Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Ratih dan Aditya


__ADS_3

Karna urusan di cafe begitu menyita waktu, Aditya hampir melupakan keberadaan Ratih di rumahnya, sesampainya di rumah Ia mendapati Ratih tengah tertidur dikamar yang pernah di tempati Sita, saat itu pintu kamar masih terbuka, terlihat juga Bi Marni yang tidur di sebelahnya, sepertinya mereka tertidur saat berbincang, dan lupa menutup pintu. Ditutupnya pintu itu dengan perlahan agar tidak mengganggu mereka tertidur.


Untunglah Bi Marni menemani Ratih sepanjang hari, berbincang dan mengajaknya bercanda, hingga Ratih masih bisa tertawa meski dalam keadaan duka.


Aditya pun melangkahkan kakinya menuju pembaringan terakhir setelah seharian lelah bekerja, tak lupa sebelum memejamkan mata dia bersujud pada yang kuasa di atas amparan sajadah yang terlihat begitu indah, mensyukuri setiap nikmat yang sudah di berikan-Nya, tak lupa ia memohon jodoh yang solehah.


Berusaha mengubur cintanya pada Sita bukanlah hal yang mudah dia sungguh di buatnya bersusah payah, namun meski begitu, rasa itu belum mampu pergi dari benaknya.


Cinta pertama, orang pertama yang berhasil mengisi relung hati terdalam Aditya adalah perempuan mahram bagi orang lain. Tidak pantas rasanya jika dia terus berharap cintanya terbalaskan.


Sakit yang ia rasa menusuk bagai duri, perlahan namun pasti, dirinya harus meraih cinta yang suci. mungkin Sita hanya pelajaran terindah baginya, mencintai kadang tidak harus memiliki. Mencintai berarti memberi, dan dicintai berarti menerima. Mungkin takdirnya memang hanya memberi cinta, belum saatnya dia menerima cinta. Ketika Sang Ilahi mengirim cinta suci antara kedua hati, maka mereka tidak mudah dipisahkan meski banyak yang menguji.


Dino cukup berbesar hati masih mau berteman dengannya, hal yang tidak biasa dilakukan oleh pria kebanyakan saat tau orang lain menginginkan istrinya.


Cinta adalah anugrah, namun ketika kita tahu pelabuhannya salah maka kita harus pandai mengendalikannya, yakinlah disana akan terdapat hikmah yang jauh lebih indah.


"Biar kusimpan cinta ini direlung hati yang terdalam, hingga dia mendapatkan pelabuhan tepat untuk menjadi maharam," Gumam Aditya yang tengah duduk di teras, menghirup udara pagi yang segar, dengan menikmati secangkir kopi panas yang mengalirkan kehangatan di tubuhnya.


"Langkah yang bagus," ucap Ratih mengagetkan Aditya. "Kau memang harus melupakan cintamu pada Sita."


Deg ...


"Aku gak pernah bilang sama kamu, kalau aku cinta sama Sita," elaknya.


"Heeum ... Aku gak perlu menunggumu cerita untuk tau itu semua," balas Ratih.


"Bagai mana bisa, jangan menduga-duga itu akan menjadi fitnah,"


"Kau yakin ini fitnah?" tanya Ratih dengan dengan menatap Aditya.


"Turunkan pandanganmu! perempuan baik-baik tidak seperti itu, apa lagi kamu sudah memiliki suami, contohlah Sita yang selalu menundukan pandangannya saat berbicara dengan laki-laki yang bukan mahramnya."


"Hahaha ... Sorry, sorry, Sorry. Astagfirullohhaladzim."


"Kenapa tertawa, kau anggap itu lelucon!" Aditya sedikit menekan ucapannya.


"Tidaak. Itu suatu hal yang sangat benar."


"Lantas, apa yang membuatmu tertawa?" tanya Aditya kemudian.


"Kamu, aku menertawakan sikapmu, siapa pun akan mudah menebak jika ucapanmu seperti itu. Pandai-pandailah mengontrol diri jika ingin merahasiakan cintamu, bayyyy," Ratih melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Aditya.


"Ada yang salah dengan sikapku?" Aditya mengerutkan keningnya, "Huuuhhh, benarkah orang bisa menebak jika aku mencintai Sita, pantas Dino pun bisa mengetahuinya, apa jangan-jangan Sita juga tau kalau aku mencintainya? Oh ya ampun, Ratihhh, Rattt." Aditya mengejar Ratih yang sudah melangkahkan kakinya sampai ke dapur.


"Oh ya, tidak apa-apa kan aku bikin teh sendiri? Bi Marni lagi pergi kepasar?" ucap Ratih, pada Aditya yang baru saja sampai mengejarnya.


"Tidak masalah. Katakan padaku, kamu tidak bercanda 'kan?" Aditya penasaran.


"Bercanda? Maksudnya?"


"Kamu tidak sedang mengecohku, atau mengerjaiku, gitu?"

__ADS_1


"Hahaha ... Aditya, setakut itu wajahmu! Aku tidak bercanda, kau--"


"Sudah-sudah tidak perlu dilanjutkan. Oke, aku memang jatuh cinta pada, Sita." Aditya memotong ucapan Ratih dengan mengakui cintanya.


"Terus!"


Aditya mengerutkan keningnya, mendengar Ratih yang asal menanggapinya, susah payah dia menahan malu, tanggapannya hanya seperti itu.


"Kau tadi--" Aditya menghentikan ucapannya menyadari dirinya sudah terkecoh.


Hahahaha ... Ratih tertawa.


"Sumpah, aku bersyukur dikirim kemari, dukaku seketika hilang, melihat wajah lucumumu."


"Apa! Kau pikir aku badut!"


"Aku tidak bilang."


"Huuuhhh, aku muak bicara denganmu." Aditya pergi meninggalkan Ratih dan memilih duduk santai di sofa sambil menonton televisi.


Ratih mengangkat bahunya tak peduli.


Setelah selesai membuat teh. Ratih pun berpikir untuk menikmatinya sambil menonton televisi.


"Isshh, yang punya rumah udah duduk duluan disini, boleh ikut nonton gak?"


"Kalau mau duduk duduk saja, gak usah banyak ngomong?"


"Pede amat."


"Ya 'kan, secara kamu pengagum ibu-ibu hamil, hehum." Ratih menggerakkan alisnya, lalu membekap suaranya menahan tawa.


"Ratih! Kau!" Tiba-tiba Aditya berdiri karna kesal.


"Sorry, jangan marah, please! Aku cuma bercanda. Habis kamu ketus terus sih sama aku," ucap Ratih denagan menempelkan kedua tangannya.


Aditya pun duduk kembali mencoba membuang jauh kekesalannya, "Kalau kamu gak mau aku ketus mulut dijaga, bicara yang sopan dan lembut, kaya--"


"Kaya Sita," tebak Ratih.


Aditya memanadang Ratih sejenak lalu memalingkan mukanya kembali ke arah televisi.


"Iya 'kan?" lanjut Ratih.


Aditya hanya terdiam.


"Sita beruntung sekali, dicintai dua laki-laki yang tulus, aku senang mendengarnya," ucap Ratih berubah lembut, "Tidak sepertiku yang hanya mendapatkan kepura-puraan cinta," tiba-tiba Ratih pun terisak.


Aditya tersentak begitu mendengar ucapan Ratih meninbulkan isakan yang berat.


"Ma-maaf, aku membuatmu sedih, seharusnya aku membiarkanmu terus meledek ku, agar kamu bisa terus tertawa."

__ADS_1


Heheumm ... Ratih mencoba tersenyum kembali, "Tidak apa-apa!" Ratih mengusap air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Aku yang minta maaf, aku tidak bermaksud meledekmu, aku hanya ingin menghibur diriku sendiri, mencoba mencari tawa dalam duka." Ratih mencoba mengontrol air matanya agar tidak terjatuh lagi.


"Oke, jika dengan meledekku, kamu bisa tertawa, ledeklah aku sesukamu, lumayankan dapet pahala," ucap Aditya.


Ratih pun tertawa lembut, dengan terus mengusap air matanya yang masih teras basah di pipi.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Aditya tiba-tiba membuat Ratih tersentak. "Maaf aku tidak maksud ikut campur."


"Tidak apa-apa? Kamu sudah menolongku, kamu berhak menanyakan itu. Tapi, apakah aku pantas menceritakannya padamu?"


"Tidak perlu kamu ceritakan jika memang tidak mau. Setidaknya kamu sudah menceritakannya pada sahabatmu, jadi kamu bisa sedikit lega."


"Yaa!" Ratih mengangguk. "Tidak perlu semua orang mengetahui masalhku, bukan? Maafkan aku?" ucap Ratih.


"Oke! Fine!" Aditya mencoba mengukir senyum.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Ratih.


"Ya, Silahkan!" jawab Aditya.


"Apa yang kamu sukai dari, Sita?"


Aditya tersenyum membayangkan Sita.


"Aku suka caranya menjaga kesucian cinta." Aditya teringat dimana pertama kali dia terkagum pada Sita saat keluar dari kamarnya memakai sar'i lengkap.


Aditya pun mengingat jelas apa yang dikatakan Sita waktu itu, "Caranya menjaga kehormatan suami."


Aditya juga mengingat bagaimana caranya Sita menolak setiap bantuannya, dan caranya sendiri memaksa Sita agar mau menuruti maunya, sebagai atasnnya. "Caranya setiap menolak pemberianku, kemandiriannya, dan keyakinannya pada sang suami, juga caranya membela sang suami, semua itu membuat ku terpana tanpa sadar."


"Tanpa sadar!?" Ratih mengerutkan keningnya.


"Ya, aku tidak pernah sadar kalau perhatianku itu cinta, aku selalu tidak suka ada yang mengganggunya, aku selalu ingin memenuhi kebutuhannya, aku bahkan kesal saat mendengar Sita merindukan suaminya. Saat itu aku sadar aku tengah cemburu." Aditya mengingat setiap waktu perjalanan hidupnya saat bersama Sita.


"Apa Sita tau?" tanya Ratih


"Jangan sampai Sita tau perasanku?"


"Kenapa?" Ratih heran.


"Dia akan canggung mungkin dia akan menjauhiku?" pikir Aditya.


"Ya, memang dia harus menjauhimu, kau bukan mahramnya!" jelas Ratih.


"Setidaknya, aku masih bisa bersamanya meski hanya dianggap mantan bos."


Hahaha ...


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2