
"Enggak, siapa yang menatap mu?" elaknya.
"Kamu mulai suka boong ya, jelas-jelas matamu menatapku," terang Sita.
"Haha ... Sekarang kamu jadi geeran ya, Sayang,"
"Geer ... enggak kok, jelas bangat tadi kamu natap aku!" tuturnya.
"Aku itu gak natap kamu, aku menatap calon bayi kita, dia akan mirip aku atau mirip kamu?"
"Yeay, sama aja, yang di tatapkan Ibunya." Sita mencubit tangan suaminya.
"Aww ... Kok di cubit sih,"
"Kamu sih," Sita menunduk manja. Dino pun tersenyum punggung tangannya mengusap lembut pipi merah sang istri.
"Udah, fokus nyetir!" Senyum di bibir Sita menyertai ucapannya.
Setelah berkeliling akhirnya pengiriman selesai, sungguh menyita waktu dan tenaga. Wajah lelah bercampur keringat mulai terlihat memucat, langkah kaki yang mulai melemah mengantarkan mereka ke sebuah restauran sederhana pinggir jalan. "Kita makan disini, Sayang!" ajak Dino.
"Ayo!" jawabnya.
Mereka pun berjalan bergandengan tangan, melangkah mencari meja yang kosong, "Disana Sayang," tunjuk Sita pada sebuah meja kosong di ujung ruangan.
"Ayo," Dino menuntuntun Sita menuju meja Itu.
Dilihatnya menu makanan yang ada di restauran tersebut, "Sayang, aku mau ini," tunjuk Sita pada nama makanan yang tertulis di daftar menu.
"Paket ayam goreng + karedok leunca, dua porsi ya bang, minumnya kita minta dua teh hangat, dan dua jus jeruk," sebut Dino pada pelayan.
"Baik, Pak, silahkan tunggu," jawab pelayan itu.
Tak lama pesanan datang, disantapnya makanan tersebut dengan lahap, teh hangat dan jus jeruk pun telah habis tanpa sisa. "Alhamdulilah."
"Kita pulang sekarang, Sayang," ajak Dino pada Sita.
"Ayo," sahut Sita.
Mereka pun melangkah keluar dengan wajah yang kembali bugar, rasa lelah yang mereka rasakan pun hilanglah sudah.
"Sayang, kau tunggu sebentar di bangku itu!" tunjuk Dino pada bangku yang ada di depan restauran.
"Kau mau kemana?" tanyanya.
"Aku ketoilet sebentar, Sayang," jawab Dino.
"Oke," sajutnya singkat.
Duduklah Sita di bangku itu, terlihat begitu banyak pelanggan lalu lalang disana. Sita menikmati setiap apa yang dia lihat disana sampai pada akhirnya mata Sita tertuju pada satu orang laki-laki berkepala botak yang mondar-mandir disana, terlihat sedang menjawab sebuah panggilan telepon.
Sepertinya orang itu baru saja mencukur rambutnya, entah apa yang Sita pikirkan, ia mengelus kembali perutnya, "Sayang." Sita terperanjat saat melihat Dino datang.
"Ya, kenapa sayang?"
"Lihat itu!" tunjuk Sita pada laki-laki berkepala botak itu.
Deg ....
Perasaan Dino mulai tidak enak, "Ada apa dengan orang itu?" selidiknya.
"Aku ingin kamu jitak kepalanya!"
"APA! Kau ingin aku melakukan itu!" hampir saja jantung Dino copot mendengar keinginan konyol istrinya.
"Hemm ... Iya," jawabnya penuh antusias. "Cepatlah sebelum orang itu pergi,"
"Kau serius, ini bukan lelucon, Sayang,"
"Aku gemes sekali melihatnya, kepalanya lucu sekali, enak banget buat di jitak," mata Sita terus celingukan memperhatikan orang itu yang sedikit terhalang oleh orang yang lalu lalang disana, orang itu pun nampak masih sibuk mondar-mandir, asyik dengan panggilan telponnya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi pada istriku?"
"Aku tidak tau, Sayang, yang pasti aku ingin kau menjitak kepala menggemaskan itu."
"Astagfirulloh, Sita, bagaimana caranya?"
"Minta ijin saja padanya, bilang yang sesungguhnya, dia pasti mengerti keinginan orang ngidam."
"Kalau ngidam yang bener aja deh sayang, jangan aneh-aneh gitu dong."
"Please sayang! orang itu keburu pergi," bujuknya.
Orang itu pun menyudahi perbincangannya di telepon, di masukannya hand phone kesaku celananya. Terlihat Orang itu pun melangkah pergi.
Wajah Sita yang penuh antusias tadi berubah menjadi sedih. Semangatnya seperti di jatuhkan begitu saja.
Melihat istrinya kecewa Dino pun langsung lari mengejar laki-laki itu.
"Permisi Tuan." Dino menyapa Orang itu dengan ramah. Sita memperhatikan di ujung sana.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu pun ramah.
"Be-begini Tuan," ucapnya gugup, terasa berat sekali mengungkapkan keinginan istrinya itu. "Maaf sebelumnya, istri saya sedang hamil, dia --"
"Dia kenapa?"Laki-laki itu memotong pembicaraan Dino.
"Dia ingin sekali, aku--"
"Aku apa?" Laki-laki itu memotongnya lagi, karna Dino terlihat begitu berat mengatakannya, "Katakan saja tidak usah sungkan, siapa tau aku bisa membantu?"
Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia berpikir bagaimana reaksi laki-laki ini setelah mengetahui ke inginan istrinya. Dino takut laki-laki iti merasa dilecehkan.
"Istriku ... Istri ku, ingin aku menjitak kepala Anda."
"APA! Lelucon apa ini?" seketika wajah laki laki itu memerah. Ia geram dan memelototi Dino. Bener saja apa yang dipikirkan Dino laki-laki itu merasa dirinya dilecehkan.
Wajah Dino pun seketika menjadi cemas. Ia membungkukan dirinya, "Maafkan aku Tuan! Maafkan aku! ini murni keinginan ibu hamil."
Orang itu pun menarik kerah baju Dino, ia hendak melayangkan tinju di wajah Dino. "Tuan! lihat itu tuan, aku mohon!" Dino menunjuk dengan cemas kearah dimana Sita sedang tertawa terbahak-bahak. "Lihatlah dia! Dia begitu bahagia! Apa kau tega membuat suaminya babak belur,Tuan."
Lelaki itu pun mengalihkan pandangan kearah Dino menunjuk Sita.
"Dia istrimu?" tanyanya.
"Iya Tuan, dia istriku."
Seketika laki-laki itupun menurunkan kerah baju Dino. Dia pun mengukir senyum di bibirnya.
Dino sedikit kaget, melihat expresi wajah laki-laki itu berubah setelah melihat Sita, "Terimakasih Tuan." Dino menghembuskan nafas lega.
"Heu-heu ... Lucu sekali istrimu itu." Mata lelaki itu fokus menatap Sita.
"Ya, begitulah dia," ucap Dino
"Kau ingin menjitak ku, jitaklah!" titahnya.
"APA!" mata Dino seketika membulat, dia menelan Salivanya. "Beneran Tuan, aku boleh menjitak kepala Anda?"
"Hahaha ... Tentu saja, buatlah istrimu bahagia, jangan sampai dia bersedih."
Luar biasa, Dino tidak menyangka orang ini mengijinkan dirinya berbuat konyol demi sang istri.
"Ayo lakukan saja!"
"Maaf ya Tuan!"
Tuk ...
Aww ...
__ADS_1
Maaf ...
Hahaha ....
"Terimakasih, Tuan." Dino langsung mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh lelaki itu.
"Aku bener-bener khawatir Anda meberikan tinju padaku, Tuan,"
"Hahaha ... Kebetulan istri saya juga sedang hamil, kadang keinginannya juga suka aneh seperti itu."
"Masya Alloh, suatu keberuntungan buatku."
"Boleh saya menemui istri anda?" ucap laki-laki itu.
"Tentu saja Tuan, mari!"
Mereka pun melangkah berjalan menghampiri Sita yang masih asyik tertawa.
Seketika tawa Sita pun terhenti saat melihat dua laki-laki yang tengah menjadi pusat tawanya tadi mendekati dirinya.
Seketika Sita pun menjadi panik, "Ma-maaf Tuan, saya sendiri tidak tau kenapa tiba-tiba keinginginan saya seperti itu," ucap Sita dengan mengangkat kedua tangannya meminta maaf. "Saya mohon! maafkan saya."
Dino dan lelaki itu pun tertawa melihat kepanikan Sita.
"Tidak apa-apa Nona, saya memaklumi keadaan Anda."
Mata Sita langsung membulat. "Syukurlah." Sita pun terlihat lega.
"Kebetulan juga istri saya sedang hamil, dia juga yang minta kepala saya di gundulin."
"APA!" Sita tersentak.
Hahaha ... Semua tertawa.
"Baiklah Nona, saya permisi, senang bisa mengukir kenangan untuk Anda."
"Hehe ... Terimakasih Tuan."
Laki-laki itu pun berlalu pergi meninggalkan mereka.
Sepeninggalan laki-laki itu Dino menatap tajam mata Sita. Seketika Sita merasa bersalah, "Kau marah padaku! Maaf!" Sita memegang kedua telinganya.
"Kau harus di hukum, hampir saja kamu membuat suamimu kena tinju," canda Dino.
"DIHUKUM! Apa hukumannya?"
"Cium aku sekarang juga!"
"Apa! Disini? Sekarang?"
Dino mengangguk.
"Enggak!" Sita langsung berjalan melangkah menuju parkiran, Sita pun langsung naik keatas mobil.
"Hey ... Sayang, kau curang ya." Dino pun mengikuti istrinya dan Dia pun naik mobil.
Huuuuhhh ... Dino membuang nafas lega setelah kejadian menegangkan tadi. Tiba-Tiba Sita langsung mencium pipinya. "Dah, inpas." Dengan polosnya Sita mengucapkan itu.
"Hah ... Disini ... Inpas. Kau curang, Sanyang,"
"Yang penting aku udah cium kamu kan, hemmm," Sita mengukir senyum mengoda Dino.
"Hahaha ... Okelah Sayang, nanti malam kau harus memberiku bonus," ucap Dino dengan memainkan alisnya.
"Yeee ... Ayo maju! Kapan pulangnya? Udah mau magrib nih." Sita mengalihkan pembicaraan.
Hari yang menegangkan, namun mampu mengukir kenangan bahagia dimasa depan, cerita yang akan menghadirkan tawa saat mereka mengenangnya.
Bersambung ...
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca karya ku semoga bisa menghibur😘😘😘
Jangan lupa jejaknya tinggalin disini biar Author tambah semangat halunya. Terimakasih.❤❤❤🙏