
"Bang, kamu mau uang?" tanya Elena tergesa-gesa pada salah satu tukang ojek yang ada di pinggir jalan.
"Mau dong neng," jawabnya.
Elena mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya.
"Ini, ambil ini! Tabrak wanita itu," Elena menunjuk Sita.
"Tapi gak sampe buat dia m*ti kan?" tanya tukang ojek itu.
"Heuh ... Minimal dia keguguran," ucapnya.
"Baiklah, lumayan dapet uang buat bayar utang," ucap tukang ojek itu dan langsung melaju cepat.
Brakkkkk ...
"Aaaaa ...."
"Sita ...." Teriak histeris Dino.
Sita jatuh tersungkur kepalanya terbentur keaspal jalan. Kedua tangannya berusaha melindungi perut. Namun seketika perutnya teras menegang, dan kepalanya terasa pusing, Sita pun melemah dan matanya berkunang-kunang hingga akhirnya semua terlihat gelap gulita.
Dino histris melihat istrinya, dia berlari dan langsung memangkunya, melihat darah yang mengalir di kelanya ia pun menjadi panik, "Tolong ... Tolong ...." seketika sekumpulan orang mengerumuni mereka.
"Astagfirulloh, ayo cepat bawa dia kerumah sakit." ucap salah seorang disana.
__ADS_1
Kepala Sita terus mengeluarkan darah hingga mengotori Dino yang terus memeluk kepalanya. "Bangun, Sayang," Dino menepuk kedua pipinya lembut. Namun Sita tak juga membuka matanya.
"Bangunlah, Sayang! Bangaun!" Dia terus berusaha membangunkan sang istri.
"Ayo Tuan, angkat ke mobil," pinta supir ambulan yang telah di hubungi oleh seseorang yang ada disana.
Dino pun mengangkat Sita di bantu oleh beberapa orang yang berada disana.
Bunyi sirine pun melengking hingga terdengar kepenjuru langit, membuat semua pengendara yang melaju dijalanan menepi kepinggiran. Ambulan pun melaju dengan cepat.
"Kau tunggu diluar,Tuan," ucap Dokter yang akan memeriksa keadaan Sita.
"Tidak, Dok. Aku ingin menemaninya."
Dino pun pasrah dan akhirnya menunggu di luar. Dia duduk di kursi tunggu dengan prustasi. Tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada sang istri dan jabang bayi di perut sang istri, ia pun berdiri kembali berjalan mondar mandir tak karuan. Dia terus meremas kepalanya, menghela nafas panjang dan membuangnya. 'Tenang Dino, tenang, istrimu baik-baik saja' Dino mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Kenapa Dokter begitu lama? Apa yang dilakukannya di dalam? Hhuuuhhh ..." ia menendangkan kakinya ke tembok.
"Bertahan sayang! Bertahanlah! Jangan tinggalkan aku!" ucapnya pilu.
Dia pun duduk kembali, berdiri, dan duduk. Terus berulang-ulang melakukannya karna tak mampu menahan rasa gelisahnya.
Selang beberapa menit. Dokter pun keluar dari ruangan, Dino pun segera menghampiri.
"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanyanya dengan khawatir.
__ADS_1
"Tenanglah, Tuan. Mari ikut keruangan saya!" ucap Dokter itu. Lalu berjalan melangkah ke ruangannya.
Dino pun mengikuti dari belakang.
"Silahkan duduk!" kata Dokter.
Dino pun segera duduk, masih terlihat jelas kekhawatiran di wajahnya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dokter?" tanyanya.
"Begini Tuan, luka benturan di kepalanya cukup serius. Istri Anda kehilangan banyak darah, dia harus segera mendapatkan donor darah yang sesuai dengan golongan darahnya, kebetulan golongan darah O termasuk golongan darah yang sulit di dapat di rumah sakit kami, jadi anda harus segera mencarikan donor untuknya."
"APA!" Dino kaget mendengar penjelasan Dokter itu, "Lalu ... Bagaimana dengan kandungannya?"
"Untunglah kondisi janinnya baik-baik saja, Namun keadaan ini harus segera di tangani, agar tidak membahayakan janin, Darah berguna untuk menjaga suhu tubuh agar tetap stabil dan memindahkan oksigen serta nutrisi lainnya ke semua sel yang ada di tubuh. Jika volume darah rendah, organ sulit untuk bekerja. Pada ibu hamil, janin mungkin kekurangan asupan oksigen karena darah yang beredar sedikit."
"Baiklah! Saya akan segera mencarinya, terimakasih Dokter," Dino pun bergegas bangkit dari dudukya dan keluar dari ruangan itu.
Sayang sekali Golongan darah Dino A, dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk istrinya. Dino segera menghubungi keluarga Sita karna kemungkinan besar mereka memiliki golongan darah yang sama.
Kak Riri, dan Kak Fitri segera datang kerumah sakit beserta suami mereka. Abah pun sempet shock mendengar kabar ini. Namun Abah berusaha untuk kuat, karna ini adalah permintaannya sendiri untuk selalu di beritahu apapun yang terjadi pada anak-anaknya. Ya Dino masih ingat perkataan Abah tempo lalu, yang membuatnya marah pada Sita dan kak Firti karna tidak diberi tahu perihal kecelakaan Dino yang menabrak Elvira, dan Kecelakaan yang terjadi pada Kak Hermawan. Apalagi sekarang Sita yang mengalami itu.
Abah berusaha tenang, Ia mengajak bi Ifah beserta suaminya untuk pergi ke Bandung. Namun sayang suami bi Ifah sedang sakit mereka tidak bisa mengantar Abah. Hati Abah pilu, anak kesayangannya sedang terkulai lemah di ranjang pasien rumah sakit. Namun ia tak bisa datang menemuinya. Keadaanya yang tua renta tidak memungkinkan dia datang sendiri ke Kota kembang. Dan semua anak-anaknya pun tidak mengijinkan.
Sayang sekali golongan darah kedua Kakaknya beserta suaminya pun tidak ada yang cocok. Golongan darah Sita hanya sama dengan golongan darah ibunya yang sudah tiada, sementara kedua kakaknya memiliki golongan darah yang sama dengan Abah yaitu golongan darah A.
__ADS_1