Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kisah Elvira.


__ADS_3

Sita segera memegangi kursi roda saat Dino hendak mendudukan Elvira.


"Maaf Sita, aku harap kamu tidak masalah dengan ini semua," ucap Elvira merasa tak Enak.


"Tidak apa-apa, aku harap kamu segera sembuh," kata Sita.


"Aamiin." Elvira pun tersenyum.


"Ayo sekarang kita makan, Ibu sudah laper," ajak Ibu pada semua.


Mereka semua pun menuju meja makan. Di santapnya makanan yang di bawa dari rumah.


"Waw...luar biasa, masakan yang sangat lezat," puji Elvira pada makanan yang tengah di santapnya.


"Tentu saja, masakan istriku ini memang sangat lezat." Dino pun ikut memuji.


Benar sekali nak Elvira, "masakan Sita ini bikin Ibu gagal diet, Nambah gede BB Ibu." Ibu pun ikut memuji.


"Kalian ini berlebihan, masakanku sama saja kok sama masakan yang lainnya gak ada yang beda."


Hahahaaaa.....mereka pu tertawa.


"Tapi ini beneran lazat lho Sit," kata Elvira yang terus memujinya.


"Waahhh bisa bisa aku melayang nih kalau di puji terus, bisa dobrak atap rumah ini saking melayangnya," tutur Sita.


Hahaha..... Semua pun tertawa


Hari itu terjadi perbincangan hangat di antara mereka semua, baik Sita ,Ibu, dan Dino benar-benar menunjukan kahangatan yang tulus pada Elvira, sehingga mereka kini terlihat lebih akrab. Namun berbeda dengan Elvira, kehangatan yang dia tunjukan hanyalah kepura-puraan demi mencapai suatu tujuan.


Dino telah pergi ke kantor menyelesaikan pengiriman yang tertunda. Ibu pun telah pulang kerumah, kini hanya tinggal Sita seorang yang menemani Elvira.


Mereka berbincang di depan layar televisi, sambil ngemil snack yang di sediakan Dino untuk mereka.


"Oh ya, sudah berapa lama kamu menikah dengan Dino?" tanya Elvira penuh kebohongan, padahal dia tau persis kapan Sita dan Dino menikah.

__ADS_1


"Baru sekitar satu bulan lebih," jawab Sita sambil asyik memakan snack. Sedangkan tatapan matanya fokus menonton televisi Film favoritnya "MAHLIGAI CINTA SANG DEWI REMBULAN." Serial Noveltoon yang biasa Ia baca di handphone kini telah menjadi serial Film yang memukau dilayar Televisi.


'ciiihhh, asyik benget dia nonton kaya gituan, sampe gak mau noleh kesini' batin Elvira mencela Sita.


"Baru satu bulan, pantas saja kalian masih terlihat mesra. Kata orang nih kalau pengantin baru itu nempel terus kaya perangko."


"Heeemmm...bisa aja kamu," tutur Sita.


"Eh..Elvira, kamu gak takut tinggal dirumah sendiri, kalau aku kadang ya agak sedikit takut kalau sendiri di rumah,"


"Enggak Sit, aku sudah terbiasa,"


'Heuh takut sendiri ya kamu Sit, aku bakalan bikin kamu bener-bener sendiri Sit, lihat saja nanti' batin Elvira.


"Oya, Apa kamu butuh sesuatu? kamu bilang saja pada ku tidak usah sungkan" tawar Sita.


Lagi-lagi batin Elvira berbisik, 'butuh sesuatu!ya, aku butuh kehancuran mu, tidak akan pernah ku biarkan kamu bahagia setelah kamu merenggut kebahagian ku, terus lah berteman dengan ku sebelum kau tau aku adalah musuhmu.'


"El, Elvira, kenapa bengong?" tanya Sita yang melihat Elvira menunduk dengan tatapan kosong ke lantai.


"Eu-eu...tidak, maaf aku melamun, apa katamu tadi?"


"Iya Sita, terimakasih, kalau butuh sesuatu aku pasti bilang ko," imbuhnya.


"Apa yang kamu lamunin? Maaf jika kata-kataku tadi ada yang membuatmu tersinggung?"


"Tidak ko Sit, aku hanya teringat pada alm Kakakku, aku jadi kangen sama dia, biasanya dia yang selalu nemenin aku di sini," tuturnya dengan tetesan air mata yang sudah membasahai pipi.


"Sepertinya kamu sangat dekat dengannya?" tanya Sita.


"Dia dunia ku, dia hidup ku, Kakaku adalah sosok Ayah dan Ibu bagiku, bahkan dia bisa jadi sahabatku, tidak ada yang di tutup-tutupi diantara kami, tapi sayangnya tragedi itu membuat ku kehilangan Dia."


"Tragedi?" tanda tanya dipikiran Sita.


tangis Elvira semakin pecah mengingat tragedi itu, "Iya,"

__ADS_1


"Tragedi yang sangat mengenaskan. Saat dia berusaha mengejar cinta sejatinya. Saat itu Perempuan yang sangat dicintainya akan menikah dengan laki-laki lain, hatinya sanyat hancur. Dia ingin menghentikan pernikahan kekasihnya, sayang sekali dia pergi dalam pengaruh alkohol. Naasnya saat itu bukan cuma hatinya yang hancur, tubuhnya seketika terhempas kereta api hingga dia hancur berkeping-keping. Aku yang mengikutinya dari belakang hanya bagai raga tak bernyawa melihat kakak ku tewas mengenaskan dengan potongan-potongan tubuh yang berhamburan dimana-mana." Cerita Elvira panjang lebar. Tak disadari Semua Ingatan tentang kakaknya itu membuat kedua tangannya telah mengepal kuat, giginya beradu dan tatapannya penuh kebencian.


"Astagfirulloh, malang sekali nasib Kakak mu," ucap Sita penuh haru. Ia pun menghampiri Elvira dan memeluknya, seraya berkata, "Sabar ya Elvira, maaf membuat mu mengingat hal itu."


"Tidak Apa- apa," Ia pun mencoba menetralisir perasaannya. Meski ingin sekali menghempaskan Sita saat Sita memeluk dirinya, tapi ini bukan waktu yang tepat buat dia menunjukan jati diri yang sesungguhnya.


"Tolong bawa aku kemarku," tuturny.


"Baiklah," ucap Sita lembut.


"Aki ingin membuka lemariku, ada yang ingin ku tunjukan padamu!" pintanya.


Sita pun mendorong kursi roda ke arah lemari.


"Maaf, aku tidak bisa berdiri, bisa tolong bukakan!" pintanya lagi dengan memberikan kunci lemari pada Sita.


"Tentu saja," ucap Sita, lalu mengambil kunci dari tangan Elvira kemudian membukanya.


"Itu, Kotak Merah itu." tunjuk Elvira pada sebuah kotak perhiasan berbentuk love. "Aku membutuhkan itu."


Sita pun mengambil dan memberikannya pada Elvira.


Elvira pun membuka dan menunjukan satu set perhiasan, dari kalung, cincin, gelang dan anting cantik. "Ini milik kakak ku, untuk dia berikan pada kekasihnya, Dia bermaksud memperistrinya tahun ini."


"Lalu kenapa bisa dia menikah dengan laki laki lain?"


"Sebenarnya ini kesalahan Kakak ku, meski dia sangat mencintai kekasihnya dia tidak bisa mengendalikan keinginannya untuk minum mi*as, dan itu sangat tidak di sukai kekasihnya, Kaka ku juga selalu bermain-main dengan perempuan lain, sudah sering sekali kepergok kekasihnya. Dan akhirnya dia di putuskan. Namun apapun Itu kekasihnya itu tetaplan perempuan no satu di hati Kakakku, dia terus brusaha membujuknya untuk kembali tapi tidak berhasil." Elvira panjang lebar menjelaskan.


Sita sedikit tertegun, merasakan ada kesamaan dengan kisahnya dulu, namun ia mengabaikannya, karna menurutnya kisah cinta seperti itu banayak.


"Sini, biar ku simpan kembali kotaknya," pinta Sita pada Elvira.


Elvira pun memberikannya. "Maaf, aku malah cerita ini padamu," ucapnya lalu menyeka air mata yang sedari tadi tidak berhenti membasahi pipi.


"Tidak apa, semoga itu bisa sedikit meringankan beban mu," ucap Sita dengan senyuman.

__ADS_1


'meringankan beban yang benar saja, kau adalah satu satunya beban terbesar dalam hidupku' bisik hati Elvira.


Bersambung...


__ADS_2