Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Abah Menginap


__ADS_3

"Kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan, Sayang!?" Sungguh Dino tak menyangka istrinya akan mengatakan itu.


"Aku sadar." ucapnya meyakinkan Dino.


"Keputusan mu kali ini bo*oh, Sayang, ini akan semakin melukai batinmu," tutur Dino dengan pelan namun terdengar tegas. "Aku memikirkan perasaanmu."


"Lalu siapa yang memikirkan perasan Elvira?" ucap Sita pun terdengar tegas meski pelan.


Deg ... Dino terdiam.


"Siap yang akan memikirkannya, saat kehormatannya telah di nodai?" lanjut Sita.


"Tapi sayang, ini tidak benar!"


"Lalu apa yang benar? Membiarkannya terluka, membatin dalam duka sendirian, Dimana perasaanmu? Harus kah aku egois memikirkan perasaanku sendiri? Dan mengabaikan derita perempuan lain." ada kesedihan dalam ucapannya yang ia tahan.


"Apa kau sanggup, Sita? Dino memegang kedua pundak Sita dan menatapnya. "Apa kau sanggup mebagi cintamu dengan perempuan lain?" tanya Dino tegas. Keduanya pun berkaca dalam tatapan mereka.


Namun Sita segera mengusap air matanya dan berusaha tegar menghadapi suaminya.


" Jangan berpura-pura tegar, aku tau batinmu tersiksa, kenapa kau ingin semakin menyiksanya?" Dino menekan suaranya, ia kesal dengan keputusan istrinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan? Melupakan kejadian itu begitu saja, membirkan perempuan itu menderita, tidak ada wanita yang rela menyerahkan kehormatannya begitu saja pada laki-laki, apa lagi Sosok Elvira yang lugu,"


"Apa yang kau bilang lugu itu belum tentu benar, apa yang kita nilai tentangnya selama ini belum tentu benar,"


"Dan apa yang ku ketahui tentang mu juga belum tentu benar bukan?" Sita sedikit meninggikan suaranya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Dino heran


"Kau laki-laki yang baik, kau sangat mencintai ku, kau ingin melihatku bahagia, tapi tidak menutup kemungkinan kau pun akan jatuh cinta pada perempuan lainkan."


"Astagfirulloh Sita, kau masih saja meragukan suamimu ini. Haahhhh ...." Dino membuang nafas kasar, terlihat semakin kecewa dengan perkataan istrinya ini. Tak ingin melanjutkan, Dino pun melangkah pergi meninggalkan sang istri, mencari ketenangan.


"Abah!" Dino kaget melihat Abah yang berdiri di depan pintu kamar Entah sejak kapan abah berada disana, entah abah mendengar perkataan mereka atau pun tidak.


"Eeuu ... Dino mau ketoilet sebentar, Bah," ucap Dino terlihat gugup. Ia pun langsung melangkah tanpa menunggu abah membalas ucapannya.


Abah pun masuk kedalam, terlihat Sita sedang mengusap air matanya.


"Kalian bertengkar?" tanya Abah penasaran.


"Tidak, Bah," elaknya.


"Syukurlah, Abah pikir bertengkar?" ucapnya.


"Tidak perlu sayang," tolaknya. Lalu kembali keluar,


Niat Abah ingin bicara pada Sita dan Dino, namun karna mereka terlihat seperti telah bertengkar abah pun kembali keruang tamu. Tak ada yang bisa abah lakukan disini hanya duduk berdiam diri membaca koran yang ada di meja.


Malam pun tiba, tak ada yang terdengar di ruangan itu, mereka membisu, dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Dino sungguh kecewa pada sang istri yang begitu mudah menyuruhnya bertanggung jawab pada Elvira. 'Kenapa tidak selidiki dulu' batinnya.


Sita menatap ke arah suaminya yang tengah duduk menyender ke sofa dengan tangan yang terlentang menengadahkan kepalanya ke atas langit-langit kamar, terlihat jelas wajahnya yang kesal dan banyak pikran.

__ADS_1


Sita merasa bersalah padanya, ia bangkit dari ranjang dan menghampiri suaminya, ia pun duduk di sebelahnya, lalu berkata, "Maafkan kata-kataku tadi, jika itu melukaimu perasaanny,"


Dino melirik Sita, " Kenapa kamu melakukannya? Apakah cintamu pudar begitu saja?"


Sita menggelangkan kepalanya.


"Lalu kenapa?"


"Selakipun itu terjadi, aku tidak mungkin menikahinya? Itu kesalahan!"


"Bagiman jika dia hamil?"


"Aku rasa itu tidak akan terjadi? Karna aku yakin aku tidak melakukannya," Dino terus kekeh dengan pendiriannya.


Sita tertegun, dia tetap bingung dengan keputusannya. Sita bangkit dari duduknya hendak kembali keranjang, seridaknya ia sedikit tenanh telah meminta maaf pada suaminya.


Melihatnya bangkit Dino pun ikut bangkit melangkah dan meraih sang istri, di peluknya sang istri dengan penuh kasih sayang, ia tumpahkan segala kerinduannya pada sang istri, entah kapan kemesraan yang dia rasakan beberapa waktu lalu ia rasakan kembali.


Sita memejamkan mata tanpa membalas pelukan suaminya, namun kemudian Dino meraih tangannya dan di lingkarkan di pinggangnya.


"Jangan pernah mengatakan itu lagi, apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apalagi menduakanmu."


Sita pun meneteskan air mata,


hanya dilema yang kini ia rasakan.


Pagi pun tiba, dimana Abah yang biasa berjalan-jalan dikampung hanya untuk sekedar menggerakan kakinya agar tetap sehat, Abah pun berjalan-jalan di sekitar depan rumah Dino. Sedikit ia jauh melangkah melihat jalan di ujung sana yang cukup ramai.

__ADS_1


Sita dan Ibu masih sibuk menyiapkan sarapan. Wajah Sita dan Ibu tak seceria biasanya, mereka merasakan hal yang sama, kecewa dan dilema.


"Apa kamu sudah menceritakan masalah ini pada, Abah?" tanya pelan.


__ADS_2