia memang belum nikah, dia cuman tinggal sama Bibi disini."
"Pantes ya, Bibi deket sama Aditya pake berani godain dia tadi."
Hikhikhik ...
"Biar gak jenuh aja, Non."
"Oh, ya, Non, bener Non disekap sama suami, Non? Maaf bibi kepo, habis pas baca itu surat bibi langsung kaget loh Non, masa iya suami sekap istrinya."
"Bibi, emang kepo dari dulu," ucap Sita yang tiba-tiba datang.
"Non, Sita!"
"Sita!" ucap Ratih, dan langsung berdiri memeluk Sita, seketika air mata yang tadi tertahan pun mengalir kembali.
"Eh kok saling kenal sih! Mana pada nangis lagi, Bibi jadi ikut sedih," gumam Bi Marni.
"Sabar, Rat, Bimo pasti akan dapat balasananya!"
Ratih menggelengkan kepalanya dengan terus menangis. "Enggak, Sit. Aku gak nyangka banget Bimo kayak gini, semula rumah tangga ku adem-adem aja, kenapa sekarang jadi gini?"
"Apa perlu kita laorkan dia kepihak berwajib?" tanya Sita.
"Tidak, tidak, tidak perlu, ini masalh rumah tanggaku, tidak perlu melibatkan polisi," ucap Ratih dengan terisak.
"Tapi Rat, dia sudah mempermainkanmu?"
Ratih terus saja menangis, hanya dengan Sita dia bisa melepaskan segala keluh kesahnya.
Bi Marni yang mendengarkan cerita Ratih pun terus menangis tak henti.
"Tega baget Sih, tu cowok, kalo ketemu Bibi, Bibi lempar dia pake mutu. biar Bibi ulek sekalian sama cabe, perih banget kisan Non ini. Bibi doain Non dapet cowok yang baik."
"Bibiii!" Sita melirik Bi Marni.
"Kenapa Non? Emang salah kalau Bibi doain gitu, laki-laki kaya gitu itu mending tinggalin aja."
"Biii!"
"Iya Non, Bibi ke dapur saja, dari pada ikut perih disini. Bi Marni pun bangkit pergi ke dapur.
Sita dan Ratih pun terus melanjutkan perbincangan mereka.
Di kediaman rumah Bimo kini tengah terjadi keributan tat kala Bimo kembali kerumahnya, untuk mengambil berkas yang tertinggal. Awalnya dia tidak curiga apapun, karna kedua bodyguardnya pun tengah duduk tenang di depan kamar Ratih, seperti tidak terjadi masalh apapun, namun saat ia ingin menmui Ratih terlebih dahulu ia mendapati kamar Ratih telah kosong.
Seketika Bimo mengamuk pada kedua bodygurdnya itu, Di membabi buta menghajar kedua bodyguard tanpa ampun.
Bersambung.....
__ADS_1