Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Tes Keperawanan


__ADS_3

"Sudahlah Dino, jangan sok suci, perempuan ini sudah mengakuinya,"


"Tenang-tenang mari kita bicarakan baik-baik jangan emosi?" sela pak Rt di tengah tengah perdebatan. "Sudah saya bilang kalian tenang jangan mengundang keribuatan," lanjut pak Rt.


"Kita bicarakan kembali di dalam bu," ajak pak Rt.


Khawatir ada keributan lagi pak Rt menyuruh warga pulang kerumah masing-masing, "Kalian lebih baik pulang saja, masalah ini saya yang akan urus dengan pak Rw."


Warga pun pulang kerumahnya masing-masing, hanya ada dua orang warga yang menemani pak Rt, dan pak Rw.


Abah sudah sedikit lebih tenang setelah di beri obat oleh Sita.


Mereka pun kembali masuk kedalam, yang paling pertama Dino lihat adalah tatapan wajah sang istri yang tertuju padanya.


Deg ...


Dino pun menatap lekat wajah sang istri dengan penuh rasa khawatir, matanya yang sembab terus mengalirkan air mata. Dino menggelengkan kepalanya memberi kode pada sang istri agar tidak menangis.


Sita sudah berusaha menyeka air matanya sedari tadi, entah kenapa air matanya tak bisa berhenti mengalir, seolah tak sanggup dengan apa yang akan terjadi padanya.


"Ibu, bapak, katakan yang sebenarnya?"


Akhirnya dengan berat hati, ibu pun menceritakan semua pada mereka. Dan mereka pun memahami kejadian ini, namun mereka tetap menyarankan agar Dino dan Elvira dinikahkan saja.


"Bagini bu, pak, lebih baik mereka di nikahkan saja, agar tidak terjadi fitnah, tetap tidak pantas mereka tinggal dalam satu rumah."


Ibu dan pak Yahya tidak bisa berbuat apa-apa terlebih karna Elvira sendiri yang mengakuinya di depan warga, ibu 'tak bisa menyangkal karna kejadian itu pun disaksikan oleh mata kepala ibu sendiri, dan Sita sendiripun menyaksikannya.


Namun kini Sita geram pada pengakuan Elvira yang seolah memanfaatkan keadaan di depan warga.


"Kenapa Elvira? Kenapa kamu mengatakan semua pada warga? Tidak bisa kah kamu bertanya dulu pada ibu atau abah?" bentak Sita.


"Kenapa Sita, kenapa aku harus bertanya pada mereka, sedangkan mereka hanya akan menutupi ini semua," balasnya.


"Tentu saja Elvira, aib keluarga harus di sembunyikan bukan di umbar?" lanjut Sita.


"Kenapa? Kamu ingin suamimu tetap terlihat baik dimata mereka? Kamu ingin suamimu tidak mempertanggung jawabkan perbuatannya?"


"Tidak begitu Elvira, segala sesuatu bisa di musyawarahlan dengan baik, tidak seperti ini,"


"Musyawarah itu hanya akan menguntungkanmu Sita, semua orang di rumah ini bermusyawarah hanya ingin menjaga perasanmu tapi tidak dengan perasaanku."

__ADS_1


"Elvira hentikan!" bentak Dino.


Namun bentakan Dino tak membuat Elvira diam.


"Kalian sadar, kalian telah mempermainkan hidup seorang yatim piatu." gertaknya lalu pergi kekamarnya.


"Elvira!" bentak Dino menatap Elvira yang berlalu pergi kekamar.


Kini ibu hanya terdiam lesu menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Abah pun melakukan hal yang sama.


"Abah!" Sita tak kuasa melihat abahnya selemah itu, meski disini yang paling tersiksa adalah Sita ia tetap berusaha bersikap tegar agar tidak membuat abahnya semakin lemah.


Meski ia terus menenangkan abah dirinya sendiri tidak menyadari, air mata yang tak berhenti membasahi pipinya.


Dino tak kuasa melihat istrinya yang bersikap seolah-olah dirinya tegar padahal tengah menahan kehancuran.


Tak kuasa Dino pun menghampiri sang istri yang tengah menenangkan abahnya itu, ia meraihnya dan memeluk tubuhnya dengan Erat mencurahkan segala kekhawatiran yang ia raskan.


"Kenapa kamu menenangkan orang lain sementara dirimu sendiri terlihat tidak tenang? Tenanglah Sayang, tenanglah?" pinta Dino.


"Aku baik-baik saja," ucapnya dengan menahan tangis.


"Tidak, tidak ada yang baik-baik saja disini, semua tengah terluka, dan yang pasti sangat terluka adalah dirimu? Maafkan suami mu, maafkanlah!" ucapnya dengan menciumi tangan sang istri.


"Sayang!"


Dino menatap Sita yang berlalu, kemudian melihat abah dan ibu yang terlihat sangat sedih,


"Pergilah, Nak, tenangkan istrimu," ucap abah.


Ibu pun mengangguk.


Dino menggejar sag istri ke kamarnya, terlihat dia tengah membaringkan dirinya dengan memeluk bantal guling kesayangannya, tatapannya terlihat kosong.


Dino melangkah dengan perlahan, dan duduk disamping sang istri.


"Jika berkenan peluklah diriku, lepaskan segala dukamu padaku, jangan pada guling-guling itu,"


Sita menelan salipanya menahan duka.


"Guling-guling ini lebih baik darimu, dia hanya diam tak mempermasalahkan sikapku, meski air mata ku terus menetes membasahinya. Dia tidak akan proters meski aku berteriak sesuka hatiku. Tidak akan seperti dirimu yang terus protes menyuruhku diam."

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka melihatmu menangis sayang, untuk itu aku memintamu menghentikan tangismu,"


"Aku sendiri tidak menyukai air mata ini, namun bagaimana mungkin bisa terhenti, seberusaha apapun jika hati masih terluka dia akan terus mengalir."


"Bagaimana caraku menyembuhlan dukamu?"


"Duka hati hanya akan sembuh seiring berjalannya waktu, terkecuali terbukti kamu tidak melakukannya."


"Baiklah apa yang harus aku lakukan sekarang."


"Jangan lupa yang berduka disini bukan hanya aku, perempuan yang berada diselah dinding ini pun sama tengah meratapi nasibnya."


"Aku akan melakukan apapun, asal jangan pernah kamu memintaku lagi untuk menikahinya."


"Bawa dia ke dokter, periksa keperawanannya, apa sudah ternoda atau belum, Jika terbukti dia ternoda berarti--" Sita tak melanjutkannya karna tak kuasa mengatakannya dan menagis kambali.


"Kamu benar, itu akan membuktikan aku tidak bersalah, baiklah! Besok pagi kita bawa dia ke Dokter."


Malam berlalu dengan sangat kelam, langit yang terang pun terasa gelap gulita, meski bintang bertaburan takan mampu menghapus duka di hati Sita.


Pagi ini Dino dan Sita telah bersiap memabawa Elvira ke Dokter. Abah dan ibu pun ingin ikut bersamanya, tentu saja Elvira senang karna ini akan membuktikan dirinya sudah tidak perawan lagi, dan itu akan membuat mereka menikahkannya dengan Dino.


Mereka pun berangkat dengan menggunakan mobil kantor Ipan, Ipan yang mengerti keadaan pun mengijinkan tanpa mempermasalahkan.


Sesampainya di rumah sakit, Elvira segera diperiksa oleh dokter.


Dengan gusar mereka semua menunggu hasil tes yang dilakukan Elvira.


Sungguh mengejutkan semua ketika Dokter memberitahukan kenyataan pahit yang berhasil meluluh lantahkan hati Sita dan yang lainnya.


"Nona, Elvira sudah tidak perawan lagi," jelas Dokter itu.


Deg ... Seketika Sita kehilangan keseimbangan, ia tersungkur ambruk kedasar lantai tubuhnya lemah tak berdaya. Tak mampu berkata apapun selain tangis yang terdengar di mulutnya kini kehancuran yang menyelimuti hatinya.


Begitupun dengan Dino abah dan ibu sama shocknya seperti Sita.


Hanya Elvira yang kini tengah gembira di dalam hatinya, Namun wajahnya tetap menunjukan kepura-puraannya yang bersedih.


"Sudah ku bilang Dino melakukannya, kenapa kalian terus mengelak, bakhan kalian melihatnya sendiri waktu itu," ucapnya dengan tangisan palsunya.


Bersambung ....

__ADS_1


Terimakasih like komennya readers tercintaku, semoga kalian selalu bahagia😘😘😘❤❤❤


__ADS_2