
Ckleekkk .... Dino membuka pintu.
"Nak, Sini?" panggil Abah.
"Iya, Bah," Dino menutup pintu perlahan, melangkah menghampiri Abah.
"Apa Abah boleh menginap di rumahmu beberapa hari?"
"Tentu saja boleh, Bah, kenapa tidak?"
"Heemmm Ok, malam ini Abah tidur di rumah Riri dulu, besok setelah Sita pulang Abah ikut kerumahmu."
"Baiklah, Bah. Lebih baik Abah saya anatar kerumah kak Riri sekarang, biar Abah bisa istirahat,"
"Tidak usah, Nak, Nanti sore Nak Syamsyul jemput Abah, kamu jaga saja istrimu disini,"
"Abah ingin jalan-jalan di luar sebentar, kau tunggulah istrimu disini," lanjut Abah,
"Baik, Bah." Dino pun mengangguk pelan.
"Jangan jauh-jauh, Bah. Nanti Abah gak bisa pulang lagi," tutur Sita.
"Haha ... Kamu jangan meremehkan Abah, tua-tua gini Abah tidak pikun, Sayang," ucap Abah lalu melangkah.
__ADS_1
Haha ...
Abah pun berlalu, melangkah dengan sangat hati-hati, melihat-lihat sekitar lingkungan rumah sakit.
Dino duduk di kursi yang tadi di duduki abah, ia pun meraih tangan sang istri dan di genggamnya, lalu ditempelkannya di kedua pipinya, berharap masih menemukan kehangatan dalam sentuhannya tangan sang istri.
Sejujurnya ingin sekali Sita memberikan kehangatan itu, namun batin dan pikirannya kini tengah berperang, sungguh hati dan pikiranny tak sejalan. Saat hati merasa terluka, ingin sekali marah dan menghindarinya, namun pikiran membimbingnya untuk tetap berbuat baik sesuai sariat agama.
Nasihat Abah selalu ia pertimbangkan dalam mengambil langkah hidupnya, karna Abah tidak ingin hanya mendapatkan surga didunia saja, tapi juga surga yang kekal di akhirat kelak.
Perjuangan wanita bersuami memang tak semudah membalikan telapak tangan, meski tugas nya hanya satu, berbakti kepada suami, namun makna di dalamnya begitu luas.
Meski gerakannya ragu Sita mencoba memberikan apa yang suaminya harapkan, mengelus pipinya dengan lembut, menatapnya dengan sendu, entah mengalirkan kehangatan ataukah rasanya hambar hanya Dino yang bisa merasakan.
Ingatan di pagi itu tak mudah ia singkirkan, ia beristigfar tat kala bayangan itu datang.
Dino memejamkan mata mencoba menyelami rasa, sentuhan yang di paksakan ini masih terasa ada cinta, kehangatan yang tertahan, luka yang teramat dalam yang coba ingin ia singkirkan.
"Dino pun membuka mata, dan berucap, "Terimakasih, setidaknya kau tetap berusaha, memberiku bahagia meski hatimu dalam duka,"
Ucapan Dino ini seketika membuat Sita terenyuh sedih dan meneteskan airmata.
Dino segera mengusap air mata sang istri dan memeluknya dengan erat, "Menangislah ... Menangislah ... Keluarkan semua duka mu itu di pelukanku, maafkan lah suamimu ini, maafkanlah ... Maafkanlah aku," ucapnya lirih diiringi tangisan sendu karna tak tahan melihat istrinya terluka.
__ADS_1
Sita semakin terisak saat suaminya terus mengelus punggung dan rambutnya, kemudian Sita pun membalas pelukan erat suaminya. Dengan isak tangis yang semakin berat. Mereka saling luapkan kesedihan yang menusuk relung hati mereka.
Isak tangis Sita terus meberat, sesekali Dino melepas pelukan, mengusap air mata, dan mengecup kening sang istri, dan memeluknya kembali.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak sanggup melihatmu, setiap kali melihatmu bayangan itu muncul di kepalaku?" isaknya lirih semakin tenggelam dalam kesedihan.
"Aku sendiri tidak tau, sayang, apa yang harus aku lakukan, tapi aku mohon percayalah pada suamimu ini, jangan pernah meragukanku!" isak Dino pun terdengar lirih tenggelam dalam kepiluan
Kedua insan ini tengah di rundung kebingungan, diantra cinta mereka yang tengah di uji keyakinan dan kesetiaannya.
Esok hari pun tiba Sita telah kembali ke rumah, dia termenung di depan jendela kamar memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil.
Satu Sisi Sita yakin dengan perasan cinta yang suaminya miliki untuknya. Selalu terasa ketulusan disetiap kali Dino memeluknya, namun sisi lain ada Elvira yang masih di pertanyakan.
Apa mungkin suamiku juga mencintai Elvira? Tanda tanya itu pun mendadak muncul di benak Sita. Tapi satu yang ia yakini, suaminya tidak akan bertindak senekat itu melakukannya pada Elvira sekalipun benar dia mencintainya.
'Apa mungkin Elvira jatuh cinta pada suamiku, dan ia melakukan hal bodoh seperti yang dilakukan Elena dulu pada suaminya?' pikirnya menduga-duga.
'Astagfirullohhaladazim, kenapa aku menduga-duga seperti ini, ampuni aku ya Allah, semoga ini tidak menjadi fitnah, Aku mohon beri aku keadilan' kini batinnya menyadari ada kejanggalan yang terjadi. Namun apapun itu, nasi telah menjadi bubur suaminya harus bertanggung jawab pada Elvira terlepas dari itu jebakan atau bukan.
Dino masuk kedalm kamar dan Sitapun mengatakan keputusannya.
"Apa katamu!?" Dino kaget mendengar ucapan Sita yang menyuruhnya bertanggung jawab pada Elvira.
__ADS_1
bersambung ....
Terus dukung Author jangan lupa like komen dan mawarnya ya😘😘😘😘