
Dino yang melihat istrinya hancur segera merangkulnya, "Tidak sayang, tidak mungkin aku melakukannya, itu tidak mungkin, dokter pasti salah," histrisnya.
"Kata kan padaku Dokter ini salahkan?" Dino menghampiri dokter karna tak percaya.
"Sayang sekali ini benar, Tuan. Nyonya Elvira sudah tidak perawan lagi," tegasnya.
Dino pun hancur sehancur hancurnya, di tendangnya dinding rumah sakit, dengan sekeras-kerasnya, dia pun membentur benturkan kepalanya pada dinding itu. "Tidak mungkin!" teriaknya, "ini tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukannya."
Dia kembali menghampiri sang istri dan memeluknya. Diangkatnya dagu sang istri yang menunduk lesu menangis histeris, di pegangnya kedua pipinya yang di aliri deraian air mata, "Tidak, sayang tidak!" Dino menatapnya dengan perasaan yang hancur.
Setelah selesai akhirnya mereka semua kembali kerumah dengan membawa perasaan sedih mereka. Elvira sungguh muak dibuatnya. Karna harus ikut berpura pura bersedih dengan terbukti dirinya sudah tidak suci lagi, padahal hatinya sangat gembira 'Senang sekali rasanya bahagia diatas penderitaan mereka' batinnya.
Setelah semua itu akhirnya pernikahan Elvira dan Dino di tentukan, mau tidak mau mereka harus menikahkannya, karna ke rusuhan warga kemarin malampun mereka memutuskan mempercepat rencana pernikahan, lusa akan langsung diadakan akad, yang akan di lakukan secara sederhana.
Akhirnya semua warga diam mendengar mereka akan dinikahkan, hingga kabar itu, sampai ketelinga Elena dan membutnya sangat marah. "Kurang ajar, enak saja kamu mau menikah dengan Dino, lihat saja apa yang akan aku lakukan!" geramnya.
Di dalam kamar Sita Dan Dino nampak hancur keduanya saling berpelukan dengan erat, tak ingin melepaskan seolah itu pelukan terakhir mereka.
Bagaimana rasanya jadi Sita, ia hancur sehancur hancurnya saat menerima kenyataan tentang suaminya, sanggupkah ia menerima pernikahan kedua sang suami.
Keadaan kini berubah, rasa sakit kian bertambah setiap kali Sita melihat wajah Elvira.
Namun Sita tak mau memperdebatkan, ia memilih menghindari pembicaraan dengan Elvira karna bicara dengannya hanya akan menambah luka, jelas wanita mana yang sanggup menerima suaminya menikah lagi.
Pernikahan memang sudah direncanakan tapi semua itu malah membuat semua orang membisu, mereka hanya bicara seperlunya saja, Elvira merasa kesal karna dirinya kini merasa diabaikan oleh semua orang, terlebih oleh Sita. Sungguh tak ada seorangpun yang merasa bahagia atas rencana pernikahan itu,
Meski sebenarnya Elvira tak peduli namun ia tetap merasa tidak nyaman.
Tak terasa, satu hari tlah berlalu.
"Sita!! Kenapa kamu selalu menghindari ku, tidak bisakah kita bicara seperti biasanya?" Elvira kesal melihat Sita yang selalu acuh padanya.
"Bicara masalah apa Elvira!" Mendengar ucapan Elvira yang kesal dan membentak nya, Sita balik bertanya dengan menekan suaranya.
__ADS_1
"Aku akan menikah dengan suamimu, kenapa sikapmu berubah padaku, seharusnya kita baik-baik saja dan kita bisa hidup bahagia bersama," ucap Elvira dengan santainya.
"Bahagia bersama! Elvira! jika kamu di posisiku apa yang akan kamu lakukan?" tanya Sita dengan tegas.
"Apakah kamu mampu menerima perempuan lain diantara kamu dan suamimu?" lanjutnya.
"Ini bukan kemauanku Sita, kalau kamu tidak mau suamimu menikahiku, kenapa kamu tidak menolak keputusan itu!?" ucapnya penuh penekanan.
"Jelas kamu tau aku menolaknya, Elvira! Apa selama ini kamu tidak mengerti arti air mataku!? Atau kamu memang tidak punya perasaan!?"
"A-aku--" ucapnya terpotong ketika Sita melanjutkan bicaranya
"Pernikahan mu dan suami ku hanya karna nurani, Andai aku memikirkan perasaanku sendiri maka sudah dari dulu aku membiarkanmu hidup sendiri dalam ketidak berdayaanmu, Elvira. Tidak kah kau cukup mengerti kebisuanku padamu itu karna hatiku tidak mampu menerima keberadaanmu diantara kami! Tidak kah kamu mengerti keterpaksaanku menerimamu di antara kami!" tatapan tajam mata Sita pun melayang pada Elvira.
"Cukup kau pahami itu dan hargai aku, tidak perlu kau pertanyakan kebisuanku Elvira!" bentak Sita lagi pada Elvira.
Nampaknya kesempatan ini Sita gunakan untuk melempiaskan amarahnya yang terpendam selama ini.
Elvira pun cukup kaget ternyata Sita juga bisa membentaknya. Awalnya dia yang kesal ternyata sekarang malah berbalik Sita yang kesal padanya.
"Aku hanya mengatakan kenyataan Sita."
"Kenyataan apa, kenyataan kamu mau menikah dengan suamiku!"
"Kenapa jadi kamu yang marah padaku Sita!"
"Ya aku marah padamu, aku cukup mengerti perasaan mu, tapi kenapa kamu tidak mengerti perasaanku! Hatiku sakit saat bicara denganmu! kamu duri dalam rumahtangga ku! terlepas itu disengaja ataupun tidak kau tetap duri dalam rumah tanggagu! Jadi mengertilah kalau aku tidak mau bicara denganmu Elvira!" Sita pun pergi kekamarnya meninggalkan Elvira.
Amarah Sita yang tiba-tiba meluap-luap, membuat Elvira sadar kalau dia tidak akan mudah menaklukannya nanti, tapi sungguh dia berharap Sita akan pergi setelah dia menikah dengan Dino nanti.
Perdebatan ini tentu saja di dengar oleh Abah Ibu dan Dino, namun mereka membiarkan Sita meluapkan amarnya agar dia tidak terlalu tertekan, jelas semua keluarga mengerti dengan apa yang dirasakan Sita saat ini.
Ketika Sita masuk kamar Dino pun langsung memeluknya dengan erat, "luapkanlah, luapkan amarahmu, marahi aku seperti kamu memarahi Elvira tadi sayang," ucapnya terdengar berat.
__ADS_1
Namun Entah kenap Sita tak bisa memarahi suaminya. Meski sebenarnya dia ingin sekali marah.
"Ayo kita pergi dari sini, jangan biarkan pernikahan ini terjadi! Ayo sayang kemasi barang-barang mu!" tiba-tiba ucapnya Dino mengagetkan Sita.
"Apa maksudmu?" Sita di buat heran.
"Aku tidak mau menikah dengannya, biarlah mereka menyebutku pecundang, dengan tidak mempertanggung jawabkan perbuatanku pada Elvira, asal aku bisa bahagia denganmu. Asal aku bisa melihat senyim di wajahmu lagi. Ayo cepat!" ucap Dino ini tidak main-main.
Sita hanya bengong tak percaya mendengar ucapan sang suami. "Pergi! Kamu ingin kita pergi!" ucap Sita tetap tak percaya dengan keinginan sang suami.
Melihat suaminya yang bergegas membereskan semua baju-bajunya kedalam koper Sita hanya melihat dengan Shock.
"Ini--"
"Ayo!" Dino langsung menarik sang istri setelah selesai memasukan semua pakainnya.
Sita hanya pasrah dan mengikuti langkah sang suami.
Cklleekkk ...
Saat pintu terbuka Abah Ibu, pak Rt dan pak Rw tengah berkumpul di sana.
"Astagfirulloh, Dino, kamu mau kemana?" tanya Ibu dengan kaget melihat putranya yang tengah membawa koper dan menggegenggam tangan Sita dengan erat.
"Aku mau pergi dari sini," ucapnya.
"Nak Dino kamu tidak bisa pergi begitu saja, kamu harus bertanggung jawab." Pak Rt angkat bicara.
"Bapak tidak perlu khawatir, saya akan meninggalkan kampung ini untuk selamanya, jadi kampung bapak ini bisa bersih dari aib saya,"
Plaaakkk ...
Tiba-tiba ibu menampar Dino.
__ADS_1
"Ahhh ... Ibu, kenapa Ibu melakukan ini,"
Bersambung ...