Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kepergian Elvira


__ADS_3

"Arviii!" teriak keduanya dengan terkejut.


Sita dan Dino pun segera mendongkakkan kepalanya ke bawah, dan terlihat Aditya tengah menggendong Arvi dengan selamat.


Sita dan Dino pun menangis haru merasa lega, melihat sang buah hati dalam keadaan baik-baik. Keduanya pun saling tatap kemudian berpelukan sejenak meluapkan kebahagiaan mereka.


Setelah itu mereka pun berlari, segera turun kebawah menghampiri sang buah hati.


"Arviii, Sayang!" seru Sita setelah sampai di bawah.


Saking bahagianya Sita mengambil Arvi langsung dari tangan Aditya tanpa menyadari sentuhan.


Seketika jantung Aditya berdebar kencang saat tangannya bersentuhan dengan Sita, apa lagi Sita berada tepat di depannya.


Aditya terdiam, memperhatikan Sita. Namun, kemudian Dino memeluk Aditya, "Thank, Dit," Ucap Dino dengan berderai Air mata.


"Aku dan Sita hampir putus asa membayangkan apa yang terjadi pada Arvi. Aku gak tau harus bagaimana? Terimakasih telah meyelamatkannya," ucap Dino terisak.


"Sama-sama, Din," ucap Aditya, dengan perasan yang campur aduk.


"Sayang, berikan Arvi padaku, aku ingin menggendongnya!" pinta Dino.


Sita pun menyerah Arvi pada sang suami, dengan bahagia.


"Sayang, Arvi kita baik-baik saja, aku sangat bahagia," isak Sita saat menyerahkan Arvi pada Dino.


"Iya, Sayang, kita harus bersyukur." Dino melempar senyum pada sang istri, yang tentunya disambut anggukan dan senyum hangat oleh sang istri.


Ibu dan yang lainnya pun menghampiri, Sita dan Dino. Mereka bahagia melihat Arvi baik-baik saja.


"Sayang, cucu Nenek, syukurlah kamu selamat sayang, Nenek sudah khawatir sama kamu," ucap ibu yang sedang menggendong Rafka.


"Alhamdulilah, Bu, Arvi baik-baik saja," ucap Sita dengan bahagia.


Sita pun mengambil Rafka dari ibu, membiarkan ibu menggendong cucumya Arvi, melampiaskan kerinduannya setelah di landa kekhawatiran.


Kemudian Sita melihat Aditya.


"Kak, Adit!" Seru Sita membuat Aditya terkejut.


Di tengah detak jantungnya yang sedang berdebar hebat, Sita memanggil Aditya dengan panggilan kakak.


Seketika Aditya berkaca-kaca dengan bahagia.


"l-iya, Kau memanggilku," ucap Aditya menjadi gugup.


"Iya," ucap Sita dengan berlinang air mata, "Kak, Adit. Kau membuktikan dirimu kakak yang baik bagiku. Terima kasih, Kak," ucap Sita dengan terisak.


Seketika Aditya pun meneteskan air mata, campur aduk perasannya tidak bisa terkontrol lagi.


"Aku bahagia, jika adikku bahagia," ucap Aditya di akhiri senyuman.

__ADS_1


Dino memperhatikan Sita dan Aditya, sedikit banyak Dino memahami perasaan Aditya.


Diantara debaran cinta yang masih dia rasa, Aditya harus rela dirinya hanya dianggap kakak oleh Sita. Namun, panggilan itu lebih baik dan cukup membuatnya bahagia dari pada panggilannya selama ini sebagai, Pak Aditya.


Aditya tersenyum bahagia.


Dino pun tersenyum dan mengedipkan kedua matanya perlahan pada Aditya. Petanda dirinya tidak keberatan.


Begitu juga dengan bi Marni dan Ratih yang tersenyum bangga pada Aditya. Entahlah dengan Elena.


Elvira nampak dikerumuni banyak masa, dia tengah sekarat dalam dekapan Jons. Jons begitu prustasi melihat kondisi wanita yang dicintainya dalam keadaan berlumur darah tidak berdaya, harapan yang selama ini ia gantungkan pun sirna begitu saja.


"Apa yang kamu lakukan, Vira? Kenapa kamu tidak mendengarkanku?" ucap Jons histeris.


"Ma-maafkan a-ku, Jons," ucap Elvira tersenggal-senggal. "A-ku ti-dak bi-sa mem-ba-las cin-ta-mu," lanjutnya.


Jons mengeleng dengan deraian air mata di pipinya, tidak rela jika Elvira harus tiada.


"Se-moga ka-mu, men-dapat pe-rempuan yang ba-ik," ucap Elvira.


Jons tidak banyak bicara, dia hanya mendengarkan Elvira sambil menangis.


Tiba-tiba Sita teringat Elvira, ia melihat kearah kerumunan itu.


"Sayang! Ayo kita lihat, Elvira!" ajak Sita pada Dino, dengan khawatir.


"Untuk apa kamu mengkhawatirkannya?" kata Dino.


"Sayang, kita harus tau keadaannya." Sita bejalan cepat melangkah menuju kerumunan itu. Dino pun mengikutinya.


Elena pun menggendong Arvi dengan sangat hati-hati.


"Astagfirullaahhaladzim, Elvira!" Sita terhenyak melihat kondisi Elvira yang mengenaskan, berlumur darah dimana-mana, begitu pun dengan Dino dan ibu, yang sama mengucapkan istigfar.


"Si-Sita! A-ku mau bi-cara de-ngan-mu!" ucap Elvira saat melihat Sita.


Sita tidak kuasa melihat kondisi Elvira, air mata bercucuran kembali membasahi pipinya.


"Ya Allah, Vira, kenapa jadi begini?" ucap Sita tidak kuasa saat menangis.


Elvira pun menangis, "To-long! Ma-afkan A-ku, Sita. A-ku ja-hat pa-damu."


"Tidak, Elvira, bertahanlah!" ucap Sita dengan khawatir, "Bertahanlah!" Sita pun melihat sang suami, "Sayang, cepat panggil ambulan!" pintanya.


"Ti-dak, Sita. A-aku su-dah ti-dak kuat. Dino, ibu, maaf-kan a-ku, teri-ma ka-sih, I-bu su-dah me-nyayangi-ku se-perti a-nak Ibu sen-diri."


Ibu pun mengangguk dengan menangis.


"Sita, se-tidak-nya aku bang-ga darah-ku menga-lir di tu-buh orang ba-ik se-per-ti-mu."


Elvira pun menghembuskan nafas terakhirnya, setelah ia dengan susah payah mengucapkan maaf pada semua orang yang pernah ia sakiti.

__ADS_1


Dino, Sita, dan ibu sangat bersedih, terlebih Jons yang begitu mencintai Elvira. Jons nampak hancur ia sudah tidak peduli lagi sekalipun ia harus di tanggkap polisi, karna baginya tidak ada lagi yang harus di perjuangkan.


Polisi yang sudah di telepon oleh Aditya pun, sudah tiba di lokasi dan segera menahan Jons.


Elena memanfaatkan kesempatan ini, disaat semua orang fokus pada Elvira ia berpikir untuk lari mambawa Arvi.


Namun, Ipan yang melihatnya segera mengejar Elena.


"Berhenti, Elena! Kamu mau bawa Arvi kemana?" seru Ipan dengan sangat keras, sehingga membuat semua orang yang ada disana menoleh kearahnya.


"Arviii!" Sontak Sita terkejut.


"Arviii!" Dino, ibu dan yang lainnya pun terkejut.


Sita dan Dino pun berlari mengejar Elena. "Berhenti, Elena!"


"Elena, berhenti!" semua pun menyeru Elana untuk berhenti namun Elena tidak juga mau berhenti.


Ipan berhasil mengejar Elena, Ipan menghadang di hadapannya.


"Mingggir, Ipan! Kau tidak mau kuajak kerja sama untuk memisahkan mereka, untuk itu aku akan memisahkan mereka lewat Arvi," jelasnya.


"Sadarlah, Elena! Perbuatanmu ini salah," ucap Ipan.


"Kamu tidak tau bagaimana perasaanku, minggirlah Ipan!" pintanya.


Dino dan Sita pun sampai dihadapan Elena. Mereka berdua menatap Elena dengan marah.


Karna ketakutan Elena pun mencoba berlari kearah kanan dimana tidak ada yang menghadangnya, namun naas saat itu ia tidak memperhatikan laju kendaraan yang melintas dengan cepat menghantamnya dengan sangat keras.


Elena pun terpental hingga membuat Arvi terlempar, syukurlah lagi-lagi Aditya berhasil menangkap Arvi.


Sita dan Dino pun merasa lega kembali.


Elena terkapar lemah dengan darah segar yang mengalir di tubuhnya.


Semua orang berteriak histeris melihat kondisinya, dengan segera ambulan datang membawanya ke rumah sakit.


Elena kehilangan banyak darah, sang ibu yang sudah dikabari mengenai kondisi Elena menangis histeris.


Bu Heni tidak menyangka putrinya terus nekat melakukan hal bodoh demi mendapatkan cinta Dino.


Dokter keluar dari ruangan ICU.


"Anggota keluarga, Elena!" serunya.


"Saya, Dok, saya ibunya," kata bu Heni.


"Keadaan Elena sangat buruk. Dengan kondisi penyakit yang di deritanya, kami tidak bisa menjamin keselamatannya, ada satu harapan dengan dilakukan tranplantasi sumsum tulang belakang, dan itu harus segera di lakukan." Penjelasan Dokter sungguh membuat bu Heni shock. Meski selama ini ia tau resiko penyakit yang di derita putrinya, namun kondisi ini cukup membuatnya tidak berdaya.


Sita dan yang lainnya pun dibuat shock dengan penjelasan Dokter, mereka tidak mengerti dengan maksud penyakit yang di derita Elena.

__ADS_1


"Apa Elena memiliki penyakit?" tanya Sita pada bu Heni dengan penasaran.


bersambung ...


__ADS_2