Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Bertemu Ratih


__ADS_3

Mereka pun keluar dari kamarnya.


Di ruang tamu Aditya, Bi Marni dan ibu sudah asyik mengobrol.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," mereka menjawab serempak.


"Bi Marni, apa kabar?" saba Sita dengan ramah.


"Alhamdulilah bibi sehat, Non. Non Amel, eh Non Sita sendiri gimana kabarnya?"


"Alhamdulilah Sita juga baik."


"Kabarku tidak kamu tanyakan?" tiba-tiba Aditya bersuara.


Heemm


"Tentu saja, Pak. Pak Adiya apa kabar?"


"Seperti yang kamu lihat aku sehat dan bugar, alhamdulilah."


"Syukurlah, Pak."


"Din, kamu juga nampak lebih bahagia, sepertinya ada perubahan besar darimu?"


Hahahaa ...


"Kamu bisa saja Dit, tentu saja aku bahagia, penebar kebahagian dalam hidupku sudah kembali," ucap Dino lalu meraih pundak sang istri.


'Akh Aku salah bicara' batin Aditya kesal. Sekuat tenanga ia mengendalikan hatinya melihat pemandangan ini.


Elena yang melihat itu pun nampak di buat kesal, bodohnya ia tak dapat menyembunyikannya.


Sita yang melihat reaksi Elena, semakin berani mengekpos kemesraan bersama sang suami.


"Tentu saja, Sayang. Aku akan selalu menebar kebahagiaan di hidupmu," ucap Sita dengan bergelayut manja pada pundak sang suami.


Eheemmm ... Ibu dan Bi Marni kompak berdehem.


Seketika Sita tersentak dan segera melepaskan tangannya dari pundak sang suami.


Wajahnya memerah karna malu, 'Kenapa bisa aku melupakan ada ibu dan bi Marni disini' batinnya.


Ibu dan Bi Marni tersenyum lucu melihat tingkah Sita.


Sedang kan Dino tersenyum dengan perasaan yang luar biasa. Hatinya kini sangat berbunga-bunga, Sita menunjukan cintanya dihadapan Aditya.


"Lega rasanya, dan aku menyukai ini sayang' batin Dino.


Sejenak semua terdiam.


Kemudian Arvi dan Rafka mengeluarkan jurus tangisnya dengan kompak sehingga menghilangkan keheningan saat ini. Dan semua terfokus pada mereka.


"Ini saya bawa mainan buat Arvi dan Rafka." tutur Aditya dengan menyodorkan banyak mainan di paper bag yang ia bawa.


"Kenapa repot-repot Pak? Arvi dan Rafka belum mengerti, mereka belum bisa memainkannya," ucap Sita merasa tak enak.


"Tidak apa, bisa disimpan buat nanti," tutur Aditya.


Sita melihat kearah Dino.


Dino pun menganggukan kepalanya.


"Terimakasih, Pak," ucap Sita kemudian.


"Bisa berhenti memanggil saya, Pak. Kamu sudah bukan karyawan saya lagi, tapi sudah menjadi adik saya, panggil saja saya Kak Adit atau bang Adit," tutur Aditya.


"Iya Non, Bang Adit saja biar kedengerannya lebih akrab," sambung Bi Marni.


Sita melirik kembali sang suami.


Kali ini, Dino hanya diam tanpa Expresi, meski ia tau lirikan sang istri adalah kodenya meminta izin. Dino tidak nyaman sekali jika istrinya harus menjadi adik-adikannya Aditya.


Tapi tidak mungkin juga Dino melarang sang istri di depan semua orang, kesannya dirinya terlalu egois dan mengekang sang istri.


Sita pun menanggapi ucapan Bi Marni hanya dengan tersenyum, setelah melihat sang suami diam saja.


"Wah ibu seneng banget, kita jadi punya keluarga baru. Bagaimana kalau nanti kita liburan bersama," tutur ibu.


"Liburan bareng, ide bagus tuh, Bu. El ikut ya Bu?"

__ADS_1


"Tentu saja El kamu boleh ikut."


"Baiklah nanti kita atur rencananya, gimana Din?" tanya Aditya.


"Boleh. Nanti saya cari waktu kosong pengiriman," jawab Dino.


Semua pun terlihat gembira saat itu.


****


"Ratih, Kau!" Ratih menabrak Dino saat berlari pelan. Wajahnya terlihat sembab, seperti sudah menangis.


"Dino!" Ratih tersentak melihat suami sahabatnya itu.


"Kau sedang apa disini?" lanjutnya.


"Aku sedang mengirim barang?"


"Kau kenapa?" Dino memberanikan diri bertanya padannya.


"Ti-tidak apa-apa?" jawab Ratih dengan menahan tangisnya.


Dino melihat perut Ratih yang sudah membuncit, sepertinya tengah hamil sekitar 8 bulanan "Kau sudah hamil besar?" tanya Dino kemudian.


"Ya, Alhamdulilah, sudah jalan delapan bulan," jawabnya, dengan mata yang berkaca-kaca.


Dino merasa iba melihatnya. Sepertinya Ratih tengah memikul beban berat, terlihat jelas nampak di wajahnya.


"Kau kenapa, Ratih? Apa yang terjadi padamu?" tanya Dino penasaran.


"A-aku, aku baik-baik saja, Din. Permisi." Ratih langsung melengos mencoba menghindar dari Dino.


Dino mengerti Ratih tidak akan nyaman bercerita padanya.


"Sita, sudah kembali, kamu bisa cerita padanya."


Seketika air matanya langsung mengalir deras.


"Benarkah? Kau sudah menemukannya?"


Ucapnya sambil menangis.


"Syukurlah, aku ikut bahagia." Ratih pun menyeka air matanya.


"Mau bicara dengannya?" tanya Dino pelan.


Ratih mengangguk.


"Mau bicara di rumah, atau di luar?"


"Kau tidak keberatan jika aku aku mengajak Sita bicara di luar."


"Tentu saja tidak, kita bicara di cafe temanku saja, supaya kalian lebih leluasa."


"Ayo ku antar kamu kesana, tidak jauh dari sini."


"Terimakasih, Din," ucapnya mulai tenang.


"Hapus lah air matamu, kau akan lebih tenang setelah bicara pada Sita, tapi kamu harus sabar menunggu di cafe, karna aku harus menjemputnya, dia akan kerepotan jika membawa dua bayi sendiri," tutur Dino.


"Dua, bayi! Apakah bayi Sita kembar?"


"Tidak. Tapi kami di anugrahkan dua bayi tampan."


"Kok, bisa?" tanya Ratih heran.


Selama dalam perjalanan menuju cafe, Dino menjelaskan semua pada Ratih, bagaimana sampai dia mengadopsi Rafka dan menemukan Sita. Ratih pun mengangguk mengerti.


"Hayy dit," sapa Dino pada Aditya yang sedang berdiri di depan pintu, memperhatikan kinerja para karyawannya. Sesaat dia tersentak melihat Dino datang bersama perempuan hamil, pikiran buruk sempat melintas di benaknya.


'Siapa perempuan ini, jangan-jangan Dino selingkuh' pikirnya.


"Hayy juga Din, siapa dia?" tanyanya tanpa basa basi.


Dino sudah menduga Aditya pasti akan berpikiran buruk ketika melihatnya.


"Ratih. Sahabat Sita, mereka ingin bertemu disini," jelas Dino.


Ratih tersenyum simpul pada Aditya.


'Aku pikir selingkuhan Dino, ternyata sahabat Sita, tapi tidak menutup kemungkinan Dino selingkuh dengannya,' batinnya, 'Akh itu harapanku saja agar Dino ku tinju lagi dan Sita jadi milikku, astagfirulloh buruk sekali pikiranku ini' lanjutnya.

__ADS_1


"Dit, kau baik-baik saja? Apa yang kamu pikirkan?" Seketika Dino membuyarkan pikirannya.


"Eu-Tidak ada, kamu cari saja meja kosong disana. Aku masih ada urusan," ucapnya lalu melengos pergi kekantornya.


'Apa yang terjadi padanya?' batin Dino.


"Ayo! Kita kemeja sana," ajak Dino pada Ratih.


Ratih mengngguk.


"Kau tunggu disini, saya akan menjemput Sita. Pasti agak lama, karna jalanan tidak bisa di prediksi," ucap Dino.


"Tidak apa-apa, aku akan menunggu," ucap Ratih.


"Oke, Sita pasti senang bertemu denganmu, ini akan menjadi kejutan untuknya."


Heummm Ratih tersenyum.


Entah apa yang terjadi pada Ratih, Ratih yang bawel dan periang mendadak menjadi pendiam.


Aditya memperhatikan Ratih dan Dino di dalam melalui kaca kantornya.


'Ada hubungan apa sebenarnya dengan mereka?' batinnya masih penasaran.


"Dit, titip temen ku ya, aku pergi dulu," kata Dino yang memergoki Aditya memperhatikannya.


Aditya menelan salivanya.


"O-oke." Aditya mendadak gugup.


"Mbak." Ratih melambaikan tangannya pada pelayan. Ia pun memesan makanan sambil menunggu Dino kembali bersama Sita.


Aditya mencoba menghampiri Ratih.


"Boleh saya duduk disini?" tanyanya.


"Eumhhh ... silahkan. Kamu temen Dino? Pemilik cafe ini?" tanyanya.


"Iya, aku pemilik cafe ini. Kamu bener temennya Sita?" tanya Aditya.


"Kau mengenal Sita juga?" tanya balik Ratih tanpa menjawab pertanyaaan Aditya.


"Aku sangat mengenalnya, dia pernah bekerja padaku, disini dan di rumahku,"


"Iya, selama di perjalanan Dino sudah cerita banyak."


"Dino menceritakan semuanya padamu?" tanyanya dengan tatapan curiga.


"Tentu saja. Kenapa?"


"Apa kau benar-benar temannya Sita? Kau begitu akrab dengan Dino. Apa jangan-jangan kau--"


"Apa maksudmu?" tanya Ratih yang merasa tak enak dengan pertanyaan Aditya dengan tatapan penuh curiganya.


Aditya menatap perut Ratih.


Ratih kembali merasa tak nyaman dengan tatapan matanya.


"Apa bayi dikandunganmu bayi Dino?"


"Lancang ya!" Bentak Ratih dengan menyimpan kedua tangannya di meja.


"Tunggu-tunggu! Jangan marah dulu, maaf saya lancang," ucap Aditya yang merasa dirinya keterlaluan.


'Ada apa dengan diriku' batinnya kesal pada diri sendiri.


"Maaf kan saya Nona, saya tidak bermaksud apapun, saya hanya tidak ingin kalau sampai Sita di permainkan oleh Dino," tuturnya.


"Dino laki-laki yang baik, jadi tidak mungkin dia mempermainkan Sita," tegas Ratih pada Aditya.


"Oke, oke, Dino laki-laki yang baik, puas," ucap Aditya kesal lalu melengos pergi.


'Memangnya cuman Dino apa laki-laki baik di dunia ini, kenapa para wanita terus membelanya' batinnya menggerutu kesal sambil berlalu meninggalkan Ratih.


Ratih mengerutkan kening, heran melihat sikap pemilik cafe ini.


"Dasar aneh, buruk sekali pikirannya," umpatnya.


'Ya ampun Aditya, apa yang kamu lakukan? Kau terlalu berharap perempuan itu selingkuhan Dino, dan kau mendapatkan Sita. Sial, kenapa aku tak bisa mengontrol mulutku, perempuan tadi pasti tersinggung olehku' Aditya bicara sendiri di dalam kantornya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2