Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Surprise


__ADS_3

Sesampainya di Mall, Dino pun memarkirkan motornya, mereka berjalan bergandengan tangan. "Ayo sayang, Kamu pilih saja apa yang Ingin kamu beli,"


Sita pun tersenyum.


Sita melihat-lihat beberapa pakaian, namun 'tak ada satu pun yang Sita pilih. "Aku bingung, lebih baik kamu saja yang pilihkan!"


"Loh, kok aku yang pilih, kan kamu yang akan pakai,"


"Aku takut pakaianku tidak sesuai dengan selera suamiku. Karna kamu sekarang Imamku, jadi aku serahkan semua padamu," ucap Sita dengan tatapan mata yang lembut.


"Benarkah, kau akan memakai apa yang kupilih?" tanya Dino


"Apa baju yang kamu berikan padaku tempo lalu, aku tidak memakainya?" Sita balik bertanya.


"Oke, baiklah, kalau aku yang pilih, aku suka Sar'i. Kamu baru punya satu sar'i yang aku beli waktu itu. Jadi sekarang, akan aku penuhi lemarimu dengan sar'i. Bagaimana?"


"Emh...boleh." Sita pun tersenyum. "Setelah kamu merubah penampilanku, apa kamu akan merubah penampilanmu juga?"


"Kalau kau mau?" jawabnya dengan mengedipkan satu matanya.


"Hem... rasanya sar'i ku ini tidak cocok dengan jeans bolongmu itu," ucap Sita asal ceplos sambil melihat penampilan suaminya, dan ia pun tersenyum.


Hahaha..... Dino pun tertawa "Kamu benar sayang, ini tidak lucu. Kalau begitu, pilihkan satu baju untukku yang cocok dengan sar'i mu itu,"


"Aku yang pilih?" tanya Sita.


"Ya, aku sudah pilihkan untukmu, sekarang giliranmu pilih untukku!"


"Tapi seleraku rendah loh, aku tidak pandai memilih pakaian, nanti kamu tidak suka."


"Kalau kamu mau menerima pilihanku, kenapa aku tidak?"


"Baiklah kalu begitu. Kita pilih Sar'i yang cauple-an saja, sekalian buat Ibu juga," pilih Sita.


"Emm... boleh." Dino pun menyetujui.


"Oh ya sayang, aku boleh sekalian beli kado buat Ratih?"


"Tentu saja boleh. Apa yang ingin kamu berikan padanya?"


"Aku kasih dia jam tangan saja, biar setiap dia melihat waktu, dia ingat aku?"


"Oh ya... auto marah dong Pak Bimo. Kalau Ratih inget kamu terus, kapan inget suaminya," canda Dino.


Hahaha... Mereka pun tertawa.


"Bener-bener auto marah deh Pak Bimo, nanti aku dipecat lagi," balas Sita bercanda.


"Eh sayang, jangan lupa oleh-oleh buat Abah!" Kata Dino.

__ADS_1


"Tentu saja, tempat oleh-olehnya ada di depan, nanti sekalian kita pulang bisa mampir," ucap Sita.


Setelah selesai berbelanja. Mereka pun langsung pergi ke rumah Abah. Sebelum itu mereka menelpon Ibu. Dan Ibu pun mengijinkan.


Sudah hampir tiga jam perjalanan, mereka sudah tiba di sekitaran perkampungan yang dekat dengan kampung Abah, namun sebelumnya mereka harus melewati salah satu jalanan yang sepi dan rawan pembegalan, sedangkan waktu sudah menunjukan pukull 23.30 WIB. Susah sekali mencari penginapan di kampung, malah nyaris tidak ada.


Sebelumnya Dino berpikir, sekitar jam segitu mereka bakalan masih ada di kota karna macet, jadi bisa bermalam di penginapan. Namun ternyata jalan raya kosong, perjalanan mereka bisa lebih cepat. Alhasil mereka terjebak di perkampungan.


"Gimana dong sayang, tidak ada penginapan di sekitar sini?" tanya Sita kebingungan.


"Aku juga bingung sayang, kamu gak usah khawatir ya! akan ku cari solusinya."


Baik Dino maupun Sita mereka memperhatikan sekeliling yang sudah sepi, tak ada seorang pun yang lewat disana.


"Lebih baik kita melaju Sita," saran Dino.


"Tidak, semakin kita melaju semakin sepi jalanan di depan sana, aku tidak mau ambil resiko, disana sering terjadi pembegalan," ucap Sita.


"Mesjid! ya, kita cari mesjid saja," ide Dino.


"Ya itu lebih baik, semoga kita menemukan meajid di sini. Ayo kita cari kesana!" tunjuk Sita ke arah barat.


Mereka pun berjalan menyisir perkampungan dengan memapah motor yang di kendarai Dino. Motor sengaja dia matikan karna takut suaranya mengganggu warga yang sudah tertidur.


Tak lama mereka berjalan, akhirnya merekapun menemukan mesjid kecil di tengah-tengah perkampungan itu.


"Syukurlah, ada mesjid disana." tunjuk Sita kearah mesjid itu.


Sita pun mengngguk.


Untung saja mesjid tidak di kunci, dan akhirnya merekapun bisa beristirahat.


"Maafkan aku, sayang. Tidak terpikir kalau ini akan terjadi," ucap Dino merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, sayang. Anggap saja kita sedang berpetualangan," jawab Sita menenangkan hati suaminya. Dan memegang tangannya.


Lama berada disana, Dino melihat Sita menggigil, "Kau kedinginan?" tanya Dino sambil membuka jaketnya. "Pakai ini!" pintanya sambil memakaikan jaket pada Sita, lalu memeluknya agar Sita tidak semakin menggigil.


"Tidak, kamu pakai saja, kamu juga akan kedinginan," tolak Sita.


"Aku mampu menahan dinginnya malam. Tapi aku tak mampu melihatmu menderita. Pakailah!" pintanya lagi.


Sita pun memakai jaket sang suami dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang suami sang pujaan hati, sampai terlelap tidur.


Dino terus mengelus lembut rambut yang tersembunyi di balik kerudung yang digunakan sang istri, tanpa terasa ia pun terlelap tidur. Hingga terdengar suara Adzan subuh berkumandang.


Dino dan Sita pun tersadar dalam tidurnya.


"Siap kalian?" tanya muadzin yang baru selesai adzan.

__ADS_1


"Kami hendak ke kampung sebelah pak? Namun kemalaman di jalan, jadi kami ikut bermalam disini."


"Kampung apa?" muadzin itu kembali bertanya.


"Kampung Karang Sari Pak, kami hanya tinggal melewati satu kampung saja," ucap Sita.


Muadzin itu menatap mereka dengan penuh kecurigaan, "Apa kalian sudah menikah?"


"Tentu saja pak, kami suami istri."


"Syukurlah." Muadzin itu pun terlihat lega. Dia khawatir kalau mereka pasangan mesum yang nyasar ke mesjid.


Dino dan Sita pun saling tatap ketika Muadzin itu pergi meninggalkan mereka. merekapun segera mengambil air wudu dan shalat berjamaah. Selepas itu pun mereka melanjutkan perjalanan.


Pagi-pagi sekali, bahkan Abah belum menyelesaikan Dzikirnya. Abah masih berada di atas sajadah dengan tasbih di tangannya.


Tok... Tok... Tok...


Ketukan pintu itu menghentikan Dzikir Abah. "Siapa yang berkunjung pagi-pagi sekali?" bisik hatinya. Ia pun berdiri hendak membuka pintu.


"Assalamualikum." Terdengan ucapan salam itu di luar rumah.


"Waalaikumussalam. Sitaaa!" Abah kaget mendengar suara itu, "Apa itu suaranya?" tanyanya pada diri sendiri. Ia pun segera berjalan mendekati pintu. Di ambilnya kunci dan di bukanya.


Cklek...


"Sitaaaa.....!" ucap Abah setengah tinggi.


"Surprise...." ucap Sita dengan membuka kedua tangannya dan segera memeluk Abah. Lalu diciuminya punggung tangan Abah, dan disusul oleh Dino.


"Masya Alloh, Nak. apa Abah mimpi?" tanyanya 'tak percaya.


"Apa Abah mau Sita cubit?"


Hahaha...


"Mari masuk, Nak Dino." Abah mempersilahkan menantunya itu masuk, ini pertama kalinya mereka mengunjungi Abah setelah mereka menikah, Dino pun terlihat masih sedikit canggung.


"Bukannya semalam kamu masih di Bandung, Nak?"


"Benar Bah, Sita langsung kesini, karna denger suara Abah yang kesal semalam, Sita gak mau Abah kesal sama Sita," ucapnya manja, dengan tatapan mata yang lembut . Dipegangnya kedua telinga dan berkata "Maaf!"


Hahaha...


"Anak Abah yang satu ini, masih saja seperti anak kecil," tuturnya, "Apa kamu tidak malu sama suamimu, Nak?"


Sita pun menggelengkan kepala, dengan tangan yang masih memegang telinga, lalu melirik suaminya yang sedang tersenyum menertawakan tingkahnya.


"Abah selalu memaafkan setiap kesalahan anak- anak Abah, jauh sebelum Kalian tau kalau Abah kecewa. Turunkan tanganmu.

__ADS_1


"Heemmm," Sita pun menunjukan senyum manjanya dan memeluk Abah kembali.


__ADS_2