
Tapi kalian belum makan kan?" tanya Elena. Dan melihat mereka satu persatu.
Semua menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah, kalian makannya tunggu aku selesai masak udang ya, boleh kan, Bu?"
"Boleh El," jawab Ibu.
"Ya sudah aku bantu," ucap Sita.
"Tidak perlu, aku masak sendiri saja, kamu kan capek, kamu istirahat saja," tolak Elena.
"Ya sudah. kalau begitu kita ke kamar saja sayang, sambil nunggu Elena masak," ucap Dino, lalu membimbing pundak Sita untuk masuk ke kamar.
Sita pun mengangguk.
Wajah Elena pun seketika beruba menjadi kesal.
Matanya terus melihat ke arah Sita dan Dino.
Ibu pun memperhatikan itu.
"El.."
"I-iya bu.."
"Ibu ganti pakaian dulu ya nanti Ibu temenin kamu di dapur."
"Iya bu."
Ibu pun ke kamar handak mengganti pakaian.
Elena menuju dapur dengan wajah kesalnya melihat kemesraan Dino pada Sita.
'Aku harus segera melancarkan aksi ku sekarang, sebelum Dino dan Sita semakin jauh' bisik hatinya.
Sita pun di dalam kamar hendak mengganti pakaian dan membuka risleting bajunya.
Tiba-tiba terdengar teriakan Elena di dapur.
Aaaa.....
Takut terjadi apa-apa Dino pun pergi kesana mengecek keadaan.
"Ada apa?" tanya Dino.
Mengetahui Dino yang datang. Elena pun langsung berlari memeluk Dino. Sambil berbisik di dalam hatinya." yes akhirnya aku bisa peluk Dino."
Sontak Dino pun kaget.
"A-a-ada tikus Din," ucap Elena, dan terus mempererat pelukan nya hingga Dino merasa risih."
'Nyaman banget sih' bisik hati Elena.
Sementara Dino celingukan mencari tikus.
"Mana El tidak ada?"
"Di sana Din... di sana." sambil menujnuk ke arah gudang. Dan Elena pun semakin pempererat pelukannya.
"Lepaskan dulu, sudah tidak ada apa-apa." keluh Dino yang merasa risih.
__ADS_1
"Engga mau Din, aku takut."
Tangan Dino terus berusaha melepaskan tangan Elena, dari pinggangnya.
Namun Elena semakin mempereratnya.
"El...lepas El..."
"Tidak mau..."
"Apa..apan Ini...El."
"Aku takut." Elena terus berbohong. 'Ya Ampun nyaman sekali' bisik hatinya.
"Tidak ada apa-apa disana El... lepaslan."
Sita sedari tadi memperhatikan.
"Hanya melihat seekor tikus sampai setakut itu, bagaimana kalau melihat Singa betina mengamuk ya." ucap Sita dengan nada di tekan karna kesal. Sita sudah mengerti maksud dan tujuan Elena.
"Eu..Sit ..ma maaf tadi aku ketakutan." ucap Elena. Lalu melepaskan pelukannya dari Dino.
"Oke, Fine," ucap Sita tegas.
"Lain kali kalau takut sama tikus jangan masak disini sendirian. Karna sekarang di gudang bukan cuma ada tikus, ada juga Singa betina disana," ucap Sita ketus seakan menyindir Elena. Tatapan tajam Sita pun melayang kepada Elena.
"Ah..kamu Sit, ada-ada saja..."
Sita menyunggingkan senyum sinisnya. Dan menarik tangan Dino kembali kedalam.
Sementara Dino dia tertawa geli melihat sikap istrinya.
Tiba-tiba Ibu keluar.
"Katanya sih ada tikus Bu, tapi tikusnya sudah lari karna singa betina sudah datang," ucap Sita sambil tersenyum pada Ibu.
Ibu mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud perkataan Sita.
Elena yang mendengar itu semakin kesal.
'Rupanya dia mengerti maksud ku. Apa dia mengetahui sesuatu. Ah tidak mungkin' pikir Elena.
Elena, pun selesai memasak perlahan dia menyiapkan makanan di meja agar tidak di ketahui oleh Siapa pun.
Semua piring sudah ditatanya, bahkan dia hanya menyiapkan satu piring untuk Dino makan berdua dengan Sita. mengingat pengalamannya waktu itu.
Elenapun menyiapkan minum untuk mereka satu persatu.
Dia hendak melancarkan aksinya. Di masukan nya serbuk obat tidur ke gelas Sita dan Ibu. Sedangkan minuman Dino dia campurkan obat yang memabukkan dan obat pe****sang.
Elena pun memanggil semua orang.
Ibu, Sita dan Dino pun mulai berdatangan.
Melihat semua yang sudah disediakan begitu rapih dan teratur, serta air yang sudah disiapkan di gelas, ada sedikit perasaan aneh muncul dalam hati Sita.
Sita dan yang lainnya pun segera duduk.
Elena bersikap lebih riang, dan berhati hati.
"Nih udangnya enak, cobain deh," Elena bersikap seolah dia tuan rumah disini. Dia Mengambilkan lauk pauk untuk Ibu Sita dan Dino. Di letakkan nya di piring masing masing.
__ADS_1
Ibu dan Dino pun makan, sementara Sita masih dengan perasaan anehnya.
"Eu...permisi aku ke toilet sebentar," ucap Sita.
Ini hanya alasan agar dia bisa pergi kedapur, di dapur Sita mencari sesuatu, ketika hendak kembali ke dalam ia melihat serbuk putih sedikit berhamburan di dekat dispenser air.
Deg...perasaan anah itu pun muncul kembali.
"Air, ya aku harus hati-hati."
Sita pun masuk kedalam, namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, dan mundur kembali.
Dilihatnya sebuah plastik kecil yang di selipkan di belakang dispenser, Sita mengambilnya dan mencium baunya.
Sita pun mulai memahami sesuatu. Kembalilah dia ke meja makan dan dia pun mulai makan saling menyuapi dengan suaminya Dino.
"Elena pun menghentakkan kakinya kesal. Ia sedikit menekuk wajahnya, namun ia segera sadar takut terlihat Ibu. Dan ia pun menampakakan senyum pura-puranya.
"Lihat saja sebentar lagi aku juga akan jadi istri Dino dan kamu akan aku singkirkan Sita.' Bisik hatinya yang sedang kesal.
Mereka pun selesai makan, dan mereka pun minum sampai habis kecuali Sita yang menunda minumnya.
"Kau tidak minum?" ucap Elena.
"Tentu saja, aku akan minum."
Sita mengambil gelasnya dan tiba-tiba lengan bajunya mengenai wadah yang berisi udang.
"Aduh tangan ku kotor," sengaja ia lakukan untuk mengelabui Elena. Aku harus cuci tangan, ia pun kedapur dengan membawa gelasnya. Lalu ia menumpahkan airnya di wastapel.
Dan mengisi dengan yang baru.
Lalu ia pun masuk dan meminum airnya di hadapan Elena.
Ibu mulai terlihat menguap.
'Obat tidur' Sita pun berpikir begitu, dia akan melakukan apa yang di lakukan Ibu.
Tiba-tiba Ibu pun pergi kekamar, "Ibu ngantuk nak mau tidur duluan." tidak biasanya Ibu seperti itu. Apalagi tidur diwaktu sore menjelang magrib, tidak pernah ia lakukan.
Sementara Dino mulai merasa pusing, "kenapa kepalaku tiba-tiba pusing?" tanyanya,
Kamu kenapa Din ucap Elena.
Sementara Sita dia pun mulai berpura-pura menguap. "kamu baik-baik saja kan sayang, Aku ngantuk sayang aku mau tidur disini saja." Sita pun tertidur di meja makan, tepatnya hanya pura-pura.
Sementara Elena mulai melancarkan aksinya, ia memboyong Dino ke kamar.
"Ah kenapa kepala aku pusing," Dino melihat sekilas Elena seperti Sita.
"Sayang apa yang terjadi padaku," keluh Dino.
"Aku juga tidak tau, lebih baik kamu istirahat di kamar," ucap Elena pura-pura.
Dino semakin merasa berputar Dia masih melihat Elena seperti Sita.
Pengaruh obat memabukan itu sangat kuat di tubuh Dino karna Dino selama ini tidak pernah menggunakan obat apa pun selain obat dari Dokter. Tentunya untuk menyembuhkan penyakit.
"Sayang kenapa parfum mu berbeda," tanya nya pada Elena yang masih memboyongnya ke kamar.
"I- ini farpum baru sayang."
__ADS_1
Sesampainya di kamar Elena mendudukan Dino Di atas tempat tidur, tentu saja itu kamar Sita dan Dino.
Di tarik nya tangan Elena hingga terjatuh ke tempat tidur. Dino pun mengukung tubuh Elena.