
"Abah harap kamu tidak berbohong, Nak?" ucap Abah dengan mengatur nafasnya yang belum benar-benar stabil.
Akhirnya Dino pun menjelaskan semua pada Abah, 'tak ada yang Dino tutupi. Abah benar-benar tidak menyangka masalah yang dihadapi putrinya begitu berat.
Abah menatap nanar putrinya, terlihat jelas kesedihan dimatanya. Sita terlihat begitu khawatir.
"Kemari, Nak!" Abah melambaikan tangan pada putrinya.
Sita pun menghampiri dan duduk disebelahnya. Abah pun merengkuh tubuh putrinya dengan erat, dan berkata, "Maafkan Abah, Nak, Abah tidak tau masalahmu seberat ini? Hatimu pasti sangat terluka?"
Sita pun menangis dalam rengkuhan sang ayah, menumpahkan semua dukanya. Dino dan ibu hanya diam menyaksikan keduanya. Tak lama Sita melepas rengkuhan Abah, mengusap air mata dipipinya.
"Sita akan belajar iklas dengan ujian ini, Bah. Sita akan berusaha menghadapinya dengan lapang, Sita sudah bilang sama Abah, Abah cukup do'a kan yang terbaik untuk Sita."
"Abah mengerti, Nak."
Abah menatap Dino.
"Nak Dino, bawa Elvira kemari, Abah ingin bertemu dengannya!" bukannya memarahi Dino, Abah malah meminta Elvira untuk di bawa kehadapannya, bahkan abah pun tidak menyalahkan ibu sama sekali.
"Dino harus membawanya kemari!?" Dino di buat kaget dengan keinginan Abah.
__ADS_1
"Iya." Abah mengangguk.
Dino pun melirik Sita dan ibu bergantian.
"Pak Yahya, tapi itu tidak baik untuk Sita?" ucap Ibu.
"Abah yakin, putri Abah bisa meghadapinya," Abah menggenggam tangan putrinya dan menatapnya. Ibu dan Dino pun menatap Sita. Sita hanya diam.
"Pak Yahya, saya kurang setuju jika Elvira di bawa kesini saat ini, saya khawatir terjadi apa-apa pada Sita, kondisi badannya masih lemah dan kandungannya masih rentan, saya tidak mau Sita semakin stres."
"Bu Erni, saya tau itu, tapi saya mengenal baik putri saya, diantara kelemahannya ada kekuatan yang begitu besar. Saya hanya ingin tau, seperti apa perempuan itu. Kita tidak boleh gegabah mengambil keputusan, dari cerita yang saya dengar barusan, kita tidak bisa menuduh siapa penjebak sebenarnya sebelum ada bukti, yang pasti diantara kedua wanita itu ada salah satunya. dan jika memang Dino di jebak dia juga belum tentu melakukannya."
Abah memang orang yang bijaksana ia tidak pernah mengambil keputusan dalam emosi. Dan tidak mudah menyimpulkan sesuatu.
"Ya. Bukankah Dino tidak menyadari apa yang ia perbuat, bahkan dia tidak mengingat apa pun yang terjadi. Ingat apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya."
Ucapan Abah itu bagaikan angin segar buat Dino, itu artinya Abah percaya dirinya tidak melakukannya. 'Syukurlah Ya Alloh' batin Dino.
"Ibu. Abah benar, Apa yang kita lihat belum tentu yang sebenarnya terjadi."
"Abah percaya padamu, Nak Dino. Semoga kamu tidak mengecewakan Abah."
__ADS_1
Sungguh ucapan abah itu membuat Dino yang hampir lemah, mendapatkan semangatnya kemabali. Dino berharap istrinya bisa bijak seperti Abah, dan tidak mengambil keputusan konyol lagi seperti kemarin. Keputusan yang membuatnya kesal, dan hampir hancur di buatnya.
"Dino akan menjemputnya besok, Bah. Beri ruang untuk Sita menenangkan diri hari ini!"
"Baiklah." Abah menjawab Singkat.
***
"Kenapa perempuan itu begitu kuat, bayi di dalam perutnya juga masih saja kuat setelah di tabrak, akh ... Terbuat dari apa sih mereka, kenapa juga abahnya Sita belum mengajak Sita pulang kampung, harusnya dia marah sama Dino, dan mengajak putrinya pulang. Ini sampai sekarang belum juga tersengar keributan," Elena yang mengendap-endap di rumah Dino ngedumel kesal. Apa yang ia harapkan ternyata tidak terjadi.
"Ahkk ... Lebih baik aku kerumah Elvira," pikirnya. "Aku harus tau apa yang dilakukannya di belakang Dino dan Ibu."
Dengan sangat hati-hati Elena masuk kerumah Elvira, meski tertangkap kamera cctv Elena berhasil masuk kedalam, terang saja Elvira tak bisa melihat Elena masuk, toh ia sedang asyik bersama jons di atas ranjang. Mengetahui ibu tidak akan datang kerumahnya, mereka malah berbuat mesum.
Sejak kejadian itu Elvira menjadi santapan lezat jons setiap saat, jons yang nampak rakus itu membuat Elvira tak mampu berkutik. Dari pada melawan lebih baik meni*matinya toh sudah terlanjur, itu yang dipikirkan Elvira.
Elena di buat kaget oleh pemandangan ini, Cihhh ... Dia meludak kepinggir, merasa jijik melihatnya.
Dia segera merogoh saku celananya, di ambilnya hand phone dan di rekamnya adegan itu. Elenapun tersenyum sinis. "Kini aku punya senjata melawanmu Elvira, seenaknya saja kau bilang Dino menodaimu, untung saja aku tau Dino tidak melakukannya. Tapi aku juga harus mengucapkan terimakasih padamu Elvira, biarkan Sita percaya Dino menodaimu, dengan kejadian ini aku berharap Sita pergi meninggalkan Dino." ucapnya begitu gembira.
Elena tak beranjak dari sana ia menunggu adegan panas itu selesai, ia yakin akan ada pembicaraan setelahnya.
__ADS_1