Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Sakit Tak Berdarah


__ADS_3

"Siska bener Bim, cepat kamu cari dia sebelum dia menghilangkan jejak," sambung Rudi ayah Bimo.


"Bimo harus cari kemana, Pah?"


"Hubungi teman-temannya tanyakan pada mereka," kata Rudi.


"Baiklah Pah," kata Bimo.


Satu-satunya teman dekat Ratih yang Bimo ingat Adalah Sita, dengan segera dia merogoh saku celananya untuk menghubungi karyawannya.


"Tolong kirimkan data karyawan yang pernah bekerja diperuhaan kita sekarang!" titah Bimo pada salah satu karyawannya.


"Baik, Pak," kata karyawan itu.


Bimo pun memutuskan panggilannya.


Tak lama pesan dari karwannya pun langsung masuk.


Dilihatnya semua data karyawan yang pernah bekerja di perusahaannya satu persatu. Matanya pokus mencari nama Arsita Amelia, dia terus scrol kebawah hingga menemukan nama itu.


"Ini dia," tukasnya.


"Ketemu. Ayo cepat telepon dia!" tutur Siska.


Rudi dan Mely tersenyum girang.


Dengan cepat jari Bimo menekan poin-poin nomor di hand phonenya, alhasil terdengar suara operator di ponselnya, "Maaf Nomor yang anda tuju tidak dapat di hubungi, mohon periksa kembali nomor tujuan anda. Tut ... tut ... tut ...." Seperti biasa operator memutus sambungannya sepihak.


"Akhh sial, nomornya sudah tidak aktif." Semua terlihat kecewa.


Bimo segera memeriksa kembali data karyawannya. Kali ini ia tertuju pada alamat rumah Sita, "Akh Sial, ini alamat kampungnya," gumam Bimo dengan panik.


"Bagaimana sayang," tutur Siska yang juga panik.


Bimo tak menjawab.


Bimo segera menelphone kembali karyawannya. "Tolong carikan data terbaru atas nama Arsita Amelia!" titahnya lagi pada karyawannya.


Tring ... Tak lama Pesan masuk langsung meluncur.


"Ini dia dapat," ucap Bimo dengan semangat.


"Ada sayang?" tanya Siska.


"Iya, aku dapat alamat rumah barunya, aku akan kerumah Sita, aku yakin dia ada disana?" ucap Bimo, lalu meraih pinggul sang istri dan mengecup bibirnya sekilas, di hadapan orang tua tanpa malu.


Kedua orang tuanya tetap cuek karna sudah terbiasa.


"Aku pergi, Ma, Pa."


Bimo pun langsung melangkah menuju garasi dan segera meluncurkan mobil mewahnya dengan cepat, melaju menuju rumah Sita.


Toko ... Tok ... Tok ....


Tiba-tiba ketukan pintu itu mengagetkan semua orang yang tengah makan malam di rumah Sita.


"Keras sekali, siapa yang mengetuk pintu sekeras itu?" tanya Sita.


Dari ketukannya saja terdengar seperti orang yang tengah emosi.


"Biar saya yang buka," ucap Dino.


Baru Dino membuka sedikit pintunya, dengan kasar Bimo mendorong pintu itu sehingga membuat Dino tersentak kaget.


"Astagfirullahhaladzim," ucap Dino.


"Katakan padaku dimana, Ratih?" tanpa basa basi, apalagi tatakrama dan sopan santun, kelakuan pemilik perusahaan ini bagai manusia arogan.


"Assalamualaikum Pak, silahkan duduk!" dengan ramah Dino mempersilahkannya duduk.


"Tidak perlu, mana Ratih!?" Tanya Bimo tanpa menjawab salam dari Dino.


Mendengar suara Pak Bimo Sita dan Ratih pun kaget dan mereka saling tatap, sementara ibu merasa kebingungan, "Siapa dia, bikin rusuh di rumah orang?"


"Dia suami saya, Bu." Tanpa lama-lama Ratih pun langsung menjelaskan, dengan mata yang langsung berkaca-kaca.


"Suamimu!" Ibu kaget.


Ratih mengangguk.

__ADS_1


"Kamu tenang dulu, jangan keluar biar saya yang menemuinya!" tutur Sita.


Ratih menganggukan kepalanya kembali.


Sita pun menghampiri Bimo dan Dino.


"Assalamualaikum, Pak Bimo, apa kabar?" tanya Sita dengan ramah.


"Tidak usah berbasa-basi katakan padaku dimana Ratih?" tanyanya lagi dengan tanpa menjawab salam.


"Untuk apa bapak mencari Ratih kesini? Ratih istri Bapak, seharusnya bapak lebih tau diamana dia berada," tutur Sita masih ramah.


"Sudahlah Sita, aku yakin dia ada disini."


"Maaf Pak, kita bisa bicara baik-baik, silahkan bapak duduk dulu!"


Bimo tidak menghiraukan perkataan Sita.


"RATIH!" teriaknya, "Keluarlah Semua tidak seperti yang kau pikirkan, Sayang. Ayo kita pulang!" teriaknya lagi.


"Pak Bimo Anda orang yang berpendidikan, dan terpandang, tolong hargai kami sebagai pemilik rumah," tutur Dino mulai kesal.


"Baiklah, maafkan aku." Bimo pun duduk masih dengan kekesalannya.


Sita dan Dino pun duduk bersebelahan.


"Katakan Pak, apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba bapak datang kesini marah-marah, dan mencari Ratih?" Sita berpura-pura tidak tau apa-apa.


"Kau yakin tidak tau apa-apa Sita?" tanya Bimo.


"Kami benar-benar tidak tau apa-apa?" Dino menyela Bimo.


"Dia pergi dari rumah tanpa izin suami, tadinya aku yakin dia kesini,"


"Bagaimana bisa, Ratih perempuan yang baik, terkecuali ada seauatu yang terjadi," ucap Sita sedikit menyindir.


Heeuuhhh ... Bimo merasa kesal dengan ucapan Sita.


"Baiklah kalau begitu, aku pulang, maaf mengganggu kalian, buang-buang waktu saja jika kalian tidak tau," kilahnya.


"Tidak mau ngopi dulu Pak?" basa-basi Dino.


Dino dan Sita mengangkat kedua bahunya dengan kompak dengan kening yang mengerut, kemudian tertawa, lalu menempelkan tangannya, "Tosss," kata Sita. Sekikas merekanpun saling kecup. Lalu kembali kemeja makan.


"Syukurlah dia sudah pergi," ucap Sita.


"Syukurlah," sambung ibu.


Namun Ratih hanya diam menunduk.


"Makasih Sit, sepertinya aku harus pergi dari sini, tidak menutup kemungkinan Bimo akan datang lagi."


"Kamu mau kemana? Disini saja, kita hadapi bersama," tutur Sita.


"Kalian akan dapat masalah besar karna aku, Bimo punya segalanya, dia bisa berbuat apa saja, besok pagi aku akan pergi kerumah ibu saja."


Sejenak semua tertegun.


"Baiklah kalau kamu mau kerumah ibumu, itu lebih baik." Sita merasa lega begitupun ibu dan Dino.


"Iya lebih baik mereka segera mengetahuinya, mereka pasti akan melindungimu, karna walau bagaimana pun keluarga adalah tempat berlindung paling aman."


"Kami anak mengantarmu Rat," kata Sita.


"Tidak perlu Sit, kamu kan punya Rafka dan Arvi, mereka masih bayi, Dino juga harus bekerja, aku bisa sendiri kok."


"Iya sayang, kamu jaga Arvi dan Rafka saja, biar saya yang mengantar Ratih."


"Tidak perlu, Din, nanti akan terjadi fitnah, apa kata orang jika aku pulang tidak dengan suamiku melainkan dengan suami sahabatku. Percayalah aku masih kuat menghadapi ini," ucap Ratih dengan tersenyum.


Ke esokan harinya Ratih pun pamit dari rumah Sita, mereka saling berpelukan dengan erat, "Jaga diri baik-baik, Rat," kata Sita.


"Tentu bestie, aku pamit Ya Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Sita, Dino dan ibu yang juga ada disana.


Tidak disangka di pertengahan jalan seseorang membekap Ratih, dan membawanya kesebuah molil.


Dalam sekejap Ratih pun tak sadarkan diri karna pengaruh obat bius.

__ADS_1


Selang beberapa waktu Ratih pun membuka matanya perlahan, keluarga Bimo sudah mengelilinginya di sebuah kamar yang luas dan mewah jauh lebih mewah dari kamar Ratih dan Bimo di rumahnya.


Sejak Ratih menikah dengan Bimo dia tidak pernah sekalipun menginap dirumah mertuanya, karna setelah menikah mereka langsung menempati rumah sendiri yang Bimo hadiahkan untuk pernikahan mereka.


Waktu awal pernikahan Bimo mengajak Ratih berkunjung kesana, itu pun tidak menginap. Bimo tidak pernah lagi mengajaknya kerumah ibu mertua dengan alasan Sibuk, selalu saja setiap kali iya kerumah ibunya bilang mendadak ibu sakit, itu pun selalu langsung berangkat dari kantornya, terkadang dia menginap dua atau tiga hari. Ratih tidak pernah menaruh curiga apapun, dan kemarin adalah waktu terlama Bimo menginap di rumah ibunya selama satu minggu. Itulah yang membuat Ratih datang kerumah mertuanya.


Ratih sekarang mengerti kenapa suaminya selalu mencari alasan kerumah ibunya setiap dia berada di kantor, karna jika itu di rumah pasti Ratih minta ikut. Dan akan tau kenyataan bahwa di rumah ibunya ada istri pertamanya.


Sakit tidak berdarah, itu yang dia rasakan, bukan karna dirinya dimadu, tapi pada kenyataannya justru dirinya adalah seorang madu, tidak bisa di bayangkan saat dengan bangga dia menyebut dirinya istri seorang Bimo, kini dia merasa tidak berharga menjadi madu seorang Bimo.


"Untuk apa kamu membawa ku kesini, ini bukan kamar mu dan Dia 'kan?" Dengan marah Ratih menunjuk ke arah Siska.


Siska tersenyim sinis.


"Tentu saja bukan, gak sudi banget ya kamar ku di pakai perempuan rendahan kayak kamu." Siska menjawab pertanyaan yang seharusnya di jawab oleh Bimo suaminya.


"Rendahan kamu bilang, disini yang rendahan itu kalian," ucap Ratih yang semakin tak mampu mengontrol emosinya.


"Lancang kamu ya," bentak ibu mertua pada Ratih.


Ratih tak membalas ibu mertua.


Bimo dan Rudi hanya diam dengan melipat kedua tangannya di perut.


Ratih mengalihkan pandangannya pada sosok laki-laki yang ia bangga banggakan selama ini, laki-laki yang melambungkan dirinya setinggi langit dan menjatuhkannya hingga kedasar laut, sakitnya bukan main.


Seketika Ratih mengalirkan air matanya saat tatapan kasih sayang yang selalu ia berikan pada suaminya kini berubah menjadi tatapan kebencian, namun kemudian ia menyekanya, rasanya tak pantas menangis untuk laki-laki seperti Bimo. Ratih mencoba menahan kecewanya sekuat tenaga.


"Jangan pikir aku akan menyerahkan bayiku pada keluarga be*at seperti kalian," ucap Ratih manatap benci Bimo, lalu beralih pada yang lainnya bergantian.


"Ratih! jaga ucapanmu!" bentak Bimo, "Ini tidak seperti yang kamu pikir," kilahnya.


Kemudian Bimo memberi kode pada semua agar keluar meninggalkan dirinya dan Ratih.


Semua orang pun mengerti dan keluar. Namun Siska seketika mengecup bibir Bimo sebelum melangkahkan kakinya keluar, "Nanggung dia tau, sayang," ucapnya dengan menyeringai sinis.


Bimo menatap Ratih tak enak.


Namun seketika Ratih memejamkan matanya, dadanya naik turun menahan sesak, melihat pemandangan menyakitkan di depan matanya. kejamnya dunia tak sekejam dirimu Bimo.


Bimo segera mengunci pintu, lalu duduk disebelah Ratih. Bimo meraih tangan Ratih, namun Ratih menepisnya.


"Sayang--"


"Jangan lagi kau ucapkan kata itu, aku tak sudi mendengarnya," bentak Ratih dengan terisak.


Bimo membelai lembut rambut Ratih.


"Hentikan Bimo, aku tak sudi mendapat belayan darimu." Ratih menyingkirkan tangan Bimo yang berada di kepalanya.


"Boleh saya jujur," ucap Bimo dengan perlahan.


"Aku sudah tidak mau mendengarkan apa pun darimu, aku mau pergi dari sini." Ratih bangkit dari ranjangnya, berjalan ke arah pintu. Bimo mengikuti Ratih dengan segera memeluknya dari belakang.


"Lepaskan Bimo, lepaskan!" keluh Ratih.


"Aku sangat mencintaimu Rat, aku mencintaimu."


"Simpan kata-kata itu untuk istrimu."


"Kau istriku,"


"Aku bukan istrimu lagi, kita akan berpisah sekarang juga."


"Aku tidak mau."


"Itu bukan urusanku, aku tidak peduli."


"Kau harus peduli karna aku mencintaimu,"


"Tapi aku jijik padamu." Tegas Ratih.


"Dengar! Tolong jangan berontak, kita akan pulang kerumah, dan aku akan menjelaskan semua padamu."


"Mata dan telingaku sudah cukup menjadi saksi, aku tak butuh lagi penjelasn lainnya."


Bersambung ...


Jangan lupa penyemangat buat Author readers 😘😘😘

__ADS_1


Like, komen, dan hadiahnya di tunggu ya 😍😍😍


__ADS_2