Al-fatihah Pembuka Jodoh

Al-fatihah Pembuka Jodoh
Misi Aditya


__ADS_3

Aditya melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi, tak ingin terlambat menyelamatkan peremuuan itu.


Sementara di kediaman rumah Bimo, dua perempuan anggun dan cantik sudah siap untuk pergi ke acara arisan sosialita mereka.


Tap


Tap


Tap


Suara ketukan sepatu dengan langkah yang anggun menuruni anak tangga rumah itu, ia berjalan melangkahkan kakinya kearah kamar sang ibu mertuanya.


Tok ... Tok ... Tok ...


"Ma, Sudah siap?" tanya Siska pada Mely.


"Sudah, Sayang. Tunggu sebentar?" Mely membuka pintu kamarnya.


"Waw ... amazing," puji Mely saat melihat penampilan Siska yang berbeda.


Siska melenggok-lenggokan badannya dihadapan sang ibu mertua, "Bagaimana, Ma? Siska sudah cantik? Apa Siska sudah terlihat seksi?"


"Seksi sekali, Sayang. Tetapi kenapa pakaianmu jadi mini sekali?" Tanya Mely heran.


"Ini tuh demi anak mama, pulang arisan nanti saya mau ke kantor mas Bimo." tuturnya.


"Kau mau, melakukan sesuatu di kantor Bimo?" tanya Mely dengan mengerutkan keningnya.


"Tidak dong Ma, saya hanya ingin Bimo melihat saya yang gak kalah seksi dari Ratih. Mama gak pernah bilang sama Siska kalau Ratih itu cantik, dan memiliki lekuk tubuh yang seksi dan ideal, foto yang mama tunjukin hanya memperlihatkan wajahnya saja, gak nyangka dia lebih cantik dari yang ku kira," tuturnya dengan wajah yang cemberut.


"Oohh, jadi kamu cemburu sama Ratih, Sis," tebak ibu.


Siska menganggukan kepalanya.


"Dia itu gadis kampung yang tidak berpendidikan, dia hanya jadi pelampiasan sementara Bimo, tidak usah khawatir setelah bayi itu lahir, mereka pasti bercerai," ucap Mely mencoba menenangkan Siska.


"Tapi, kalau Bimo mengingkari janjinya bagaimana, Ma? Secara, Ratih itu baik, mana lebih seksi dariku lagi, padahal pakaiannya tertutup, tetep saja tubuhnya terlihat seksi. Bagaimana saat Bimo melihat Ratih tanpa sehelai benang pun," pikirnya.


"Sudah jangan pikirkan itu, Mama yakin Bimo tidak akan jatuh cinta pada perempuan itu," ucap Mely, lalu memandang Siska dari atas sampai bawah, "Kamu lebih cantik dan seksi menurut Mama," lanjut mely, lalu membenahi sedikit baju Siska yang sebenarnya sudah rapi.


Siska tersenyum bahagia mendapatkan pujian dari sang mama mertuanya.


"Ayo, kita berangkat," ajak mely kemudian.


"Yuk," ucap Siska, kemudian menggandeng lengan sang ibu mertua.


Akhirnya kedua perempuan itu meninggalkan rumah, mereka berjalan beriringan dengan kompak, suara langkah kaki yang diiringi ketukan high heels mereka menghasilkan irama yang senada.


"Wati, jangan lupa beri makanan sehat buat perempuan hamil itu, jangan sampai bayiku nanti tidak sehat!" titah Siska mengiringi kepergiannya.


"Baik, Nyonya," kata Wati.


Sepeninggal mereka Wati terlihat gusar, dia menantikan seseorang yang datang menolong Ratih, berharap orang itu terketuk hatinya.


"Dimana dia?" ucapnya dengan khawatir.


Wati segera pergi kedapur membuatkan segelas susu untuk Ratih, lalu mengantarnya ke kamar Ratih sambil mengecek keberadaan dua bodyguard yang menjaga pintu.


"Ini, susu buat Non, tolong di habiskan jika tidak saya akan di pecat," ucap Wati.


"Kenapa kamu selalu bicara seperti itu?"


Wati hanya tersenyum, lalu pergi tanpa banyak bicara lagi, ia pun menutup pintu perlahan dan berpura-pura menguncinya.


"Kenapa selalu mengatakan itu, dan lau pergi tanpa menjawab. Dasar orang aneh," umpat Ratih.


Wati terus merasa cemas, ia pun pergi keluar dengan membawa tong sampah yang baru terisi sedikit, karana tadi pagi dia sudah membuangnya, hal itu dia lakukan hanya untuk memastika orang itu datang.

__ADS_1


Tak lama kemudian terlihat sebuah mobil berhenti di sekitaran area rumah itu. Wati masih ingat benar mobil yang ia lempari batu meski kanya sebentar melihatnya.


Wati pun segera masuk kembali kedalam, ia menghindari setiap pembicaraan dengan orang asing agar tidak terjadi kecurigaan, sebelum Wati mematikan semua aliran listrik di rumah itu, Wati sudah mematikan cctv terlebih dahulu.


Aditya masuk dengan perlahan, mengendap endap layaknya pencuri, saat dia masuk dia begitu kaget dengan keadaan lampu yang padam. Tidak ada cahaya, selain cahaya sinar matahari yang menembus celah celah lubang udara.


"Kenapa lampunya mati, jangan sampai dia macam-macam," gumamnya


"Akhirnya Anda datang juga, terimakasih Tuan" kata Wati setengah berbisik, tapi tetap saja mengagetkan Aditya.


"Kau tidak sedang mengerjaiku 'kan?" tanya Aditya ikut berbisik mengikuti Wati.


"Tidak Tuan. Nona ada di atas, kamar ke tiga sebelah kanan. Cepatlah kita tidak punya banyak waktu."


"Baiklah, kalau sampai kamu mengerjaiku, aku laporkan kamu kepihak berwajib."


"Wati," panggil salah satu bodygurd itu."Kenapa lampunya mati?" lanjutnya.


"Iya, sebentar!" sahutnya.


"Tunggi disini! Saya mengalihkan mereka, setelah kami kebawah kau segera naik keatas, kita tidak punya banyak waktu, anda harus bertindak cepat!"


"Baiklah!" ucap Aditya.


Wati segera menghampiri kedua bodyguard itu dengan cepat ia melangkah naik keatas.


"Sepertinya ada gangguan, Ayo kita cek instalasi listrik di gudang," kata Wati.


"Tapi, siapa yang jaga disini?" tutur salah satu bodyguard itu.


"Pintunya terkunci, sudah pasti aman, ayo kita cek bersama, saya tidak berani masuk sendiri ke gudang rumah sebesar ini, serem," ucap salah satunya lagi.


"Ya, sudah, ayo antar kami Wati, tunjukan tempatnya!" ucap bodygurd itu. Mereka adalah bodyguard baru yang di sewa Bimo untuk menjaga Ratih, jadi mereka tidak tau seluk beluk rumah ini.


Wati pun mengantar mereka ke gudang.


Setelah sampai di anak tangga paling atas, Aditya langsung berbelok arah ke kanan, "Satu, dua, tiga, itu dia," ucapnya. Aditya segera melanngkah secepat mungkin.


Ceklekkkk ...


Ratih kaget melihat seseorang masuk kekamarnya.


"Aditya!" Meski lampu mati, penerangan kamar masih sangat jelas karna sinar matahari masih bisa masuk bebas lewat jendela yang terbuka lebar.


"Ratih!" Aditya pun tak kalah kagetnya dengan Ratih.


"Sedang apa kamu disini?" tanya Ratih.


"Suuttt," Aditya menyimpan jari telunjuk di bibirnya.


"Kita tidak punya banyak waktu, kita harus segera pergi dari sini, Ayo!" ucap Aditya lalu menarik tangan Ratih.


Ratih menyingkirkan tangan Aditya dari tangannya.


"Maaf!" ucap Aditya.


"Ayo, ikuti aku dengan cepat, sebelum mereka kembali."


Ratih mengangguk.


Ratih dan Aditya pun berhasil pergi dari rumah itu tanpa ada seorangpun yang mengetahui, pintu kamar mereka tutup kembali dengan rapat agar kedua bodyguard itu tidak menyadarinya.


"Cepat naik mobil," pinta Aditya.


Ratih segera membuka pintu belakang.


"Kau pikir aku supirmu?" kata Aditya.

__ADS_1


"Tidak ada waktu untuk berdebat," ucap Ratih lalu duduk, dan menutup pintu.


Aditya segera melajukan mobilnya pergi dari Rumah yang bagai penjara buat Ratih.


"Terimakasih sudah menolongku," ucap Ratih.


"Sama-sama?" ucap Aditya yang fokus memperhatikan jalan.


"Bagimana kamu tau aku disini?" tanya Ratih.


"Iya, ya, bagaimana bisa kamu ada di rumah itu? Kalau gak salah dengar, waktu itu Sita minta ijin sama Dino untuk kamu menginap dirumahnya sementara waktu."


"Heemmm ... kalau orang nanya itu di jawab dulu, baru kamu nanya balik?" ucap Ratih sedikit sewot.


"Gak usah sewot juga kali, saya cuma penasaran," ucap Aditya. "Wati, dia yang memberitahuku," jelas Aditya.


"Jadi Wati yang memberitahumu. Syukurlah, aku pikir dia tidak mau menolongku. Ya Allah semoga Engkau selalu melindunginya. Aamiin."


"Sudah selesai berdoanya? Sekarang jawab pertanyaanku tadi!" kata Aditya.


"Baiklah!"


Ratih menjelaskan semuanya pada Aditya, bagaimana kronologi dirinya bisa ada dirumah itu.


"Dia suamimu, kenapa dia menyekapmu bagai penjahat?" tanya Aditya penasaran.


Ratih tertuntuk, dia tidak mau menjelaskan lebih dalam masalahnya pada orang lain.


"Maaf bukan maksud ikut campur, tapi aku sudah menolongmu, jangan sampai aku salah menolong orang, hanya itu saja maksudku."


"Apa!? Kau pikir aku penjahat?" Ratih sewot kembali.


"Bu-bukan itu juga maksudku?" Aditya menggaruk kepalanya karna bingung.


"Berhenti disini! Nampaknya kamu tidak ikhlas menolongku," ujar Ratih.


Aditya mengerutkan keningnya, tanpa mendengar permintaan Ratih.


"Oke, aku minta maaf, aku gak akan nanya lagi, aku bukan pengecut yang tega menurunkan perempuan tengah jalan, katakan kemana aku harus mengantarmu?"


Deg ....


Ratih bingung dirinya harus pergi kemana lagi. Tidak mungkin kerumah Sita lagi, karena pasti Bimo akan kembali menemukannya.


'Haruskah aku kerumah ibu, Bimo juga pasti akan mencariku kesana' Batinnya.


"Heyyy!" Aditya membuyarkan lamunan Ratih.


"Kemana?"


"Aku bingung!"


Haaahhhhh ...


Cekit ... Seketika Aditya menginjak rem.


"Terus, aku harus keliling-keliling terus sama kamu."


Heemmm Ratih tersenyum tak enak.


Aditya menepuk jidatnya.


Tiba-tiba suara dering ponsel Aditya terdengar. Aditya pun merogoh sakunya, dan mengangkat panggilan telepon.


"Maaf Pak, ada yang ingin bertemu Bapak, dia sedang menunggu disini," ucap Susi di ujung telepon.


"Baik Sus, saya segera kesana." Aditya langsung menutup teleponnya, dan langsung menatap Ratih lewat kaca spionnya dengan bingung.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2