
"Iya, nak Elvira pagi-pagi sekali datang kesini, setelah lumayan lama dia gak jiarah akhirnya dia jiarah juga, kasihan dia sepertinya dia sangat terpukul, dia berdoa dan menangis disini."
"Baik pak, terimakasih, saya permisi. Mari!"
"Mari, nak."
"Syukurlah, ternyata kamu masih punya hati nurani Elvira." Jons merasa lega. "Aku tau aku salah. meskinya kamu tau, ancaman ku cuman gertakan saja, agar kamu tak bersama yang lain, syukurlah foto itu membuatmu sedikit terenyuh, dan aku tak peduli jika keluarga Dino mengetahui itu, itu lebih baik, kau bisa kembali kejalanmu."
Dirumah Elvira merenungkan semua ucapan Jons. "Apa yang di katakan laki-laki berengsek itu? Kenapa kakak ku menitipkan ku padanya. Pencuri kesempatan dalam kesempitan, otak mesum sempat-sempatnya dia mengabadikan perbuatan itu," ucap Elvira yang sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur.
"Mending aku tiduran disini sebentar, sebelum pulang ke rumah mereka," ucapnya lalu menutup mata. Namun tiba-tiba dia terperanjat kaget mengigat Foto itu. Ia bangun dan bergegas pergi kembali kerumah ibu. Ia ingat kalau semalam menyembunyikan kotak itu di bawah bantal.
"Ya, Ampun, Foto itu!" ucapnya dengan khawatir, "Bagaimana kalau ibu menemukannya, tamatlah riwayatku!" Elvira melangkah dengan tergesa-gesa, "Akh ini kaki kapan sembuh sih, nyusahin amat," umpatnya, yang merasa kesulitan berjalan cepat dengan menggunakan tongkat.
"Bang, ojek kan?" merasa tak ada kesempatan memesan ojol ia pun menghadang ojek yang sedang melaju.
"Iya, neng," jawab tukang ojek itu.
Elvira pun naik dengan tergesa-gesa, "Akhhh ..."Elvira hampur terjatuh.
"Hati-hati neng!" ucap tukang ojek itu.
Akhirnya Elvira pun bisa naik, "Ayo bang, ngebut bang!"
"Siap neng," jawabnya. Lalu melaju dengan cepat.
Cekiittttt ... "Akh lampu merah lagi." Elvira kesal. "Bang, cari jalan pintas dong bang," pintanya.
"Mau kemana sih neng, buru-buru amat yang penting selamat sampe tujuan."
"Jangan banyak omong deh bang, kan aku bayar, aku buru-buru, kalo gak mau saya cari ojek lain deh," ancan Elvira.
"Eh si eneng pake ngancam segala, ya udah neng kita cari jalan pintas, nanggung udah setengah jalan tar gak di bayar lagi,"
__ADS_1
"Makanya, cepet!" ucapnya dengan gelisah.
Akhirnya tukang ojek pun membelokan motornya mencari jalan pintas.
***
Sita nampak sedang berbicara bersama Abah di kamar, abah tak henti-hentinya menguatkan Sita, "Jika ada Abah disini, Sita pasti kuat, Abah jangan pulang kampung lagi, Abah tinggal disini saja selamanya, sama Sita, biar Sita juga 'gak khawatir sama Abah," ucap Sita dengan lembut.
"Tidak mungkin nak, siapa yang akan merawat rumah disana?" kata Abah
"Biar bi Ifah aja yang rawat, Bah."
Abah menghela nafas.
"Abah ingin sekali selalu bersama mu nak, tapi itu tidak mungkin sayang, semoga masalahmu cepet selesai, biar Abah bisa cepet pulang, Abah tidak nyaman terlalu lama disini, itu akan mendatangkan cemooh masyarakat,"
Sita pun menghela nafas memahaminya.
"Abah senang, kamu tidak berlarut dalam kesedihan mu nak, tetaplah seperti ini, dan jalani lah hidup sesuai sari'at, apapun yang tejadi, jangan pernah meninggalkan rumah ini tanpa izin suamimu,"
Deg ....
Sita menunduk mendengar perkataan Abah itu.
'Andai abah tau, aku melakukan ini demi tidak membuat abah khawatir, jika saja aku mengikuti bisik hati ku, aku sudah lari dari rumah ini' batinnya. Sekuat mungkin Sita menahan dukanya di hadapan Sang Ayah.
"Nak, kenapa diam?"
"I-Iya, bah. Maaf Sita ingat tadi ada WA dari Ratih, Sita belum sempet membalasnya, Bah,"
Kini abah yang tertegun, ia paham seperti apa putrinya, alasan itu tidak masuk akal menurut abah, ia hanya ingin menghindari pembicaraan. Namun meski begitu abah pura-pura mempercayainya.
"Kamu mau membalasnya sekarang, Nak?" tanya Abah lembut.
__ADS_1
"Tidak, Bah, nanti saja Sita balasnya," jawab Sita.
"Sita!" tiba -tiba ibu memanggil.
"Iya bu," sahutnya.
"Bisa kemari sebentar, Sayang," tutur ibu.
"Ibu memanggil ku, aku kesana dulu ya, Bah," ucap Sita.
Abah mengangguk.
Sita pun melangkah menghampiri ibu. "Ada apa ya bu?" tanyanya dengan lembut.
"Maaf Ibu mengganggu kamu lagi ngobrol sama Abah," ucapnya.
"Tidak apa bu," terangnya dengan lembut.
"Ibu mencari kacamata ibu dimana-mana tapi ibu tidak menemukannya."
"Ibu sudah mencarinya di kamar?" tanya Sita.
"Tadi sudah, tapi tidak ada, coba kamu cari lagi disana siap tau sama kamu ketemu, Sayang?"
"Baik, bu." Sita pun melangkahkan kakinya ke kamar ibu, di bukanya pintu dengan perlahan, di telusurinya setiap sudut dan tempat dikamar ibu namun ia tak menemukannya.
Sita pun duduk sejenak di atas ranjang, berpikir bagaimana caranya menemukan kacamata ibu, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah kotak yang berada di atas meja.
Bersambung ...
❤❤❤❤
Terimakasih reader ku, atas dukungan kalian semua😘😘😘
__ADS_1