
Ipan termenung di dalam kamar, memikirkan semua perkataan Elena. Perempuan licik yang tidak pernah mengurungkan niatnya mengahancurkan rumah tangga Sita meski telah berkali-kali gagal.
Rasa kecewa menghampirinya, sejak kenyataan pahit yang diukir Syakila di dalam hatinya. Perempuan yang selalu didamba dalam hidupnya, menghancurkan jutaan harapannya dalam sekejap.
Kabagaiaan Sita dan Dino yang ia lihat sempat menyisipkan rasa iri di benaknya. namun, tidak pernah terbersit dalam hati untuk menghancurkan kebahagiaan mereka.
"Elena perempuan licik, aku harus waspada, Dino perlu tau tentang ini," gumam Ipan yang berdiri di depan jendela kamar menatap pemandang luar.
Ipan memutuskan untuk bicara pada Dino. Namun, Dino dan juga Sita masih saja di dalam kamarnya.
Tiba-tiba suara ibu dan bi Marni memanggil, mengumpulkan semua orang untuk menyantap hidangan lezat yang sudah mereka siapkan.
"Ayo, ayo! Kita makan dulu, kalian dimana? Cepat!" Seru ibu.
Ipan segera keluar mendengar seruan ibu itu, tidak lama, Elena, Aditya dan Ratih pun datang. Entahlah dengan Sita dan Dino yang masih betah berada di kamarnya.
"Dimana Sita dan Dino?" tanya ibu.
"Mereka dikamarnya, Bu." Elena menjawab pertanyaan ibu.
Ibu pun melangkah menuju kamar Dino, dan mengetuk pintu, "Sayang, apa kalin tidur? Ayo kita makan dulu!"
"Iya, Bu, sebentar!" Terdengar Sita menyahut di dalam kamarnya.
Ibu pun kembali ke meja makan dan segera duduk di kursinya.
Semua orang terpana saat melihat pasangan suami istri itu keluar dari kamarnya, dengan tangan yang saling bergandengan dan lirikan-lirikan mata yang saling menyejukan dihiasi lemparan senyum yang indah dari keduanya.
Beberapa pasang mata nampak ikut bahagia melihatnya. Namun, beberapa pasang mata lainnya menatap cemburu.
"Kalian lagi apa sih, lama banget?" tanya ibu.
"Kami gak ngapa ngapain kok, Bu. Cuman nidurin Rafka sama Arvi," jawab Sita sambil duduk dan melirik sang suami dengan tersenyum.
Dino pun melempar senyum bahagianya, saat ia sudah duduk di kursi dan tidak henti memandang sang istri.
"Kalau terus tatap-tatapan kapan mau makannya?" kata ibu.
Hehemm ....
"Iya, nih kalian ini bikin aku iri aja," canda Ratih.
Sita dan Dino hanya tersenyum menanggapi Ratih.
"Kalian memang pasangan yang serasi, Bibi suka melihatnya." Bi Marni pun tersenyum bahagia. Namun, kemudian senyum itu seketika memudar saat melihat kearah Aditya yang terlihat cemburu melihat mereka.
Elena dan Ipan saling tatap penuh Arti dengan pemikiran mereka masing masing.
"Ayo makan, kita berdoa dulu!" ucap Ibu.
Dino pun memimpin do'a. Setelah itu semua sibuk mengambil piring masing-masing dan mulai makan, terkecuali Sita yang hanya diam dan bingung.
__ADS_1
"Kamu tidak makan, Sayang?" tanya Dino.
"A-apa aku boleh membukanya?" tanya Sita pada Dino dengan memegang cadarnya.
Dino pun tersenyum, mengerti kenapa sang istri hanya diam saja.
Dino pun melirik Ipan dan Aditya, Dino tidak rela jika Ipan atau pun Aditya melihat wajah cantik sang istri, terlebih Dino tau benar bagaimana perasaan Aditya pada istrinya, yang Dino sendiri tidak tau apakah Aditya sudah bisa menguburnya atau belum.
"Kamu mau makan di kamar sama suamimu ini?" tanya Dino dengan tersenyum.
"Aku gimana imamku saja, jika imamku mengijinkan aku membukanya disini, akan aku buka, jika imamku ingin aku makan dikamar ya akan aku turuti," jawab Sita dengan tersenyum.
'Cihhh, sok banget sih lo, Sita. Mau makan makan aja gak usah pake drama segala' batin Elena dengan kesal.
"Ayo, kita makan dikamar!" ajak Dino dengan membawa sepiring nasi.
"Sayang, punya Sita belum di isi piringnya," kata ibu pada Dino.
"Ibu, kayak gak tau kita aja, kita biasa makan sepiring berdua 'kan, Bu," ucap Dino sambil melangkah dan menggandeng sang istri.
Hahaha ....
Ibu, Bi marni dan Ratih pun tertawa. Sementara Elena memaksakan senyumnya. Sama seperti Ipan dan Aditya yang tersenyum dengan terpaksa.
Mereka pun makan bersama sepeninggal Sita dan Dino.
Sita dan Dino nampak menikmati makan berdua mereka di dalam kamar dengan penuh kabahagiaan.
"Untuk apa?" tanya Sita.
"Untuk selalu menjaga hati, dan perasaanku," jelas Dino dengan tersenyum.
"Aku hanya menjaga hati dan perasaanku, yang aku simpan di hatimu," jawab Sita pun dengan tersenyum.
"Dan juga hati dan perasaanku, yang aku simpan dihatimu," balas Dino dengan tersenyum.
Lama mereka saling lempar senyum dengan pandangan yang indah. Mereka pun bangkit dan keluar dari kamar. Semua yang makan di meja makan pun sudah selesai mereka tengah berkumpul di ruang tengah.
"Ada yang punya ide acara untuk malam ini? kita mau ngapain? Atau kita mau ke tempat wisata?" tanya Dino.
Semua saling lirik memikirkan ide.
"Din, gimana kalau kita bikin api ungun aja di depan Villa? Sambil bakar ikan gitu, 'kan enak, berasa kemping. Kalau tempat wisata sudah sering kita kunjungi iya gak?" Saran Aditya.
"Boleh tuh! Suasana Villa juga mendukung banget, iya 'kan?" balas Ratih.
"Boleh! Gimana yang lainnya?" tanya Dino.
"Boleh!" semua menjawab bergantian.
Sita hanya Diam dan tersenyum.
__ADS_1
"Sayang, kamu?" tanya Dino pada Sita.
"Kalau aku gak usah di tanya, Sayang. Aku gimana kamu saja," jawab Sita.
"Cie, yang punya imam, bikin gemes tau," kata Ratih.
"Apaan sih, Rat. Emang istri itu gimana suami 'kan, selama suami membawa kita pada kebaikan," ucap Sita sedikit malu-malu.
Hahaha ....
Ibu dan bi Marni tertawa bahagia.
Ipan dibuat terkagum dengan semua yang dikatakan Sita, begitu pun Aditya yang belum bisa melupakannya.
Hanya Elena yang dibuat kesel dengan kata kata Sita, yang dipikirnya, sok baik, dan sok salehah. Elena selalu jijik mendengarkan semua yang dikatakan Sita, itu karna dirinya membenci Sita.
"Ya udah, Ayo kita persiapan," ajak ibu.
Semua pun sibuk mempersiapkan apa yang harus dipersiapkan untuk nanti malam.
Karena acara membuat api ungun ini di luar rencana, ibu dan bi Marni mengajak Dino pergi kepasar terdekat untuk membeli ikan.
Ipan, Aditya, Ratih, dan Elena mencari kayu bakar di sekitar lingkungan dekat Vila.
Sementara Sita menunggu kedua buah hatinya di dalam Villa.
Tidak lama setelah kepergian mereka, Sita melihat Elena yang berlari kemamarnya dengan wajah yang pucat. Karena khawatir, Sita menghampiri Elena, terlihat Elena tengah terburu-buru meminum obat yang ia keluarkan dari kantong bajunya.
"Elena! Apa kamu sakit?" tanya Sita mengagetkan Elena.
"Ma-mau apa kamu kesini?" Elena balik bertanya, dengan sedikit gugup.
"Apa kamu sakit?" Sita mengulangi pertanyaannya.
"Kenapa? Apa kamu senang melihatku sakit?" Elena melontarkan pertanyaan piciknya.
"Astagfirullah, Elena! Aku khawatir sama kamu," kata Sita.
"Khawatir! Waww ... apa aku tidak salah dengar? Kamu menghawatirkan musuhmu sendiri, Sita?" ketus Elena.
"Aku tidak pernah menganggapmu musuh, Elena!" jelas Sita.
"Oh, ya, lalu apa? Saingan! Heumm," ucap Elena dengan Sinis.
"Bagiku kamu bukan siapa-siapa, Elena. Kamu bukan musuhku, apa lagi sainganku, bagiku kamu sama saja ciptaan Allah yang harus aku tolong jika dalam kesulitan, aku kesini hanya menghawatirkan ragamu, yang kupikir dalam masalah, jika kamu keberatan aku akan pergi," ucap Sita lalu pergi dari hadapan Elena.
Elena kesal.
"Sok perhatian, padahal aku yakin hatinya sangat membenciku," gumamnya, lalu memasukkan kembali obatnya ke dalam saku.
bersambung .....
__ADS_1