Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Pamit Pulang


__ADS_3

Harapan demi-harapan kini muncul di hati Aditya, niat untuk mencari tau suami Amel kini muncul kembali di benaknya, Namun berbeda dengan dulu, saat dulu ia ingin menyatukan kembali Amel dan suaminya, tapi sekarang dia ingin memisahkannya, ingin memintanya menceraikan Amel.


Dikamarnya Amel tengah mengajak bicara Arvi. "Arvi, sayang kamu lihat ini, ini kamarmu nak. Pak Aditya memang selalu baik sama kita, entahlah kalau tidak ada dia. Kamu harus jadi anak yang shaleh, besok kita akan menemui ayahmu," ucapnya dengan tersenyum.


"Waahh ... Kamar den Arvi bagus sekali, Non Amel, terlihat seperti istana pangeran," tutur Bi Marni yang tiba-tiba masuk membawa pakaian Arvi.


"Pak Aditya kok kaya berlebihan gitu ya Bi? Amel jadi gak enak," ucap Amel.


"Sudahlah Non gak usah dipikirkan, Pak Aditya emang sudah dasarnya orang yang baik, sekarang non Amel istirahat saja." Diletakannya pakaian Arvi, di dalam lemari baju bayi yang sudah di sediakan Aditya. "Bibi Mau bere-beres dulu ya," lanjutnya lalu keluar dari kamar Amel.


Amel pun mengangguk, "Maafya bi hari ini Amel gak bisa bantuin bibi."


"Tidak Apa-Apa, bibi ngerti kok."


Malam pun tlah berlalu, Amel menikmati hari Pertamanya menjadi seorang ibu, Dino pun di rumahnya tengah asyik bersama bayi yang telah di adopsinya, dia memberinya nama Rafka Aldino.


Pagi-pagi sekali ibu dan Dino sedang menjemur bayi di depan teras rumah, Dino terlihat sangat bahagia saat sedang menggendong bayi itu.


Dirumah Aditya Amel sedang bersiap membawa Arvi menemui Dino dan ibu, dengan wajah yang bahagia, ia memberanikan diri menemui suaminya.


"Bibi benar aku harus memastikan statusku ini bi, aku putuskan untuk kembali padanya dan menerima kenyataan pahit ini, aku yakin kehadiran Arvi akan mengurangi sedikit bebanku," ucap Amel saat sedang mengemasi pakaiannya.


"Jadi Non Amel, memutuskan untuk kembali padanya!?" Bi Marni kaget mendengar keputusan Amel.


"Iya, Bi, semoga saja aku kuat!"


Bi Marni malah bersedih mendengar keputusan ini, harapannya adalah Amel bersama pak Aditya, 'bagaimana dengan Pak Aditya' batinnya.


"Non, Amel yakin?" tanya Bi Marni.


"Amel yakin, Bi, Arvi membutuhkan kehadiran seorang ayah, Amel harus mempertemukan mereka."


Amel melihat raut wajah Bi Marni yang sedih.


"Bibi jangan bersedih, Amel akan sering main kesini, kalian sudah jadi keluarga Amel selama ini, Amel bersyukur bertemu dengan kalian."


"Tapi Non Amel, bagaimana dengan Pak Aditya?"


"Tenang saja Pak Aditya pasti senang aku mau kembali pada suamiku, berkali kali pak Aditya menasihatiku untuk kembali pada suamiku bukan," ucap Sita dengan tersenyu.


Bi Marni tertegun. 'Itu dulu Non, saat dia belum menyadari perasaannya, sekarang dia pasti kecewa' batin Bi Marni.


"Kenapa Bi Marni bengong? Apa bibi tidak bahagia dengan keputusanku?"


"Bukan begitu, Non, tentu saja bibi bahagia, bibi hanya sedih akan berpisan dengan Non, Amel dan den Arvi," kilahnya.

__ADS_1


"Amelkan sudah bilang Amel akan sering main kemari," ucapnya.


Didepan pintu Aditya nampak mengepalkan tangannya, dengan wajah kesal dan gigi yang beradu, "Kamu mau pergi Amel, setelah apa yang kurasakan padamu, kamu akan meninggalkanku?" dadanya naik turun menahan gejolak amarah yang besar. "Tidak akan ku biarkan!" ucapnya dengan kesal.


Aditya pun pergi kemarnya, memikirkan cara agar Amel tidak pergi. "Tidak Amel, kamu tidak boleh pergi," ucapnya saat mondar mandir di dalam kamar.


Aditya pun duduk di bibir ranjang dengan tangan yang mengepal, ia pukulkan tangannya ke bibir ranjang, ia tumpahkan segala kekesalannya.


"Aki mencintaimu Amel, aku mencintaimu, aku mencintaimu," ucapnya histeris.


Tiba-tiba terdengar suara pintu di ketuk.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Siapa?"


"Amel Pak."


Deg ...


Aditya menghela nafas panjang, menghembuskannya perlahan, ia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum membuka pintu. Ia tau Amel pasti mau berpamitan.


Lama Aditya tidak membuka pintunya, Amel pun mengetuk pintunya kembali.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ada apa?" tanyanya pura-pura tidak tahu.


"Eu-Amel mau menemui suami Amel, Pak," ucap Amel.


"Menemui suamimu? Kamu yakin?"


"Amel yakin, Pak."


"Kalau mau nemuin dia, temuin saja, gak usah bawa baju segala!" ucapnya melirik koper yang di bawa Amel.


"Tapi, Pak Amel berniat--"


"Aku tidak yakin kamu kuat." Aditya memotong ucapan Amel.


Amel tersentak


"Pergilah! Dan simpan kembali pakaianmu dikamarmu, jangan sampai kamu menyesal, karna jika kamu telah keluar dari rumah ini aku tidak akan menerimamu lagi dirumah ini, apapun alasannya," tegas Aditya lalu menutup pintunya kembali, tak mau mendengar Amel menolak permintaannya.


Amel menunduk kecewa mendengar ucapan Aditya.

__ADS_1


"Kenapa Pak Aditya berkata seperti itu, Bi?" tanya Amel pada Bi Marni yang sedari tadi menemaninya.


"Lebih baik Non Amel dengerin apa yang dikatakan Pak Aditya, takutnya Non Amel masih tidak sanggup melihat suami Non dengan istri keduanya, silahkan Non Amel temui suami non Amel, dan simpan kembali pakaian Non Amel dikamar, jangan remehkan ucapan Pak Aditya, terkecuali Non Amel benar-benar siap menghadapi suami Non dan istri keduanya."


Amel pun menghela nafas panjang, dan membuangnya perlahan.


"Baiklah, Bi, do'kan Amel kuat ya, Bi," ucap Amel lalu menyimpan kembali pakaiannya di kamar.


"Amel pamit ya, Bi," ucap Amel.


Bi Marni pun mengangguk. "Hati-hati dijalan, dada Arvi semoga senang ketemu papa Arvi ya," ucap Bi Marni sambil sedikit mencubit pipi Arvi perlahan dengan gemas.


Amel pun melangkah berjalan menuju keluar, baru sampai di depan pintu keluar Aditya menghentika Amel. "Tunggu!"


Amel pun menengok kebelakang.


"Biar ku Antar," tawarnya.


"Tidak perlu Pak," tolak Amel. "Saya sudah memesan taxi, lagian Pak Aditya harus ke cafe 'kan, sedari kemarin Pak Aditya tidak mengontrol cafe karna menunggu saya," lanjut Amel.


Benar saja taxi yang di pesan Amel pun langsung datang, dan sudah ada di depan.


Tentu saja Aditya sangat kesal, Aditya berusaha menyembunyikan kekesalannya, sungguh ia kecewa. Padahal ia ingin sekali Aditya mengetahui sosok laki-laki yang sangat Amel cintai itu.


Akhirnya Amel pun pergi, hilang sudah semangat Aditya hari ini, jangankan pergi ke ke cafe, melirik makanan di meja saja ia pun enggan.


Aditya kembali kekamarnya dengan sangat kecewa, langkahnya terhenti tepat di pintu kamar Amel, ia membuka pintu dan masuk kedalam, dilihatnya koper berisi pakayan yang Amel simpan kembali, ada sedikit rasa lega di hatinya, setidaknya ada kemungkinan Amel kembali mengambil pakaiannya, sekalipun ia kembali bersama suaminya, Atau bahkan ia kembali tinggal bersamanya disini.


Aditya pun menutup kembali pintu kamar Amel dan masuk ke kamarnya. Diambilnya hand phone di saku celananya. Di carinya nama seseorang di layar hand phone dan dia pun menelpon Dino.


Mendengar hand phonenya berdering Dino pun menyerahkan Rafka pada ibu, dan mengangkat teleponnya.


"Assalamualaikum, Din, apa kamu sibuk?" tanya Aditya ditelepon dengan lesu.


"Ada apa Dit, suaramu lesu sekali,"


"Aku butuh teman bicara?"


"Baiklah, nanti siang aku sempetin ke cafe,"


"Kerumah saja Din, aku lagi malas pergi ke cafe, aku share lokasinya ya."


"Oke, Dit." merekapun menyudahi panggilannya. Nampak Aditya berniat mencurahkan isi hatinya pada Dino, yang lebih berpengalaman masalah cinta.


bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2