
"Maaf, aku membuatmu terbangun," ucap Dino merasa bersalah.
Sita tersenyum manis, "Aku haus!" Sita pun bangun hendak mengambil air.
"Biar kuambilkan, kamu tunggu disini!"
"Tidak perlu! Biar kuambil sendiri, sekalian aku mau ketoilet." Sita pun melangkah menuju dapur.
Wajah Dino berubah menjadi berseri. "Nampaknya Alloh berpihak padaku, terimakasih ya Alloh," Gumamnya di akhiri dengan senyum.
Di dapur Sita sedang mengisi gelasnya dengan air putih, lalu ia pun meminumnya. Terasa bagian bawahnya agak basah dan sudah tak tahan, ia pun segera pergi ketoilat.
Di dalam toilet Sita melihat bercak merah di ce**n* d*l**nya, "Ya, Ampun! Haid!" Sitapun tersenyum kecil. Dia pikir suaminya pasti sudah menunggu, Ia pun bergegas kembali kekamarnya.
Di dalam kamar benar saja Dino tengah menunggu. Dia pun melempar senyum penuh arti pada sang istri.
Sita pun menutup pintu, rambutnya yang indah ia selipkan di daun telinga. Sita pun tersenyum penuh arti saat melihat suaminya yang diselimuti ha*rat.
Dino berjalan mendekatinya, Sita ingin memberitahu sesuatu. Saat Sita hendak membuka mulut ... Dino terlanjur me****u*nya, dan cukup lama mereka m*n***atinya. Namun ketika Dino mulai membimbing Sita keatas tempat tidur. Sita mendorong dada Dino. "Hentikan sayang!" pinta Sita.
"Kenapa hentikan? Ayolah!" ucap Dino lalu menarik kembali sang istri.
"Aku baru saja kedatangan tamu,"
"Tamuu! Apa maksudmu tamu bulanan?" Ucap Dino sedikit bingung.
"Yaa." Sita mengangguk dan sedikit tersenyum lucu.
"Oh ... Ya Alloh ... " Dino pun langsung menjatuhkan badannya ke tempat tidur, lemes sekali rasanya. "Tau gitu, aku tidur dari tadi, kanapa datang sekarang sih!" gumamnya dengan memijat keningnya yang terasa pusing.
Sita tersenyum melihat suaminya. Ya dia kecewa tapi apalah daya, kodrat wanita tidak bisa di hindari.
Sita pun duduk disamping suaminya yang sedang berbaring memijat kepalanya itu, "Sini biar kupijat kepalamu yang pusing ini. maafkan tamunya, datang tak di undang pergi tak diantar, jadi harus ikhlas ya heheemh ...." ucapnya sedikit menggoda.
Dino pun langsung menarik lembut istrinya dan menenggelamkannya ke dada, "Sayang, kamu senang sekali menggoda suamimu yang sedang kesulitan ini, hemmh!"
"Aku 'gak menggoda sayang, siapa juga yang menggoda? Gak di goda juga kamu sudah tergoda, haha .... !"
Haha .... !
Dino pun ikut tertawa
"Kamu benar! tanpa kamu goda aku sudah sangat tergoda, Tapi tidak apa, aku masih bisa mendekap hangat istriku ini." Dino melirik istrinya dan memainkan kedua alisnya. "Oh, ya, biasanya berapa lama kamu haid?" tanyanya.
__ADS_1
"Gak lama kok, tenang saja cuman tiga hari,"
"Oke ... Sekarang kamu bisa tertawa melihat suamimu seperti ini, tiga hari lagi akan kubuat kau diam 'tak berkutik."
"Siapa takut, aku malah senang dibuat diam tak berkutik olehmu,"
"Hahaha ... kamu nantangin, sayang?"
"Tapi kamu senengkan di tantang sama aku," ucap Sita tersenyum menggoda.
"Ya, seneng banget."
"Syukur deh kalau kamu seneng, semoga bisa mengobati kekecewaanmu malam ini."
Lemparan senyum dikedua insan ini pun mengakhiri perbincangan mereka, hingga merekapun terlelap tidur.
Tiba waktu disepertiga malam, ayam-ayam di kampung sudah ramai berkokok. Terdengar pula sayu-sayu suara Abah Mengaji.
Sudah menjadi kebiasaan rutin Abah disepertiga malam terbangun untuk melaksanakan Shalat tahajud, dan berdo'a. Lalu setelahnya mengaji sampai tiba waktu Subuh.
Dino dan Sita pun terbangun seketika.
"Jam berapa ini sayang?" tanya Dino.
Sita pun segera melihat jam di hand phonenya, karna di kamar tidak terpasang jam dinding. "Jam 03.10 Wib. Masih disepertiga malam, sayang," ucap Sita.
"Ini kebiasaan Abah sejak dulu, dia tidak pernah melewatkan shalat Tahajud dan Mengaji di sepertiga malam," jawab Sita masih dalm keadaan mengantuk.
"Tidurlah kembali sayang! kamu sedang haid bukan?"
Sita pun mengangguk dan langsung tertidur kembali.
"Dino, bangkit dari ranjangnya, ia melangkah perlahan menuju kamar Abah. Dia mengintif di balik pintu kamar yang sedikit terbuka.
'Malu rasanya. Jika seumur hidup Abah selalu memberi contoh baik buat anak-anaknya. Aku sebagai suami tak pernah melakukan itu.' bisik hatinya.
Dino pun berbalik melangkahkan kaki ke kamar madi. Dia mengambil air Wudu hendak menjalaksanakan Shalat tahajud.
Diseumur hidupnya mungkin hanya beberapa kali Dia melaksanakan Shalat tahajud. Dengan bekal ilmu yang pas-passan saat dulu ia belajar mengaji di mesjid Al-Ihsan. Keadaan ini tentu memicu Dino untuk lebih baik, dia rasa dia harus kembali belajar mengenai ilmu Agama.
Sejak malam ini dia berniat menerapkan kebiasaan yang Abah lakukan di dalam rumah tangganya.
Pagi pun tiba, sayang sekali Sita dan Dino harus kembali ke kota. Mereka sudah bersiap dengan rapi. Abah pun sudah rapi dengan baju koko berwarna biru yang dibelikan Sita.
__ADS_1
"Kami pamit ya, Bah." Diciuminya punggung tangan Abah bergantian.
"Hati-hati di jalan! Jangan kebut-kebutan!" Nasihat Abah.
"Baik, Bah. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Baru beberapa langkah, terlihat beberapa tetangga datang ke rumah, "Neng Sita, Apa kabar? Loh, kok sudah rapi saja, mau kemana lagi, Neng?" tanya salah satu tetangga.
"Eh, Ibu, Bapak, Alhamdulilah kabar saya baik, saya harus kembali ke kota, Pak, Buk." Sita tersenyum ramah dengan menyalami mereka satu persatu, disusul oleh Dino.
Mereka pasti datang karna di pangggil Abah, Abah memang selalu membagi oleh-oleh yang dibawa Anak-anaknya pada tetangga. Makanya kalau pulang kampung 'gak bawa oleh-oleh itu rasanya seperti membuat mereka kecewa, meski hanya sepotong kue tapi mereka cukup bahagia dengan rejeki yang mereka dapat. Di sini bukan masalah besar atau kecilnya, banyak atau sedikitnya apa yang kita bagi, tapi disini kekeluargaaan yang di jalin.
"Sayang sekali ya, Neng. Kita belum sempet berbincang," ucap salah satu tetangga wanita.
"Iya, Bu, Mohon maaf! Kami harus segera kembali karna banyak pekerjaan yang harus kami urus," ucap Sita ramah. "Sita, titip Abah ya, mohon maaf sudah merepotkan!"
"Tidak apa-apa neng, kami seneng kalau kumpul sama Abah. Abah ini orang baik, kita jadi betah kalau di rumah Abah," ucap tetangga lainnya.
"Syukur lah kalau begitu kami jadi tenang," ucap Sita dengan tersenyum. "Silahkan berbincang dengan Abah, Sita pamit! Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Sita dan Dino pun berlalu pergi mengendarai sepeda motornya. Setelah jauh Dino dan Sita pergi, seseorang berteriak memanggil, "Sita ... Sita ... yah dia sudah pergi," gumamnya sedikit kesal. Dia adalah Bi Ifah adik dari almarhumah Ibu Sita.
Bi Ifah pun langsung melangkahkan kaki menuju rumah Abah. "Bah Yahya, kenapa gak tahan Sita dulu sih? Aku kan belum ketemu sama dia?" gerutunya.
"Datang itu salam dulu, bukan langsung nyerocos kaya petasan. Lagian dikasih tau dari kemarinkan, kanapa baru datang?"
"Assalamualaikum, Aku sibuk kemarin. Ini ibu-ibu sama bapak-bapak udah disini saja."
"Waalaikumsalam," jawab semua. "Ini Bi Ifah Sita bawain oleh-oleh banyak banget," ucap salah satu tetangga sambil mengunyah.
"Sisain buat aku ya, jangan di habisin," ucap Bi Ifah bercanda.
"Tenang saja, buat kamu sudah dipisahin," tutur Abah.
Hahaha .... Tawa hangat Abah dan para tetangga.
***
Beberapa jam kemudian Sita dan Dino sampai dirumah. Ibu sedang berada di rumah Elvira, untung saja Sita dan Dino membawa kunci serep, merekapun memilih beristirahat terlebih dahulu sebelum kembali ke aktifitas biasanya.
__ADS_1
Tiba-tiba suara telepon berdering. 'Ipan memanggil' nama itu yang Dino lihat di layar hand phonnya.
Dino membuang nafas kasar, "Huuhhh ... baru juga sampai, dia sudah telpon. Dia senang sekali menggangguku," gerutunya pelan.