Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Curahan Hati


__ADS_3

Sementara Dino, Sita dan Elvira hanya menganggukan kepalanya.


Satu persatu mereka pun beranjak dari meja makan setelah menghabiskan makanannya.


Abah yang terakhir beranjak dari sana, bangkit dari duduknya, berjalan menuju tempat pembaringannya, langkahnya membawa sejuta harapan, berharap keputusan yang ia ambil tadi siang tidak salah, ia sendiri sadar kalau keputusan ini mungkin akan mendatangkan cemooh dari orang-orang, bukan hanya Elvira yang bukan mukhrim di sini, abah dan bu Erni juga bisa saja terkena fitnah, karna mulut pembuat onar tidak akan melihat tua atau pun muda. Sampai di kamarnya, abah pun merebahkan diri dan menutup mata.


Didalam kamar Sita dan Dino nampak berdiri berdampingan menatap gemerlap bintang di langit.


"Apa kamu tau kenapa Abah mengambil keputusan ini?" tanya Dino dengan lembut,


"Tidak, aku sama sekali tidak mengetahuinya." Sita pun menjawab dengan lembut.


"Apa perlu kita tanyakan padanya," kata Dino.


"Besok saja, sekarang pasti Abah sudah istirahat."


Kemudian Dino melirik sanga istri dan ia pun bertanya, "Apa boleh aku memelukmu?"

__ADS_1


Deg ...


"Kenapa bertanya seperti itu?" Sita pun menatap Dino, matanya mulai sedikit berkaca.


Kini mereka saling menatap.


"Aku takut kamu tidak akan ridho dipeluk suamimu ini," ucap Dino dengan lirih.


"Kenapa berpikir seperti itu?" Sita mencoba menahan air matanya yang hampir membendung di pelupuk mata. Ia menunduk mengalihkan pandangan menatap kesembarang arah.


"Walaupun begitu, kamu masih suami ku, kamu masih punya hak atas diriku, kenapa kamu mengatakan itu, peluklah aku jika kamu ingin memelukku." Sita mencoba kembali memberanikan diri menatap suaminya.


"Apa kau yakin akan melayani suamimu ini dengan baik," Dino menarik tubuh Sita merapatkannya dengan tubuhnya. Ditatapnya mata sang istri yang hampir meneteskan air mata itu. Hati Dino perih melihat bendungan air mata dipelupuk mata sang istri nampak tertahan. Semakin mata memandang Air mata 'tak mampu terbendung dan akhirnya terjatuhlah dipipi sang istri, Dino mengusap air mata itu, dan berkata, "Aku ingin memelukmu, tanpa air mata ini. Aku ingin memelukmu dengan senyum di bibirmu ini," di usapnya dengan lembut bibir sang istri.


Seketika Sita menjauhkan tubuhnya dari sang suami, Sita semakin tak bisa menghentikan air matanya, ia membalikan tubuh membelakangi sang suami, lalu berkata, "maafkan aku," ucapnya dengan mengusap airmata yang masih tersisa di pipinya.


Dino menariknya kembali, Menatapnya dengan lekat, " Tersenyumlah," pintanya.

__ADS_1


Sita mencoba mengukir senyum dibibirmya, namun semakin ia mencoba tersenyum ia semakin terisak, buliran bening itu pun mengalir kembali di pipinya, tangisnya malah semakin memecah malam yang sunyi. Ia pun melabuhkan pelukan erat pada suaminya, begitu pun sang suami yang semakin tak kuasa melihat kesedihan sang istri, ia membalas pelukan erat sang istri dengang segenap kasih sayang yang ia miliki.


"Maafkan aku, aku mohon maafkan, aku akan tersenyum untukmu, aku mohon maafkan istrimu, aku istri yang buruk, aku akan tersenyum," Sita mengurai pelukan. "lihatlah aku tersenyum," ucapnya di iringi air mata. Sita terus mencoba mengukir senyum namun tak satupun senyum yang berhasil dia ukir.


"Jangan lakukan itu, maafkan aku!" ucap Dino yang semakin tak kuasa melihat istinya, ia pun kembali memeluk sang istri, "menangislah! tumpahkanlah kekecewaanmu padaku, kalau perlu marahilah aku, pukullah suamimu ini," ia melepas kembali pelukannya, memegang kedua pundak sang istri, "Ayo! Pukullah! Pukullah suamimu ini sepuasmu, pukullah!" ucap Dino dengan bibir yang bergetar.


"Aku bukan suami yang baik, aku mengecewakanmu, aku yang menciptakan bendungan di matamu, aku yang membuatmu tak mampu mengukir senyum indahmu lagi, pukullah suami mu ini, ayo!Pukul ....!" Dino meraih tangan sang istri dan memukulkannya ketubuhnya sendiri. "Ayo sayang pukullah!" pintanya.


Sita semakin terenyuh sedih, "Tidak, lepaskan aku," pintanya, namun Sita tak mampu melepaskannya. Dino menggenggamnya dengan sangat erat, dia terus memukulkan tangan Sita ke tubuhnya maski Sita berusaha menahannya. Karna Sita tak mampu melepaskannya Sita pun akhirnya memeluk sang suami. Pelukan itu berhasil membuat Dino menghentikan aksinya.


"Kenapa sayang, kenapa kamu tidak memarahiku? kenap kamu tidak menamparku? kenapa? pukullah aku! jangan kau pendam amarahmu, aku tak mampu melihatmu menyimpan duka sebesar itu."


"Duka itu Alloh yang berikan, DIA juga yang akan mengambilnya, aku memang kecewa padamu, tapi tak ada gunanya aku mencacimu apalagi sampai memukulimu, itu hanya akan menambah beban bagiku."


bersambung ....


Like dong bestie❤❤❤❤

__ADS_1


__ADS_2