Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Dino langsung menghampiri Sita "Sayang, ini beneran kamu?" tanyanya. Dino pun melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


Sita hanya tersenyum, dan menunduk malu.


Dino memegang dagu sang istri dan mengangkatnya, hingga mata mereka saling bertemu.


"Sungguh aku menyukai perubahan mu," bisiknya lembut di telinga sang istri, "Sungguh aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu," ucap Sita mengejutkan Dino.


"Benerkah?"


Sita pun mengangguk


"Katakan sekali lagi, sayang!"


"Aku mencintaimu,"


"Sekali lagi,"


"Aku mencintaimu,"


Dino pun mendekatkan wajahnya dan meng***p lembut kening dan b**ir indah sang istri. "Terimakasih, akhirnya kau mencintaiku, sungguh aku bahagia mendengarnya."


Dino menatap lekat pakaian yang di gunakan istrinya, "kau cantik sekali," pujinya.


Dino yang sudah diselimuti ha*rat pun tak ingin menunda lagi, Ia mendudukan sang istri ditempat tidur dan mendorongnya lembut, lalu ia pun mengukungnya dan meni*mati setiap tahap, dan alurnya sampai selesai. Bagi Dino ini malam terindah dari malam-malam sebelumnya, karna sang istri sendiri yang rela menyerahkan haknya.


***


Suara Adzan pun berkumandang dimana mana, waktu menunjukan pukul 04.00 WIB. Sita dan Dino pun membuka mata, masih melekat senyum kebahagiaan diwajah keduanya. Rasanya ingin sekali mengulang peristiwa semalam, namun apalah daya, segudang aktifitas telah menanti mereka.


Ibu, Sita, dan Dino pun berangkat bersama ketempat yang berbeda. Sita turun lebih awal karna lokasi tempatnya berkerja lebih dekat.


Ibu dan Dino pun tiba di rumah Elvira. Elvira tengah merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"Assalamualaikum, Nak Elvira." Salam Ibu dengan ramah.


"Waalaikumsalam, Eh...Ibu mari masuk Bu!" Elvira pun menjawab dengan ramah.


"Syukurlah kalian datang," ucap Elvira lega.


"Pasti kamu udah gak tahan pengen ke toilet lagi kan," tebak Ibu.


"Huem... Ibu tau saja, Bu"


"Iya dong... Seratus persen orang kalau bangun tidur pasti tujuan utamanya toilet, hahaha..."


"Iya, Bu... aduh rasanya cukup sulit kalau setiap hari aku harus seperti ini, aku ingin segera sembuh Bu,"


"Aamiin, semoga cepet sembuh ya, Nak." Ibu pun mengusap rambut Elvira. "Ayo, Din...cepat kamu angkat Elvira!" titah Ibu.


"Baik Bu." Dino pun mengangguk, lalu mengangkat Elvira ke toilet.


Setelah selesai mereka pun menyantap sarapan yang di bawa Ibu.


"Ohya... Nak Elvira, boleh Ibu menyarankan sesuatu!"


"Tentu saja, silahkan Bu,"


"Sebenernya Ibu gak enak ngomongnya, gini loh Nak, Ibu kasihan sama kamu kalau harus nunggu kami datang kesini buat ke toilet, mending **** * kamu pakaikan selang, bagaimana?"


'APA!' batinnya kaget, Elvira pun kesal namun tidak ia nampakan dihadapan Ibu dan Dino. Ia pun tetap menunjukan sikap tenangnya yang palsu.

__ADS_1


"Eumm... Maaf Bu, aku tidak bisa, aku rasa..." tiba-tiba Elvira menghentikan bicaranya dan berpikir, "Maaf, aku sudah merepotkan kalian semua, sekiranya kalian keberatan dengan keadaanku, aku bisa mencari perawat untuk ku,"


"Maaf loh nak Elvira, Ibu gak maksud begitu, maksudnya supaya kamu nyaman, dan tidak harus menahan sampai kami datang. Kami sama sekali tidak keberatan, ini sudah tanggung jawab kami," ucap Ibu tenang.


Elvira pun tertunduk menatap meja makan, batinnya pun menggerutu kembali, 'Enak saja, kalau gitu caranya rencaku bisa gagal total,'


Suasana terlihat kikuk.


"Ya sudah, Dino harus pamit, ada banyak pengiriman. Semua keputusan ada ditangan Elvira. Assalmualikum." Dino pun pergi meninggalkan mereka.


"Wa'alaikumsalam," jawab Elvira dan Ibu.


"Ibu, sekali lagi aku minta maaf, aku tidak bisa mengikuti saran Ibu."


"Takk apa Nak, Ibu hanya sekedar memberi saran,"


"Terimakasih sarannya Bu,"


Ibu pun mengangguk.


***


Duarr....! Sita yang tengah Sibuk dengan rutinitas pekerjaannya, dikagetkan oleh kedatangan sahabatnya yang membawa seauatu di tangannya.


"Ratih... Ngapain sok ngagetin gitu, gak kaget tau,"


"Yeeh...kok gak kaget sih Sit, padahal aku dah kenceng loh ngagetinnya,"


"Ohya... Masih kencengan suara MC Tenun ini kali," jawab Sita datar.


"Yeeh itu wajah datar amat, gak ada expresinya,"


"heu..biarin,"


"Undangan! Undangan siapa Rat?" tanya Sita.


"Di baca dong Sita sayang,"


Sita pun melirik Ratih dan membuka kartu undangan.


Seketika mata Sita pun melotot tak berkedip, dan membuka mulutnya.


"Ratih Wulandari dengan Bimo Brahmana! Oh ya ampurn Rat, kalau ini aku beneran kaget deh, sumpah. Akhirnya kamu nikah juga sama pak Bimo. Aku seneng banget." Sita pun memeluk sahabatnya Ratih dengan gembira, tentu saja Ratih pun membalas pelukan sahabatnya itu.


"Kaget kan kamu?"


"Bener-bener kaget pokoknya. Tapi, ceritanya gimana sih? Bukannya kamu disuruh nunggu Kakakmu dulu Rat?"


"Itulah, keajaiban Sit. Kajadian tempo hari membawa berkah buat kami,"


"Kejadian mana Rat?" tanya Sita.


"Kamu gak inget pelemparan batu ke kontrakan aku tempo lalu?"


"Ya, tentu saja aku ingat kejadian itu,"


"Gilaa... Bimo khawatir banget, Bimo langsung meluncur kerumah menceritakan semua pada keluarga ku, dan mereka pun ikut khawatir dong. Mereka pun membujuk Kakaku dan alhasil orang tuaku pun memutuskan untuk menikahkan ku terlebih dahulu."


"Ya Alloh, seneng banget Rat. Tapi Rat, orang yang lempar batu ke kontrakan kamu itu kayaknya ngincar aku deh,"


"Ngincar kamu, Sit?"


"Iya, soalnya dia ngikutin aku juga, dan di jalanan dia sengaja banget nyerempet motor Dino,"

__ADS_1


"Benarkah? Kalau memang dia ngincar kamu, dia pasti Darwin," tebak Ratih.


"Mas sih," gumam sita.


"Iya, aku pikir begitu,"


"Udah akhh jangan ngomongin itu menegangkan. Kita kembali sama acara pernikahan kamu saja, Rat,"


"Suttttt... Udah dulu aakhh tar kena semprot bos,,, hik...hikk...hiik... eh jangn kasih tau dulu siapa-siapa ya, ini undangan baru di sebar satu buat kamu saja,"


"Beneran, Rat?"


"Beneran, kamu kan special no satu di hatiku,"


"Yakin no satu Rat? Pak Bimo no dua dong?"


"Hussss... Gak gitu juga kali,"


Hahaha...


Ratih pun berlalu pergi.


***


Dino sudah ada di depan gerbang perusahaan menjemput Sita.


Sita menujnukan kartu undangan Ratih, "Sayang, ada undangan nih dari Ratih."


"Ratih, sahabatmu sayang,"


"iya, Dia."


"Akhirnya gak jomblo lagi dia"


"Iy, Aku seneng bangat dengernya,"


"Ya udah, ayo naik,"


Sita pun segera naik.


Mereka pun langsung menuju ke rumah Elvira. Ibu dan Elvira tengah berbincang di kamar.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Eh... Anak-anak Ibu sudah pulang," ucap Ibu.


"Iya bu, kalian lagi ngomongin apa asyik bener kayaknya?" tanya Dino.


"Ini loh, Elvira lagi ceritain soal Kakanya, Ibu salut loh sama mereka, hidup tanpa orang tua tapi mereka bisa saling menyayangi, mereka bahu membahu, akur banget mereka selalu saling dukung dalam hal apapun. Pantes kalau Elvira merasa kehilangn banget, sayang sekali kekasi kalaknya menyianyiakan dia," ucap Ibu panjang lebar.


"Takdir itu tidak ada yang tau Bu, untuk itu kita harus selalu bersyukur karna masih bisa berkumpul dengan keluarga kita," tutur Dino.


"Kamu benar sayang," ucap Ibu. "Ohya Elvira, mulai sekarang kamu boleh jadi anak Ibu, jangan sungkan kalau ada apa-apa , sekarang kamu tidak sendiri, ada kami disini!"


"Benarkah Bu?" tanya Elvira tak percaya


"Bener sayang,"


Elvira pun langsung memeluk Ibu dengan bahagia. Entah cerita apa yang membuat hati Ibu tiba-tiba mengangkat Elvira menjadi anaknya.


Tentu saja ini jadi peluang bagus buat dia mengambil hati Ibu.

__ADS_1


__ADS_2