Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Kepergian Sita


__ADS_3

"Baiklah, nona Amel, dimana alamat rumahmu biar saya mengantarmu pulang?" tutur Aditya.


"Pulang!" Sita tersentak, tiba-tiba sesak terasa kembali didada.


"Iya, pulang, kamu harus banyak istirahat terlebih Dokter bilang kamu sedang hamil, atau kamu mau menelpon suamimu untuk menjemput," tuturnya.


Tiba-tiba Sita menunduk lesu.


'Aku harus pulang kemana? Aku tidak mau pulang kerumah itu, mungkin sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri' batinnya membuat Sita meneteskan air mata.


"Amel baik-baik saja?" tanya Aditya yang melihat buliran bening di pipinya.


"A-aku baik-baik saja," jawabnya dengan gugup lalu menyeka air matanya.


"Apa Pak Aditya memiliki sebuah kontrakan, atau kos-kosan, biasa saya menyewanya,"


Aditya mengerutkan keningnya, tanda ia heran. Tak ingin mencapuri urusan Aditya pun mencoba tak peduli.


"Sayangnya saya tidak punya," jawab Aditya.


Sita mengangguk mengerti.


"Nona sudah bangun?" tiba-tiba Dokter masuk ke dalam ruangan.


Sita pun tersenyum dan mengangguk.


"Apa saya bisa pulang Dokter?" tanya Sita.


"Tentu saja, anda bisa pulang, tapi anda harus banyak istirahat jaga kandungan anda baik-baik, untung saja suami anda segera membawa anda kemari kalau tidak, akan bahaya untuk janin anda," tutur Dokter.


"Suami!" Sita kaget Dokter mengira Aditua adalah suami Sita.


Merasa malu Sita pun menjelaskan yang sebenarnya pada Dokter. "Maaf Dokter dia bukan suami saya,"


"Bukan suami anda, maaf saya pikir suaminya,"

__ADS_1


"Tidak apa Dok,"


Aditya hanya tersenyum.


Sita pun bangkit dari tidurnya, ia ingin segera pergi dari ruangan itu, "Dimana ruang administrasinya, saya harus mengurusnya dulu?" tanya Sita pada Dokter.


"Semua sudah di urus sama bapak ini," tunjuk Dokter pada Aditya.


"Eu, berapa saya harus menggantinya pak?"


"Tidak perlu."


"Tetapi--"


"Saya ikhlas membantumu, Amel."


"Saya berhutang pada anda pak Aditya."


"Lupakan saja, saja tidak bermaksud memberimu pinjaman."


Sita mencoba tersenyum.


"Sama-sama,"


"Pak Dokter, mari saya permisi,"


"Hati-hati Nona,"


Sita pun melangkah keluar dari ruangan itu, ia beejalan dengan perlahan, dengan langkah yang tak tentu arah, "Entah kemana aku harus pergi, sebentar lagi malam akan datang," ucapnya dwngan lesu.


Dirogohnya saku celana, bermaksud mengambil hand phone, entah kemana hand phon pun tak ada, mungkin tertinggal di rumah, atau kah terjatuh dijalan. Raut wajahnya semakin lesu. Sita terus melangkah tanpa arah tujuan.


Di dalam mobil, Aditya nampak memperhatikan, tak tega melihat seorang peremuan hamil berjalan sendirian tanpa arah tujuan, dilihatnya jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya menujukan waktu magrib akan toba sebentar lagi.


Ia pun melajukan mobil perlahan menghampiri Sita, dan berhenti di depannya

__ADS_1


"Amel masuklah, ini hampir malam, malam ini kamu menginap saja di rumah saya, besok kamu bisa mencari kontrakan,"


"Tidak Pak Aditya, terimakasih tawarannya, saya bisa mencarinya malam ini."


"Kamu sedang hamil, tidak baik berkeliaran malam-malam, masuklah kasihan janinmu,"


Mengingat sang janin yang ada di rahimnua Sita pun terpaksa masuk kedalam mobil.


"Pak Aditya, apa istri anda tidak akan keberatan?" tanya Sita.


"Apa saya terlihat seperti sudah berkeluarga, aku masih tulen loh mel," ucapnya coba mengakrabkan diri memberi kenyamanan pada Sita yang terlihat kurangnyaman.


Sita tersenyum meski kaku.


"Orang tua anda pak?"


"Gak usah khawatir aku di rumah sendiri,"


"Apa! Sendiri!" itu malah membuat Sita takut. Terlihat sekali raut wajahnya sangat ketakutan.


"Gak usah khawatir, ada bi Marni di rumah, kamu bisa tidur sama bi marni,"


Huhhhh ... Sita terlihat lebih lega.


Sesampainya dirumah Aditya meminta bi Marni menyiapkan makanan dan tempat tidur untuk Sita. Sita kagum melihat rumah pak aditya yang besar dan mewah, namun sayang sangat sepi.


"Mari Non, Silahkan duduk!" ucap bi Marni.


Sita pun tersenyum pada bi Marni dan Duduk.


"Layani Amel dengan baik, beri dia makanan sehat untuk ibu hamil," ucap pak Aditya pada bi Marni.


"Hamil!" bi Marni kaget mendengar perempuan yang di bawa tuannya tengah hamil.


'Siapa perempuan ini? Apa kekasih pak Aditya? Selama ini dia tidak pernah membawa perempuan datang kerumah, sekalinnya bawa perempuan dia sudah hamil, astagfirulloh' Batin Bi marni yang berpikir tidak-tidak.

__ADS_1


Bersambung ...


terimakasih sudah setia membaca karya saya I love readerku ter emuch😘😘😘❀❀❀


__ADS_2