Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Cinta Bersemi Kembali


__ADS_3

Didalam ruangan yang berbeda tepatnya di dalam kamar Aditya, Aditya tengah menahan amarahnya, di depan jendela kamarnya dia mengedarkan pandangan keluar dengan tangan yang masih mengepal kuat, yang ia letakan di dinding.


"Beginikah rasanya cinta, kenapa begitu sangat menyiksa, kalau begini lebih baik aku tidak pernah tau apa itu cinta," gumamnya.


"Tidak kusangka, aku salah membawa Dino kesini, dia malah menjadi penyebab duka dihatiku, Aku sangat mencintai Amel, dia malah mengambilnya dari ku setelah dia menyakitinya, Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau kehilangan Amel," gumamnya lagi.


"Apa yang akan Pak Aditya lakukan?" tanya Bi Marni yang sudah berada di kamarnya tanpa Aditya sadari.


"Bi Marni! Sejak kapan bibi disini?"


"Cukup lama, Bibi khawatir sama pak Aditya, untuk itu bibi kemari,"


Aditya pun duduk di sofa yang ada di kamarnya itu, dia menghela nafas menenangkan dirinya.


Bi Marni pun duduk di sampingnya siap mendengarkan segala keluh kesahnya.


"Kenapa, Bi, luka hadir saat saya menyadari cinta, rasanya itu sakit sekali,"


"Sabar, Pak, Mungkin Non Amel bukan jodoh, Bapak,"


Deg ...


"Apa saya boleh egois, saya ingin Amel jadi jodoh saya," ucapnya.


Hemmm ... Bi Marni tersenyum, mendengar keinginan Pak Adiya itu.


"Istigfar Pak, Amel dan suaminya saling mencintai, perpisahan mereka hanya sebuh ujian cinta, dan mereka sudah berhasil melewati itu, Bibi senang sekali melihat mereka bahagia tadi, mereka pasangan yang sangat serasi, wajah Amel terlihat lebih bahagia, baru kali ini bibi melihat kebahagiaan yang begitu besar di wajah Amel," secara tidak sadar Bi Marni mengatakan hal itu, hingga membuat hati Aditya terbakar.


Seketika wajah Aditya pun menjadi kesal.


"Maaf Pak, Bibi tidak bermaksud membuat bapak cemburu, tapi itu kenyataan yang harus bapak terima,"


"Tidak, Bi, aku tidak cukup kuat untuk menerima ini semua? Aku ingin merasakan cinta itu," ujarnya.


"Berhentilah berharap pada Amel, Pak Aditya berhak mendapatkan perempuan yang lebih baik dari, Amel,"


"Apa ada yang lebih baik dari Amel, Bi? Bibi lihat Amel, saat jauh sekalipun dengan suaminya dia selalu menjaga dirinya dari laki-laki, dia selalu menjaga cintanya sekalipun hatinya terluka, dia masih membela suaminya bahkan saat suaminya menyakiti dia, cintanya tulus tiada Akhir bi, aku menginginkan cinta tulus Amel, Bi," kekeh Aditya.


Bi Marni menggelengkan kepalanya, tak percaya Aditya bisa mengatakan hal itu, "Masih banyak perempuan baik di luar sana, jika pak Aditya menyayangi Amel dengan tulus maka relakan Amel bahagia bersama suaminya, lupakan dia!"


"Cinta ini baru bersemi, Bi, bagaimana bisa aku melupakannya, aku akan mendapatkan Amel dengan caraku." Aditya langsung berdiri, ia melangkah membukakan pintu kamar, menyuruh Bi Marni keluar dari kamarnya.


Bi Marni pun keluar dengan perasaan yang sedih, ia sudah menduga Pak Aditya akan sangat terluka, tapi Bi Marni tidak menyangka kalau Pak Aditya tetap bersi keras untuk mendapatkan Amel, nampaknya Pak Aditya telah di butakan oleh cinta.


Bi Marni mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Pintu kamar Amel yang masih terbuka membuatnya masih bisa melihat kemesraan Amel dan Dino, mereka sedang duduk di sofa, Amel terlihat sedang mengobati luka di wajah suaminya dengan lembut dan hati-hati.

__ADS_1


"Aawww ... sakit sayang, perih," keluh Dino saat Sita mengoleskan bettadin diluka sebelah bibirnya.


"Apa sakit sekali?" tanya Sita


"Sakit, sayang,"


"Baiklah akan ku obati lagi." Seketika Sita mengecup bibir sang suami. "Apa masih sakit?" tanyanya kembali.


Bimarni pun melengos melanjutkan langkahnya merasa malu menyaksikan ini.


Tentu saja Dino merasa senang, ia ingin mendapatkannya lagi.


"Masih sayang, masih sangat sakit," ucap Dino.


Sita kembali mengecup bibir sang suami dengan lembut. namun saat Sita akan melepasnya Dino menahannya sebentar, dan membalas kecupannya.


"Aku merindukan mu, Lagi sayang, sakit lagi."


Iiiikhhhh ... Seketika Sita mencubit perut sang suami.


AAwww ....


"Kok di cubit sih."


Dino pun sigap memegang tangan Sita, Di simpannya tangan sang istri di dadanya. "Rasakanlah, apa kamu merasakannya? Setelah sekian lama akhirnya dada ini bergetar kembali."


"Getarannya sangat kuat, aku merasan itu," ucap Sita dengan memejamkan matanya, menikmati kehangatan ternyaman di dunia, setelah sekian lama ia merindukannya.


Dino pun memejamkan mata menikmati kehangatan yang sama.


Sedang Asyik menikmatinya, sepertinya sang bayi tak rela jika tidak diajak, Arvi menangis, dan mengagetkan mereka, akhirnya mereka pun terpaksa melepas pelukan kerinduannya.


"Arvi!" ucap Sita di iringi senyum.


Huuhhh ... Dino menghela nafasnya


"Kamu mengganggu papa lagi sayang," ucap Dino pun di iringi dengan senyuman.


Sita pun bangkit dan melangkah cepat meraih Arvi di ranjang bayinya.


"Hay sayang, cup, cup, cup, sini mama gendong, cup, cup, jangan nangis sholeh." Sita menggendong Arvi.


Dino menghampiri sang istri yang sedang menggendong Arvi, Ia memeluknya kembali dari belakang, dengan menyimpan kepalanya di bahu sang istri.


"Papa masih merindukan mamamu sayang, kau juga merindukannya, heumm?" Dino menatap sang buah hati, terus mengajaknya bicara seolah sang bayi telah mengerti. "Kamu curang Arvi sayang, sembilan bulan kamu terus bersama mamamu, papa tidak, sekarang giliran papa terus memluk mamamu, kamu bobo lagi," ucap Dino lalu mengecup bahu sang istri.

__ADS_1


Hahaha ...


"Kamu terus mengajaknya bicara apa kamu pikir Arvi akan mengerti?" Sita merasa lucu dengan celotehan sang suami.


"Tentu saja Arvi pasti ngerti, karna dia ingin papa dan mamanya bersatu. ya kan Arvi sayang?"


"Sudah lepaskan dulu, aku harus menyusuinya!"


"Menyusuinya!" Sontak Dino melepaskan pelukannya dan memutar Sita agar berhadapan dengannya.


Sita tersenyum malu, dan Dino senang sekali melihat senyum malu sang istri, yang membuat pipinya menjadi merona.


Kemudian Dino berbisik di telinga sang istri, " Setelah Arvi giliran papanya ya."


Sita semakin malu mendengar ucapan sang suami, cinta mereka seperti baru bersemi. Bahkan Sita menyuruh sang suami keluar sebelum dia membuka ********nya dihadapan sang suami, setelah sekian lama tak bertemu, membuat Sita malu melakukan lebih.


"Sayang, aku suamimu?"


"Aku malu. Seperti ini pertamakalinya. Ayo keluarlah!" Sita mendorong lembut sang suami agar keluar.


Dino tersenyum lucu melihat tingkah sang istri. Dino pun mengerti dan keluar.


Sita segera mengunci pintunya.


Di depan pintu Dino tersenyum-senyum sendiri, terlihat jelas kebahagiaan diwajahnya.


Namun saat itu Aditya yang juga baru keluar dari kamarnya, memperhatikan sikap temannya ini, dia bisa melihat jelas kebahagiaan Dino.


Rasa cemburunya semakin membara, namun ia mencoba menguasainya, jangan sampai Dino melihat kecemburuannya.


"Din," sapanya.


Dino kaget dan menoleh ke arah suara. "Didit."


"Maafkan perbuatanku tadi, aku sudah salah paham padamu," ujarnya.


Dino mengukir senyum, dan membuka lebar tangannya, ia berjalan dan memeluk Didit.


"Aku mengerti, tidak apa-apa, terimakasih sudah menjaga istriku selama ini," ucap Dino


Aditya mengngguk, kemudian mengurai pelukan.


"Ayo kita bicara di teras," ajak Aditya.


"Ayo." Dino setuju.

__ADS_1


bersambung ....


__ADS_2