Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Luka Terdalam


__ADS_3

Elvira yang melihat Elena mengepal tersenyum mengejek, "Ups, menakutkan," ejeknya.


Elvira telah selesai memakai pakaiannya, ia bangkit berjalan mengelilingi Elena, "Oh, Ya, Mau tau sesuatu? Euuhhh, Dino benar-benar perkasa saat di atas ranjang," Elvira memanas-manasi Elena dengan menggigit bibir bagian bawahnya.


Dan, Plakkkk .... Elena langsung melayangkan tamparan pamungkasnya.


"Awww ...." pekiknya kesakitan "Kurang ajar kau Elena."


"Kau berani memanasiku." tatapan tajam menghunus pelupuk mata Elvira.


Di jambaknya rambut Elvira dengan kasar.


"Awww ... Lepaskan," keluhnya.


"Dengar! Aku tidak peduli apa yang kamu katakan," Elena pun mendongakkan kepala Elvira.


Dan, brukkk ... Elvira di dorong kasar ke lantai. "Aahhh ... Awww," pekiknya.


Elena menyelidik noda darah di seprei, otak licik itu mampu memahami sesuatu. "Heeuhh ... Rupanya kau membodohi kami Elvira."


Di angkatnya seprei itu, "Pewarna apa yang kau gunakan ini Elvira. Heuh ... Kau benar, tak seharusnya aku menangis, sekarang aku yakin Dino tidak melakukannya," jelasnya lalu melangkah membawa serta seprai itu keluar, bermaksud ingin memberitahu Dino.


Deg ... Elvira sigap mengambil seprei itu dan langsung menuju kamar mandi, dan dimasukkannya ke dalam ember yang sudah berisi air.


"KAU!" Elena geram.


"Sudah tidak ada bukti," ucap Elvira dengan senyum menyeringai.


"Oke, aku tidak akan tinggal diam, Elvira. Akan ku pastikan kebusukanmu ini akan terbongkar," tegasnya.


Elvira mengangkat kedua bahunya tak peduli.


Elena pun melangkah berjalan ke ruang tamu menghampiri Dino, Sita, dan Ibu, mereka terlihat tengah prustasi.


"Dino, Ibu, Sita ... hentikan tangisan kalian! Ini semua bohong, ini siasat Elvira, dia ingin menjebak, Dino!" teriak Elena.


Deg ... Semua melihat kearah Elena.


"Siasat!" semua saling tatap.


"Iya, ini siasat Elvira," tegasnya.


"Ya ini pasti siasat!" ucap Dino, seakan menemukan jalan.


"Sayang, berhenti menangis!" pinta Dino seraya mengusap air mata di pipi istrinya.


"Apa yang kau katakan, Elena!" bentak Ibu menatap Elena.


"Iya Bu, ini siasat Elvira," jelas Elena.


Plakkkk .... Ibu menampar Elena.

__ADS_1


"Awww ...." pekiknya kesakitan.


"Berani kau memfitnahnya! Dia bukan dirimu yang bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuannya, Elena!" bentak Ibu.


"Tapi, Bu ...."


Plaakkk ... Sita pun melangkah dan menampar Elena.


"Awww ... Sita!" teriak Elena kesakitan.


"Ibu benar, Elvira bukan dirimu Elena," hardik Sita. "Apa kau yang menjebak suami ku, Elena?" tuduh Sita penuh selidik.


Deg ...


"AKU ....! KAU ....!" Elena melihat semua orang yang menatapnya penuh curiga. "Kalian semua menuduhku?" Elena tak menyangka tuduhan malah berbalik kearahnya.


Elvira yang mendengar di balik pintu yang sedikit terbuka tersenyum takjub, 'waww ... diluar dugaan' batinnya.


"Dino ... Percayalah! Aku tidak melakukan itu. Ibu!" ucapnya seraya melangkah menghampiri Dino dan Ibu bergantian.


Ia pun melangkah beralih menatap Sita, "Sita, kenapa kau menuduhku?"


"Karna cuma kamu yang mampu melakukan ini," jelas Sita.


"Aku tau, aku pernah melakukan kesalahan, tapi aku sudah berubah," Elena mencoba meyakinkan.


"Belum puas kau menghancurkan aku Elena. Hingga kau tega menjerat Elvira dalam kelicikanmu," ucap Sita.


"Kenapa kau bersi kukuh, Sita. Sudah kubilang Elvira yang menjebak Dino, bukan aku."


"Aku, balum tau, yang pasti dia tidak sebaik yang kalian pikirkan,"


"Berhenti Elena!" Dino angkat bicara, "Berhentilah mengikuti obsesimu. Elvira tidak seperti dirimu."


"Obsesi! Kau bilang aku terobsesi olehmu! Lalu kenapa aku menjebakmu denganya!" Elena menekan suaranya seraya menunjuk kamar Elvira. "Seharusnya aku membuatmu tidur denganku, seperti apa yang kulakukan dulu, bukan dengan wanita lain!" amarahnya semakin membesar saat dirinya mulai merasa terpojokan.


Elena yang ingin memberitahu rencana Elvira malah menjadi tersangka.


"Pergi, Kau Elena!" bentak Ibu mengusirnya.


"Jangan pernah berani menampakan dirimu lagi di hadapan kami!"


Elena sadar, dirinya telah banyak melakukan kesalahan pada mereka apapan yang ia katakan mereka tidak akan mempercainya. Sedangkan Elvira dia adalah gadis lugu yang baik tanpa cacat dimata mereka.


Elena melangkah pergi dengan kekecewaannya. Namun ia tidak akan membiarkan semua ini begitu saja. Meski sesungguhnya ia bahagia dengan kehancuran Sita, namun ia tidak pernah menerima apa pun yang tak baik buat Dino, dimatanya Dino adalah yang terbaik. Di katakan Dino telah menodai Elvira itu sangat membuatnya muak. Obsesinya pada Dino sangat besar Dia akan melawan Elvira dengan caranya.


Sita berjalan melangkah dengan langkah yang lemah, keluar dari rumah yang telah mengoreskan luka hati yang teramat dalam. Shock, itu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini.


"Berhenti, Sayang kau mau kemana?" tanya Dino pada sang istri. Namun Sita tak menghiraukan pertanyaan suaminya itu. Ia terus melangkah.


Dino melangkah cepat menghentikan langkah sang istri dengan memeluknya.

__ADS_1


Sita diam seperti patung.


"Semua akan baik-baik saja, Sayang, tenanglah!" Dino berucap lirih.


"Aku, baik-baik saja," jawab Sita datar tanpa expresi.


"Tidak, Sayang aku mengerti perasaanmu. Yakinlah kalau aku tidak melakukannya." Dino mempererat pelukannya. Sementara sita masih mematung.


"Darah itu membuktikan kau melakukannya, sadar ata pun tidak sadar," ucapnya menahan tangis.


"Tidak, aku yakin tidak melakukannya sayang, Elena pasti merencanakan semua ini, seolah aku melakukannya."


"Tapi aku percaya padanya!" ucapnya masih datar, namun mengagetkan Dino.


"Apa maksudmu?" Dino membalikkan badan sang istri berhadapan dengannya, di tatapnya mata sembab yang masih meneteskan air mata itu.


"Ya, aku percaya pada Elena, jika dia mau melakukan itu, dia akan menjebakmu dengannya, bukan dengan orang lain," ucapan lirih Sita itu mampu menusuk jantung Dino. Membuatnya sesak seakan kehilingan oksigen.


"Jadi kau tidak percaya padaku!" Dino menghela nafas panjang. "Kau meragukanku, Sayang," ucapnya lirih.


Sita hanya terdiam.


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku?"


"Aku percaya dengan apa yang kulihat, terlepas dari itu jebakan atau bukan, kau melakukannya atau pun tidak, yang pasti saat ini hatiku sangat hancur," tangisnya pecah kembali saat bayangan Dino dan Elvira diatas ranjang melintas.


Sita semakin terisak, dia lari tak tentu arah.


"Sita ..." Dino mengejar Sita.


Sementara Ibu tak mampu berbuat apa-apa, dia tau apa yang dirasakan Sita, pasti sangat menyakitkan.


"Sayang berhenti!" Dino menarik pergelangan tangan sang istri yang sudah sampai di tepi jalan. Dia genggam seerat mungkin.


Sita terus berusaha memberontak, "Lepaskan!"


"Tidak!"


"Aku mohon lepaskan aku!"


"Tidak!"


Di tariknya sang istri dan di peluknya dengan erat. Namun sayang tak mendapatkan balasan dari Sita.


"Lepas," isak Sita terus berontak dalam dekapan sang suami.


"Tidak, aku tidak akan pernah melepasmu," Dino pun terisak. "Aku tidak akan sanggup melihatmu pergi, Sayang. Tetaplah disini!"


Dino melepas pelukan dan mencium kening Sita bertubi-tubi.


Sita mendorong sang suami dengan sekuat tenaga. Ia kembali berlari menjauh. Dino pun terus berusaha mengejar.

__ADS_1


Namun tiada di sangka. Elena yang sakit hati, ternyata tak begitu saja beranjak dari rumah Elvira, ia tetap menunggu di luar memantau keadaan, bermaksud menemui Elvira kembali setelah semua pergi.


Ketika tatapan tajam matanya Elena melihat Sita berlari dengan prustasi ia menggunakan kesempatan ini untuk menyakiti Sita.


__ADS_2