
Pagi ini Sebelum mencari Sita, Dino pergi ke kantor polisi menemui Elvira.
"Katakan Siapa sebenarnya Dirimu? Kenapa kamu melakukan ini pada kami? Katakan!" bentak Dino.
Elvira tak menjawab dia hanya diam menunduk sedih dengan tetasan air mata dipipinya.
"Hentikan tangis mu itu! Aku akan menuntut mu penjara seumur hidup Elvira. Gara-gara kau Sita pergi entah kemana! Kalau sampai dia tidak di temukan aku tidak akan mengampunimu!" bentaknya lagi.
Tiba-tiba Elvira tertawa bahagia saat mendengar Sita pergi "Apa dia pergi? Hahaha ... Akhirnya dia meninggalkan mu, memang itu yang ku inginkan dia pergi dan hidup sendiri, seperti diriku yang selalu hidup sendiri, hiks ... hiks ... hiks ..." tiba-tiba ia menagis di sela tawanya.
Seketika Dino heran dan pergi meninggalkannya, 'Apa dia depresi,' batinnya.
Dino pun pergi menemui petugas.
"Pak tolong tangkap laki-laki yang ada divideo itu juga, dia bersekongkol dengan perempuan ini, meski dia tidak terlibat pembuhan tapi dia terlibat dengan penjebakan atas pencemaran nama baik saya."
"Baik pak," ucap petugas itu.
Dino pun pergi berlalu dari kantor polisi itu, meski tidak mendapatkan hasil tentang siapa Elvira sebenarnya.
Kini dia fokus mencari Sita. Kak Hermawan menghandle semua pekerjaan Dino sambil turut mencari Sita di jalanan.
Kak Riri dan kak Fitri pun mencari sang adik kemana-mana tak lupa menghubungi teman dan kerabat mereka barang kali ada yang melihatnya, Foto Sita pun disebar dimana-mana termasuk di media sosial.
Bahkan Dino menyiarkannya disaluran radio dan televisi untuk lebih memudahkannya mencari Sita.
SITA SEBAGAI AMEL
Pagi ini Amel mendapati Aditya yang tergesa-gesa pergi, bahkan tanpa sarapan pagi.
"Pak sarapan dulu," ucap bi Marni yang melihat tuannya tergesa-gesa pergi.
"Terimakasih bi, ada masalah di cafe, saya sarapan disana," ucapnya sambil melangkah menuju pintu keluar rumahnya.
"Kebiasaan," kata bi Marni.
"Pagi Bi," tiba-tiba Amel menyapa dengan ramah.
"Eh, Non Amel, pagi juga Non," balas Bibi dengan ramah.
"Pak Aditya mau kemana, Bi?" tanya Amel penasaran.
Tiba-tiba bi Marni mengerutkan keningnya, ia bengong sejenak 'Ini perempuan sebenernya siapa sih, masa iya kalo pacar gak tau tuan Aditya mau kemana, mana manggilnya Pak lagi' batinnya.
"Bi," panggil Amel membuyarkan lamunan bi Marni.
"Eh, maaf bibi malah melamun," ucapnya.
"Pak Aditya mau ke cafe Non, biasa kalo ada masalah di cafenya dia lupa makan."
__ADS_1
"Jadi pak Aditya punya cafe, Bi?" tanya Amel
Bi Marni kembali bengong, 'Akh mending tanya aja sama non Amel dari pada penasaran' batinnya.
"Iya non, pak Aditya punya cafe, emang Non gak tau ya?"
Amel menggelengkan kepalanya.
"Non, sambil makan yuk," ajak bi Marni sambil menggeser kursi untuk duduk Amel.
"Disini?" tanya Amel.
"Ya disini Non, masa dikamar!" ucap bi Marni.
"Gau usah khawatir pak Aditya baik orangnya, setiap hari bibi yang nemenin dia makan dimeja ini," jelasnya.
"Oh," ucap Amel kaku.
"Gak usah kaku gitu Non Amel, kalo sama bibi enjoy aja," celotehnya.
Amel pun tersenyum .
"Non boleh Bibi nanya sesuatu?"
"Ya, tentu saja."
Ohok ... Ohok .. Ohok ... Tiba-tiba Amel tersedak mendengar pertanyaan bi Marni.
"Aduh, maaf non, ini minum dulu!" Bi marni memberi Sita segelas air minum.
"Maaf, Bibi salah ya?" tanyanya kembali.
"Enggak pa pa Bi , Kenapa bibi pikir saya pacar pak Aditya, saya kan lagi hamil saya jug punya su--"
"Su-Suami, Non," tebak bibi.
Amel menganguk
"Kenapa ragu gitu sih bilang suaminya Non? Pasti Non lagi ada masalah ya sama suami Non?" tanya bibi lagi "Tapi kenapa bisa datang sama pak Aditya ya?" lanjutnya.
Deg ...
"Maaf Non bibi cerewet, kepo banget, soalnya pak Aditya gak pernah bawa cewe kemari, kayaknya susah banget nyari cewe yang cocok sama dia, padahal nih yang mau jadi ceweknya banyak banget secara pengusaha cafe sukses, cafenya dimana mana, mana masih muda, baik, ganteng lagi, kalo bibi punya anak gadis mau Bibi jodohin deh sama dia, hehehe ...."
Heeummm, Amel hanya menanggapinya dengan senyum.
"Yeehhh Si enon Bibi udah panjang kali lebar kali tinggi komennya cuman senyum doang, kaya emoji whattapp aja," celotehnya lagi.
Hahaha ... Amel tertawa lembut
__ADS_1
"Ternyata Bibi ini bisa bercanda juga ya,"
"Bibi disini yang selalu menghibur Pak Aditya, kalau bibi gak bisa bercanda, ini rumah sepi kayak di kuburan, Non."
Sita mengerutkan keningnya, "Memangnya keluarga pak Aditya kemana, Bi?"
"Ada Non, di rumahnya, Pak Aditya juga punya seorang adik perempuan, ini rumah hasil kerja kerasnya sendiri buat nanti sama istri, tapi sampe sekarang dia belum juga nikah, kasihan Pak Aditya usha memang sukses tapi urusan Cinta dia gak sukses," rentetan penjelasan dari bi Marni.
"Semua udah ada yang ngatur Bi, nanti juga ada Jodohnya," tutur Amel.
"Hemmm, iya Non, Yuk lanjutin makannya! Malah jadi ngomongin Pak Aditya."
Amel mengangguk dan tersenyum kembali,
lalu menghabiskan makanan yang di buatkan Bi Marni, khusus makanan ibu hamil yang sehat.
"Terimakasih, Bi udah maskin Amel makanan sehat," ucapnya setelah selesai makan.
"Sam-sama Non," kata Bi Marni.
"Oh ya Bi, Bibi tau kontrakan sekitar sini 'gak?"
"Kontrakan buat siapa Non?" tanya Bi Marni.
"Buat saya, Bi," jawab Sita.
"Buat Non, Amel! Lah kenapa gak pulang kerumah suaminya, Non? Eh," tanyanya keceplosan.
"Maaf Non, Bibi gak maksud mencampuri!" tuturnya gak enak hati, "Kalau di sekitar sini mana ada kontrakan Non, disini rumah gedongan semua, mewah-mewah."
"Iya ya Bi, rumah orang kaya semua disini, mana ada kontrakan."
"Ya udah Bi, Amel pamit ya! Bilangin sama pak Aditya makasih sudah menolong Amel, maaf gak bisa ngomong langsung, soalnya gak mungkin kalo nunggu pak Aditya dulu, pasti nanti kemalaman lagi cari kontrakanny," ucap Amel.
"Baik Non, Bibi sampaikan nanti, tapi alangkah baiknya Non amel tunggu dulu pa Aditya sampe pulang, biar Non bisa ngomong langsung."
"Pengennya gitu sih, Bi, gak enak kalo gak ngomong langsung, tapi saya takut kemalaman lagi, nanti ngeropotin harus nginep disini lagi."
"Ya udah, Bi, Amel pamitnm ya!" pamitnya.
Diambilnya koper yang berisi pakaiannya. Dia menghela nafas panjang dan membuangnya berharap bisa sedikit mengurang bebennya.
Kini tekadnya sudah bulat untuk hidup sendiri, lebih baik jauh darinya dari pada harus melihatnya bersama perempuan lain, itu yang dipikirkannya saat ini, dan Amel adalah identitasnya saat ini.
Selangkah demi selangkah Amel berjalan dengan perlahan, dengan langkahnya yang masih tidak tau arah tujuan, sejenak Amel berpikir ke arah mana harus melangkahkan kaki.
Namun belum sampai Amel keluar dari gerbang rumah pak Aditya sebuah mobil datang dari arah luar, membuatnya menghentikan langkahnya.
"Amel, kamu mau kemana?" tanya Pak Aditya di dalam mobilnya.
__ADS_1