Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kekhawatiran Sita


__ADS_3

Tak lama Elvira dan Jons telah selesai, "Terimakasih sayang, Emuchhh ...." Jons mencium kening Elvira.


Elena bergidik Jijik melihatnya.


"Oh ya bagaimana perempuan itu," tanya jons.


"Aku harap setelah ini dia akan meminta suaminya menikahiku, dan setelah menikah akan ku buat hatinya semakin patah," ucap Elvira.


"Kau yakin dia akan melakukan itu? Aku rasa tidak akan ada perempuan yang mau suaminya menikah lagi."


"Dia harus mau, apalagi kalau sampai aku mengandung," jawab Elvira.


"Ya, kalau kamu mengandung, aku rasa mereka akan menikahkan mu. Makanya jangan pernah menolak permintaanku, biar perutmu cepet berisi," ucap jons dengan menautkan alisnya.


"Alasan kau jons," Elvira senyum sinis.


"Tapi kamu meni*matinya kan, Sayang,"


Heuh ... Elvira menyeringain.


"Aku akan memberikan apapun yang kau mau, selama kau mau membantuku membalaskan dendam kematian kakakku Darwin."


'Darwin, oh jadi itu tujuannya balas dendam' Elena membatin.


"Tentu saja sayang, Aku senang membantumu, selain dapat uang, aku juga dapat goyang, heemm ...."


"Dasar rakus!"


"Ya sudah aku pergi, nanti malam aku kambali, nanam bibit lagi."


"Iiih dasar!"


Jons pun melangkah dengan cepat, berlalu meninggalkan Elvira.


Setelah kepergian Jons, Elena masuk kedalam kamar Elvira dengan bertepuk tangan, "Woow Elvira ... Woowww ...." ucap Elena. Elvira yang belum mengenakan pakaiannya kaget seketika, dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Sedang apa kau disini!?" tanya Elvira dengan kasar.


"Sedang menyaksikan kacungmu menanam benih di kebunmu yang rimbun itu." ledek Elena.


Elvira kesal, dengan ucapan Elena yang meledeknya. "Kurang ajar kau!"


"Upss ... Boleh ku melihat kebunmu selebat apa?" Elena duduk di selah Elvira, terlihat Elvira sedikit ketakutan. "Hahaha ... Tidak perlu malu memperlihatkannya padaku, kau tak malu memperlihatkannya pada kacungmu, dan membirkannya menanam benih di sana. Is, is, is, .... Kau memang perempuan yang baik Elvira." Oloknya lalu berdiri kembali.

__ADS_1


Elvira merasa malu, dirinya di olok-olok oleh Elena. Ia geram dan mengepal, andai sudah berpakaian ingin sekali meninjunya.


"Pergi kau dari sini Elena!" usirnya.


"Jangan terburu-buru mengusirkulah, aku masih senang melihat mu dalam keadaan seperti ini," ucap Elena dengan mengeluarkan hand phone di sakunya dan memotret keadaan Elvira.


"Elena!"


"Gak usah teriak, aku gak tuli."


Elvira bangkit membalut tubuhnya dengan selimut, ia berusaha merebut hand phone dari Elena. Namun Elena dengan segera, pergi menjauh dari Elvira, "Terimakasih fotonya sangat indah," teriak Elena yang sudah berada di pintu keluar rumah.


"Sial, ini ancaman buatku," Elvira kembali ke kamarnya, dan menelpon Jons.


"Jons kemarilah!"


"Ada apa? kau sudah merindukanku lagi," godanya.


"Ini bukan waktunya menggodaku Jons."


"Baiklah! katakan saja sekarang, aku baru sampai rumah."


"Elena memergoki kita sedang melakukannya, dia bahkan memotretku,"


"Ya! Cepet kau cari dia, dan ambil hand phonenya!"


"Siap, Bos." Akhir perbincangan mereka di telepon.


Elena adalah perempuan yang licik, ia juga cerdik, ia menyimpan kartu memorynya di tempat yang aman, sengaja ia copy, karna ia yakin Elvira tidak akan diam. Benar saja, tak lama Jons berhasil menemukannya, dan mengambil phonselnya dengan paksa.


"Hey, kembalikan hand phoneku!" teriak Elena.


Jons pergi berlalu dan membanting hand phone Elena sampai hancur.


"Heum ... Biarkan dia merasa senang, aku pun aman tak akan jadi buronannya," ucap Elena setelah kepergian Jons. Diakhiri senyum sinisnya.


***


Siang itu, Dino telah pergi bersama Ipan mengantar barang, ibu lebih melilih diam diri dikamar, abah duduk di teras rumah sambil membaca koran lama. Sita datang menghampiri membawa secangkir teh, "Abah, ini teh buat Abah," ucap Sita.


"Terimakasih sayang, kamu tidak istirahat?" tanya Abah.


"Abah sendiri kenapa tidak istirahat?" Sita balik bertanya pada abah.

__ADS_1


"Didalam panas, Abah tidak biasa kepanasan, udara kampung lebih enak dan sejuk, lagian Abah kan baik-baik saja, Abah juga sehat, yang butuh istirahat itu kamu yang baru pulang dari rumah sakit."


"Sita baik-baik aja kok, Bah. Badan Sita pegel kalau rebahan terus," tuturnya.


Sita tertegun sejenak.


"Bah. Boleh Sita tanya sesuatu?"


"Tentu saja," jawab abah singkat lalu meneguk teh yang di buat Sita.


"Kenapa Abah percaya begitu saja sama Dino?"


Huuhh ... Abah menarik nafas dan membuangnya, "Abah tidak tau, nak, hati dan pikiran Abah mendorongnya untuk percaya, dan Abah yakin pada do'a-doanya yang tulus di mesjid waktu itu."


Sita mengerutkan keningnya dan menatap Abah


"Apa Sita juga harus percaya padanya? Sita bingung harus gimana, Bah." ucapnya lirih.


"Serahkan semua pada Alloh, kita ambil keputusan dengan musyawarah. Kuatkanlah hatimu, Nak?"


Sita mengangguk dengan meneteskan air mata dipipinya.


"Apa Dino harus mempertanggung jawabkan perbutannya?"


"Jika dia berbuat, dia harus bertanggung jawab, bukankah saat itu dia tidak sadar?"


"Apa yang harus Sita lakukan. Jika suami Sita benar melakukannya?"


Deg ... Abah tak tega mengatakan ini, tapi Abah harus mengataknnya.


"Persiapkan dirimu, kuatkanlah hatimu, jika suamimu harus memiliki istri lagi."


Deg ... Sita terkesiap, spontan menatap abah, dengan deraian air mata yang membasahi pipi.


Abah tak kuasa melihat air mata putrinya, Abah pun menatapnya dengan sedih.


"Kita harus kuat, Nak. Kita tidak tau apa yang Alloh takdirkan untuk kita," Abah memegang tangan putrinya yang berada di bahu kursi. Mencoba memberi ketenangan.


"Sita tidak yakin, Sita bisa, Bah. Apakah Sita boleh melawan takdir?" ucapnya tenggelam dalam tangisan.


"Astagfirulloh, Nak, Apa maksudmu?"


"Sita tidak akan sanggup melihat Dino memiliki istri lagi, meski bibir bisa mengatakan iya, meski pikiran ingin mengikuti syariat, tapi Sita tidak bisa memungkiri hati Sita, Bah?" Seketika Sita bangkit dan lari kekamarnya, hatinya semakin teriris pedih, ia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, menelungkup guling. Hatinya hancur lebur membayangkan suaminya yang mungkin akan beristri lagi.

__ADS_1


__ADS_2