
Dengan sekuat tenaga Ratih berusaha melepaskan Bimo, namun sekuat apapun dirinya tetap saja tak bisa mengalahkan Bimo, hingga Bimo memaksa Ratih membalikkan badannya menghadap dirinya.
Dengan rakus dan kasar Bimo menempelkan bibirnya di bibir Ratih, namun Ratih langsung menggigitnya, dan membuat Bimo kesakitan, kesempatan itu Ratih gunakan untuk mendorong Bimo.
Ratih segera membuka pintu, dengan tergesa-gesa Ratih mencari pintu keluar, namu tiba-tiba dua orang laki-laki bertubuh kekar memegang kedua tangannya, dan menyeretnya kembalin ke kamar.
Bimo terus mengusap darah dibibirnya akibat gigitan Ratih, dia menatap Ratih dengan tajam saat kedua bodyguardnya membawa Ratih masuk kedalam.
"Sayang, kenapa kamu lari dariku? Jika kamu terus berontak kamu akan terus ada di kamar ini sampai bayi itu lahir," tegas Bimo, lalu pergi meninggalkan Ratih.
"Kunci pintunya, jangan biarkan dia keluar dari kamar ini!" titah Bimo pada kedua bodyguard mengiringi langkah kepergiannya.
Ratih tak gentar dengan ucapan Bimo itu, tak sedikit pun ia takut dengan ancamannya, dia yakin akan menemukan jalan keluarnya.
Sekuat apa pun hati perempuan, ia tetap saja terluka, menerima kenyataan pahit dalam hidupnya, Ratih menghabiskan harinya dengan air mata di pelupuk mata yang terus membasahi pipi, membut mata indahnya menjadi sembab dan bengkak.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Siska yang melihat suaminya memegangi bibir saat menuruni tangga.
"Ratih menggigitku," ucapnya.
"What, bagaimana bisa? Apa kau menciumnya?"
"Iya, aku menciumnya," jawabnya enteng.
"Bre**sek kau Bimo, bisa-bisanya dalam keadaan seperti ini masih mau mencumbunya," ucap Siska dengan marah.
Bimo melirik siska, kemudian duduk disofa.
"Kenapa? kamu cemburu? Aku sering melakukan itu dengannya, bahkan sekarang dia hamil anakku," tutur Bimo.
"Aku tau itu, tapi aku tidak pernah melihatnya. Mulai sekarang jauhi dia, lagian kau juga akan segera bercerai dengannya bukan?" Siska mengingatkan kembali akan rencana perceraian itu.
"Ingat aku mengijinkanmu menikahinya hanya karna menginginkan anak itu, anak yang akan jadi pewaris tunggal perusahaan kita. Selebihnya, hatiku tak sudi membagi cinta, apa lagi sama perempuan kampung seperti dia," lanjutnya.
"Cepat kau obati lukaku, suamimu kesakitan malah ngomel," gerutu Bimo.
"Heuh ... selalu mengalihkan pembicaraan saat membahas itu," ucapnya lalu mengambil kotak p3k, kemudian mengobati luka bibir suaminya.
"Aawww, sakit, pelan-pelan," keluhnya.
"Aku sudah pelan, ya," ucap Siska kesal.
"Pantas kamu belum diberi keturunan, mengurus suami saja tidak ada lembut-lembutnya," cela Bimo.
"Apa katamu?" Seketika Siska membanting kasar kapas yang ia pegang, dan bangkit dari duduknya, "Urus dirimu sendiri, aku tidak mau mengobati lukamu." Sisika pun pergi meninggalkan Bimo sendiri.
"SIAL!" keluh Bimo denagn menatap kepergian sang istri.
Bimo pun termenung, entah apa yang ia pikirkan.
***
"Sayang, kamu sudah tidur?" tanya Dino.
Dino yang baru pulang kerja, melihat Sita tengah berbaring, sepertinya Sita kelelahan mengurus kedua putranya. Dilihatnya Arvi dan Rafka pun tengah tertidur pulas.
Diletakannya bingkisan yang sudah dia bawa untuk sang istri di atas meja. Dino pun menaikan selimut sang istri hingga menutup dada, dikecupnya kening sang istri dengan lembut.
Saat Dino hendak beranjak, bermaksud untuk mengganti pakaian, tiba-tiba Sita bergumam, "Jangan pergi, tetaplah disini."
Sontak membuat Dino kaget.
"Sayang kamu masih bangun?" tanyanya.
Namun tidak ada jawaban.
Dino duduk di bibir ranjang sebelah sang istri.
"Sayang," Dino membangunkan istrinya dengan menggoyangkan bahunya perlahan, namun Sita tidak terbangun. "Heuummm mimpi rupanya."
Saat Dino hendak bangkit, tiba-tiba tangannya diraih oleh Sita, ditariknya hingga tubuh Dino menempel di dada Sita, dengan wajah yang saling berhadapan.
__ADS_1
Namun Sita masih tetap berada di alam mimpinya, dan malah memeluk sang suami dengan erat.
Dio memandangi wajah sang istri yang cantik dan menggoda, membuat hasratnya kembali mencuat, bibirnya yang merah merona ingin sekali dikecupnya, namun ia menahannya, selain akan membangunkan istrinya, sang adik kecil miliknya pun akan semakin meronta.
Perlahan ia melepaskan pelukan sang istri, karna harus mengganti pakaiannya terlebih dahulu sebelum menjelajahi alam mimpi. Namun, lagi-lagi Sita semakin mengeratkan pelukannya seolah tidak mau lepas.
"Jangan tinggalkan aku, aku sangat merindukanmu," gumamnya lagi.
Dino tersenyum. "Gumamanmu itu membuat hatiku melayang, Sayang," tuturnya, lalu merapihkan rambut Sita yang menghalangi wajahnya.
Kesempatan ini Dino gunakan untuk mengerjai sang istri.
"Katakan siapa yang kau cintai?" tanya Dino penasaran, bisa saja dia mimpi bersama yang lain, pikiran buruk membisik ditelinga.
Lama Dino menunggu jawaban, namun Sita tidak menjawabnya, tidurnya pun semakin lelap.
'Apa mimpinya sudah selesai?' Pikir Dino.
Huuhh Dino membuang nafasnya, "Aku terlambat, mimpinya sudah berakhir." Dino pun kembali mencona melepaskan pelukan sang istri.
Tiba -tiba gumaman itu terdengar kembali, "Pabu Aldino, aku mencintaimu," gumam Sita.
Sontak membuat Dino tersenyum bahagia, dia tidak jadi melepas pelukannya,
Dino malah membalas pelukan sang istri dengan erat, tanpa mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu.
Lama menikmati kehangatan yang mengalir, Dino pun terlelap tidur dalam dekapan hangat sang istri.
Pagi sebelum adzan subuh berkumandang Sita terbangun, itu sudah jadi kebiasaannya meski saat ini dia masih nifas.
Saat ia membuka matanya, terasa ada beban berat menindihnya, tangan Dino masih erat melingkar di tubuh sang istri. "Sayang." Sita kaget melihat sang suami tidur masih mengenakan pakaian kerjanya.
"Hey ... bangunlah, Sayang, kenapak kamu tidak mengganti pakaian terlebih dahulu."
"Hemmm," gumam Dino.
"Sayang, bangun ini sudah mau subuh!"
"Iya, kenapa kamu tidak mengganti pakaian sebelum tidur?" tanya Sita.
"Semua ini karena mu, Sayang."
"Karenaku?" Sita mengerutkan keningnya, kemudian Sita mengingat dirinya semalam ketiduran.
"Iya maaf aku memang ketiduran, tapi harusnya kamu ganti baju sendiri, jangan kaya anak kecil, main tidur aja tanpa ganti pakaian, bau Sayang,"
"Bau juga tetep suka 'kan, orang semalam kamu yang narik narik aku, gak ngasih kesempatan sama sekali buat aku ganti baju,"
"Apa? Kamu jangan ngarang deh, aku ingat bener semalam aku keriduran gak kuat nahan ngantuk, lagian kamu kenapa pulang terlambat?"
Heummm Dino mengalah, namanya orang bergumam saat tidur mana mungkin dia mengingatnya.
"Oke, maafkan aku aku gak ganti baju dan aku telat pulang," ucap Dino lalu melingkarkan kembali tangannya di pinggang sang istri.
"Iya tapi kenapa telat?"
"Tuh di meja." Dino menunjuk dengan memanyunkan bibirnya.
Sita melirik ke arah meja, dilihatnya sebuah bingkisan dalam paperbag ukuran sedang.
"Apa itu?"
"Buka saja!"
"Lepaskan dulu bagaimana aku bisa mengambilnya."
Dino pun melepaskan pelukannya.
Diraihnya bingkisan itu, lalu Sita membukanya.
"Handphone! Wah handphone baru!"
__ADS_1
Dino mengangguk.
"Makasih sayang, aku seneng banget loh." terlihat wajah Sita yang sangat gembira.
"Maaf ya baru sempet belikan," tutur Dino.
"Gak apa-apa sayang. Aku gak punya hand phone juga gak masalah sebenernya."
"Tapi aku tidak bisa menghubungimu saat aku merindukanmu di luar."
Heemmm Sita tersenyum.
"Tapi kenapa kamu gak beli handphone lagi saat handphone-mu hilang, padahal kamu bisa beli dari hasil kerjamu sama Aditya," Lanjut Dino.
Hemmm Sita tersenyum kembali.
"Saat itu aku hanya ingin menghindarimu. Aditya bahkan mau membelikannya untukku, tapi aku menolnya."
"Kenapa?"
"Tidak enak juga menerima pemberian dari laki-lain selain dirimu, terkecuali keadaan darurat."
Hemmm Dino tersenyum bahagia, lalu memeluk sang istri.
"Bukannya saat itu juga darurat, kau butuh handphone untuk menghibungiku,"
"Sayangnya saat itu aku tidak mau menghubungimu."
Dino mengerti kenapa saat itu Sita tidak mau menghubunginya.
"Syukurlah semua sudah berlalu, aku bahagia kita di pertemukan kembali."
"Aku lebih bahagia, karna kau hanya milikku satu-satunya."
Keduanya pun saling lempar senyum.
Tok-tok-tok.
"Sayang, kalian sudah bangun?" panggil Ibu sambil mengetuk pintu.
"Iya bu, kami sudah bangun," jawab Sita dengan lembut namun terdengar oleh ibu.
"Syukurlah, sudah hampir subuh." ibu pun pergi ke kamar mandi.
Dino dan Sita pun terus menikmati pelukan hangat mereka selagi menunggu ibu yang sedang di kamar mandi.
Dino terus memeluknya denga erat, dan semakin erat, mereka pun saling pandang dengan tatapan yang diliputi gairah, kemudian Dino pun mengecup bibir merah merona sang istri. Seperti biasa Sita pun membalasnya.
****
Pagi-pagi sekali seorang asisten Rumah tangga mengantarkan makanan ke kamar Ratih.
"Ini sarapannya untuk, Non Ratih," ucap Wati sang asisten rumah tangga yang usianya tidak jauh dari Ratih.
Ratih tidak menghiraukan.
Namun Wati tetap saja berdiri di hadapannya.
"Non, makanlah?" pinta Wati.
Ratih tetap saja diam tidak mau menghiraukan.
"Jika Non tidak mau makan, aku akan di pecat," ucap Wati memelas.
Seketika Ratih melihat kearahnya. tidak ingin banyak bertanya Ratih pun langsung meraih makanan itu dan di lahapnya sampai tidak tersisa.
"Sudah habis," ucap Ratih setelah makanan itu habis.
"Terimakasih, Nona sudah menyelamatkan hidupku," ucap Wati, lalu ia membereskan bekas makan Ratih.
"Maukah kamu menyelamatkan hidupku?" tanya Ratih.
__ADS_1
Bersambung ...