Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Akhirnya Bertemu Kembali


__ADS_3

"Siapa yang menelpon Din," tanya Ibu pada Dino yang masih berada diluar setelah menjemur Rafka.


"Didit bu, sepertinya dia lagi butuh teman bicara?"


"Oh," jawab ibu singkat.


"Hai anak papa ganteng, enak ya udah di jemur, anget ya, hemmm ...." Dino mengajak Rafaka bicara dengan penuh kasih sayang.


Saat itu, Dino dan ibu nampak terlihat bahagia, Dino dan ibu nampak bercanda gurau dengan bahagia, tak nampak sedikitpun kesedihan di wajah mereka saat itu.


Sita yang telah sampai disana tampak meneteskan air mata, dari kejauhan ia melihat sang suami begitu bahagia menggendong seorang bayi.


Ia pun menatap wajah Arvi dengan lekat, "Ternyata papamu sedang bahagia nak," isak Sita, "mungkinkah itu anaknya Elvira?" ucapnya semakin terisak, "Apakah kedatanganku akan merusak kebahagiaan mereka, tidak, apa yang harus aku lakukan? lebih baik aku pergi," Sita pun mengusap air matanya dan kembali kerumah Aditya dengan hancur.


Sepanjang jalan tak berhenti-hentinya Sita menangis, hingha akhirnya sampai kerumah Aditya.


Amel langsung berlari kekamarnya, tanpa melirik siapapun yang ada disana, Aditya yang tengah duduk di ruang tamu pun kaget melihat Amel yang tiba-tiba lari ke kamarnya sanggat terlihat amel tengah kecewa.


"Amel! Apa yang terjadi padanya?" Aditya pun segera mengejar Amel ke atas. Sesampainya di kamar terdengar jerit tangis kecewa Amel yang begitu dalam, seketika membuat Aditya terenyuh sedih.


Aditya hendak masuk namun ia mengurungkannya, ia memilih mendengarkan keluh kesaha Amel di luar, biarkan Amel di dalam melampiaskan segala kekecewaannya dengan lepas.


Tangis Amel pun semakin mendalam semakin menyakitkan di dengar oleh Aditya.


"Apa yang di lakukannya padamu Amel, kenapa kamu begitu terluka? Tidak akan ku biarkan kau terus terluka seperti ini," gumamnya.


"Apa yang terjadi padanya, Pak?" tanya Bi Marni.


"Masuklah dan tenangkan dia, Bi!" tuturnya tanpa menjawab pertanyaan Bi Marni.


Bi Marni pun langsung masuk kedalam kamar Amel.


"Non. Apa yang terjadi?"


Mendengar Bi Marni datang Amel langsung memeluk Bi Marni.


"Bibi," ucapnya dengan menangis.


Seketika Bi Marni pun ikut terenyuh sedih.


"Kenapa Non?"


"Bibi benar, ternyata Amel masih belum sanggup melihat kebahagiaan mereka, bi. Amel cemburu melihat mereka tengah bahagia tanpa Amel, apakah mereka sudah benar-benar melupakan Amel, Bi?" ucapnya semakin terisak. "Apa Amel sudah tidak berarti lagi buat mereka, Bi?" lanjutnya.

__ADS_1


"SIAL!" Aditya mengepal tangan dan membenturkannya ke dinding dengan kesal.


"Seharusnya kamu melupakan dia Amel, jika mereka twngah bahagia kau pun berhak bahagia." Setelah mendengar keluh kesah Amel, Aditya semakin kesal pada suami Amel yang telah menyakiti perasaan Amel.


Aditya tidak sabar ingin bertemu Dino, ingin mencurahkan isi hatinya, memintanya pendapat, dan solusi, mengenai perasaannya.


Sementara Bi Marni terus menenangkan Amel, hingga menumpahkan segala kesedihannya sampai Amel merasa tenang.


Amel pun tertidur begitu saja saat ia sedang menyusui Arvi.


Waktu menunjukan pukul 12.00 WIB. Suara Adzan berkumandang berbarengan dengan kedatangan Dino.


"Hai, akhirnya kau sampai di rumahku Din?"


"Waw ... rumahmu megah sekali, Dit,"


"Ini hanya titipan Din, janganlah terlalu memuji, oh ya nanggung Adzan kita shalat dulu sebelum Ngobrol,"


"Oke," ucap Dino.


"Ayo, mushola Di atas, kita ke atas," ajak Aditya.


Sebelum ke atas Aditya menyuruh Bi Marni menyiapkan dua gelas kopi, untuknya dan Dino.


"Iya, Pak," jawab Bi Marni di dapur.


Bi Marni yang sibuk di dapur tidak melihat siapa yang datang.


Amel yang tengah tertidur di bangunkan oleh suara Bacaan Alfatihah yang mendayu dengan merdu, sedikit tersengar sayup-sayup, di mushola yang terletak di sebelah kamarnya.


Amel pun semakin menajamkan pendengarannya.


Di ikatnya rambut, di pakaikanya kerudung dan cadar dengan lengkap, "Suara itu, apa aku sedang bermimpi?" Amel mencubit tangannya sendiri. "Ahhh, sakit," keluhnya.


Tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, darahnya mengalir deras, nafasnya pun tak beraturan, seketika terdengar kembali bacaan Alfatihah di rakaat berikutnya.


Amel mencoba mengatur nafasnya, sebelum ia berjalan lebih dekat, rasa penasarannya semakin besar, ia terus berjalan menuju mushola, perlahan membuka pintu mushola yang tertutup, sedikit demi sedikit ia membukanya dan, deg ... deg ... Deg ... jantungnya semakin berdegup kencang, sosok yang terlihat dari belakang itu adalah sosok yang ia kenal, ia membekap mulutnya tak percaya namun ia tetap berdiri penasaran sebelum melihat wajah sang pemilik suara, saat akhir salam Dino melirik ke arah kanan, saat itu spontan Amel menyebut namanya, "DINOOO!"


Sontak membuat Dino melirik kebelakang setelah salam keduanya kearah kiri.


"SITAAA!" Dino mengenal dengal jelas itu suara istrinya, melihat wanita bercadar di belakngnya, Dino sedikit terhentak, namun Dino mengenal mata yang ia tatap, Mata yang sangat ia rindukan.


"Kau disini, sayang!?" seketika linangan air mata mengalir dipipinya, terlihat jelas kerinduan yang dalam dimata Dino, Dino berjalan cepat hendak memeluk sang istri.

__ADS_1


Namun Sita tak percaya ini, mengingat apa yang di liatnya tadi pagi, Sita malah melangkah mundur menjauh. Terlihat buliran bening di pelupuk matanya telah mengalir.


"Tidak, tidak, aku tidak bolah bertemu denganmu, tidaaakkk." Sita lari masuk kedalam kamar dan segera mengunci pintu.


"Sayang, aku sangat merindukanmu!" Dino mengejar Sita hingga di depan pintu.


Dibalik pintu kamar Sita menangis tersedu sedu.


"Kenapa kau menghindariku, apa kau tidak merindukanku, bukalah sayang, sudah lama aku mencarimu!" Dino memegang gagang pintu dan mencoba untuk membukanya, namun apalah daya Sita telah menguncinya.


"Buka, Sayang, buka pintunya, aku sangat merindukanmu," ucap Dino di iringi air mata yang mengalir.


Aditya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan merasa heran, ia pun menghampiri Dino.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Aditya dengan curiga.


"Iya Dit, Dia istriku," jawab Dino.


Mendengar itu seketika darah Aditya mendidih, ia memegang tangan Dino yang berada di gagang pintu, dan menyingkirkannya, seolah tak percaya dan ingin segera menanyakannya pada Amel.


"Biar aku yang membujuknya," ucapnya dengan tatapan kesal pada Dino.


"Buka Amel, buka pintunya!" teriak Aditya dengan kesal.


semakin terdengar tangisan di balik pintu kamarnya.


"Semua bisa di bicarakan, sekali lagi aku mohon buka pintunya!" teriak Aditya.


Dirasa Amel tidak mungkin membuka pintunya, Aditya pergi mengambil kunci serep kamar itu.


"Sita, buka sayang, buka pintunya?Aku mohon, aku sangat merindukanmu? Tolong jangan menghindariku!" Dino terus berusaha membujuk sang istri.


Sita bangun beralih ke ranjang bayi, menatap nanar sang buah hati dengan linangan air mata dipipinya, di antara bahagia dan luka yang ia rasa.


Bi Marni yang sedang membuat kopi, mendengar kegaduhan di atas, dengan segera ia menaiki anak tangga menghilangkan rasa penasarannya.


"Tu-tuan, kau disini?" Bi Marni kaget melilhat Dino.


"Bibi!" Dino pun kaget melihatnya.


tiba-tiba Aditya kembali dengan membawa kunci serepnya, dibukanya kamar itu dan. Cklekkk, seketika Sita terpaku ... Deg ... Deg ... Deg ... Jatung Sita kembali berdebar kala melihat Dino berdiri di depan pintu kamarnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2