Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Fitnah


__ADS_3

Untung saja pecahan kaca tidak mengenai Ratih dan Sita. Ratih dan Sita pun segera melihat keadaan di luar.


"Siapa itu?siapa itu?" tanya Ratih.


Tak ada jawaban. Ratih dan Sita melihat sekeliling nampaknya tidak ada orang terlihat di sana. Mereka pun kembali masuk ke dalam.


"Siapa dia? Apa yang dia inginkan? Kenapa dia melempar batu kesini?" tanya Sita . Lalu mereka membereskan pecahan kaca jendela kontrakan Ratih.


Tiba-tiba Sita keinget saat tadi di jalan, "Apa jangan-jangan dia orang yang tadi aku..." Sita tidak melanjutkan bicara dia karna dia melihat orang lewat di depan Kontrakan Ratih. Orang berpakaian hoodie Sama seperti yang waktu itu dia lihat. Sita pun terperanjat dan lari mengejarnya, namun orang itu sudah tidak ada di sana.


Ratih mengikuti Sita, "Apa yang kamu lihat Sit?" tanya Ratih.


"Aku melihat seseorang memakai baju hoodie seperti waktu itu dia Barusan lewat di sini Rat," jawab Sita sambil memperhatikan sekeliling.


"Siapa sebenarnya dia? Sepertinya dia sedang memata-mataimu," ucap Ratih. Lalu melanjutkan membersihkan pecahan kaca.


"Memata-mataiku, untuk apa? Aku rasa aku tidak punya musuh Rat. Lagian inikan rumah mu bukan Rumah ku," ujar Sita.


"Seperti aku bilang tadi Mungkin dia Darwin," asumsi Ratih.


"Nggak, nggak mungkin itu Darwin. Kalau dia mau menemuiku dia pasti langsung datang menemuiku tidak akan seperti itu apalagi sampai melempar batu," ucap Sita.


"Mungkin dia kecewa karena kamu lebih memilih menikah dengan orang lain dibanding dengannya bisa jadikan dia menaruh dendam," ucap Ratih.


"Tidak aku rasa dia seorang perempuan bukan laki-laki," ucap sita.


"Benarkah, dia seorang perempuan." Ratih pun berdiri dan menyimpan pecahan kaca ke tong sampah.


"Ya Sudahlah lebih baik sekarang kita ganti kacanya dulu, aku akan telepon Dino biar nanti dia menjemputku sekalian membawa kaca. Kasihan kamu kalau nanti malam jendelanya bolong," ucap Sita.


"Maksih ya Sit," ucap Ratih.


Tak lama setelah itu Dino pun datang membawa kaca. Dia pun langsung memasangkannya di jendela kontrakan Ratih yang bolong, Ia pun bertanya, "apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, tiba-tiba ada orang melempar batu." ucap Ratih.


"APA! Orang melempar batu, Siapa dia?" tanya Dino.


"Itulah, kami tidak tahu, tapi dia seorang perempuan, tadi Sita melihatnya," ucap Ratih.


"Yah Ratih benar, aku melihatnya, dia seorang perempuan. Dia menutupi wajahnya dengan topi baju yang dikakannya," kata Sita.


"Apa diantara Kalian ada yang bermusuhan dengan seseorang," tanya Dino.


"Tidak kami tidak bermusuhan dengan siapapun, iya kan Rat?.


"Iya Sita benar kami tidak pernah bermusuhan dengan siapapun."


"Ya sudah sebaiknya kalian hati-hati kita tidak tahu apa tujuannya," ucap Dino.


Sita dan Ratih menganggukan kepala.


"Baiklah sekarang kita harus pulang sudah mau malam," ajak Dino pada sang istri.


"Tapi Ratih sendiri di sini, aku takut kalau orang itu mengincar Ratih." Sita khawatir.


"Kamu tidak perlu khawatir Sit sebentar lagi Bimo datang ke sini," ucap Ratih.


Benar saja belum Sita dan Dino pergi. Pak Bimo sudah datang.


"Sore, kalian disin?" tanya Pak Bimo.


"Iya pak kami mampir sebentar," ucap Sita.


Pak Bimo mengangguk mengerti.

__ADS_1


Baiklah kalau begitu Sekarang sudah ada Pak Bimo, kami pamit ya Rat.


"Oke, hati-hati di jalan ya."


"Oke, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Dino Dan Sita pun pergi melajukan motornya


Hal yang sama terjadi lagi di pertengahan jalan. Sita pun merasakan ada seseorang yang mengikutinya lagi. Sita melihat ke sekeliling namun dia tak melihat keberadaan perempuan itu.


Sita pun mengatakan kepada Dino, "Sayang sepertinya ada yang mengikuti kita." Dino pun menjawab, "Benarkah tapi aku tidak merasakannya."


Sita pun bingung. "Kenapa aku selalu merasakan ada orang yang mengikuti aku," ucapnya.


"Sudahlah, tidak perlu dipikirkan lebih baik sekarang kamu peluk aku biar tidak jatuh. Jangan melihat ke kanan dan ke kiri. Biarlah orang itu mengikuti kita. Mungkin dia fans kamu." Dino mencoba menggoda Sita.


"Apa! fans aku, yang bener saja mana ada orang ngefans sama orang kaya aku. kamu ini ada-ada aja," ucap Sita.


"Jangan lupa, Suami mu ini fans berat mu loh."


Hem...Sita hanya tersenyum.


"Kok diam sih," ucap Dino.


"Aku harus jawab apa?"


"Harusnya Seneng dong, terus pelukan nya di eratin gitu."


"Emhhh, maunya.."


"Siapa yang gak mau di peluk sama istinya, sudah halal juga kan."


"Iya sih, tapi kan ini di luar."


"Siapa bialang , kadang orang itu lirik kanan kiri loh, kaya aku."


"Ahhh udah jangan mikirin orang, peluk erat suami mu ini, aku mau ngebut nih."


"Eh jangan ngebut dong nanti kita jatuh."


"Biarin asal jatunya kehatimu." Ucap Dino menggoda.


"Masih aja gombalin istrinya."


"Tapi senengkan."


Ceeeekiitt...tiba tiba seseorang menyerempet mereka.


"Astagfirullaoh," ucap Dino dan Sita kaget.


Untung saja Dino berhasil mengendalikan motornya.


"Siapa dia?" tanya Dino.


"Perempuan itu, aku melihatnya," kata Sita.


"Perempuan mana, sayang?" tanya Dino.


"Perempuan yang tadi lewat di depan kontrakan Ratih." jawab Sita.


"Kamu baik-baik saja sayang," tanya Dino mengecek kondisi istrinya.


" Ya, Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Mereka pun melaju kembali.


"Rupanya perempuan itu mengincar mu sayang, kamu harus hati-hati."


"Aku rasa begitu."


Tak lama kemudian mereka sampai di rumah.


"Sayang, perut ku laper nih bisa tolong buatin Indomie goreng gak." pinta Dino.


"Ya sudah Aku beli di warung ya soalnya stok di rumah sudah habis." jawab Sita.


Sita pun pergi ke warung terdekat.


"Permisi Bu, beli Indomie goreng nya 1 dus." ucap Sita.


"Iya neng, tunggu sebentar ya, saya ambilin dulu," ucap pedagang itu.


Tiba tiba datang Elena hendak membeli seauatu.


Deg...


Keduanya saling menatap, terpaku.


Elena pun membuang muka sinis. Sedangkan Sita masih dengan raut wajah biasanya.


"Ini neng," ucap Pedagang itu.


Sita pun membayarnya, dan mengucapkan terimakasih, "Makasih Bu." Sita pun hendak pergi, baru beberapa langkah Sita dari situ, Elena bicara pada pedagang itu.


"Ibu kok mau dibeliin sama orang kayak dia," Ucap Elena mempropokasi.


Sontak Sita pun menghentikan langkahnya.


"Maksud kamu apa, El," ucap pedangang itu.


"Perempuan tadi itu kan perempuan gak bener," bohong Elena.


"Apa! perempuan gak bener." pedagang itu pun kaget dan melihat ke arah Sita yang berdiri membelakangi mereka.


"Ibu jangan tertipu dengan penampilannya, Dia memakai pakaian sar'i hanya untuk menutupi aibnya," ucap Elena.


Sita yang mendengar itu pun memblikan badan nya.


"Apa maksud Anda," ucap Sita Kesal kepada Elena.


"Ngaku saja lah kalau kamu sudah hamil sebelum nikah sama Dino kan." ucap Elena semakin mempropokasi.


Tiba tiba orang- orang pun berdatangan entah darimana.


"Siapa tuh? Siapa? Istri Dino ya, iya Istri Dino, dia hamil di luar nikah? Ih amit-amit. bisa kena petaka kampung kita." Terdengan semua ucapan itu dari kerumunan warga.


Melihat semua itu Sita pun berbalik hendak pergi karna tak mau meladeni.


"Tunggu dulu." Elena menghentikan langkah Sita. Dan Sita pun berhenti.


"Mau kemana? Kenapa? Malu semua orang sudah tau aibmu?" Elena terus mengusik Sita.


"Dino itu terlalu baik, mau-maunya dia bertanggung jawab atas perbuatan yang tidak dia lakukan.hemh dasar perempuan murahan, anak didalam kandungan mu itu bukan anak Dino kan? Kamu tidak tau siapa ayahnya hingga kamu memanfaatkan perasaan Dino padamu," ucap Elena dengan nada tinggi. Elena pun hendak pergi meninghalkan Sita. Karna sudah merasa puas mempermalukan Sita dihadapan warga.


Sita yang semakin kesal dengan semua perkataan Elana pun menarik tangan Elena dan menamparnya.


Plakkkk....


Bersambung...

__ADS_1


❤❤❤❤❤


Jangan lupa like,favoritnya ya kakak biar Author tambah semangat💪💪💪❤


__ADS_2