Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Siasat Elvira


__ADS_3

"Elviiraa! Apa yang terjadi padamu?" tanya Dino,


Elvira tak menjawab.


Terdengar suara kaca pecah, prankkk ... Prankkkk ...


"Aaaaa ...." jerit Elvira.


"Sertinya Elvira dalam bahaya aku harus menolongnya!" Dino bergesas pergi.


"Aku ikut, Sayang." tutur Sita.


"Tidak, Sayang, kamu dan ibu tetap disini,"


"Tapi ..."


"Ini untuk keselamatan mu, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu dan bayi kita,"


"Tapi aku menghawatirkan mu, Sayang,"


"Tenanglah, aku akan baik-baik saja!"


Dino mencium kening istrinya dan berlalu pergi.


"Hati-hati sayang," teriak Ibu pada Dino yang sudah ada di luar pintu.


Sita terlihat gelisah.


Ibu memeluk menantunya dengan lembut, "Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja. Ibu pun mengusap punggung untuk menenangkannya.


Elena, dengan cerdas berpikir bahwa ini adalah sebuah siasat yang di lakukan Elvira.


Ia pun bergegas pamit, pada Ibu dan Sita.


Kini ojol yang di tumpangi Elena tepat berada di belakang motor Dino yang melaju dengan kencang.


"Cepat, Bang, jangan sampai kita ketinggalan!" ucap Elena pada ojol tersebut.


Tak lama sampai Di rumah Elvira, Dino memarkirkan motornya di depan rumah Elvira, sementara Elena turun agak jauh di lokasi supaya tidak menimbulkan kecurigaan.


"Tunggu disini ya bang." Sengaja Elena menyuruh ojol itu menunggu agar dia mudah pergi jika terjadi hal yang tidak ia inginkan.


Elena berjalan menuju pintu belakang. Tepat sekali ia melihat Elvira yang tengah berdiri di dapur dalam keadaan baik-baik saja, terlihat ia tengah menyiapkan dua gelas minum air putih, ia nampak mengaduk-aduk gelas itu dengan sendok.


'Air putih kok di aduk, jelas dia mencampurkan serbuk laknat pada minuman itu' pikir Elena.

__ADS_1


Terlihat pula sosok laki-laki yang di lihat Elena pagi itu berada di sebelah Elvira, ia nampak menggunakan kupluk berwarna hitam.


"Elvira ... Elvira ... Dimana kamu?" terdengar Suara Dino memanggil-manggil nama Elvira.


"Elvira ... Kau baik-baik saja?" teriak Dino yang sedang mencari Elvira di setiap sudut rumah.


Dengan Sigap Elvira mengacak-acak rambutnya, dan sedikit merobek pakaian bagian depannya, untuk mempermudah aksi jons, laki-laki bernama jons pun segera menutupi wajahnya dengan kupluk.


"Ayo jons lakukan sekarang!" pinta Elvira. Lalu ia berbaring tak berdaya di lantai dapur.


Jons segera mengukung Elvira, seolah ia akan menodai kehormatannya.


Elvira berusaha meronta-ronta menjauhkan badan Jons dari tubuhnya, sementara jons memperlihatkan gayanya yang membuas seolah akan menerkam mangsanya.


"Tolong ... Tolong ...." teriak Elvira.


"Elvira ...." teriak Dino yang langsung menuju arah suara Elvira.


Dino langsung menendang laki-laki itu, tatkala melihatnya tengah merobek bagian depan baju Elvira.


"Kurang ajar kau," pekik Dino dengan meluncurkan tinju di wajah laki-laki itu.


Laki-laki itu pun terpental ke arah pintu, "Akhh ...." pekiknya, Ia mencoba melawan dan berbalik meninju Dino hingga Dino pun jatuh tersungkur ke lantai.


Elena segera bersembunyi di balik bunga berukuran besar, agar Jons tidak melihatnya.


Elvira menangis ketakutan dengan menutupi bagian depannya yang sudah terbuka.


Tak kuasa melihat itu, Dino membuka jaketnya dan di tutupinya bagian depan Ervira menggunakan jaketnya.


"Tenanglah kau sudah aman," tutur Dino menenangkan Elvira.


Seketika Elvira langsung memeluk Dino, "Aku takut Dino," Keluhnya diiringi tangisan.


Sontak pelukan Elvira itu mengagetkan Dino, terlihat kerisihan dan kecanggungan diwajah Dino. 'Astagfirullohhaladzim' ucapnya Dalam hati.


Elena yang memperhatikan itu di balik jendela merasa kesal, "Awas kau Elvira," geramnya dengan kedua tangan yang mengepal.


"Maaf, Elvira! aku tau kamu sedang ketakutan, tapi kamu bukan muhrim bagiku, tidak sepantasnya kamu memeluk ku, tolong lepaskan pelukanmu!"


Kata-kata itu berhasil menohok Elvira, ia pun langsung melepaskan pelukannya, "Ma-maaf, aku panik," ujarnya. Lalu melepaskan pelukannya.


Elena yang masih memperhatikan tersenyum miring, 'heh ... Alasan' ucapnya dalam hati. "Kau pikir semudah itu menjebak Dino. Heuh ...."


Dino pun mengambil tongkat Elvira yang tergeletak di lantai, dan langsung memapah Elvira ke kamarnya.

__ADS_1


Kesempatan ini digunakan oleh Elena untuk membuang satu gelas air minum yang sudah disediakan Elvira. Untung saja mereka melupak pintu yang masih terbuka.


"Bagaimana caranya agar Dino tidak salah minum," pikir Elena.


"Akh ... jika seseorang membawa dua gelas air minum, tentunya satu air minum ia serahkan dari tangan kanan untuk orang lain. Berarti minuman yang sudah di campur obat laknat itu harus ada di sebelah kanan, Minuman aman untuk Dino di kiri. Oke . Hahaha ... Biarkan perempuan itu kayak cacing kepanasan sendirian ... Hahaha ... Setelah itu Dino akan ilfil melihatnya. Hahaha ... Rasakan itu Elvira," ucap Elena di akhiri dengan senyum sinisnya.


Merasa khawatir Dino kembali kedapur, Elena pun bersembunyi di ruangan lain.


Benar saja tak lama Dino datang mengambil air, "Elvira bilang dia sudah menyiapkan dua gelas air minum, dalam kondisi tadi apa bisa?" Dino termenung, "Akhh sudahlah." Dino mengabaikan pikirannya. Dia tidak ingin berpikiran buruk. Ia pun mengambil dua gelas air minum yang terlihat dimeja.


Elena tak berani mengedipkan matanya, dia terus fokus memperhatikan tangan Dino mengambil gelas. "Syukurlah minuman laknat itu ada di tangan kanan Dino," ucapnya lega. "Namun aku harus memastikannya, jangan sampai Dino salah memberikannya," Elena pun menguntit, berjalan dengan pelahan, langkahnya dia atur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara.


Terlihat Dino memberikan gelas, di tangan kanannya pada Elvira. "Ini minumlah. Biar kamu lebih tenang!"


Elvira pun mengambilnya, dan langsung meneguk air itu sampai habis.


"Kau juga minum, Dino!" ucap Elvira.


"Tentu saja," Dino pun langsung meminumnya sampai habis.


"Syukurlah ... Hahaha ...." Membayangkan apa yang akan terjadi pada Elvira membuatnya tertawa sedikit keras, "Upss," untung saja tak terdengar oleh mereka.


Nampaknya rencana Elvira belum selesai. Jons melempar batu dari luar hingga memecahkan kaca kamar Elvira. Sengaja langkah itu dibuat agar Elvira seolah kaget dan langsung memeluk Dino spontan karna ketakutan.


"Aaaa ...." jerit Elvira dan langsung melancarkan rencananya memeluk Dino.


'Laki-laki itu masih ada disini!' bisik Elena yang juga merasa kaget 'Semoga dia tidak melihatku tadi' imbuhnya.


"Astagfirullohhaladzim." Dino kaget dengan lemparan batu itu ditambah dengan Elvira yang memeluknya lagi.


Terlihat kebingungan di wajah Dino.


Tolong lepaskan Elvira aku harus mengeceknya.


Dino memaksa tangan Elvira terlepas dari pinggangnya. Ia pun berdiri dan melangkah kearah jendela. Dilihatnya laki-laki berkupluk itu lari sekencang-kencangnya ke arah jalan.


"Syukurlah dia sudah pergi," ucap Dino lalu melirik Elvira. Elvira terlihat ketakutan. Dino pun menghampirinya kembali dan duduk di bibir ranjang. Nampaknya obat yang dia campurkan diminuman sudah mulai bereaksi, Elvira mulai merasakan panas bergejolak dalam dirinya, dipikir Dino pun sudah merasakan hal yang sama, Elvira pun langsung memeluk Dino, dengan dalih ketakutan. "Aku takut Dino, Aku takut," keluhnya. Dia berharap gejolak panas itu tak mampu Dino tolak, dan membalas pelukannya.


"Elvira dia sudah pergi, lepaskan!" keluh Dino.


"Tidak Dino! Tidak!" ucapnya dengan memper erat pelukannya, menelusupkan kepalanya ke dada Dino, Elvira pun mulai menge*us-E*us Punggung Dino layaknya perempuan yang memancing ha*rat laki-lakinya. Merasa tak ada balasan dari Dino Elvira pun menengadahkan kepalanya menatap Dino dengan tatapan yang sudah diselimuti ha*rat. Berharap Dino terbuai olehnya.


bersambung ....


Terimakasih sudah setia membaca karya ku, salam sayang dari Author untuk kalian semua readerku ❤❤❤ jangan lupa tinggalin jejak like dan komennya agar Author tambah semangat😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2