
"Apa lagi? Elvira sudah dihadapanmu, kembalikan anakku!" tutur Sita dengan kesal.
Jons melirik Elvira.
"Kemarilah Elvira!" seru Jons.
Elvira hendak melangkah, namun Dino menghalangi dan menarik tangannya dengan sangat kasar, dicengkramnya dengan sangat kuat, sehingga membuat Elvira merasa kesakitan.
"Awww ... sakit, Dino. Lepaskan!" keluh Elvira dengan berusaha melepas cengkraman Dino.
Namun, semakin Elvira berontak, Dino semakin mencengkramnya dengan erat, sehingga membuat Elvira memilih berhenti berontak.
"Serahkan Arvi dahulu! Barulah kubiarkan Elvira pergi bersamamu!" turur Dino dengan penuh amarah.
Jons merasa Dino ketakutan dirinya berbuat curang, sama seperti dirinya yang takut Dino berbuat curang, dengan menghadirkan polisi tanpa sepengetahuannya. Jauh di lubuk hati Jons yang terdalam, dia tidak ingin menyakiti Arvi yang masih sangat bayi, jika ada cara lain untuk menyelamatkan Elvira dirinya akan lebih memilih cara itu.
Jons celingukan memperhatikan keamanan sekitar, memastikan tidak ada polisi disekitarnya.
"Baiklah!" Jons menyetujui permintaan Dino.
Dino melirik Sita, menyuruhnya mengambil Arvi dari tangan Jons.
Dengan sangat bahagia Sita pun melangkah berjalan mengambil Arvi, "Saayaaang," isak tangis kebahagian menghiasi wajahnya. Sita pun tersenyum kearah sang suami, kemudian terus menciumi Arvi bertubi-tubi, meluapkan segenap kerinduannya sejak tadi malam.
Dino pun tersenyum bahagia, dan tenang melihat Arvi yang sudah berada di tangan sang istri. Dino, melepas cengkramannya terhadap Elvira, dan menghempaskan tangan Elvira dengan kasar.
Elvira yang sedari tadi menahan sakit pun merasa lega. Namun, otak liciknya tidak sampai diam saja, tiba-tiba ia mendorong Dino dengan sekuat tenaganya, dan membuat Dino yang terfokus pada sang istri tersungkur ke tanah.
Sita tersentak kaget, "Sayang!"
Seketika Elvira mencuri kesempatan, dan lari merebut paksa Arvi dari tangan Sita.
Sita terus mempertahankan Arvi di tangnnya. Namun, Elvira, melayangkan pukulan keras di perut Sita, hingga spontan satu tangan Sita beralih memegang perutnya yang kesakitan, membuat pertahanannya memegang Arvi menjadi lemah. Elvira pun berhasil mengambil Arvi dan berlari membawanya.
"Arviii!" teriak Sita, sambil memegang perutnya yang kesakitan.
"Arviii!" Dino pun berteriak melihat Arvi di bawa lari Elvira naik keatas gedung.
__ADS_1
"Elvira, apa yang kamu lakukan?" Jons berlari mengejar Elvira. "Elvira!" teriaknya.
Sita dan Dino pun berlari mengejar Elvira.
"Arviiiiii!" Sita berteriak kembali dengan histeris
"Elvira, aku tidak akan mengampunimu!" Dino berteriak penuh amarah.
Jons berhasil mengejar Elvira sampai di lantai dua bangunan kosong itu.
"Elvira apa yang kamu lakukan? Ini di luar rencana kita," ucap Jons dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Tidak Jons, aku tidak akan membiarkan mereka bahagia begitu saja, aku akan membuat Sita merasakan kehilangan sepertiku," ucap Evira penuh kebencian.
Elvira yang hidup dibesarkan oleh kakaknya seorang diri, membuat dirinya kehilangan yang begitu teramat dalam saat kepergian sang kakak.
Elvira telah dibutakan oleh kasih sayang kakaknya, yang selalu memanjakannya, menyayanginya tanpa sedikitpun mengeluh, mengikuti setiap kemauannya tanpa melarang, dalam jiwa seorang kakak Elvira menemukan sosok seorang ibu, ayah, dan bahkan teman yang baik baginya.
"Vira, aku akan menyayangimu seperti kakakmu, aku tidak akan menyia-nyiakanmu, tolong tepati janjimu, berikan bayi itu pada mereka dan menikahlah denganku," pinta Jons penuh harap.
"Maafkan aku Jons, aku terlanjur membenci Sita, aku tidak rela melepas kepergian kakakku begitu saja." Elvira melangkah menaiki benteng gedung itu, ia berniat menjatuhkan Arvi dari atas gedung itu.
"Elvira! Apa yang kau lakukan?" Amarah Dino kini berubah menjadi kekhawatiran. "Turun, Elvira!" titahnya.
Sita tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Elvira terhadap Arvi, seketika Sita melemah, Sita menurunkan badannya dan menempelkan kedua tangan di dada, bersimpuh memohon pada Elvira agar memberikan Arvi kepadanya.
"Aku mohon, Elvira! Jangan lakukan apapun pada Arvi, jika kau membenciku lakukan apapun kepadaku, jangan pada anakku, Aku mohon, Elvira!" histris Sita.
"Sayang, tenanglah!" Dino menurunkan badanya menyamakan diri dengan Sita. Kemudian bangkit kembali hendak menghampiri Elvira.
"Berhenti! Jangan berani melangkah lagi Dino!" ancam Elvira.
Jons pun menyela, "Vira, berhenti, vira! Percayalah padaku, aku sangat mencintaimu, lupakan semua yang terjadi, kita mulai hidup baru, aku yakin mereka akan memaafkanmu, Vira," tutur Jons dengan lembut, penuh harap pada Elvira.
"Aku tidak akan melakukan apapun pada bayi ini, asal Dino mau mengikuti kemauanku!" tutur Elvira.
Sita terperanggah dan langsung bangkit, mendengar ucapan Elvira itu. Begitupun dengan Dino.
__ADS_1
"Katakan apa yang harus suamiku lakukan, dia pasti mau melakukannya, iya 'kan, Sayang?" ucap Sita diiringi linangan air mata.
Dino hanya Diam dengan bingung, entah apa yang diinginkan Elvira.
"Kau yakin suamimu mau melakukannya, Sita?" Elvira terdiam sejenak, "Pilihannya ada dua, Kau atau Bayi ini?" lanjutnya.
"Apa maksudmu, Elvira, aku tidak mengerti?" ucap Sita dengan bingung.
"Kalau ingin Arvi hidup, maka ceraikan Sita, dengan talak tiga."
"A-apa!" Sita dan Dino shock mendengarnya.
Begitu juga dengan Jons, dia ikut kaget.
Jons tidak menyangka jika Elvira senekat ini.
"KAU G*LA, ELVIRA!" Bentak Dino dengan sangat marah.
Sita semakin terkulai lemas kembali, mendengar keinginan Elvira, seketika dirinya ambruk kelantai. "Talak tiga," ulangnya dengan tatapan kosong.
"Pemintaan macam apa ini?" lanjut Sita dengan lemah.
"Jika tidak, maka Arvi akan mat--"
Aaaaaa .... Elvira terpelesat jatuh membawa setrta Arvi.
Seketika suara teriakan menggema di gedung itu, Sita dan Dino histeris. tidak hanya teriakan sang pelaku Elvira, semua orangan yang menyaksikan dibawah sana pun berteriak histeris.
Bagai raga tak bernyawa, "Arviiiiiiiiii," histeris Sita yang menyaksikan Elvira dan buah hatinya terjatuh dari lantai dua bangunan itu.
Sita hampir pingsan, Dino pun menangkapnya, namun dengan sekuat tenaga ia menahan dirinya, agar bisa terbangun dan berlari memyelamatkan Arvi, meski mungkin sudah tidak ada harapan.
Dengan sisa harapan yang ada Sita pun berhasil bangkit dan berlari sekuat tenaga, mendekati benteng dengan perasaan yang hancur, Dino pun meraskan hal yang sama, Dia ingin melihat kebawah, namun ia tidak kuasa membayangkan Arvi yang terkapar di bawah sana.
"A-A-Arviiii," Sita ragu-ragu untuk mendongkakan kepalanya kebawah, ia tidak sanggup melihat keadaan Arvi.
Sita pun melihat Dino yang sama hancurnya. Mereka pun saling tatap dengan tatapan yang sangat menyedihkan, kemudian mereka pun saling berpeluk, "Arrviiiii, Arrrviiii, Arrviiii kita, Sayaaaang," ucap Sita tenggelam dalam tangisan penuh duka dengan bibir yang bergetar, pelukan yang biasanya penuh kebahagiaan kini dihiasi dengan linangan air mata. Mereka berdua hancur sehancur-hancurnya.
__ADS_1
Mereka menangis dengan histeris. Namun, kemudian tangis histeris mereka seketika terhenti, saat mendengar suara tangisan bayi.
Bersambung ....