Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Mengajak Sita Sarapan Diluar


__ADS_3

Abah menarik nafas, dan menghembuskannya perlahan sebelum ia menjawab pertanyaan putrinya.


"Maafkan Abah, nak, jika keputusan Abah ini memberatkan hatimu, Abah punya alasan tersendiri, kenapa abah menyuruh Elvira tinggal disini.


"Alasan apa itu, Bah?" tanya Sita, sementara Dino hanya diam memperhatikan.


"Sesuatu yang tak terlihat akan nampak, jika kita sering bersama, bukan begitu? Apa yang tak nampak dalam diri Elvira akan kita ketahui jika kita tingggal bersama, mungkin saja dia menyembunyikan sesuatu."


Nampaknya Dino mengerti apa yang dimaksud abah dia mengenggukan kepalanya.


"Bukankah kita tidak boleh berprasangka, bah?"


"Astagfirullohhaladzim, Abah mausia biasa nak, ingin sekali abah tidak berprasangka padanya, tapi abah tak bisa memungkiri diri abah, yang--," tiba-tiba abah menghentikan ucapnya yang terdengar berat, nampak terlihat menahan duka, ia coba menutupi itu agar putrinya tidak khawatir, di balik ketegaran yang abah tunjukan ada duka yang ia simpan. Mengingat Sita yang pada awalnya tak ingin memberitahu dukanya pada sang ayah, tentunya karna takut sang abah khawatir padanya, untuk itu abah harus berusaha menunjukan sikap tegarnya pada sang putri.


Sita sendiri memahami kenapa Abah tidak melanjutkan ucapannya, ia nampak menelan salivanya karna menahan duka yang sama.


Sita memegang tangan Abah yang berada dibahu kursi, "Tidak perlu abah lanjutkan, Sita paham itu, Sita yakin keputusan abah yang terbaik,"


Abah menganggukan kepalanya.


"Kuatkan hatimu, nak,"


Abah pun beranjak dari sana, melangkah menuju kamar, menurutnya kamar adalah tempat teraman.


Melihat suasana ini tak ingin berlanjut, Dino memutuskan untuk berangkat kerja.


"Ya sudah aku berangkat kerja dulu," pamit Dino dengan menyidorkan tangannya agar dicium sang istri.

__ADS_1


"Loh, kamu belum sarapan?"


"Aku sarapan di luar saja, apa kamu mau ikut sarapan di luar dengan ku?" tawar Dino dengan lemah lembut.


"Tapi ... Ibu dan Elvira sedang memasak," jawab Sita.


"Apa salahnya, masakan ibu bisa kita makan nanti siang atau malam," balas Dino.


"Tidak, aku disini saja," jawab Sita.


"Kenapa tidak? Ayolah!" paksa Dini dengan menarik tangan sang Istri dengan lembut.


"Aku tidak enak dengan ibu."


"Tapi aku lebih tidak enak lagi denganmu?"


"Maksudmu?"


Deg ....


Sepertinya ucapan Dino Ada benarnya, aku harus menjaga emosiku tetap stabil, masalah ini tidak boleh sampai mempengaruhi perkembangan janin di rahimku.


Akhirnya Sita pun mengangguk.


"Tunggu disini!" ucapnya pada Sita. Dino pun melangkah berjalan menuju kedapaur, ia pun berpamitan pada ibu.


"Bu, saya dan Sita sarapan di luar ya, sekalian ajak Sita jalan biar gak terlalu setres,"

__ADS_1


Ibu tersenyum dan mengangguk, meski ia sedang memasak, dan hampir selesai, tapi ibu tak melarang karna ibu paham benar tujuan putranya.


Dino hanya melirik Elvira sekilas tanpa berkata apapun padanya, lalu melangkah menuju kamar abah, mengetuknya dan berpamitan. "Ya pergilah," ucap Abah di dalam kamarnya.


Mereka pun pergi. sementara Elvira kesal melihat itu. 'Sempat-sempatnya mereka pergi berdua dalam keadaan seperti ini' batinnya kesal.


"Mari nak, kita makan?" ajak ibu dengan berjalan melangkah menuju meja makan, ibu pun ibu menata makanan dimeja, dan berkata, "Tolong panggilkan Abah yak nak?"


"Iya bu," jawab Elvira.


Tok ... Tok ... Tok ...


Elvira mengetuk pintu.


"Bah, ibu memanggil abah untuk sarapan," terdengar suara Elvira dibalik pintu.


"Baik, nak, nanti Abah menyusul,"


Elvira pun berjalan kembali ke mejamakan.


Abah keluar dari kamar, masih terlihat Elvira yang tengah berjalan kesulitan dengan tongkatnya menuju meja makan.


'Mungkinkah ketidak berdayaan membuatnya gelap mata, memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan sesuatu' pikirnya. "Astagfirullohhaladzin," kemudian abah pun tersadar dirinya telah berprasangka buruk.


Mungkin ini yang dinamakan ke egoisan, sebagai seorang ayah tentu mengharapkan kebahagiaan bagi putrinya, dan berharap kesalahan terletak pada Elvira, dan segera terbongkar, sehingga rumah tangga purtinya kembali membaik. Entahlah perasaan ini memang sebuah keegoisan ataukah naluri seorang ayah.


Abah pun berjalan dengan perlahan menuju meja makan, dan sarapan bersama ibu dan Elvira.

__ADS_1


Beberapa saat setelah sarapan abah melihat Elvira tengah duduk bersantai di ruangan tamu, ia nampak tersenyum-senyum sendirian, melihat layar hand phonenya, entah apa yang ia baca, tidak nampak raut kesedihan yang terpancar di wajah Elvira, seperti rauh wajah Sita yang nampak terpukul. Seharusnya sebagai perempuan baik-baik yang baru saja di ambil kehormatannya secara paksa ada kesedihan yang mendalam atau bahkan terlihat stres. Jangankan setres sedih pun tak nampak di wajahnya saat ini, wajahnya nampak berseri-seri.


'Mungkinkah kesedihan yang ia nampakkan sesekali adalah sebuah kepalsuan, dan inilah keasliannya' bisik hati abah. 'Astagfirullohhaladzim, lagi-lagi diri ini berprasangka buruk, maafkan hamba Ya Alloh' lanjutnya didalam hati.


__ADS_2