Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Elena Menyelinap Ke Rumah Elvira


__ADS_3

Ya, sudah Kakak ngumpet saja di kamar, biar aku yang masak sendiri!" ucap Kak Fitri.


Kak Fitri pun asyik memasak, mencuci ikan dan menyiapkan bumbu, setelah ikan di bumbui Kak Fitri pun menggorengnya diminyak panas. Satu-persatu ikan pun matang, tercium aroma yang begitu lezat, namun di luar sana tiba-tiba terdengar suara seseorang tengah muntah-muntah, "Uo ... Uo ... " sontak suara itu mengagetkan semua orang yang ada di dalam rumah. Mereka pun terperanjat dan menghampiri arah suara.


"Siiittaa ....!" semua kaget, Kak Riri yang berada di kamar pun segera keluar setelah mendengan suara menyebut nama Sita.


"Uo ... Uo ...." Kedua wanita hamil itu merasa mual di waktu bersamaan. Sebelum sempet keluar Kak Riri langsung menuju wastapel kamarmandi.


Sita pun langsung lari ke kamar mandi mencari wastapel, tanpa sempat mengucapkan salam dan menyapa keluarga.


Sekarang di kamar mandi ada dua wanita hamil yang sedang berjamaah muntah karna mencium bau ikan goreng.


"Sita Kamu?! Uo ...." Kak Riri masih saja merasa mual.


"Assalamualaikum." Dino mengucapkan salam.


"Waalaikum salam," merekapun melangkahkan kaki menuju kedua kakak beradik itu di kamar mandi. Dino yang melihat expresi keluarga Sita hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum.


"Sejak kapan ikan goreng membuatmu muntah, Sita?" tanya kak Fitri di penuhi rasa penasaran. "A-a-pa kau ... Kau hamil Sita?!" lanjutnya.


Sita yang masih merasa mual itu memaksakan diri mengangguk.


"Alhamdulilah," ucap semua dengan gembira.


"Ini yang ingin kau sampaikan pada kami?" tanya Kak Fitri.


Sita menganggukan kepalanya kembali.


"Masya Alloh, rupanya kami dapat kejutan," kat kak Fitri.


Hahaha .... Semua orang tertawa bahagia.


Lalu para laki laki kembali keruang tau dimana Dino sudah duduk disana. "Maafkan kami mengabaikanmu Dino," ucap Kak Syamsul.


"Tidak apa -apa Kak," jawab Dino.


"Selamat ya, Din, rupanya Alloh sudah memberimu kepercayaan," tutur Kak Hermawan.


"Alhamdulilah, Kak. Terimakasih," jawab Dino.


"Oh ya, abah sudah di beri tahu?" tanya Kak Fitri yang datang membawakan secangkir kopi untuk Dino.


"Belum Kak, Sita berencana menelponnya disini bersama kalian," jawab Dino.


Sita dan kak Riri, datang menghampiri.


"Selamat ya Sit," Kak Firti memeluk Sita dan kak Riri yang berjalan beriringan.


"Wah Abah pasti seneng deh mendengar kabar ini," tutur Kak Hermawan.


Benar saja saat di videocall abah terlihat begitu gembira, ucapan syukur 'tak berhenti keluar dari mulut abah.


"Sebentar lagi Abah punya dua cucu," tuturnya. "Jaga baik-baik calon bayi Abah ya Sita, Riri, jangan sampe terjadi apa-apa!" lanjutnya.


"Tentu saja, Bah" sahut kak Riri dan Sita bersamaan. "Do'a kan saja, kami sehat dan di beri kelancaran, Abah!" ucap Sita.


"Tentu saja, Sayang! D'oa terbaik buat kalian. Ingat kalau ngidam jangan aneh-aneh, jangan sampe merepotkan suami kalian!"


Hahahaa ... Tawa hangat semua.


"Kalau Riri jelas gak ngidam aneh-aneh, Bah, makan aja susah. Gak tau nih Sita?"

__ADS_1


"Hahah ... Mudah-mudahan aja enggak ya," jawab Sita.


Malam itu berlalu penuh kebahagiaan, canda tawa hangat mereka memecah sepinya malam . Sita dan Dino pun pamit pulang mereka menjemput Ibu di rumah Elvira.


****


Setelah kepergian Ibu Elvira segera menghubungi seseorang, "Jons, kamu gimana sih? Aku kan udah pesan obatnya beberapa hari yang lalu, kenapa belum kamu kirim juga,"


"Bos lupa, kalau bos nyuruh aku nunggu di telpon lagi sama bos"


"Dasar bo*oh, itu buat pekerjaan mu selanjutnya, jika obatnya sudah dirumah aku bisa memanfaat keadaan jika ada kesempatan,"


"Maaf ,Bos, aku pikir nanti setelah dapat kabar dari bos, supaya nanti aku gak bolak-balik kesana terus."


"Sudah! ku tunggu besok pagi, kamu harus lebih awal dari mereka,"


"Siap, Bos."


Tut ... Tut ... Tut ...


"SIAL! punya anak buah lem*ot sekali, kalau saja Kaki ku baik-baik saja, cuman beli obat gitu doang tinggal pergi sendiri," gertaknya.


Elvira tengah duduk di bibir ranjang, Ia bicara pada dirinya sendiri, "Sorry Sita, ini sudah waktunya bahagia mu berganti duka, kau penyebab kepergian kakakku, kau penyebab aku kehilangan kebahagiaanku, kau penyebab kesendirianku di dunia ini, untuk itu kau harus memberikan kebahagiaan mu padaku, aku ingin kau merasakan hidup sendiri seperti ku, tanpa Dino mu itu, heuh ...!" senyum licik pun terukir di bibirnya tat kala membayangkan kehancuran Sita, Ia pun berbaring dan menutup mata.


****


Esok pagi ketika Ibu Dino dan Sita pergi dengan menggunakan mobil pengantar barang, Elena membuntuti mereka hingga sampai di rumah Elvira, Sita telah di turunkan di tempat kerjanya, Sementara Dino langsung memutar arah untuk bekerja mengantar barang.


"Bilangin sama Elvira, Bu. maaf gak bisa mampur aku terburu-buru,"


"Baik hati-hati di jalannya, Sayang,"


"Iya, Bu, assalamua'laikum,"


Ibu melangkah dengan gontai ke depan rumah Elvira, di ketuknya pintu yang masih tertutup rapat. Tak biasanya. Biasanya Elvira sudah membuka pintu dan jendela rumah agar udara masuk kedalamnya.


Elena pun melangkah menyisir sekeliling rumah, mencari pintu belakang atau pun jendela yang mungkin bisa ia gunakan untuk jalannya menyusup masuk kerumah itu.


Namun mengejutkan, di pintu belakang ia menemukan Elvira tengan berbincang dengan seseorang yang tak Elena kenal, tepatnya laki-laki itu adalah Jons. Sengaja Jons disuruh lewat belakang agar tidak kepergok ibu lagi.


Jons terlihat menyerahkan sesuatu pada Elvira, suatu bungkusan kecil di balut plastik berwarna putih.


Elena mengerutkan Keningnya, "Apa itu," memiliki rasa curiga, Elena pun melangkah menuju arah pintu, setelah terlihat Elvira masuk kedalam dan laki-laki itu pun pergi.


Di balik jendela Elena pun melihat Elvira tengah tersenyum licik sambil memperhatikan bungkusan tadi.


"Apa yang ingin dia lakukan?gerak geriknya mencurigakan, aku harus bisa menyusup kerumah ini," gumamnya.


Elvira, dengan tergesa-gesa berjalan dengan tongkatnya, hendak membuka pintubuang sedari tadi di ketuk.


"Maaf, Bu. Elvira tadi sedang di toilet," kilahnya.


"Pantsan Ibu disini sudah lama loh, Nak,"


"Elvira denger kok, Bu, tapi apalah daya, perut sedang sangat melilit," bohongnya.


"Ya sudah, gak apa-apa, ayo kita masuk! Nih Ibu bawa masakan special buat kamu,"


Ibu pu melangkah, sebentar dia membuka jendela jendela rumah. Elvira langsung duduk dimeja makan.


"Tunggu, Ibu ambilkan piring,"

__ADS_1


Elvira tersenyum dan mengangguk


"Apa perutmu itu sangat sakit, Nak?" tanya Ibu sambil melangkah kedapur.


"Iya, Bu, sepertinya masuk angin,"


"Ibu, buatin wedang jahe ya, biar perutmu hangat!" tawar Ibu.


"Gak usah, Bu, habis makan juga pasti membaik kok," tolaknya.


Diambilnya piring di dalam rak, Ibu pun membuka jendela di sekitar dapur. Dan kembali ke meja makan.


"Ini, Ibu masak terong balado!" ucap Ibu sambil membuka rantang yang di bawanya. Hari ini, ibu yang masak, karna Sita sedang mual mencium aroma masakan.


"Wah, Ibu masih ingat saja ya sama makanan favorit aku,"


"Ingat dong, orang saat di rumah Ibu, kamu makannya lahap banget,"


"Hahaha ... Ibu bisa aja, tapi beneran masakan ibu ini lezat banget,"


"Tapi masakan Sita lebih lezat, Dino sekarang lebih menyukai masakan istrinya di banding ibunya, tapi ibu sangat senang Sita bisa memanjakan perut suaminya," ucap ibu di akhiri senyiman.


"Ya, masakannya juga sangat lezat, pantas jika Dino menyukainya." Elvira pun mengakhiri ucapnnya dengan senyum.


Mereka pun asyik menikmati hidangan pagi ini.


Elena mencuri kesempatan masuk lewat pintu depan yang masih di biarkan terbuka. Ia menyelinap hinga masuk ke kamar Elvira. Dia pun mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi informasi mengenai Elvira.


"Aku harus menemukan sesuatu," gumamnya , Elena membuka laci namun tak ada apanun di dalamnya, di atas meja pun tak nampak Elvira menyimpan sesuatu "Akh tak ada kah sesuatu yang bisa kutemukan disini, pechh ...." decaknya kesal. "Siapa perempuan itu?"


Kini matanya pun mengarah ke lemari, ia berusaha membuka lemari, namun lemari terkunci, "Akh, sial, dimana kuncinya?" gumamnya semakin kesal.


Tap ... Tap ... Tap ...


Suara tongkat dengan langkah yang lamban.


Elvira, menuju kamar di papah oleh Ibu.


"Kamu istirahat di kamar ya, Nak! Biar ibu buatin dulu kamu wedang jahe."


Di dudukannya Elvira dibibir ranjang. Ibu pun kembali kedapur dan asyik membuat wedang.


Asyik duduk di bibir ranjang dengan menatap taman di luar yang indah, diayunkannya kaki kanan dan kiri bergantian, Elvira pun bicara pada diri sendiri, "Akhirnya kudapatkan obat ini, aku hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, hemm .. aku gak sabar melihat Sita menderita, hahaha ... huft jangan kenceng-kenceng nanti ibu dengar."


"Jadi dia sedang menyusun rencana menghancurkan Sita? Apa motiv sebenarnya?" bisik hati Elena yang bersembunyi di balik tirai pinggir lemari.


Tiba-tiba Elvira menyadari itu.


"Siap disitu?"


Deg ... Jantung Elena berdegup


"Siapa disitu,"


Elena tak bergeming.


"Siap kata ku, keluar!" titahnya.


Karna Elena tak juga keluar, Elvira pun bangkit melangkah menuju lemari, di bukanya tirai yang menutupi Elena. "KAU!" Elvira kaget melihat sosok perempuan yang berdiri di balik tirai.


"Elena malah heran dengan ke kagetan Elvira, "KAU! Apa kamu mengenalku?" tanya Elena pada Elvira.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, sedang apa kamu dirumahku?"


"Jawab pertanyaan ku, kamu mengenalku?" kekeh Elena.


__ADS_2