
Adzan magrib pun berkumandang. Dino mebersihkan diri untuk pergi ke mesjid.
Di dalam kamar Sita menyiapkan baju koko, sarung dan peci untuk dipakai suaminya.
Sambil memakai pakaiannya Dino pun melirik Sita dan berkata, "Sayang, hari ini aku berjamaah di mesjid ya."
Sita pun melirik Dino dan menganggukan kepalanya.
Dino pun berlalu pergi ke mesjid.
Seperti biasa Sita selalu menjaga wudhunya sampai adzan isya tiba. Dino pun memilih menunggu sampai Isya di mesjid.
Sita yang baru selesai salat isya pun lantas berdo'a dengan khusuk.
Ya Alloh ampunilah aku yang tak bisa menjalankan kewajibanku dengan baik, dan selalu menaruh curiga pada suamiku, luluhkanlah hati ini jika suamiku benar-benar tidak bersalah. hancurkanlah segala apa yang menghalangi kebahagiaan kami. Bukakanlah segala kebenaran yang tersembunyi dariku, sesungguhnya Engkau maha mengetahui lagi maha Adil.
"Aamiin," Dino yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengar do'a-do'a istrinya dan ikut mengaminkannya.
Sita pun kaget dan menyudahi do'anya. Dihampirinya sang suami, diciuminya punggung tangan sang suami.
Dino pun mengecup kening sang istri dan memeluknya dengan Erat.
Merasakan sang istri yang tak membalas pelukannya. Dino pun mengambil kedua tangan sang istri dan dilingkarkannya di pinggangnya.
Sita yang masih merasa malu berusaha melepaskan pelukan suaminya, setelah teras lama sang suami tak melepaskan pelukannya.
Akan tetapi, Dino malah semakin mengeratkan pelukannya. Sita yang tak berdaya pasrah menerima kehangatan suaminya itu walau masih berbalut mukena.
Tok! Tok ! Tokk
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar.
Mereka yang sedang menikmati kehangatan pelukan antara suami istri itu pun terkaget dan menyudahinya.
"Siapa?" tanya Dino.
"Ini Ibu nak, ada Ipan dan Syakila di depan, sana kamu temuin dulu!" ucap ibu.
"Iya, Bu."
Ibu pun kembali ke kamarnya.
"Huh ... kenapa harus sekarang sih? Mereka datang di waktu yang tidak tepat," keluh Dino sambil mengganti pakaiannya.
Sita yang sedang melipat mukena pun tersenyum lucu melihat tingkah suaminya.
Dino yang melirik ke arah Sita, merasa di ledek. Dia menghampiri dan menarik Sita kembali kepelukannya. Sampai akhirnya kedua mata yang saling menyejukakan itu bertemu.
"Jangan senyum-senyum seperti itu, sayang!Setelah mereka pulang, aku tidak akan melepaskan dirimu," ucap Dino lalu menurunkan pandangannya kebibir sambil memainkan jari di bibir indah Sita.
Satu kecupan lagi mendarat di bibir indah Sita.
"Andai tak ada tamu yang menunggu," gumam Dino.
__ADS_1
***
Diruang tamu terlihat Ipan Dan syakila sedang menunggu.
"Hay pan, hay Syakila , apa kabar?" sapa Dino. lalu menyalami keduanya, diikuti oleh Sita.
"Alhamdulilah baik," ucap keduanya.
"Gimana nih kabar pengantin baru?" tanya Ipan yang biasa saja setelah kejadian waktu itu.
Sementara Sita agak merasa risih, tak enak hati berhadapan dengan laki-laki yang pernah sejenak menaruh harapan di hatinya. Ini kali ke dua ia bertemu Ipan setelah kejadian itu.
"Alhamdulilah, kita baik ya, sayang," ucap Dino lalu melirik Sita.
Sita hanya mengangguk.
"Saya buatkan minum dulu ya." Sita pun pergi ke dapur.
"Tidak perlu repot kami cuma sebentar, kok," ucap Sakila dengan ramah. "Kami hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian."
"Terimakasih," ucap Sita dengan senyum lebar di bibirnya.
Namun, Sita pun tetap pergi kedapur dan membuatkan tiga gelas kopi susu hangat untuk mereka.
Di suguhkannya tiga kopi susu di temani sepiring kue bolu, sisa pernikahan yang masih ada.
"Kenapa cuma tiga, sayang?" tanya Dino.
"Maaf, aku tidak bisa menemani kalian ngobrol, ada pekerjaan yang harus saya lakukan di belakang," ucap Sita.
"Tidak apa, maaf kami mengganggu," ucap Syakila.
"Tidak, kalian tidak mengganggu kok, silahkan kalian ngobrol dengan suamiku! Maaf saya tinggal. Mari," ucap Sita.
"Mari." ucap Syakila.
Dino tertegun melihat istrinya. Padahal sudah tidak ada pekerjaan di belakang. Namun, ia mengerti kecanggungan yang di rasa sang istri, ini memeng tidak mudah.
Mereka bertiga pun asyik berbincang.
Andai tak ada syakila. Dino sudah cerita semua kejadian yang terjadi belakangan ini padanya. Namun, ia urungkan dan akan di ceritakan nanti saja.
Sementara Sita di dalam kamar dengan perasaannya yang tak karuan. Rasa malu yang masih mendera di hatinya, rasa kecewa yang masih membara, kecurigaan yang belum tuntas, ikatan pernikahan yang penuh tuntutan kewajiban, semua berkecamuk di hati Sita.
Sita mencoba mebaringkan badannya di atas tempat tidur menghela napas panjang, dan membungnya, sambil memejamkan mata. Berharap semua itu mampu melepaskan beban di benaknya.
Dino pun kembali masuk kekamar setelah syakila dan Ipan berpamitan pulang.
Dilihatnya sang istri telah memejamkan mata, dia duduk di sebelahnya. Memandang lekat wajah indah sang istri.
"Ya Alloh hilangkanlah segala gundah dihatinya. Jangan Engkau biarkan terlalu lama ia menahan beban duka batinnya." Do'a Dino untuk sang istri. lalu mengecup keningnya. dan turun ke bibir.
Sontak kecupan dibibir itu membangunkan Istrinya.
__ADS_1
"Kamu disini! Ma-maaf aku ketiduran," ucap Sita.
Dino tersenyum hangat.
"Tidak apa, lanjutkan tidurmu, maaf aku membangunkanmu," ucap Dino seraya memakaikan istrinya selimut.
"Tidurlah!" ucapnya perlahan, sembari mengelus lembut rambut sang istri.
Lalu ia pun membaringkan tubuhnya. Ketempat tidur dan menutup mata.
Sita mengangguk, tetapi agak keheranan.
Kenapa suaminya tak meminta haknya lagi, setelah apa yang dia katakan tadi. Semoga saja suaminya tidak kecewa.
Malam pun berlalu begitu saja.
***
Pagi pun tiba.
Sita telah berada di tempat dia bekerja, entah kenapa Ratih masih tak terlihat masuk kerja.
Pak Bimo pun terus menanyakan Ratih pada Sita. Mau apa di kata jika Sita pun tak tau apa-apa tentang Ratih.
Sepulang kerja Sita pun pergi kembali ke kontrakan Ratih. Kali ini di temani suaminya Dino yang sudah menjemputnya di tempat kerja.
Kebetulan bertemu dengan tetangga kontrakan disana.
Terdengar dari tetangga kontrakan, pagi kemarin saat semua sibuk berangkat bekerja ada penjambretan yang berhujung kecelakaan karna korban berusaha mempertahankan tasnya, lalu tertabrak mobil yang sedang melaju. Kemudian korban di bawa kerumah sakit terdekat.
Tetangga itu juga sempat melihat Ratih hendak berangkat bekerja pagi itu. Namun, sampai sore ini tak kunjung terlihat lagi.
Sudah bisa di pastikan korban adalah Ratih. Karena pagi kemarin Ratih tidak datang ketempat kerja.
Sita langsung menghubungi pak Bimo, yang terus menerus menanyakan Ratih. Sedikit aneh sih.
Dan akhirnya pak Bimo berbarengan bersama Sita ke rumah sakit terdekat di sana.
Setelah sampai di rumah sakit, kami semua segera menghubungi custemer servis.
Benar saja kemarin ada korban kecelakaan yang di bawa kesana.
Setelah di cek ternyata itu benar Ratih.
Sita dan yang lainnya langsung menghampiri Ratih yang sedang tergulai lemah di ranjang pasien.
"Ratih!" seru Sita, di ikutin oleh suara Dino dan pak Bimo.
Sita langsung memeluk sahabatnya dengan deraian air mata di pipinya.
Tak disangka setelah Sita melepas pelukannya, Pak Bimo pun memeluk Ratih dengan segenap rasa khawatir di benaknya.
Waw! Sontak Sita dibuat kaget melihat pemandangan ini.
__ADS_1
Wajahnya yang tadi dipenuhi air mata seketika berubah membengong.