
Sementara tangan Dino terus berusaha melepaskan pelukan Elvira.
"Aneh ... Kenapa Dino diam saja, tak terlihat tanda-tanda gejolak padanya, jangan-jangan obat itu tak bereaksi padanya? Sial ... Aku harus menahan diri jangan sampai Dino menganggapku buruk" pikir Elvira.
"Ma-maaf Dino, a-aku, a-aku benar-benar ketakutan," jelasnya.
"Tidak apa-apa," perasaan Dino mulai sedikit aneh.
Elvira terus berusaha menahan gejolaknya.
"Hahaha ... Rasain Elvira, hahaha ...." Elena tertawa bahagia melihat Elvira yang kepanasan sendiri. Karena tak bisa mengontrol tawanya yang sedikit keras, akhirnya terdengar oleh Dino.
"Siapa disitu?"
"Upss." Elena segera berlari melewati pintu belakang kembali, dia segera menghampiri ojol yang menunggunya. "Ayo cepat pergi," pintanya.
"Kau lama sekali, Nona? Aku minta di bayar lebih!" ujar ojol itu.
"Iya tenang saja, ayo cepat jalan!"
Dino mencari-cari di sekitar rumah tak menemukan siapun, ia mengunci seluruh pintu rumah agar tidak ada yang bisa masuk.
Dino bingung apa yang harus dilakukannya pada Elvira, "Dia terlihat ketakutan, apa yang harus aku lakukan?"
Merasa takut Dino melihat apa yang sedang dirasakannya, Elvira meminta Dino untuk segera pulang, "Dino, lebih baik sekarang kamu pulang! Sita pasti mengkhawatirkan mu" ucap Elvira terdengar sedikit berat.
"Kau baik-baik saja Elvira?" ucapnya heran.
"Ya aku baik, cepat pergilah!" pintanya, Elvira terlihat menahan sesuatu, dia menelan salivanya tak kuasa melihat tubuh kekar Dino. dia mencoba mengatur nafasnya. Namun ia tetap mengontrol diri agar keadaan itu tidak terlihat Dino.
'Sial ... kenapa hanya aku yang bereaksi ... Sekuat itu kah Dino ... Apa mungkin dia tidak normal ... Akh tapi Sita hamil."
"Apa yang terjadi padamu Elvira?" tanya Dino yang belum juga pergi.
"Aku bilang pergilah, pergi ... Pergi ... Dino," usirnya. Dia segera memakai tongkatnya dan berjalan menghampiri Dino, dia berusaha mendorong Dino keluar meski rasanya dia ingin sekali memeluknya. Elvira pun mengunci pintunya.
"Aaahhhhh ...." jerit Elvira di dalam kamar.
"Kau yakin aku pergi Elvira!"
Tak ada jawaban
"Aaaaaa ...." Elvira hanya menjerit dan menangis.
__ADS_1
"Apa aku harus pulang meninggalkannya dalam kondisinya seperti itu?" Dino terlihat serbasalah. Dia mencoba meyakinkan kembali, "Elvira ..." Dino mengetuk pintu kamar, "Kau yakin aku pulang?"
"Pulanglah! Sita pasti khawatir menunggumu! Aku baik-baik saja!" teriak Elvira yang masih menahan hawa panas di tubuhnya.
"Apa yang terjadi padanya? Dia terlihat seperti ... Ahk sudahlah!" Dino menepis pikiran buruknya.
"Baiklah aku pergi, besok akan ku bantu perbaiki kaca jendela rumahmu yang pecah, kalau ada apa-apa kamu telpon aku lagi," serunya di luar pintu.
Elvira tak menjawab. Dino pun berlalu meninghalkan rumah Elvira.
"Enyahlah ... Apa yang harus aku lakukan?" keluhnya kebingungan.
"Jons ... Kemarilah," panggilnya di di ujung telpon.
Nasib Jons, bak kucing liar yang tengah menemukan tuannya disantap pula makanan milik tuannya.
***
"Hahaha ... Gak kebayang deh keadaan Elvira sekarang, dia pasti terlihat seperti perempuan murahan dimata Dino." Elena tertawa terbahak-bahak. "Kalau Dino sih sudah pasti tidak akan melayaninya." ucapnya di sela tawa. "Aku bahagia bisa menggagalkan rencananya kali ini, tapi aku yakin dia tidak akan berhenti sampai disini," tuturnya.
"Nih Bang, aku bayar double ya! Minta no wa dong bang biar nanti aku langsung wa Abang kalau ada perlu."
"Ni, save aja." Abang ojol memperlihatkan nomornya di layar ponsel.
"Oke, dah aku save, makasih Bang,"
***
"Tidak kusangka, perempuan gila sepertimu ternya masih perawan juga," turtur Jons dengan memainkan alisnya.
"Berengsek, kau Jons, kau memanfaatkan keadaanku. "Elvira segera menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Aku! Kau yang memanggilku bukan?" jelas Jons.
"Aku hanya ingin menanyakan tentang Dino, kenapa tak da reaksi sama sekali? Aku saja tak mampu menahannya."
"Sudahlah, bilang saja kamu memang mau menyalurkannya denganku," ucap Jons sambil memakai kembali pakaiannya.
Elvira mendilak kesal.
"Dengar! Jangan minta tanggung jawab padaku jika kau sampai hamil," tegas Jons
"Apa! Hamil!" Elvira mendadak panik
__ADS_1
Jons tersenyum miring
"Heemm ... tenang! Gak usah panik gitu, kalau kau hamil bilang saja itu anak Dino," celetuk Jons seolah memberi jalan buat Elvira. Matanya berubah berbinar.
"Kau benar, Jons! Semoga saja aku hamil!"
"Kalau mau cepet hamil? Besok malam kasih aku jatah lagi ya, Bos!"
"Bren*sek! kau Jons!" ucapnya kesal, "Kau harus membayar ku mahal, dengan membuat Sita menderita."
"Satu-satunya jalan menghancurkan pernikahan mereka ya dengan kehamilanmu," ucap Jons. "Masalahnya kenapa si Dino tidak bereaksi dengan obat itu!" lanjut Jons pelan dengan kebingungannya, "Sekuat-kuatnya iman laki-laki obat itu tidak perbah gagal membuat miliknya berdiri!" jelasnya. "Untuk itu kita harus jebak dengan cara lain. Buat dia tidur denganmu tanpa ia menyadarinya," ide Jons tiba-tiba muncul.
"Bagaimana caranya," tutur Elvira.
"Nanti aku yang atur caranya, jangan lupa jatahku, kalau kamu pengen ...." Jons membentuk perut buncit dengan kedua tangannya. Lalu tersenyum.
Elvira mendilak kesal dengan perkataan Jons.
"Jangan lupa noda merahnya langsung di cuci, sebelum mereka datang! Bay." ucap Jons dengan mengedipkan matanya. Lalu pergi.
"Sial! Kenapa malah jadi aku yang dimanfaatin sama Si Jons, ahhh ...." Elvira geram tangannya mengepal dan memukulkannya ke kasur.
Selepas kepergiann Jons, Elvira kembali melihat noda merah itu, dia mulai merasa hancur dan putus asa, dia menangis merutuki nasibnya. "Haaaa ... Kenapa nasibku jadi begini? Ibu ... Ayah ... Kakak ... Maafkan aku!" teriaknya dengan meremas kepalanya, "hatiku telah dikuasi kebencian, aku tak mampu mengendalikannya lagi, aku semakin membencinya, lihat lah noda merah ini! Heu ... Heu ... Aku lepas begitu saja pada si bo*oh itu, heu ... heu ...." isak tangis Elvira.
"Seharusnya Dino yang menjadi sasaranku, karna setelah itu rencanaku adalah memuatnya menikahiku, kalau pun aku hamil dia adalah ayah dari anakku. bukan laki-laki bo*oh itu. Sekarang aku terjebak," ucapnya masih terisak.
Dilihatnya jam di hanphone, menujukan pukul lima pagi. Dengan segala keputus asaannya, dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, membawa serta kain bernoda merah yang harus dia bersihkan. Byurrr kucuran air dari shower menghujani seluruh badannya membersihkan sisa-sisa kebo*ohannya semalam.
***
Pagi-pagi sekali Elena telah datang ke rumah Ibu, Ia semangat sekali ikut ke rumah Elvira. Setelah semalam puas mentertawakannya, hari ini rasa penasarannya begitu besar ingin sekali tau apa yang dilakukan Elvira, setelah dia hanya kepanasan sendirian. Bagai telah memenangkan lotre Elena terus tersenyum sumeringah. Ibu melihatnya aneh.
"Kau terliahat begitu gembira, El, ada apa?" Tanya Ibu. "Bagi-bagi dong kalau lagi senang, biar Ibu ikut senang," lanjutnya.
"Enggak kok, Bu. El seneng karna bisa kayak dulu lagi sama Ibu," bohongnya. "Apa lagi sekarang di ajak kerumah Elvira, kan jadi nambah sodara," lanjutnya.
"Jadi itu penyebab kebahagiaan mu, El? Syukurlah! Banyak sodara itu memang menyenangkan ada tempat untuk kita berbagi suka maupun duka."
"Ayo kita berangkat!" Ajak ibu.
"Dino dan Sita mana, Bu?" tanya Elena.
"Mereka berangkat duluan, mereka mau membeli dulu kaca buat benerin jendela rumah Elvira,"
__ADS_1
Bersambung ...
Terimakasih sudah setia membaca karya ku, jang lupa like favoritnya biar Author tambah semangat.❤❤❤❤❤