
Tok ... Tok ... Tok .... Dino mengetuk kembali pintunya karna Elvira 'tak kunjung datang.
"Pergilah Jons, lewat pintu belakang."
"Baiklah," Sebelum pergi Jons menyempatkan me****up bibir Elvira yang masih menggoda.
Elvira bergegas berjalan cepat melangkah membukakan pintu.
"Dino!" Elvira terlihat gugup. Seketika mengubah mimik mukanya menjadi sedih.
Sementara Dino terlihat serba salah.
"Ma-masuklah!" Elvira celingukan mencari ibu, "Dimana ibu?"
Ibu tidak datang, aku kesini untuk menjemputmu,
"Menjemputku!?"
"Iya, ada hal yang ingin kami bicarakan," tutur Dino.
"Kenapa tidak disini?" tanyanya penasaran.
"Abah ingin bicara denganmu."
"Abah! Abah Sita ingin bicara denganku!?" Elvira heran.
"Iya, bersiaplah! Aku menunggu disini." Dino pun melangkah dan duduk di sofa.
"Baiklah." Elvira mengangguk dan melangkah menuju kamar.
Disela ia mengganti pakaiannya ia pun bertanya-tanya, "Untuk apa abah Sita ingin bertemu dengan ku? Apa dia ingin menghakimi ku? Atau dia yang akan menikahkan aku dengan Dino, hemm ... Semoga saja," harapnya.
Semua orang di rumah nampak telah bersiap, duduk di ruang tamu menunggu kedatangan Dino dan Elvira.
Sita membuatkan tiga gelas teh hangat untuk mereka, diletakkannya di atas meja.
Meski sebenarnya teh ini rasanya manis dan memberikan kehangatan untuk mereka, namun suasana hati mereka yang belum membaik menjadikan teh itu rasanya hambar.
"Apa rumahnya jauh, kenapa begitu lama?" tanya Abah pada bu Erni.
"Sabar Pak Yahya, mungkin macet."
"Itu mereka datang," ucap Ibu yang melihat kedatangan Dino dan Elvira.
__ADS_1
Deg ... 'Kuatkan hatiku, Ya Alloh' batin Sita yang melihat sang Suami datang beriringan bersama Elvira. Rasa sesak itu datang tiba-tiba.
"Assalamualaikum," ucap mereka berbarengan.
"Wa'alaikumsalam," jawab semua.
"Silahkan duduk nak Elvira!" tutur ibu.
Elvira pun duduk di belah Sita. Sesaat mereka berpandangan. Namun kemudian Sita menundukan pandangannya.
Elvira pun mengalihkan pandangan pada Ibu dan bertanya, "Ada apa bu, saya di panggil kesin?"
"Abah, ingin bicara padamu," ucap Ibu.
"Iya, Nak, Abah yang menyuruh Dino membawamu kesini," ucap Abah.
"Ada apa ya, Bah,"
"Begini, Abah sudah tau apa yang terjadi, Dino juga anak Abah, untuk itu Abah minta maaf atas apa yang Dino lakukan. Jika ternyata kamu sampai mengandung atas perbuatan Dino, kalian akan menikah, jika tidak tolong lupakan semuanya.
"APA!" Elvira berpura-pura kaget.
Sita dan Dino pun lebih terkejut, mata mereka saling pandang, keduanya nampak sedang menahan sesak di dada. Namun mereka 'tak berani menyela saat ini.
"Elvira ...! Panggil Abah yang melihatnya terdiam.
"Ma-maaf, Bah. Saya ... Saya tidak tau apa yang harus saya lakukan, saya ikuti saja apa yang Abah putuskan."
"Bagus, Nak," ucap Abah.
"Mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini bersama kami, bukan begitu Pak Yahya," ucap Ibu.
"APA!?" Kali ini dia kagetnya tidak pura-pura. Karna kalau dia tinggal disini dia akan sulit mengatur pergerakannya.
"Abah, kenapa dia harus tinggal disini?" Dino kini bersuara, dia melirik Sita khawatir.
"Abah sudah berunding sama ibumu semalam, Nak".
Dino melirik ibu, dan ibu mengangguk, sementra Sita hanya terdiam menunduk. Sita tidak tau apa yang di pikirkan Abahnya, kenapa beliau memutuskan hal ini.
"Abah apa tidak akan terjadi fitnah?" tanya Sita.
"Isya Allah tidak," jawab Abah.
__ADS_1
"Benar apa kata Sita, Bah, orang-orang disini itu mudah sekali bergosif," ucap Dino.
"Jangan pikirkan apa kata orang, selama apa yang kita lakukan benar," ucap abah tegas.
"Abah Juga Akan tinggal disini cukup lama,"
"Tetapi Bah, ini tidak benar," ucap Dino.
"Ini keputusan Abah dan Ibumu Dino," tutur abah
Setelah berbincang panjang lebar, akhirnya mereka semua menerima keputusan abah dan ibu.
Sita dan Dino pun masuk ke kamarnya.
"Elvira nanti malam kamu tidur di kamar Ibu, sekarang kamu masuk dulu kekamar ya" ucap ibu.
Elvira mengangguk. Melangkah menuju kamar.
Hanya tinggal abah dan ibu disana, Huuuhhh ... Abah menghela nafas dan membuangnya kasar, "Terpaksa kita ambil keputusan ini demi menyelamatkan rumah tangga anak kita, hanya ini satu-satunya cara melihat pergerakan Elvira, dan mengetahui kebenarannya, Bu Erni."
Ibu mengngguk menyetujui Abah.
"Kita hadapi semua ini bersama, dan semoga tidak ada fitnah lagi," lanjut Abah.
"Iya Pak Yahya, semoga kita bisa menemukan kebenaran, dan semoga kebenarannya tidak menyakitkan," tutur ibu.
Mereka pun mengakhiri perbincangan panjang yang tak terasa begitu menyita waktu.
Pagi telah berganti siang, siang pun berganti petang, tak terasa hari pun sudah malam, bintang mulai bermunculan, rembulan pun telah bersinar terang.
Kini mereka semua sedang berada di meja makan, menyantap makan malam, tak terlihat suasana kehangaatan meski di dalam rumah ini sekarang banyak orang.
"Baiklah saya istirahat duluan pak yahya, Din, Sita, Elvira, Mari!" ucap ibu setelah menghabiskan makanannya.
"Mari," jawab abah yang masih menyantap makanannya.
Sementara Dino, Sita dan Elvira hanya menganggukan kepalanya.
Satu persatu mereka pun beranjak dari meja makan setelah menghabiskan makanan mereka.
Bersambung ....
Terimakasih sudah setia membaca karya ku😘😘😘Happy New Years readerku tercinta, ❤❤❤ semoga di tahun baru ini kita bisa lebih baik dari tahun sebelumnya. Tetap semangat, sehat selalu, murah rejeki, Aamiin...🤲🤲🤲
__ADS_1